<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-6496427822632927265</id><updated>2012-02-15T22:45:00.092-08:00</updated><category term='umum'/><category term='kisah salafiyyun'/><category term='artikel islami'/><category term='cerpen islami'/><title type='text'>MENGGAPAI IZZAH ISLAM</title><subtitle type='html'>Masih banyak yang harus kami perjuangkan, dan kami akan terus berjuang untuk kejayaan Islam. 

Saatnya kita bangkit dari keterlenaan menuju masa depan gemilang di dalam naungan islam.

Bismillahirrohmanirrohim........</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://akhimuammar.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6496427822632927265/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://akhimuammar.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>muammar_ikhwan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09232577519138736451</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_jirrn9uMBd0/R2XC7Uy2JGI/AAAAAAAAABA/v18DfXzrmhE/S220/Muamar.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>39</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6496427822632927265.post-1913750204053743766</id><published>2008-06-07T01:03:00.000-07:00</published><updated>2008-06-07T01:04:49.253-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel islami'/><title type='text'>Proklamator "Mosi Integral" Bangsa</title><content type='html'>dakwatuna.com - “Selalulah meminta kepada Tuhan dan teruslah berbuat, sehingga hidup ini menjadi lebih berarti.” Pesan ini bukan iklan pariwara para pembual politik yang ditayangkan stasiun TV dalam beberapa durasi yang berharga miliaran rupiah. Pesan monumental ini meluncur dari politisi sejati, seorang pejuang, negarawan, ulama intelektual, DR. Mohammad Natsir saat berpidato di depan Mahasiswa Medan, tanggal 2 Desember 1953.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pesan paling dalam yang ditanamkan seorang Natsir bukanlah tulisan berbunga-bunga apalagi retorika mengangkasa tak bertepi melainkan lebih banyak pesan ini berwujud dalam tindakan. Dalam masa krisis kata-kata mesti diisi dengan makna nyata. Sebuah kata harus dapat menemukan tenaga kreatif dan kemampuannya untuk menyatukan dan membebaskan manusia. Kata dan perbuatan harus selaras dan menyatu. Bagai api dan udara, dalam perbuatan pada umumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setidaknya itulah yang ditulis Natsir sepanjang hidupnya, dengan pena keikhlasan dan tinta pengorbanan. Masa-masa hidupnya adalah masa pengabdian dan pelayanannya kepada negeri tercinta. Prestasi spektakuler Natsir terekam dalam sejarah. Ketika Indonesia menjadi negara serikat sebagai produk dari KMB (Komperensi Meja Bundar), melalui sidang RIS tahun 1950, Natsir tampil dengan melontarkan statemennya yang dikenal dengan “Mosi Integral Natsir”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Implikasi dari mosi itu, Indonesia yang sudah terpecah kedalam 17 negara bagian dapat bersatu kembali ke dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. Atas jasanya ini, Soekarno mengangkatnya sebagai Perdana Menteri RI. Kedudukan ini merupakan karier politik tertinggi yang pernah dicapainya. Pada saat itu, usianya baru 42 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terhitung sejak menyatakan merdeka, Indonesia masih terpuruk dalam kesulitan karena Belanda tetap bertahan untuk tidak mengakui kemerdekaan RI, tidak seperti negara bekas penjajah lain yang mengakui kemerdekaan bekas koloninya yaitu Pilipina pada 1946, India pada 1947, Burma dan Srilangka pada 1948.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Upaya mempertahankan kedaulatan dari ofensif Belanda dan pergolakan-pergolakan politik tahun 1945-1950, telah menyebabkan langkah-langkah kebijakan pemerintah dalam mensejahterakan rakyat tidak optimal. Tantangan dan bahkan ancaman yang maha berat segera menghadang negara yang baru mendapatkan kedaulatannya, setelah hampir empat tahun melalui revolusi kemerdekaan yang dibasahi darah dan air mata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara hukum negara yang berdaulat ialah negara Republik Indonesia Serikat, sebuah negara hasil kompromi, bukan negara yang diproklamasikan pada tahun 1945. RIS,yang diakui sebagai “pewaris” Hindia Belanda, harus membayar pula utang yang dibuat negara kolonial yang digantikannya itu. Pada utang itu diperbuat untuk membiayai usaha penghancuran Republik Indonesia. Betapa ironis, tetapi begitulah keadaannya. Irian Barat pun masih di tangan Belanda. De Javasche Bank tetap berperan sebagai bank sentral. Big Five tetap menjadi urat nadi perekonomian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mohammad NatsirRasionalisasi TNI harus dijalankan, dengan perwira Belanda menjadi penasehat. Jika ini saja belum cukup, maka negara yang masih teramat muda inipun masih harus pula menghadapi masalah bekas pejuang, yang dikembalikan ke masyarakat, sedangkan KNIL, yang kebetulan terlatih baik, sesuai dengan perjanjian KMB, diintegrasikan ke dalam TNI. Luka-luka Revolusi di mana-mana masih jauh mencekam ke dalam lubuk kesadaran dan kehidupan rakyat. Dan, siapakah yang bisa melupakan sekian banyak “bom waktu” kolonial yang meletus di sana dan di sini-di Bandung, di Makassar, di Ambon? Hanya saja, di atas segala-galanya kedaulatan negara-apakah itu berarti “pengakuan”, seperti kata Bung Karno, atau “penyerahan”, sebagaimana teks resmi mengatakannya-telah berada di tangan bangsa kita. Dan, itu rupanya adalah modal yang sangat berharga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peristiwa-peristiwa politik segera terjadi setelah RIS berdiri. Baru beberapa minggu saja tahun 1950 dimasuki, parlemen jalanan segera bermunculan di setiap negara-bagian atau daerah istimewa yang disponsori Belanda. Kesemuanya menuntut pembubaran negara atau daerah istimewa itu atau segera bergabung kembali ke dalam sebuah negara bagian lain, tetapi cikal bakal dari RIS, yaitu R.I., yang berpusat di Yogyakarta, dan yang telah “meminjamkan” Presiden dan Wakil Presiden-nya ke RIS, yang berpusat di Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah dalam empat bulan saja negara bagian yang masih tertinggal tidak lebih dari tiga saja, yaitu Negara Indonsia Timur (NIT), Negara Sumatra Timur (NST), dan Republik Indonesia (RI). NST dan NIT inipun menyerahkan masa depan mereka pada wibawa seorang pemimpin, yang kebetulan menjadi Perdana Menteri RIS, Mohammad Hatta, dalam perundingan dengan RI mengenai masa depan negara federal itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Negara Republik Indonesia,’ yang waktu itu pecah menjadi 17 Negara Bahagian. Setelah Konferensi Meja Bundar (KMB), RIS diterima sebagai suatu kenyataan, walaupun di daearah-daerah Negara Bahagian itu sendiri muncul berbagai gejolak politik (political anrest) yang menuntut untuk mengakhiri atau membubarkan RIS.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam suasana seperti ini-ketika dorongan terwujudnya kembali negara kesatuan, sebagaimana yang diproklamasikan pada tahun 1945 sedemikian kuat– Gagasan briliyan pun muncul dari seorang anak bangsa, Mohammad Natsir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau berpendapat, masalah pokok yang harus dipecahkan adalah bagaimana membentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), apakah itu dengan cara penggabungan negara-negara bahagian ke RI Yogyakarta atau langsung semua negara-negara bahagian ke NKRI, itu menurutnya adalah masalah teknis. Yang penting menurut beliau, ‘pembentukan NKRI itu harus tanpa menimbulkan konflik antar negara-negara bahagian dan golongan dalam masyarakat’ (Noer 1986: 261).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika mosi integral Natsir diterima parlemen, maka pada tanggal 17 Agustus 1950 negara kesatuan pun kembali berdiri, meskipun Irian Barat masih merupakan wilayah sengketa. Terabaikan barangkali dalam ingatan kolektif bangsa, tetapi ini adalah peristiwa yang kedua Negara kita dipersatukan oleh tekad yang kuat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keseluruhan isi ‘Mosi Integral Natsir’ tertuang dalam sebuah naskah autentik DPR Sementara RIS. Pada tanggal 2 April Mohammad Natsir menyampaikan pidato ‘mosi integral’ yang bersejarah tersebut, dengan beberapa butir latar pemikiran yang penting (1) Semua negara-negara bahagian mendirikan NKRI melalui prosedur parlementer, (2) Tidak ada satu negara bahagian menelan negara bahagian lainnya dan (3) Masing-masing negara bahagian merupakan bahagian integral dari NKRI yang akan dibentuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mohammad NatsirMohammad Natsir adalah tokoh kunci dan pejuang yang gigih mempertahankan negara kesatuan RI. Berkali-kali dia menyelamatkan Republik ini dari ancaman perpecahan. Dialah yang pada tahun 1949 berhasil membujuk Syafruddin Prawiranegara, yang bersama Sudirman merasa tersinggung dengan perundingan Rum-Royen, untuk kembali ke Jogya dan menyerahkan pemerintahan kembali kepada Sukarno Hatta. Dia jugalah kemudian yang berhasil melunakkan tokoh Aceh, Daud Beureuh yang menolak bergabung dengan Sumatera Utara pada tahun 1950, terutama karena keyakinan Daud Beureuh akan kesalehan Natsir, sikap pribadi yang tetap dipegang teguh sampai akhir hayatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Natsir dilahirkan dari pasangan suami-isteri Idris Sutan Saripado - Khadijah di Alahan Panjang, Lembah Gumanti, Kabupaten Solok, Sumatera Barat. Pada tanggal 17 Juli 1908, Dibesarkan di tengah-tengah keluarga muslim yang taat. Ayah seorang juru tulis kontrolir, banyak mendorongnya agar mendalami agama. Kebetulan, pada waktu itu letak rumahnya berdekatan dengan masjid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah, sejak kecil mengaji jadi makanannya sehari-hari. Sejak di HIS (Hollandsch Inlandsche School) dia sudah rajin mengaji di surau. Menginjak kelas dua, tinggal di rumah seorang saudagar, Haji Musa namanya, di Solok. Selepas maghrib, malam hari Natsir kecil biasa mengaji. Mencari guru, tempat untuk berdialog. Kebetulan waktu itu ada guru mengaji tamatan sekolah di Sumatera Thawalib.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dorongan untuk belajar agama dari orangtua begitu kuat. Pagi sekolah umum, sore masuk madrasah diniyyah, dengan belajar bahasa Arab, dan malam hari mengaji. Di situ, guru-gurunya sangat aktif berdakwah. Melihat Natsir kecil bersungguh-sungguh, guru itu tertarik. Lalu, diberikan pelajaran ekstra. Lama-lama Natsir bisa mengaji kitab kuning, sementara teman-teman lain belum bisa membacanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu itu, seorang meester in de rechten adalah seorang yang luar biasa. Jadi, cita-citanya sejak kecil menjadi Meester -sekarang disebut sarjana hukum. Sampai di MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs), semuanya dilalui dengan nilai baik. Malah dapat beasiswa dua puluh rupiah sebulan. Bisa beli buku dan keperluan lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal dia sekolah sambil cari kayu bakar, memasak, membuat sambal, dan mencuci pakaian sendiri. Masih sempat pula ikut pandu Natipij (Nationale Islamitische Padvindrij) dari organisasi pemuda Jong Islamieten Bond (JIB). Akhirnya, Natsir lolos dan masuk AMS (Algemeene Middelbare School) di Bandung, juga dengan mendapatkan beasiswa sebesar tiga puluh rupiah sebulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Bandung itulah pikirannya berubah. Ternyata yang bagus itu tak cuma meester. AMS (A-II), bahasa Belandanya tidak fasih. Natsir sering diejek. Soalnya, waktu sekolah di Padang, yang dipakai sebagai bahasa pengantar adalah bahasa Indonesia. Sedangkan di Bandung, dia bertemu dengan anak-anak dari Jawa yang kemampuan bahasa Belandanya jauh lebih tinggi. Natsir kebingungan juga. Makanya dia belajar sungguh-sungguh. Sehingga dapat angka tinggi untuk bahasa Latin yang begitu sulit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Bandung, sejak kelas satu, dia tetap belajar agama tanpa mengurangi ketekunan belajar di sekolah. Malah Natsir sempat jadi anggota perpustakaan museum dengan membayar iuran tiga rupiah sebulan. Dia selalu dikirimi buku-buku baru dari perpustakaan itu. Membaca jadi tabiatnya waktu di Bandung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kejujurannya dalam berjuang telah membawa dirinya dipercaya menduduki jabatan-jabatan penting dalam pemerintahan Republik Indonesia. Kejujuran itu pula yang mengundang seorang Indonesianis, George Mcturnan Kahin berkomentar untuk Natsir. “Dia (Natsir) tidak bakal berpakaian seperti seorang menteri, namun demikian, dia adalah seorang yang amat cakap dan penuh kejujuran; jadi kalau Anda hendak memahami apa yang sedang terjadi dalam republik, Anda sudah seharusnya berbicara dengannya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, Natsir tak pernah berpenampilan seperti seorang menteri dalam pengertian modern. Ia selalu tampil dalam balutan busana sederhana, lengkap dengan peci dan sorban putih yang selalu ia lilitkan di lehernya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak 1932 sampai 1942, M. Natsir diangkat sabagai direktur Pendidikan Islam di Bandung sebagai Kepala Biro Pendidikan Kotamadya Bandung (Bandung Syiakusyo). Dari 1945 sampai 1946 sebagai anggota badan pekerja KNIP (Komite Nasional Indonesia Pusat) dan kemudian menjadi wakil ketua badan ini. Pada 1946 (Kabinet Sjahrir ke-2 dan ke-3) dan 1949 (Kebinet Hatta-1) ia menjadi Menteri Penerangan Rl. Dari 1949 sampai 1958 ia diangkat menjadi ketua umum Masyumi. Dalam Pemilu 1956 ia terpilih menjadi anggota DPR. Dari 1956 hingga 1958 ia menjadi anggota Konstituante Rl.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada 1950-1951 tokoh kita ini mendapat amanah menjadi Perdana Menteri. Hubungannya dengan Presiden Soekamo sempat merenggang selama penyelesaian Irian Barat. Puncaknya terjadi tetelah peristiwa Cikini, November 1957. Waktu itu sebuah granat diledakkan untuk membunuh Soekarno, namun tidak berhasil, dan menewaskan anak-anak sekolah, Meski Natsir tidak ada kaitan sama sekali dengan rencana itu, Soekarno menuduhnya berada di belakang aksi tersebut. Dalam situasi negara yang tidak menentu, Ketua Dewan Banteng Achmad Husein mengultimatum pemerintah, Djuanda agar mengundurkan diri. Pemerintah justru memecat Husein, Simbolon,dan beberapa perwira AD lainnya. Tak lama kemudian Kolonel Acmad Husein mengumumkan berdirinya PRRI (Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia), dengan M. Natsir sebagai Perdana Menteri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah peristiwa Cikini, Natsir memang tidak hanya diisolasi, tapi juga terus diganggu, bersama koleganya yang lain, Sjafruddin Prawiranegara dan Burhanuddin Harahap. Akhirnya mereka hengkang ke Sumatera Barat. Ketika operasi Angkatan Darat terhadap PRRI pada 25 September 1961, Natsir ditangkap dan dipenjara, dengan tuduhan ikut terlibat PRRI. Sejak 1962 sampai 1966 ia ditahan di Rumah Tahanan Miter (RTM) Keagungan Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di awal rezim Orde Baru, Natsir dibebaskan, tapi ia tetap dilarang berpolitik. Walau demikian, aktifitasnya tidak terhenti, sejak 1967 sampai dengan masa tuanya, ia dipercaya menjadi ketua DDII (Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia). Dimana dia berkiprah sampai akhir hayatnya membangun masyarakat di kota-kota dan pedalaman terpencil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam percaturan dunia Islam, khususnya di negara-negara Arab, Natsir sangat dikenal, dihormati dan disegani, beliau ikut serta dan terlibat pada beberapa organisasi Islam tingkat internasional, tahun 1967 diamanahkan menjabat Wakil Presiden World Muslim Congress (Muktamar Alam Islami), Karachi, Pakistan, tahun 1969 menjadi anggota World Muslim League, Mekah, Saudi Arabia, tahun 1972 menjadi anggota Majlis A’la al-Alam lil Masajid, Mekah, Saudi Arabia, tahun 1980 menerima “Faisal Award” atas pengabdiannya kepada Islam dari King Faisal, Saudi Arabia, tahun 1985 menjadi anggota Dewan Pendiri The International Islamic Charitable Foundation, Kuwait, pada tahun 1986 menjadi anggota Dewan Pendiri The Oxford Centre for Islamic Studies, London, Inggris dan angota Majelis Umana’ International Islamic Univesity, Islamabad, Pakistan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu saat redaktur majalah “Al-Wa’yul Islami” Kuwait, Muhammad Yasir Al-Qadhami pernah bersilaturrahim ke rumahnya, Februari 1989, dan bertanya tentang tokoh-tokoh yang berpengaruh pada dirinya dan mempengaruhi perjuangannya, Natsir menjawab, ” Haji Syekh Muhammad Amin Al-Husaini, Imam Asy Syahid Hasan Al-Banna, dan Imam Hasan Al-Hudhaibi. Sedang tokoh-tokoh Indonesia adalah Syekh Agus Salim dan Syekh Ahmad Surkati.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan bermaksud melebih-lebihkan, Natsir adalah manusia multi dimensi. Ia tak hanya sekadar tokoh politik Islam dan seorang ulama, namun dalam dirinya melekat beragam dimensi lainnya. Ia adalah seorang intelektual Muslim par excellent yang menguasai khazanah ilmu-ilmu keislaman dengan amat luas. Ia memahami tafsir, hadis, fikih, sejarah dan syariah. Ia paham bahasa Arab, Belanda, Prancis, Latin pada usia 21 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemampuannya ini menjadikan Natsir bisa memahami agama secara lebih holistik dan komprehensif. Agama tak hanya dipahami sebagai persoalan keakhiratan namun juga bagaimana mengatur dunia sehingga menjadi lebih baik dan memberikan kemaslahatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau tumbuh dari bawah, mandiri, punya karakter, punya sikap, punya prinsip, punya loyalitas dan punya integritas bukan oportunis alias penjilat. Hidupnya sederhana, terus terang, setia, kritis, penuh tanggungjawab dan tidak memanfaatkan jabatan. Senantiasa berbicara sejuk dan menentramkan umat. Jauh dari kalimat-kalimat yang menghasut, provokatif. Pertanyaan-pertanyaan yang sifatnya menghujat sekalipun dihadapi dengan senyuman, dengan wajah yang penuh makna. Tidak pernah membesar-besarkan perbedaan. Karena membesar-besarkan perbedaan hanya akan mengakibatkan perpecahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mohammad Natsir ketika menjabat perdana Menteri pada 1950-1951, tidak alergi melibatkan IJ Kasimo, FS Hariyadi dari Partai katholik, J.Leimena dan ATM Tambunan dari Parkindo dan tokoh-tokoh sosialis menjadi menteri dalam kabinetnya. Bagi Natsir bangsa ini harus diurus bersama walau dalam perbedaan politik yang tajam kala itu antara Masyumi, partai Kristen, Katholik, Nasionalis dan Komunis. Namun hal tersebut tidak membuat tali silaturahim tokoh-tokohnya putus, karena menurut beliau yang bertengkar itu pikiran-pikirannya bukan personal-personalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih dari itu, Natsir juga akrab dengan produk-produk kebudayaan Barat dan Islam. Mungkin sedikit sekali yang tahu, Natsir ternyata juga amat menggemari dan memiliki apresiasi yang baik tentang musik. Saat bersekolah di AMS Bandung, ia pernah memimpin orkestra. Natsir cukup piawai dalam memainkan beragam alat musik. Natsir juga amat menyukai karya-karya komponis asal Austria seperti Wolfgang Amadeus Mozart, komponis Jerman Ludwig van Bethoven, dan konon Natsir juga amat menikmati lagu-lagu Ummi Kaltsum-legenda musik asal Mesir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Natsir adalah tipe manusia pembelajar yang haus akan banyak ilmu dan pengetahuan. Semuanya ia pelajari dengan sungguh-sungguh baik melalui pendidikan formal maupun yang ia dapatkan secara otodidak. Ia adalah manusia yang identik dengan buku dan khazanah ilmu. Kemampuannya ini menjadikan Natsir sebagai penulis banyak menghasilkan buku dan karya tulis lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau Sayyid Quthb menghasilkan Fii Zhilalil Qur`an. Ibnu Taimiyah menghasilkan Majmu’ul Fatawa, Hassan Al Banna menghasilkan Majmu’atul Rosa-il, HAMKA menghasilkan Tafsir Al-Azhar, maka Mohammad Natsir menghasilkan Capita Selecta yang terdiri dari dua jilid yang amat tebal. Inilah sebuah buku yang merupakan kumpulan tulisan mulai dari fikh, kebudayaan, politik kebangsaan, idiologi, hubungan antaragama, kebudayaan, peradaban dan banyak pikiran pentingnya lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Natsir tak hanya paham tentang segala sesuatu yang besar-besar, tapi ia juga mengerti hal-hal yang kecil dan detail. Natsir tak meremehkan hal-hal kecil dan sepele, tapi ia juga tak menganggap berat hal-hal yang besar. Natsir sering menyampaikan, masalah-masalah kecil kalau dibiarkan, suatu saat akan menjadi besar. Tapi masalah-masalah besar kalau segera dikerjakan, suatu saat akan menjadi kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Natsir adalah sosok pemimpin yang sederhana namun berkharisma. Sebagaimana banyak tokoh-tokoh bangsa pada periode sejarah sebelumnya, penampilan, keseharian dan gaya hidup Natsir jauh dari aroma kemewahan. Yang dipikirkan Natsir bukanlah dirinya, tetapi selalu umat dan bangsanya. Bagaimana kediaman Natsir?. Kursi yang diduduki adalah kursi tua. Ruang tamu Muhammad Natsir dihiasi sebuah lampu baca di pojok ruangan. Ruang tamu sedemikian kusamnya tidak memperlihatkan cita rasa interior modern seperti yang ditunjukan oleh ruang tamu tokoh masyarakat lainnya yang bagaikan istana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari keseluruhan diri Natsir, banyak hal yang telah dia wariskan. Natsir merupakan warisan ilmu dan teladan kepemimpinan, pribadi yang memiliki integritas. Pengabdiannya kepada umat telah meninggalkan goresan yang indah dalam sejarah Islam, sejarah bangsa Indonesia. Sebahagian perjalanan hidupnya telah banyak dihabiskan untuk dunia politik, terutama modernisme Islam, kenegaraan, dan demokrasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mohammad Natsir melihat kemajuan dan kemunduran umat tergantung pada bagaimana pemahaman dan penghayatan umat akan doktrin tauhid serta bagaimana pula mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Sistem tauhid menurutnya terletak pada kesadaran batin yang menjelma menjadi etika pribadi dan melahirkan kesatuan yang universal berdasarkan persamaan, keadilan, kasih sayang, toleransi dan kesabaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemuliaan hatinya adalah kemuliaan seorang pemimpin betapa ia dapat mengalahkan bahkan melampaui kepentingan pribadi sebagai nilai ketokohan instrinsiknya. Ketokohan atau kenegarawanan seorang Mohammad Natsir sebagai sudah jadi pahlawan sebelum kemudian kita menyebutnya sebagai pahlawan. Karena perannya amat menentukan kelanjutan dan keberlangsungan tanah tumpah darah warisan ibu pertiwi ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buya, sungguh jika hilangmu tanpa pusara//…jika pusaramu tanpa nama//…jika namamu tanpa bunga//…. maka biarkan kami mengucap namamu di dalam doa. Yaa ayyatuhan nafsul muth ma’innah ‘irji’i ilaa rabbiki raadhiyatam-mardhiyyyah, fadd khulii fi ‘ibaadi wadkhulii jannati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gambar: kepustakaan-presiden.pnri.go.id, dewandakwah.org, dan wikipedia.org&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sumber: www.dakwatuna.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6496427822632927265-1913750204053743766?l=akhimuammar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://akhimuammar.blogspot.com/feeds/1913750204053743766/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6496427822632927265&amp;postID=1913750204053743766' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6496427822632927265/posts/default/1913750204053743766'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6496427822632927265/posts/default/1913750204053743766'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://akhimuammar.blogspot.com/2008/06/proklamator-mosi-integral-bangsa.html' title='Proklamator &quot;Mosi Integral&quot; Bangsa'/><author><name>muammar_ikhwan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09232577519138736451</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_jirrn9uMBd0/R2XC7Uy2JGI/AAAAAAAAABA/v18DfXzrmhE/S220/Muamar.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6496427822632927265.post-7087921552566073540</id><published>2008-06-02T00:20:00.001-07:00</published><updated>2008-06-02T00:20:50.073-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerpen islami'/><title type='text'>Serenade Malam</title><content type='html'>“Ambilkan bulan, Bu....”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia melantunkan lagu tersebut berkali-kali di telingaku. Kadang sampai aku merasa bosan mendengarnya, tapi ia tidak pernah lelah menghiburku. Kakakku tersayang satu-satunya, ia tidak pernah bosan menina-bobokanku dengan lagu tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kak, kita tidur di sini sekarang?” tanyaku. Ia tersenyum dan mengangguk. Rambut pendeknya terayun-ayun dan matanya bersinar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kita tidur di sini supaya bisa melihat bulan. Adek senang kan melihat bulan...?” tanyanya kemudian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“He-eh.” Jawabku pendek. Aku sangat mengantuk. Karenanya, aku segera merebahkan diriku di atas terpal plastik yang ia dapat dari sisa-sisa bangunan yang baru dipugar siang tadi. Aku menatap langit yang terbentang luas. Pendar-pendar perak cahaya bintang kadang tampak mengabur di mataku yang tersapu angin. Suara jangkrik dari balik rumput liar begitu dekat terdengar di telingku. Sesaat kemudian, angin kali berhembus. Aku menggigil kedinginan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dek, Adek kedinginan, ya...?” tanyanya sambil mengusap keningku. Aku mengangguk pelan. Aku ingin mengatakan padanya tidak apa-apa, tapi bibirku terasa kaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pakai sarung saja, ya Dek....” Ia mengambil tas kecil yang selalu tergantung di bahunya, kemudian mengeluarkan sarung kotak-kotak berwarna merah pudar. Tidak lama kemudian, seluruh tubuh kecilku sudah terbungkus oleh sarung tersebut, sarung satu-satunya peninggalan emak sebelum meninggal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kak....” Aku mendesis. “Emak sekarang di mana ya?” Tanyaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia terdiam mendengar pertanyaanku, mungkin bingung menjawabnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Emak sekarang ada di sana.” Jawabnya kemudian sambil menengadah menatap langit malam. “Adek lihat bintang-bintang itu...? Nah, bersama merekalah sekarang emak berada.” Lanjutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku ganti terdiam. Bayangan emak satu persatu berkelebat di benakku. Tiga bulan. Ya, tepat tiga bulan yang lalu emak meninggalkan kami berdua. Biasanya emak tidak pernah pergi lama-lama, paling hanya untuk berjualan di pasar. Tapi kali itu tidak. Kakakku bilang, walaupun emak tidur, tapi ia tidak akan pernah bangun lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu semuanya berubah tiba-tiba. Para tetangga tiba-tiba saja datang dengan wajah sangar sambil berkata hal-hal yang tidak ku mengerti. Satu-satu mereka mengambil segala barang yang ada di dalam gubuk kami. Radio, kompor, panci, ember, bahkan hingga baju-baju tua ibu. Saat itu kakakku hanya menangis tersedu-sedu di sudut rumah sambil memelukku yang baru pulang bermain layang-layang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dek, kita harus pergi dari sini.” Begitu katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Huaaaahhhmmm....” Aku menguap lebar-lebar. Rasanya mataku berat sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kak, tidur yuk, sudah malam.” Ajakku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia hanya tersenyum dan beringsut-ingsut mencoba merebahkan tubuhnya, tapi tiba-tiba...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aduuuuh.” Ia mengaduh kecil saat punggungnya menyentuh tanah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kak, masih sakit punggungnya?” Tanyaku kaget. Terduduk aku memperhatikannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Enggak...” Ia menggeleng, “Enggak apa-apa kok. Sudah kita tidur saja, yuk.” Jawabnya menghibur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sudut mataku, aku lihat matanya terpejam sambil meringis. Pasti sakit sekali pukulan orang itu siang tadi, pikirku. Aku mengeluh dalam hati. Ingatanku mengembara lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siang tadi, ketika mencari barang-barang bekas, tanpa sengaja kami melewati rumah makan besar. Dari balik kaca, terlihat orang-orang yang sedang makan. Satu demi satu potongan ayam goreng masuk ke dalam mulut mereka, dan mereka tampak sangat menikmatinya. Namun, tidak tahu mengapa penjaga rumah makan itu tiba-tiba keluar dan marah-marah pada kami. Ia bahkan mendorongku keras-keras sampai aku terjerembab. Kakaku sangat marah melihat aku terjatuh. Ia menyerang orang itu dan menggigit lengannya keras-keras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aaaaaaah...anak gila!!” Teriaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu aku melihat tangan orang tersebut melayang ke punggung kakak yang segera tersungkur. Sesaat kami jadi tontonan orang yang lewat, hingga seorang laki-laki yang berpakaian rapi keluar dari rumah makan dan mengusir kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Orang itu jahat, ya Kak.” Kataku sedih. “Kalau aku sudah besar, ia akan aku pukul, supaya punggungnya juga merasa sakit!” Ujarku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Adek...adek.” Ia menggumam. Matanya menatapku ramah. Entah mengapa aku selalu merasa bahwa dibalik matanya tersembunyi bintang-bintang yang selalu bersinar terang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau Adek sudah besar, Adek harus jadi seperti matahari. Tidak pernah bosan memberi kebaikan pada siapa pun, bahkan kepada orang-orang yang jahat. Yang cahayanya membuat bulan menyinari malam. Adek pun harus dapat menerangi kegelapan. Adek harus jadi anak yang baik, sabar, dan kuat.” Katanya pelan sambil tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tidak pernah mengira bahwa itu adalah saat terakhir ia berbicara panjang lebar kepadaku karena beberapa jam kemudian dalam lelapku, antara sadar dan tidak, aku mendengar tangis pelannya menahan sakit. Tangis yang perlahan-lahan lalu menghilang berganti dengan diam yang tenang. Baru ketika azan subuh terdengar aku terbangun dan mendapatinya tertidur dengan wajah yang pucat. Betapa takutnya aku ketika kulihat di sudut bibirnya terdapat jejak berwarna merah. Serentak aku berdiri dan mengguncang-guncang tubuhnya, tapi ia tidak bergerak sedikit pun. Sama seperti emak waktu itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kak, Kakak...!” Aku menatap wajahnya , mungkin mata bintangnya akan bersinar lagi. Tapi Tidak. Mata itu tetap terkatup erat. Aku menggigil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mundur ketika terdengar suara-suara ribut di depanku. Titik fajar sudah nampak. Sebentar lagi kali ini akan ramai dengan orang. Satu-dua bahkan telah datang dan menatap ke arahku yang beridiri bingung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hei, siapa itu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku terkesiap. Langkahku menyurut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hei, tunggu...!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku berbalik dan berlari. Oh, entah kenapa. Aku merasa sangat takut. Mereka mungkin akan menangkap dan memukulku seperti yang mereka lakukan pada kakaku. Aku takut....!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Heeeii....!” Terdengar langkah-langkah berat di belakangku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku berlari tanpa arah menyusuri lorong-lorong kampung. Meninggalkan orang-orang yang semakin ramai berdatangan ke kali. Cepat, dan semakin cepat aku berusaha berlari agar mereka tidak sampai menangkapku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langit mulai bersemburat jingga. Satu buah bintang besar bersinar. Oh, Ibu aku harus ke mana? Tanpa sadar aku melintasi jalan raya. Suasana subuh. Dan dari balik tikungan aku melihat sinar. Sinar terang. Seperti mata kakakku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kakak....!” Aku tertegun sesaat. Lalu tiba-tiba saja aku merasakan tubuhku melayang dan terhempas keras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayup-sayup kudengar seseorang berkata, “Gila lu, nabrak orang!” Lalu kosong. Tidak terdengar apapun. Badanku terasa sangat sakit dan sulit digerakkan. Aku hanya terbaring diam. Sesaat kemudian sayup-sayup kudengar nyanyian jangkrik dari balik rumput liar yang kian pelan. Samar di langit kulihat dua buah bintang, salah satunya bersinar terang. Aku yakin mereka pastilah emak dan kakaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku memejamkan mataku. Aku menangis kesepian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buat adik-adikku&lt;br /&gt;“generasi Indonesia yang tercabik-cabik di pinggir jalan”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;===============&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Vani Diana Puspasari&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6496427822632927265-7087921552566073540?l=akhimuammar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://akhimuammar.blogspot.com/feeds/7087921552566073540/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6496427822632927265&amp;postID=7087921552566073540' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6496427822632927265/posts/default/7087921552566073540'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6496427822632927265/posts/default/7087921552566073540'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://akhimuammar.blogspot.com/2008/06/serenade-malam.html' title='Serenade Malam'/><author><name>muammar_ikhwan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09232577519138736451</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_jirrn9uMBd0/R2XC7Uy2JGI/AAAAAAAAABA/v18DfXzrmhE/S220/Muamar.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6496427822632927265.post-2486574368994758537</id><published>2008-06-02T00:18:00.000-07:00</published><updated>2008-06-02T00:19:31.262-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerpen islami'/><title type='text'>Mengadulah Pada Kekasihmu ...!</title><content type='html'>Sahabatku rahimakumullah...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ujian apakah gerangan yang sedang melanda dirimu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kini?.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang kau balut dengan senyuman?.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan jika sudah tak kuasa menahan...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau tumpahkan pada orang-orang yang terpercaya...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ataupun lewat sarana dan media...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sahabatku...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang Menciptakan kita berkata:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"I'lamuu annamal hayaa tuddun-yaa la 'ibun".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hanyalah suatu permainan. (QS. Al Hadiid 57:20)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita ini sesungguhnya sedang bermain dalam sebuah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;panggung kehidupan yang diciptakan_Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan berbagai peran, keadaan dan penjiwaan...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Wa annahuu huwa adhaka wa abkaa".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan bahwasanya Dia-lah yang menjadikan orang tertawa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dan menangis".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(QS. An Najm 53:43)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adegan apa yang sedang engkau perankan wahai&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sahabatku???&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang yang kaya...ataukah miskin?.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;("Kaya Jiwa ataukah harta?". "Miskin harta ataukah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bathin?")&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang insan yang penuh duka...ataukah seorang hamba&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;yang senantiasa ceria dan bahagia?.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu ketika peran yang kau mainkan akan memaksamu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;untuk menangis...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan lain ketika memaksamu untuk tertawa...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Duniapun penuh warna dan langitpun terpesona...!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masya Allah...Itulah Kuasa_Nya Allah...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Subhanallah, walhamdulillah, walaa ilaa ha ilallah,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;wallaahu Akbar...)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu sahabatku...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bermainlah dengan penuh rasa cinta dan kesabaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Niscahya engkau ta'kan sulit melakukannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ikuti petunjuk pengarah adeganmu.(Rasul Allah Saw)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agar Sang Penulis Skenario Cerita (Allah Swt) merasa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;senang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena engkau mampu memainkannya dengan baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ingat!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan mau terperdaya...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena sungguh!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap adegan yang kau lakukan akan senantiasa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dinilai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan cermat dan penuh pehitungan !!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aduhai gerangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini kau sulit memainkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adegan itu semakin hari semakin berat saja...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlalu payah dan melelahkan...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu banyak menguras energi dan fikiran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasamupun tak karu-karuan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa disadari engkaupun bergumam, "Aku tak bisa...!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yach...begitulah kita manusia...!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Duhai yang dilanda duka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Laa tahzan walaa takhaaf.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Janganlah sedih dan janganlah takut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang Penulis Skenario berbisik lembut pada Qalbumu.:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Maa wadda 'aka rabbuka wamaa qalaa".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhanmu tidak meninggalkan kamu dan tidak pula benci&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kepadamu".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(QS. Ad Dhuha 93:3)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Asaabakum ghamman-bighammin-likailaa tahzanuu 'alaa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;maa faa takum walaa maa a shaa bakum".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah menimpakan padamu kesedihan atas kesedihan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;supaya kamu jangan bersedih hati terhadap apa yang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;luput daripada kamu dan terhadap apa yang menimpa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kamu. (QS. Ali Imran 3:153)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dekati Dia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukankah dengan Sifat Maha Penyayang_Nya engkau sebut&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia Yang Tersayang?!...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukankah dengan Sifat Maha Pengasih_Nya engkau sebut&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia Sang Kekasih?!...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengadulah Pada Kekasihmu...!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia akan menguatkan jiwamu, menentramkan Qalbumu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia sebaik-baik penolong...Sebaik-baik pelindung...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Percayakan semua pada_Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena dalam Cinta ada kepercayaan!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;O.O.O.Ini bukan saat yang tepat untukmu sahabatku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihat di kanan dan kirimu.!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hiruk pikuknya mebuatmu sulit untuk berkonsentrasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Inna laka finnahaa ri sabhan-thawiilaa".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya bagimu pada siang hari mempunyai urusan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;yang banyak".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(QS. Al Muzzammil 73:7)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu menyepilah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ucapkan pada_Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Yaa Habibi.Wahai Kekasihku.Aku ingin mengadu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;pada_Mu!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan kelembutan_Nya Ia berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Qumil laila".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bangunlah untuk shalat di malam hari. (QS. Al&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muzzammil 73:2)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nisfahuu awin-qush minhu qaliilaa".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Yaitu) seperduanya atau kurang dari padanya sedikit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(QS. Al Muzzammil 73:3)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Au zid 'alaihi".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau lebih atasnya. (QS. Al Muzzammil 73:4)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Shalatlah dengan penuh rasa cinta dan kerinduan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu akan membuatmu khusyu'...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tumpahkanlah segala apa yang menyesakkan dadamu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adukan semua pada_Nya...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan ungkapan pilu...ataupun diiringi tangisan yang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;lembut...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kerena sesungguhnya...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia adalah Sebaik-Baik Pendengar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan Berdo'alah...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan penuh harap, rendah diri, dan suara&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;perlahan...seperti do'a yang diajarkan_Nya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Rabbi adkhilnii mudkhala sidqin-wa akhrijnii mukhraja&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sidqin-waj 'al lii min-ladunka sulthaanan nashiraa".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Tuhanku, masukkanlah aku secara masuk yang benar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dan keluarkanlah (pula) aku secara keluar yang benar,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dan berikanlah kepadaku dari sisi Engkau kekuasaan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;yang menolong. (QS. Al Israa 17:80)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jaa al haqqu wazahaqal baa thilu, innalbaa thila&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kaana zahuu qaa".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Telah datang yang benar dan telah lenyap yang bathil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya yang bathil itu adalah sesuatu yang pasti&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;lenyap. (QS. Al Israa 17:81)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ataupun do'a-do'a lain yang menjadi keinginan...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hantarkan ia dengan bahasa yang mudah bagimu...dan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan pernah merasa sungkan...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sabda Rasullullah Saw:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;'Sesungguhnya Roobmu itu pemalu lagi pemurah, merasa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;malu apabila tidak mengabulkan do'a kepada hamba_Nya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;yang mengangkat kedua tangannya untuk berdo'a lalu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dikembalikan kosong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Faqra uu maa tayassara minal qur aan".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Qur'an. (QS. Al&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muzzammil 73:20)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Warattilil qur aana tartiilaa".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan Bacalah Qur'an itu secara perlahan-lahan. (QS. Al&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muzzammil 73:4)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk apa Ia menyuruhmu membaca Surat Cinta_Nya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Qur'an) wahai sahabatku?...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Nu nazzilu minal qur aani maa huwa syifaa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;un-warahmatun-lilmu'miniin".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami turunkan dari Al Qur'an suatu yang menjadi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman. (QS.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al Israa 17:82)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah.bagaimana keadaanmu sekarang?...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terasa ringan bukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Insya Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan saat-saat yang indah bersama_Nya ini tak'kan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;pernah kau lupakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dimana engkau akan senantiasa rindu dan ingin s'lalu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;menjumpai_Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika tak'bertemu sehari saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada sesuatu yang hilang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Iapun semakin sayang dan semakin cinta padamu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masya Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi sahabat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahukah dirimu kenyataan yang sebenarnya?...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya Sang Kekasih itu senantiasa ada&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bersamamu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak pernah jauh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia begitu dekat.sangat dekat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mampukah engkau menangkap keberadaan_Nya?...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(QS. Al Baqarah 2:186), (QS. Qaaf 50:16), (QS. Al&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baqarah 2:115), (QS. Al Hadiid 57:4)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia ada di sini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat aku menulis untukmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan melihatmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang kini sedang meresapinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena ini juga adalah suatu adegan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana dengan adegan selanjutnya?.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengarkan bisik Qalbumu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan engkaupun akan tahu jawabannya.!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Waminal laili fatahajjad bihii naa filatan-lah, 'asaa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;an-yab 'asaka rabbuka maqaa man-mahmuudaa(n)".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan pada sebagian malam hari shalat tahajudlah kamu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; mudah-mudahan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhanmu mengangkat kamu ketempat yang terpuji. (QS. Al&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Israa' 17:79)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Inna naa syiatal laili hiya asyaddu wath an-wa aqwamu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;qiilaa".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;menguatkan (jiwa) dan bacaan di waktu itu lebih&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;berkesan. (QS. Al Muzzammil 73:6)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Nazzalahuu ruuhul qudusi min-rabbika bil haqqi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;liyusabbital laziina aamanuu wahudan-wabusyraa lil&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;muslimiin".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ruhul Qudus (Jibril) menurunkan Al Qur'an itu dari&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhanmu dengan benar, untuk meneguhkan hati&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;orang-orang yang telah beriman, dan menjadi petunjuk&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;serta khabar gembira bagi orang-orang yang berserah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;diri (Kepada Allah Swt). (QS. An Nahl 16:102)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wabillaahi taufiq walhidayah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wassalaamu'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6496427822632927265-2486574368994758537?l=akhimuammar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://akhimuammar.blogspot.com/feeds/2486574368994758537/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6496427822632927265&amp;postID=2486574368994758537' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6496427822632927265/posts/default/2486574368994758537'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6496427822632927265/posts/default/2486574368994758537'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://akhimuammar.blogspot.com/2008/06/mengadulah-pada-kekasihmu.html' title='Mengadulah Pada Kekasihmu ...!'/><author><name>muammar_ikhwan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09232577519138736451</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_jirrn9uMBd0/R2XC7Uy2JGI/AAAAAAAAABA/v18DfXzrmhE/S220/Muamar.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6496427822632927265.post-5287429241370432772</id><published>2008-06-02T00:16:00.000-07:00</published><updated>2008-06-02T01:15:53.065-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerpen islami'/><title type='text'>Menganyam Kesabaran</title><content type='html'>"Kriiinnnggg!" Jam wekker di samping kepalaku berbunyi nyaring. Reflek kugerakkan tanganku memencet tombolnya. Hmmm, jam 4.45. Kulihat Aa sudah tidak ada di sampingku, aku bergerak menyalakan heater dan bergerak menuju ruang sebelah. Di sana kulihat Aa tertidur dengan pulasnya. Dengan jaket tebal dan sarungnya. Posisinya melingkar membuat tubuh Aa yang jangkung tampak mengecil. Aku tersenyum. Rupanya Aa shalat malam tanpa membangunkan aku.Terlihat terjemahan Al quran yg masih terbuka di samping kepala Aa. Kututup perlahan terjemahan itu. Kuberjongkok di samping tubuh Aa, tersenyum memandangi wajah Aa yang terlihat damai sekali. "A..Aa..!" Kuguncang-guncang bahu Aa pelan. Aa menggeliat sebentar. Tapi seakan tidak peduli malah membalikkan posisi tubuhnya membelakangiku. Kuulang hal yang sama. Aa belum mau bangun juga. Kalau sudah begini, cuma ada satu cara yang ampuh. Usapan air! Aku bergegas menuju dapur dan memutar kran lalu mencuci tanganku. Siraman air dingin membuat sel-sel sarafku bereaksi seketika. Rasa kantuk yang masih tersisa lenyap dibuatnya. Kuusapkan tanganku yang dingin pada wajah Aa. Suamiku terbangun seketika dan menatapku dengan wajah bangun tidurnya yang lucu. "Assalamu'alaikum! Sudah mau jam 5..."kataku memandang Aa sambil menahan tawa. Aa bangkit dari tidurnya. "Hmm..,"gumamnya masih ogah-ogahan. "Dede wudhu dulu..awas jangan ketiduran lagi!"ancamku sambil beranjak ke kamar mandi.&lt;br /&gt;Subuh itu seperti biasa kami selesai shalat berjamaah kami lewati dengan tilawah Al Quran dan doa Matsurat. Dan seperti biasanya tilawah Aa lebih panjang dari pada lama tilawahku. Aku beranjak menuju dapur untuk menyiapkan sarapan pagi dan mencuci pakaian. Ketika aku memasukkan baju-baju kotor ke mesin cuci, ku dengar suara Aa. "De..! Sudah nggak papa perutnya..? Katanya mulas habis dari Rumah sakit kemarin.." "Nggak, udah nggak papa, kok, "sahutku.&lt;br /&gt;Kemarin memang hari di mana aku harus pergi ke ahli kandungan untuk memeriksakan diri secara rutin tiap bulan. Sebelum memasukkan alat itu ke dalam tubuhku, dokter wanita yang ramah itu mengingatkanku, bahwa pengobatan seperti ini memang menyakitkan. Jadi aku bisa menolaknya kalau tidak tahan. Tapi kupikir-pikir toh sama saja sakit sekarang atau nanti. Maka kubilang pada dokter tersebut. "iie. Daijoubu desu. Yatte kudasai, onegaishimasu.(tidak apa-apa. Tolong laksanakan saja...)" Dokter Abe tertawa. "Gaman site, ne...(bersabar ya, kalau sakit..)" Dan benar saja. Perutku terasa diperas-peras, kepalaku gelap. Aku hampir terjatuh ketika bangkit dari tempat tidur. "Sebentar akan saya telfonkan taksi untuk mengantar anda pulang ke rumah!" Kata dokter Abe bergegas keluar. Aku berterimakasih padanya sambil menahan rasa mual yang tidak dapat kuceritakan rasanya. Sampai di rumah aku tak kuat bangun lagi. Sehabis Ashar aku tak sempat lagi membuat makan malam buat Aa. Ketika Aa pulang, dan mendapatkanku sedang tidur Aa sendiri yang memasak makan malam. Alhamdulillah, Aa memang mengerti keadaanku, walaupun sebenarnya tidak mengetahui kejadian yang sesungguhnya. Tapi beliau tidak marah karena tidak ditemuinya makan malam di meja makan, malah beliau berinisiatif sendiri untuk memasaknya. Ya Allah terimakasih karena telah Kau berikan seorang suami seperti Aa, kataku bersyuku dalam hati. "Hei! Kok, bengong !" Aa mencolek bahuku. Aku terkejut, agak malu tertangkap basah dalam keadaan bengong. "Masak apa, De..? Mi goreng sajalah ya. Kan mi goreng buatan Aa jaminan mutu.." Aa bergerak menuju wastafel dapur dan mulai membuka-buka kulkas. Aku mengangguk saja. Mi goreng adalah masakan kebisaan Aa. Dan harus diakui kadang-kadang rasanya jauh lebih enak dari buatanku. Pagi itu kami sarapan pagi dengan mi goreng dan sup miso ala Aa. Sedap karena Aa menambah rasanya dengan keikhlasan... Dan seperti biasa kami berpisah di dekat stasiun. Aku ke kiri menuju kampusku yang telah berdiri di sana, sedang Aa ke kanan, ke arah stasiun karena Aa harus ke kampus dengan kereta listrik. "Nggak papa, De..? Kuat kuliah..?"tanya Aa lagi sebelum berpisah. "Insya Allah nggak papa...Lagian cuma sebentar hari ini, seminar saja. Kan giliran Dede yang harus presentasi.."jawabku berusaha menghilangkan kekhawatiran Aa. "Yah, sudah kalau nggak papa. Hati-hati, ya..Assalamu'alaikum!" Aku mencium tangan Aa dan membalas salamnya. Kutunggu sampai tubuh jangkung Aa hilang di pintu stasiun.&lt;br /&gt;Aku dan Aa berselisih dua tahun. Kami menikah ketika aku tahun ketiga, dan Aa sedang dalam proses menyelesaikan skripsinya. Kami berada di fakultas yang sama, FMIPA, walau berbeda jurusan. Aku kimia, sedang Aa fisika. Alhamdulillah, Allah menjawab doa-doa kami, dengan memberikan cinta dan kasih sayangNya pada hati-hati kami. Walau kami tidak berpacaran seperti yang biasa dilakukan orang-orang pada umunya, ternyata kami bisa cocok dan saling memahami hingga usia perkawinan kami menjelang tahun ke enam sekarang, tak ada percecokan yang sampai mengguncang bahtera yang kami layari. Kalaupun ada mungkin keinginan kami untuk mempunyai anak.Tidak, itu tak pernah mengguncangkan bahtera. Bahkan boleh dibilang memperkuat ikatan tali hati kami. Ketika setelah dua tahun menikah Allah belum juga mempercayakan amanah itu pada kami, aku sendiri masih tenang-tenang saja. Aku memang tidak mempunyai siklus bulanan yang teratur sebagaimana wanita normal. Tetapi melihat keturunan dari ibu dan bapak, keluargaku termasuk"subur". Demikian pula Aa. Sampai akhir nya Aa pergi belajar ke Jepang ditugaskan lembaga yang selama ini memberi Aa beasiswa, dan aku menyusulnya satu tahun kemudian untuk menemani Aa setelah skripsiku yang sedikit berlarut-larut karena aku harus membagi waktuku sebagai seorang istri dan mahasiswi, selesai disidangkan.&lt;br /&gt;Atas keinginanku yang disetujui oleh Aa, akhirnya kami berdua berkonsultasi pada dokter ahli kandungan yangsekarang ini. Kebetulan dan alhamdulillah sekali beliau perempuan.. Dan setelah diteliti, ternyata benar dugaanku. Aa normal, akulah yang sakit. Sehingga sejak satu setengah tahun lalu aku berobat secara intensif. Walaupun belum tampak hasilnya hingga kini. Namun atas dorongan semangat Aa, aku bisa terus sabar berusaha hingga kini. Dan aku tahu, Aa juga menunjangnya dengan doa-doa di sujudnya yang lama setelah shalat, sebagaimana yang juga aku lakukan. ****&lt;br /&gt;Kesepian menunggu datangnya amanah itu bukannya tak pernah kami rasakan, khususnya aku. Tanpa aku katakan pada Aa apa yang aku rasakan, Aa seakan mengerti. Sehingga ketika hari tahun ajaran baru universitas dimulai, Aa menyarankan agar aku melanjutkan sekolah saja. Di rumah sendiri bukannya tak ada pekerjaan. Pekerjaan menterjemahkan secara bebas artikel-artikel bahasa Inggris dan kukirim ke redaksi-redaksi majalah, adalah pekerjaan yang sudah kumulai sejak aku masuk universitas. Lalu kursus Bahasa Arab gratis dengan beberapa teman, ibu-ibu dari Mesir seminggu sekali. Dan pelajaran bahasa Jepang secara autodidak yang aku lakukan melalui TV dan majalah berbahasa Inggris-Jepang. Belum lagi pekerjaan rumah tangga, yang walaupun sebagian besar serba otomatis tetapi membutuhkan kesabaran untuk melawan kebosanan itu, juga menunggu. Tetapi waktuku yang banyak sendirian di rumah kadang-kadang membuat aku tak kuat melawan sepi. Dan Aa mengerti benar kecenderunganku tersebut.&lt;br /&gt;Dan akhirnya aku memilih masuk fakultas pendidikan, dan mengambil spesialisai psikologi pendidikan. Karena aku melihat Jepang mapan dalam pendidikan dasarnya. Sedari dulu aku tergelitik untuk mengetahui "resep"nya. Tanpa pikir dua kali aku menyambut saran Aa. Dan jadilah setahun yang lalu aku mahasiswi graduate di universitas yang sama dengan tempat Aa sekarang. Walaupun satu universitas tempat kami berjauhan. Dan kami memutuskan untuk pindah ke tempat yang sekarang.&lt;br /&gt;Hari-hari hanya berdua saja dengan Aa dari sisi lain kurasakan juga sebagai anugerah Allah pada kami. Karena belum disibukkan oleh anak, membuat aku lebih punya banyak waktu memperhatikan Aa, berdiskusi banyak hal dengan Aa, dan lain-lain yang kurasakan sangat mendekatkan aku dengan Aa. Jalan-jalan pagi atau sore sepanjang sungai kerap kami lakukan. Dan ketika kami bertemu dengan pasangan suami istri yang berjalan-jalan bersama buah hati mereka, tanpa sadar mata-mata kami memandang pada si kecil yang yang memandangiku dengan lucunya. Dan seperti biasa, kalau tidak aku atau Aa akan berguman. "lucunya.." "A, nanti anak kita lucu atau nggak, ya..?" Atau: "De, mudah-mudahan anak kita juga lucunya kayak gitu.."Yang kuaminkan dalam diam. Dan biasanya kami akan saling memandang dan tersenyum bersama. Walau bagaimanapun kami merindukan kehadiran amanah itu, ya Allah..&lt;br /&gt;Dan tibalah keajaiban itu, tepat empat bulan setelah itu, hawa dingin sisa-sisa musim dingin masih tertinggal. Bulan Februari akhir, beberapa hari sebelum Ramadhan. Aku menemui Dokter Abe seperti biasa. Kali ini sambil membawa buku catatan suhuku yang kuukur setiap hari. Ada debar-debar harap karena kulihat grafik suhu tersebut tidak menurun. Tapi aku tak mau terlalu berharap. Karena takut kecewa yang berlebihan, jika bukan berita baik yang kudapat. Dan dengan perasaan sedikit tak tenang kutunggu hasil pemeriksaan urine. Dan kudengar namaku dipanggil. "Aya-san!" Kudapati dokter Abe dengan ekpresi ramah seperti biasa. "Duduklah,"katanya. Aku duduk dihadapannya sambil harap-harap cemas. Dan.."Omedetou gozaimasu..!(selamat..)" aku mendengar kata-kata itu dengan kelegaan yang luar biasa, tetapi juga diiringi dengan tangis haruku yang naik ke kerongkongan."Positif..,"kata dokter Abe melanjutkan. Alhamdulillah, Alhamdulillahrabbil'alamin..Subhanallah...Ya Allah, Maha Besar Engkau yang telah mengabulkan permintaan dan usaha hamba-hambaNya. Aku bertasbih dan bertahmid dalam hati, air mata bahagia yang kurasakan hangat keluar tanpa mampu kutahan lagi. Dokter Abe memandangku dengan senyumnya, dan aku tahu dimatanya yang tersembunyi oleh kacamata itu ku dapati juga kaca-kaca. "Domou arigatou gozaimasu.."kataku berterimakasih padaNya. Dia menggeleng. "Bukan saya yang membuatnya demikian, tetapi Kamisama(Tuhan) lah yang memberikannya. Bukan begitu Aya-san?" Aku mengangguk. Alhamdulillah, Segala puji bagi Engkau...&lt;br /&gt;Sesampainya di rumah, aku seperti mempunyai tambahan energi baru. Aku masak soto ayam kesukaan Aa, kali ini tanpa pelit dengan daun sereh dan daun jeruk, biar sedikit istimewa. Juga acar, sambel kecap, serta perkedel jagung. Ketika dering telpon berbunyi, aku segera berlari mengangkatnya. Pasti itu Aa. Benar saja...Sehabis menjawab salam Aa, tanpa memberi kesempatan Aa berbicara aku berkata:"A, cepet pulang!..."&lt;br /&gt;Dan hari-hari selanjutnya kurasakan lebih bergairah lagi. Walau janin di perutku baru dua bulan, tapi aku yakin dia sudah merasakan apa yang aku rasakan. Buku-buku tentang pendidikan janin dalam rahim, cara merawat bayi,sampai majalah tentang permasalahan bayi, yang dulu sempat kuletakkan jauh-jauh dari penglijatanku kupindahkan dekat rak buku-buku kuliahku. Uang tabungan yang kusisihkan dari uang belanja kubelikan walkman. Juga tak lupa aku rajin menggaris-garis buku pedoman pendidikan anak dalam Islam dan kuingat-ingat bagian yang pentingnya. Kini hari-hari ku tak pernah kulewatkan tanpa walkman yang memutar ayat-ayat Al-quran. Juga hari-hari di rumah aku lewatkan dengan "mengobrol" dengan janinku. Sampai Aa iri, karena aku bisa merasakan kehadiransi kecil lewat tubuhku, sedang Aa tidak. Alhamdulillah, aku tidak banyak mengidam dan merasakan mual. Padahal aku khawatir juga, karena sampai sekarang aku masih kuliah seperti biasa. Hanya saja waktu membacaku kuhabiskan sebagian besar di rumah, bukan di perpustakaan seperti biasanya. Karena di rumah aku lebih punya waktu dan lebih bebas "bicara" dengan si kecil.&lt;br /&gt;Sampai saat itu...&lt;br /&gt;Kali itu pemeriksaan kandunganku yang keenam. Menurut hitungan dia sudah 10 pekan usianya. Hari itu kuajak Aa juga. Karena kata Dokter Abe kandungan ku mungkin sudah bisa dideteksi oleh USG, maka beliau mengundang Aa juga untuk ikut menyaksikannya. Akan tetapi, takdir Allah menentukan lain... "Aya -san, terakhir memeriksakan kandungan tiga minggu yang lalu, ya..?" Dokter Abe bertanya memastikan setelah selesai memeriksaku. "Iya, sensei.."Aku mulai merasakan hal yang tidak enak menjalari hatiku. "Heemm, bisa tolong panggil suami anda..?"&lt;br /&gt;Dan aku berusaha tabah ketika mendengar penjelasan itu. Janinku tidak berkembang! Penyebabnya sendiri belum diketahui secara persis. Karena pada pemeriksaan terakhir dia masih "hidup". Aku harus mengeluarkannya agar tidak meracuni rahimku.Aa menggegam tanganku erat. Kurasakan tubuhku bergetar menahan tangis. Ya Allah. Kutunggu kedatangannya selama 5 tahun lebih.Mengapa dia Kau panggil tanpa sempat kulihat wajah lucunya? Kenapa Kau panggil dia tanpa sempat aku rasakan lembut kulitnya, indah bening matanya, dan tangisan rewelnya. Aa menggegam tanganku lebih erat lagisambil berucap pelan, "Istighfar, Dede..Istighfar.."Ya, seakan mengerti apa yang bergalau di hatiku.&lt;br /&gt;Aku beristighfar dalam hati mencoba menghilangkan rasa penyesalanku atas taqdir Allah. Tidak, aku tidak boleh menyalahkan Allah atas cobaanNya, seru sebuah bagian hatiku. Tetapi kenapa Dia panggil anakku yang sudah begitu lama kunantikan, tanpa memberiku kesempatan untuk jangankan membelainya, bahkan merasakannya untuk lebih lama berdiam dalam perutku? Seru bagian hatiku yang lain. Ya Allah, ampuni aku. Ya Allah, ampuni aku.Akhirnya bagian hatiku yang bersih menyapu bagian hatiku yang kotor. Dan kutemukan diriku dalam keadaan tenang kembali. Ku dengar Aa berucap pelan "Innalillaahi wa inna ilaihi Raaji'uun.." Dan dengan tenang menandatangani formulir operasi buatku.&lt;br /&gt;Empat hari aku di rumah sakit. Aku tak merasakan perubahan yang berarti pada tubuhku. Tapi tidak demikian pada hatiku. Aku merasakan kesendirian ketika kusadari "anakku" tak ada lagi dalam diriku. Aa sendiri tak banyak berbicara tentang masalah itu. Aa tampak berusaha bersikap biasa. Namun aku tahu Aa menanggung kesedihan yang sama seperti yang kurasakan.&lt;br /&gt;Maghrib itu kami berjamaah seperti biasa. Yang tidak biasa hanyalah itu pertama kali kami shalat berjamaahan sejak aku mengungsi di rumah sakit. Pada rakaat yang kedua Aa membaca surat Al Baqoroh dari ayat 153. Dan suara Aa bergetar ketika mencapai: .... Walanabluwannakum bisyayi im minal khaufi wal juu'i wanaqshim minal amwaali wal anfusi watstsamaraat. Wabasyiri shabiriin Alladziina idzaa ashabathum mushibah, qoluu inna lillaahi wa inna ilaihi raji'uun.Ulaika alaihim shalawaatum mir rabbihim warahmah. Wa ulaaika humul muhtadun... ...&lt;br /&gt;(... Dan sungguh akan kami berikan cobaan kepada mu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, yaitu orang-orang yang apabila ditimpa mushibah mereka berucap: Innalillaahi wainna ilaihi raaji'unn. mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari RabbNya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk ...)&lt;br /&gt;Aku terisak di belakang Aa, mendengar teguran Allah yang lembut itu. Betapaku rasakan Allah langsung menegur sekaligus menghiburku lewat ayat-ayat tersebut. Selesai shalat, seperti biasanya Aa shalat rawatib ba'da maghrib , lalu berdzikir sebentar. Tak lama kemudian membalikkan badannya ke arahku. Aku menatap Aa. Kutemui mata yang cekung dan kurang tidur, karena beberapa hari ini Aa harus menjalani hidup antara rumah, rumah sakit, dan kampus. Kucium punggung tangan Aa seperti biasanya. Aa tersenyum bijak dan mengelus kepalaku dengan tangan kirinya. "Innallaaha ma'ashshabiriin, De.."katanya serak. Aa bukanlah tipe orang yang mudah mengekspresikan emosinya lewat titik air mata. Tapi kali ini, kulihat mata cekung Aa dipenuhi oleh kaca-kaca. Aku mengangguk pelan. Kurasakan mataku memanas lagi, dan kurasakan pandanganku kabur karena genangan air mata. Aa tak melepaskan genggaman tanganku, digenggamnya erat-erat seolah ingin berbagi kekuatan dengan ku.&lt;br /&gt;Ya Allah, jika Engkau masukkan kami ke dalam golongan orang-orang yang Engkau berkati dan rahmati karena kesabaran kami menanggung cobaan, cobaan yang tidak seberat yang dialami saudara-saudara seiman kami yang harus hidup dalam ketakutan, kehilangan harta, bahkan nyawa dalam mempertahankan tanah air Islam, maka bimbinglah kami terus untuk dapat terus menganyam benang-benang kesabaran kami, agar menjadi kuat dan kokh sehingga mampu menanggung cobaan yang lebih berat lagi.(is95)&lt;br /&gt;************&lt;br /&gt;Keterangan: Aa * bahasa sunda artinya sama dengan panggilan Mas(untuk orang Jawa), atau Abang (untuk orang Betawi) Dede * bahasa Sunda, artinya sama dengan adi, jeng (atau apalah panggilan sayang buat istri) Miso * semacam tauco Indonesia terbuat dari beras, kedelai, dan garam Domou arigatou gozaimasu: terimakasih banyak .....san: cara orang Jepang memanggil lawan bicaranya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sumber : www.cerpenislami.blogspot.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6496427822632927265-5287429241370432772?l=akhimuammar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://akhimuammar.blogspot.com/feeds/5287429241370432772/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6496427822632927265&amp;postID=5287429241370432772' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6496427822632927265/posts/default/5287429241370432772'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6496427822632927265/posts/default/5287429241370432772'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://akhimuammar.blogspot.com/2008/06/kriiinnnggg-jam-wekker-di-samping.html' title='Menganyam Kesabaran'/><author><name>muammar_ikhwan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09232577519138736451</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_jirrn9uMBd0/R2XC7Uy2JGI/AAAAAAAAABA/v18DfXzrmhE/S220/Muamar.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6496427822632927265.post-5178535714882360776</id><published>2008-06-02T00:15:00.000-07:00</published><updated>2008-06-02T00:16:01.317-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerpen islami'/><title type='text'>Maafkan Ibu, Bidadari Kecilku....</title><content type='html'>Malam belum seberapa tua, mata anak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sulungku belum juga bisa dipejamkan. Beberapa buku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;telah habis kubacakan hingga aku merasa semakin lelah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kamu tidur donk Dila, Ibu capek nih baca buku terus,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kamunya nggak tidur-tidur," pintaku .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ditatapnya dalam wajahku, lalu kedua tangannya yang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;lembut membelai pipiku. Dan, oh Subhanallah,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kehangatan terasa merasuki tubuhku ketika tanpa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;berkata-kata diciumnya kedua pipiku. Tak lama, ia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;minta diantarkan pipis dan gosok gigi. Ia tertidur&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kemudian, sebelumnya diucapkannya salam dan maafnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;untukku. "Maafin kakak ya Bu. Selamat tidur," ujarnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;lembut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebiasaan itulah yang berlaku dikeluarga kami sebelum&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tidur. Aku menghela nafas panjang sambil kuperhatikan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;si sulung yang kini telah beranjak sembilan tahun. Itu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;artinya telah sepuluh tahun usia pernikahan kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dentang waktu didinding telah beranjak menuju tengah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;malam. Setengah duabelas lewat lima ketika terdengar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dua ketukan di pintu. Itu ciri khas suamiku. Seperti&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;katanya barusan ditelepon, bahwa ia pulang terlambat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;karena ada urusan penting yang tak bisa ditunda besok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suamiku terkasih sudah dimuka pintu. Cepat kubukakan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;pintu setelah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sebelumnya menjawab salam. "Anak-anak sudah tidur?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan itu yang terlontar setelah ia bersih-bersih&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dan menghirup air hangat yang aku suguhkan. "Sudah,"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;jawabku singkat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kamu capek sekali kelihatannya. Dila baik-baik saja?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menggangguk. "Aku memang capek. Tapi aku bahagia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sekali, bahkan aku pingin seperti ini seterusnya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki berusia tiga puluh lima tahun itu menatapku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dengan sedikit bingung. "Akan selalu ada do'a untukmu,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;karena keikhlasanmu mengurus anak-anak dan suami&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tentunya. Dan aku akan minta pada Allah untuk&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;memberimu pahala yang banyak," hiburnya kemudian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tahu betapa ia penasaran ingin tahu apa yang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hendak aku katakan, tapi ia tak mau memaksaku untuk&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bercerita. Tak sanggup aku menahan gejolak perasaan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dalam dada yang sepertinya hendak meledak. Kurangkul&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;erat tubuhnya. "Maafkan aku mas," bisikku dalam hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi ini udara begitu cerah. Dila, sulungku yang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;semalam tidur paling akhir menjadi anak yang lebih&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dulu bangun pagi. Bahkan ia membangunkan kami untuk&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sholat subuh bersama. Mandi pagipun tanpa dikomandoi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;lagi. Dibantunya sang adik, Helmi, memakai celana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dila memang telah trampil membantuku mengurus adiknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak hanya itu, menyapu halamanpun ia lakukan. Tapi itu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dengan catatan, kalau ia sedang benar-benar ingin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;melakukannya. Kalau "angot" nya datang, wah, wah, wah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah yang ingin aku ceritakan. Dila kerap marah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;berlebihan tanpa sebab yang jelas, sampai membanting&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;benda-benda didekatnya, menggulingkan badan dilantai&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dan memaki dengan kata-kata kotor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang aku pernah melakukan suatu kesalahan saat aku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kesal menghadapi ulahnya. Saking tak tertahannya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kesalku, aku membanting pintu dan itu dilihatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wajar saja kalau akhirnya Dila meniru perbuatanku itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penuh rasa sesal saat itu, aku berjanji untuk tidak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;melakukan hal itu kembali. Kuberikan penjelasan pada&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dila bahwa aku salah dan hal itu tak boleh ia lakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah ia mengerti atau tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari itu Dila bangun agak siang karena kebetulan hari&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Minggu, pakaiannya basah kena ompol. Padahal ia tak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;biasanya begitu. Segera saja kusuruhnya mandi. Tapi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dila menolak, dengan alasan mau minum susu. "Boleh,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tapi setelah minum susu , kakak segera mandi ya karena&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;baju kakak basah kena ompol" Dila menyetujui&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;perjanjian itu. Tapi belum lagi lima menit setelah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;habis susu segelas, ia berhambur keluar karena&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;didengarnya teman-temannya sedang main. Mandipun urung&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dikerjakan. Aku masih mentolelir. Tapi tak lama&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;berselang "Kak Dila. mandi dulu," aku setengah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;berteriak memanggilnya karena ia sudah berada diantara&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kerumunan anak yang sedang main lompat tali. "Sebentar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;lagi Bu. Kakak mau lihat Nisa dulu," begitu jawabnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku masih belum bereaksi. Kutinggal ia sebentar karena&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Helmi merengek minta susu. Setelah membuatkan susu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;untuknya, aku keluar rumah lagi. Kali ini menghampiri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dila. "Waktumu sudah habis, sekarang kamu mandi",&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bisikku pelan ditelinganya. Dila bereaksi menamparku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;keras, "Nanti dulu!" aku tersentak, mendadak emosiku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;membludak. Aku balas menampar Dila hingga meninggalkan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bekas merah di pipi kanannya. Tanpa berkata-kata lagi,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kuseret tangannya sekuat tenaga. Dila terus meronta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kakiku digigitnya. Aku dengan balas mencubit. Layaknya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sebuah pertarungan besar kami saling memukul dan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;meninggikan suara. Setibanya dikamar mandi Dila&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kuguyur berulang-ulang, kugosok badanya dengan keras,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kuberi sabun dan kuguyur lagi hingga ia tampak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;gelagapan. Aku benar benar kalap. Selang beberapa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;menit kemudian, kukurung Dila dikamar mandi dalam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;keadaan masih tidak berpakaian. Ia menggedor-gedor&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;pintu minta dibukakan. Berulang kali ia memaki dan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;mengatakan akan mengadukan kepada ayah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak berapa lama kemudian suara Dila melemah, hanya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;terdengar isak tangisnya. Aku membukakan pintu dengan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;mengomel. "Makanya, kalau disuruh mandi jangan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;menolak, Ibu sampe capek, dari tadi kamu menolak mandi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;terus. Awas ya kalau seperti ini lagi. Ibu akan kunci&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kamu lebih lama lagi. Paham!", entah ia mengerti atau&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tidak. Dila hanya menangis meski tidak lagi meraung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah rapih berpakaian, menyisir rambut dan makan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dila seolah melupakan kejadian itu. Iapun asyik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kembali main dengan teman-temannya. Peristiwa itu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tidak hanya satu dua kali terjadi. Tidak hanya pada&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;saya ibunya tapi juga pada ayahnya. Tapi, cara suamiku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;memperlakukan Dila sangat berbeda. Barangkali memang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dasarnya aku yang tidak sabar menghadapi anak rewel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiap kali itu terjadi, cara itulah yang aku lakukan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;untuk mengatasinya. Bahkan mungkin ada yang lebih&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;keras lagi dari itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi apa yang dilakukan Dila pada saya, Subhanallah,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dila tak pernah menceritakan perlakuanku terhadapnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kepada siapapun. Seolah ia pendam sendiri dan tak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ingin diketahui orang lain. Akupun tak pernah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;menceritakan kepada suami, khawatir kalau ia marah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal Dila itu anak kandungku, anak yang keluar dari&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;rahimku sendiri. Aku kadang membencinya, tidak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;memperlakukan dia layaknya aku memperlakukan Helmi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;adiknya. Dila anak yang cerdas. Selalu ceria, gemar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;menghibur teman-temannya dengan membacakan mereka buku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;yang tersedia dirumah. Bahkan teman-temannya merasa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kehilangan ketika Dila menginap di rumah neneknya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;diluar kota, yang cuma dua malam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belaian lembut tangan suamiku menyadarkan aku. Kulepas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;pelukanku perlahan. Tak sadar air mata menyelinap&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;keluar membasahi pipi. "Sudahlah, malam semakin larut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayo kita tidur," ajaknya lembut. Aku berusaha&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;menenangkan gemuruh dibatinku. Astaghfirullah, aku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;beristighfar berulang kali. "Aku mau tidur dekat Dila&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ya?" pintaku. Lagi-lagi kearifan suamiku membuatku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;semakin merasa bersalah. Kuhampiri Dila yang tampak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;pulas memeluk guling&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kesayangannya. Siswi kelas tiga SD itu begitu baik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hati. Aku malu menjadi ibunya yang kerap memukul,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;berkata-kata dengan suara keras dan...oh Dila maafkan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disisi Dila bidadari kecilku, aku bersujud di tengah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;malam. " Ya Allah, melalui Dila, Engkau didik hambamu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ini untuk menjadi ibu yang baik. Aku bermohon ampunan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kepada-Mu atas apa yang telah kulakukan pada&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;keluargaku, pada Dila. Beri hamba kesempatan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;memperbaiki kesalahan dan ingatkan hamba untuk tidak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;mengulanginya lagi. Dila, maafkan Ibu nak, kamu banyak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;memberi pelajaran buat Ibu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah renungan untuk para ibu (termasuk saya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;didalamnya). Semoga kita semakin menyayangi anak-anak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dan memperlakukan mereka dengan baik. Sebagaimana&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;diingatkan dalam sebuah hadits Nabi SAW agar manusia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;menyayangi anak-anaknya. Ketika Aqra' bin Habis At&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tamimi mengatakan bahwa ia memiliki sepuluh anak tapi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tak pernah mencium salah seorang diantara mereka,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasululloh SAW bersabda "barangsiapa yang tidak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;menyayangi maka dia tidak disayangi" (HR. Bukhari dan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tirmizi)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Gesang Utari, gesangutari@hotmail.com)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;from : Eramuslim.Com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6496427822632927265-5178535714882360776?l=akhimuammar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://akhimuammar.blogspot.com/feeds/5178535714882360776/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6496427822632927265&amp;postID=5178535714882360776' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6496427822632927265/posts/default/5178535714882360776'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6496427822632927265/posts/default/5178535714882360776'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://akhimuammar.blogspot.com/2008/06/maafkan-ibu-bidadari-kecilku.html' title='Maafkan Ibu, Bidadari Kecilku....'/><author><name>muammar_ikhwan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09232577519138736451</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_jirrn9uMBd0/R2XC7Uy2JGI/AAAAAAAAABA/v18DfXzrmhE/S220/Muamar.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6496427822632927265.post-7203456491795215515</id><published>2008-06-02T00:10:00.000-07:00</published><updated>2008-06-02T00:11:58.560-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerpen islami'/><title type='text'>Seindah Mentari Pagi</title><content type='html'>Pagi itu di dapur....&lt;br /&gt;" Bu,.. awas itu ikannya hampir gosong loh... ", seru khadimatku, Asih, membuyarkan lamunanku.&lt;br /&gt;" Masya Allah...", seruku seraya mematikan kompor.&lt;br /&gt;" Nah loh ibu lagi ngelamun ya... ?", goda Asih lagi.&lt;br /&gt;" Ah, kamu ini... ayo mana belanjaannya ? ", tanyaku.&lt;br /&gt;" Asih, hari ini kita bikin bali ikan, sayurnya kita bikin lodeh saja terus goreng tahu, tempe dan kerupuk". Asih, khadimatku sudah lama ikut aku dan keluarga. Sejak dia baru lulus SD sampai sekarang dia sudah lulus SMEA. Kami sekeluarga sudah menganggap Asih sebagai anggota keluarga sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selesai masak bareng Asih sambil menunggu adzan dzuhur aku berniat meneruskan tulisanku semalam, tapi aku hanya termenung di depan layar monitor tanpa dapat memusatkan pikiranku. Aku kembali meneruskan lamunanku yang tadi sempat terputus gara-gara Asih mengejutkanku. Semalam selepas kami sholat Isya' berjamaah, Sarah putri tunggalku menghampiriku di kamar.&lt;br /&gt;" Ummi,... ummi lagi repot ? ", tanya Sarah.&lt;br /&gt;" Nggak kog sayang, ada apa ? ".&lt;br /&gt;" Malam ini ummi nggak nulis ?, biasanya ba'da isya ummi khan langsung asyik sama komputer ".&lt;br /&gt;" He.. he.. Sarah,...Sarah....nggak kog, memang sih ummi mau nulis tapi nanti-nanti saja. Ada apa sholihah... ? ".&lt;br /&gt;" Eng.. eng... ada yang mau Sarah diskusikan sama ummi ".&lt;br /&gt;" Ya,... tentang apa nak ? ".&lt;br /&gt;" Tapi ummi harus janji dulu sama Sarah loh.. ".&lt;br /&gt;" Janji.. ? ada apa memangnya ? ".&lt;br /&gt;" Ya ummi, janji dulu ya mi yah... ? ", Sarah mulai dengan rengekan manjanya&lt;br /&gt;" Iya deh insya Allah.... ".&lt;br /&gt;" Ummi musti janji pertama ummi jangan motong dulu sebelum Sarah selesai, terus yang kedua ummi jangan bicarakan ini dulu sama siapapun kecuali sama Abi. Sarah nggak mau kalau mas Fadhil, mas Yazid dan Zakly tahu sebelum waktunya ", kata Sarah seraya menatapku.&lt;br /&gt;" Hhhmm.... iya insya Allah ".&lt;br /&gt;" Nah,... sekarang ummi dengarkan baik-baik yah...? ", pinta Sarah dengan kerlingan manjanya.&lt;br /&gt;" Iya.... ini dari tadi juga ummi sudah dengerin kog...", kataku mulai tak sabar.&lt;br /&gt;" Mmhhhh... begini ummi,.... akhir-akhir ini Sarah mulai berpikir kalau... mmhhh...mmhhh.. kalau Sarah pingin menyempurnakan setengah dari dien Sarah ", kata Sarah perlahan lantas Sarah tertunduk dan diam.&lt;br /&gt;Aku masih terdiam, rasanya otakku saat itu bekerja dengan sangat lambat untuk mencerna kata-kata Sarah. Sarah ingin menyempurnakan setengah dari diennya itu artinya Sarah hendak menikah....Subhanallah... Alhamdulillah... putri tunggalku sudah berpikir ke arah sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Sarah,...subhanallah nak...", aku tak dapat meneruskan kata-kataku.&lt;br /&gt;" Ummi kaget Sarah,... tapi sekaligus juga bangga ", kataku seraya memeluk Sarah yang masih tertunduk di hadapanku. " Alhamdulillah nak.... Insya Allah kalau nanti abi sudah pulang akan ummi diskusikan dengan abi. Nah,...mau ngomong begitu aja kog dari tadi pakai takut-takut segala sih sayang.. ? ", godaku.&lt;br /&gt;Sarah masih menunduk sambil tersenyum.&lt;br /&gt;" Sekarang masalahnya Sarah mau nikah sama siapa ?", tanyaku. "Atau Sarah pingin abi dan ummi yang carikan calonnya ? ".&lt;br /&gt;" Mmhh... sebenarnya Sarah sudah punya calon ummi.... ", katanya perlahan.&lt;br /&gt;" Heh... ?? Sarah sudah punya calon... kog abi dan ummi nggak tahu ? ".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terus terang aku terkejut. Aku kenal betul siapa Sarah, ia sangat hati- hati dalam menjaga pergaulan dengan lawan jenisnya. Tapi kog tahu-tahu sekarang sudah ada calon.&lt;br /&gt;" Ummi masih janji kalau nggak memotong sebelum Sarah selesai khan,...sekarang Sarah mau cerita yang lengkap ". Sarah menarik nafas.&lt;br /&gt;" Begini ummi,... ada temen pengajian Sarah di kampus, akhwat itu punya mas. Nah, masnya itu insyaAllah akhlaq dan diennya baik ".&lt;br /&gt;" Hhmm.... lantas.. ", kataku tak sabar.&lt;br /&gt;" Temen Sarah itu mengusulkan agar Sarah menikah dengan masnya. Nah,.. sekarang Sarah mau minta tolong ummi dan abi atau mas Fadhil atau mas Yazid untuk menyelidiki apa memang betul ikhwan itu diennya baik dan insya Allah bisa cocok sama Sarah ".&lt;br /&gt;" Hhhmmm... begitu ? ".&lt;br /&gt;" Sarah belum pernah ketemu sama ikhwan itu, Sarah baru lihat fotonya saja dan Yasmin, teman Sarah itu cerita kalau ikhwan itu insya Allah shalih. Sarah percaya sama Yasmin, ummi masih ingat Yasmin khan yang pernah kesini itu lho... ".&lt;br /&gt;" Ummi lupa abis khan banyak akhwat temen Sarah yang main kesini ".&lt;br /&gt;" Ummi,... abi dan ummi khan selalu bilang kalau apapun yang kita kerjakan harus lillaahita'ala khan ? ", tanya Sarah. Aku hanya mengangguk....&lt;br /&gt;" Ummi,....insya Allah Sarah ingin pernikahan ini juga menjadi ibadah karena Sarah pingin mencari ridho Allah ummi. Sarah ingin nikah dengan ikhwan itu karena Sarah ingin menolong ia dan keluarganya mi... Ummi,.. sebenarnya ia sudah menikah, sudah punya isteri ".&lt;br /&gt;" Heh....", seruku dengan terkejut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa memperdulikan keterkejutanku Sarah kembali meneruskan kata-katanya.&lt;br /&gt;" Ummi, ikhwan itu sudah nikah hampir 6 tahun, tapi sampai sekarang belum dikasih amanah oleh Allah, isterinya punya fisik yang lemah, sering sakit-sakitan. Sarah berpikir ummi,.... Sarah ingin bisa menolong keluarga itu untuk sama-sama berjihad di jalan Allah. Sarah bisa bantu-bantu pekerjaan rumah tangga dan insya Allah nanti Sarah bisa melahirkan jundi-jundi yang bisa dididik sama-sama. Ummi ingat ya ummi,... Sarah insyaAllah mau melakukan ini semua hanya karena Allah, Sarah cuma mau mencari ridho Allah saja ummi.... Sarah sudah istikharoh berkali-kali dan Sarah makin hari makin mantap aja ".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku hanya terdiam,... tak tahu harus berkata apa. Terus terang aku sangat ingin suamiku ada disampingku saat ini. Kenapa Sarah harus membicarakan hal itu di saat suamiku ke luar kota. Aku bingung tak tahu harus berkata apa....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Ummi,.... ", panggil Sarah perlahan.&lt;br /&gt;" Sarah,...sekarang ummi mau tanya ya nak... ".&lt;br /&gt;" Bagaimana awal mulanya kog tiba-tiba Sarah ingin menikah dengan ikhwan itu ? ".&lt;br /&gt;" Begini ummi,...Yasmin bilang kalau mbak Asma, nama isteri masnya itu, pernah bilang ke Yasmin bahwa mbak Asma ingin suaminya menikah lagi ".&lt;br /&gt;" Hhmmm.... terus.... ".&lt;br /&gt;" Soalnya mbak Asma tahu benar kalau suaminya sudah ingin punya jundi sementara mbak Asma sendiri sampai sekarang belum juga dikasih kesempatan oleh Allah untuk hamil. Kasihan mbak Asma ummi,...sudah fisiknya lemah, kesepian lagi. Sehabis Yasmin cerita begitu Sarah jadi kepikiran, Sarah ingin membantu keluarga itu ummi.... Sarah pingin bisa bantu-bantu mbak Asma, nemenin mbak Asma, insyaAllah nanti Sarah juga bisa melahirkan jundi yang bisa dididik sama-sama. Khan Ummi sendiri yang bilang kalau untuk menuju kebangkitan Islam memerlukan generasi yang berkualitas, insya Allah nanti akan lahir generasi-generasi robbani ."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah sholat dzuhur berdua dengan Asih aku kemudian makan sendirian. Kalau siang seperti ini rumah selalu sepi, hanya aku berdua dengan Asih saja. Mereka biasanya makan di kampus masing-masing dan Yazid makan di cafetaria kantornya. Terus terang aku kesepian, ingin rasanya aku segera mendapatkan cucu-cucu dari mereka. Dan kini salah seorang dari mereka mengajukan keinginannya untuk menikah, tapi...kenapa Sarah hendak nikah dengan seseorang yang telah beristri?.... Rasanya sejak semalam aku sulit berpikir secara jernih, aku terlalu terbawa alam perasaanku. Diantara mereka berempat aku tidak membeda-bedakan kasih sayangku. Aku selalu berusaha adil terhadap mereka. Tapi tak dapat kupungkiri kalau Sarah menempati posisi yang lebih istimewa. Perhatianku lebih tercurah ekstra pada Sarah. Karena Sarah hanya satu-satunya putri tunggalku. Aku lebih melindungi Sarah dibandingkan dengan putra-putraku yang lain. Timbul rasa was-was dalam hatiku, bagaimana kalau seandainya suaminya nanti tak dapat berlaku adil, bagaimana kalau seandainya madu Sarah tidak memperlakukannya dengan baik karena merasa mendapat saingan dan bagaimana kalau nanti Sarah tidak bahagia. Semua itu menjadi beban pikiranku. Aku menyayangi Sarah, dan wajar bila sebagai seorang ibu aku ingin melihat anak-anakku bahagia. Aku menjadi tidak berselera makan. Tiba-tiba...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Assalamu'alaikum,...", suara Zakly kudengar dari teras depan.&lt;br /&gt;" Wa'alaikumussalam,... loh kog sudah pulang ? ", tanyaku.&lt;br /&gt;" Iya mi, dosennya nggak ada... lagi pula siang ini sudah nggak ada kuliah lagi kog ", jawab Zakly seraya mencium tanganku.&lt;br /&gt;" Ayo makan sekalian,...ummi baru saja mulai ".&lt;br /&gt;" Sebentar mi, cuci tangan dulu... ".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti kebiasaan mereka sejak kecil, setiap pulang sekolah waktu makan siang mereka akan bercerita tentang kejadian mereka di sekolah hari itu. Dan hingga kini meskipun mereka telah beranjak dewasa kebiasaan itu tetap terbawa. Zakly sedang bercerita tentang susahnya mencari dosen pembimbingnya untuk skripsi. Tapi aku hanya menanggapi setengah hati, konsentrasiku tidak terpusat seutuhnya pada apa yang dibicarakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Ummi,.... ummi kenapa sih...? ", tanya Zakly.&lt;br /&gt;" Oohh...nggak,... Zakly bilang apa tadi temen Zakly kenapa ? ".&lt;br /&gt;" Nah khan... ketahuan deh kalo ummi nggak dengerin Zakly ngomong ".&lt;br /&gt;" Nggak,.. kenapa tadi.... ? ".&lt;br /&gt;" Sejak tadi pagi Zakly perhatikan ummi hari ini agak lain deh... ".&lt;br /&gt;" Ah masa sih,... itu khan perasaan Zakly saja.. ".&lt;br /&gt;" Bener kog... tadi pagi di garasi mas Yazid saja tanya sama Zakly, kog ummi pagi ini agak diam ya... nggak secerewet biasanya ".&lt;br /&gt;" Eh,...ghibah ih,...ngomongin umminya ", sahutku sambil tersenyum.&lt;br /&gt;" Bener kog... ummi nggak sakit khan ?? ".&lt;br /&gt;" Nggak ummi nggak apa-apa kog... ".&lt;br /&gt;" Kalo nggak apa-apa kog ummi jadi agak lain ayo !", desak Zakly masih dengan ngototnya.&lt;br /&gt;Sifat Zakly ini menurun dari abinya, yang nggak akan berhenti bertanya kalo belum mendapatkan jawaban yang dapat memuaskan hatinya.&lt;br /&gt;" Ummi...ummi cuma pingin abi cepet pulang, gitu aja.." sahutku perlahan.&lt;br /&gt;" Ha.... ha.... ", meledak tawa Zakly.&lt;br /&gt;" Lho kog ketawa sih ? ",tanyaku.&lt;br /&gt;" Abis ummi lucu, kaya pengantin baru aja deh.... dikit-dikit kangen pingin ketemu abi ".&lt;br /&gt;" Yah wajar dong.... namanya juga suami isteri ".&lt;br /&gt;" Tapi ummi lucu deh... kita khan pura-pura nggak tahu aja, kalau sebenarnya di belakang kita ummi tuh kolokan banget sama abi... ", goda Zakly lagi.&lt;br /&gt;" Hhhmmm.... kata siapa ? ", tanyaku tak mau kalah.&lt;br /&gt;" Yah ummi...ngaku aja deh,...kalau ummi khan masih manja banget sama abi, ummi kita khan udah pada gede-gede, sudah ngerti ", kata Zakly masih sambil ketawa.&lt;br /&gt;" Udah ah,... ketawa aja tersedak lho nanti maemnya.. ",sahutku.&lt;br /&gt;" Mmmhh...ummi nggak mau ngakuin tuh..., sabar dong ummi insya Allah besok abi khan sudah pulang ", goda Zakly lagi.&lt;br /&gt;" Udah,... cepat dihabisin maemnya Zakly... ".&lt;br /&gt;" Iya nyonya besar.... ", kata Zakly sambil tersenyum-senyum menggoda.&lt;br /&gt;" Ummi,...", panggil Zakly lagi.&lt;br /&gt;" Apa lagi sholeh ?? ".&lt;br /&gt;" Mmhh... Zakly nanti ingin kalau punya rumah tangga seperti rumah tangga abi dan ummi.... ".&lt;br /&gt;" Kenapa memangnya... ? ".&lt;br /&gt;" Sepertinya abi sama ummi tuh seneenng terus, nggak pernah Zakly lihat abi sama ummi ribut, meskipun sudah tua-tua tapi masih seperti pengantin baru saja ".&lt;br /&gt;" Hhmmm... kalian khan nggak tau saja, pernah juga abi dan ummi berselisih, karena beda pendapat, itu wajar dalam rumah tangga ".&lt;br /&gt;" Oya... kog Zakly nggak tahu.. ".&lt;br /&gt;" Aduh anakku sholeh.... masa sih kalau abi sama ummi lagi nggak enakan harus lapor sama kalian, nggak khan ?".&lt;br /&gt;" Iya.. ya.... ".&lt;br /&gt;" Itu rahasia abi dan ummi, kita selesaikan berdua, diskusi, dibahas, saling menghargai pendapat lawan, cari jalan tengahnya ".&lt;br /&gt;" Terus mi.... ".&lt;br /&gt;" Ya sudah,...berusaha menyelesaikannya secepat mungkin, dan saling mengalah. InsyaAllah keadaan cepat normal lagi, baikan lagi. Kunci yang penting Zakly,... kalau nanti Zakly sudah berkeluarga, jangan pernah kalian ribut di depan anak-anak, karena nggak baik buat perkembangan jiwa mereka. Selesaikan berdua ketika sudah sama-sama tenang sehabis sholat misalnya ".&lt;br /&gt;" Hhmmm... itu makanya abi sama ummi tetap awet sampai sekarang yah ? ".&lt;br /&gt;" Yah... alhamdulillah nak, abi dan ummi saling cinta meskipun dulu kita nggak pakai istilah pacaran ".&lt;br /&gt;" Iya mi,... Zakly tahu itu....subhanallah....&lt;br /&gt;"Iya,... Islam sudah bikin aturan yang benar dan baik tinggal tergantung kita mau ikut atau nggak ", kataku lebih lanjut. Sudah sekarang cepat habisin maemnya... ".&lt;br /&gt;" Jazakillah ya ummi buat materinya siang ini.... ".&lt;br /&gt;" Hhmm... waiyakallahu.. ".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan tiba-tiba.... kring... dering suara telfon.&lt;br /&gt;" Hallo,... ", angkat Yazid.&lt;br /&gt;" 'Alaikumussalam,... oh abi nih... Iya bi,... bener nih nggak usah dijemput ?. Iya-iya....insya Allah.... 'alaikumussalam... ".&lt;br /&gt;" Dari abi, Yazid ?? ", tanyaku.&lt;br /&gt;" Iya,... seminar abi ternyata selesai hari ini, abi sekarang ada di airport sebentar lagi pulang ".&lt;br /&gt;" Lho,... abi nggak minta dijemput ? ", tanyaku.&lt;br /&gt;" Kata abi, abi mau naik taksi saja biar cepat, kalau nunggu dijemput kelamaan ".&lt;br /&gt;" Insya Allah sebentar lagi abi pulang ". harapku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selesai sholat isya'....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Kalian sudah pada lapar ya ?, mau makan sekarang atau nunggu abi saja sekalian ? ", tanyaku.&lt;br /&gt;" Nanti aja mi,... enakan bareng-bareng abi aja.. ".&lt;br /&gt;" Kalau kalian mau maem dulu nggak apa-apa, biar nanti ummi saja yang nemenin abi ".&lt;br /&gt;" Nggak usah mi,... khan sebentar lagi insya Allah abi juga datang ", jawab Fadhil lagi.&lt;br /&gt;Dan benar, tak berapa lama kemudian....&lt;br /&gt;" Assalamu'alaikum,...", suara suamiku dari teras depan.&lt;br /&gt;" Wa'alaikumussalam... ", jawab kami berbarengan.&lt;br /&gt;Kelakuan mereka masih persis anak-anak langsung berebut membuka pintu buat abinya dan mencium tangan abinya. Kalau melihat mereka seperti itu tak percaya rasanya kalau mereka sudah pada besar-besar dan sudah waktunya untuk nikah. Ah,...nikah lagi... kenapa itu yang ada dipikiranku selalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Ummi,..ini nih pacar ummi udah datang...", seru Zakly.&lt;br /&gt;" Zakly,...apa-apa an sih ya...", kataku sambil melotot.&lt;br /&gt;" Alah.. ummi, tadi siang bilang kangen, pingin abi cepet pulang, sekarang malah berdiri disitu aja... ", goda Zakly lagi.&lt;br /&gt;" He.. he.... memang tadi siang ummi kenapa Zakly ", tanya suamiku.&lt;br /&gt;" Tadi siang nih bi.... ".&lt;br /&gt;" Udah Zakly,... abi baru aja dateng,... cuci tangan dulu deh bi,.. terus kita maem ", potongku langsung.&lt;br /&gt;" Iya bi,.. kita tadi udah laper nungguin ", kata Sarah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti biasa waktu makan malam adalah saat dimana kami dapat makan bersama. Kalau pagi, anak-anak biasa sarapan lebih dulu sedangkan aku dan suamiku hanya sarapan berdua, karena suami ke kantor agak siang dibanding mereka pergi. Kalau siang mereka tak pernah makan di rumah, biasanya aku makan sendiri. Jadi baru makan malamlah kami dapat berkumpul bersama. Dan seperti biasa mereka saling tak mau kalah kalau sudah cerita, jadi bisa dibayangkan bagaimana semaraknya suasana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Oya,...tadi Zakly bilang apa tentang ummi ", tanya sumiku mendadak.&lt;br /&gt;" Oh,... he.. he.. ini ummi,... ".&lt;br /&gt;" Kenapa Zakly ? ", tanya Yazid.&lt;br /&gt;" Tadi siang khan Zakly makan di rumah , terus pas Zakly ajak ngobrol ummi tuh kayanya nggak bener-bener ngedengerin deh,... Zakly pikir kenapa gitu.... ".&lt;br /&gt;" Trus.... ", potong Fadhil.&lt;br /&gt;" Waktu Zakly desak-desak ummi bilang nggak apa-apa,.. tapi akhirnya ngaku juga... ".&lt;br /&gt;" Ummi bilang apa... ? ", tanya suamiku.&lt;br /&gt;" Ummi bilang kangen sama abi, pingin abi cepat-cepat pulang, waktu ngomongnya kaya anak remaja yang umur 17 tahun, sambil malu-malu gimanaaa.. gitu ".&lt;br /&gt;Langsung, tawa mereka memecah...&lt;br /&gt;" Ih,... ummi perasaan biasa aja bilangnya, ngapain juga pakai malu-malu segala, orang abi sama ummi udah 28 tahun nikah ", sahutku.&lt;br /&gt;" Alah ummi,..Zakly tadi khan liat muka ummi merah-merah gimana gitu ".&lt;br /&gt;" Oooohh.... pantesan tadi pagi Yazid juga perhatikan ummi agak aneh, nggak seperti biasanya ", sambung Yazid.&lt;br /&gt;" Iya,..ummi tadi pagi agak diam, hhmm baru ketauan ternyata sebabnya kenapa ", kata Fadhil&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka masih tertawa-tawa, kulirik Sarah hanya tersenyum tak ikut menggodaku seperti yang lain. Tentu Sarah tahu dialah yang menjadi penyebab kenapa seharian ini aku agak aneh.&lt;br /&gt;" Iya mi,...bener ya apa yang Zakly bilang ", tanya suamiku sambil menatapku dalam-dalam.&lt;br /&gt;" Hhmm.... ", aku hanya tersenyum, jengah juga rasanya ditatap seperti itu di depan anak-anak meskipun mereka udah dewasa.&lt;br /&gt;Mendadak tawa mereka memecah lagi....&lt;br /&gt;" Lho,... kenapa sih... ?? ".&lt;br /&gt;" Coba deh ummi ngaca, muka ummi tuh lucu banget tersipu-sipu gimana gitu, kaya remaja 17 tahunan ", kata Zakly.&lt;br /&gt;" Ummi... ummi...,mau bilang iya aja kog pake malu-malu segala sih... ", kata suamiku.&lt;br /&gt;" Padahal abi khan baru pergi 3 hari yang lalu, ya khan ? ", tanya suamiku ke mereka.&lt;br /&gt;" Tunggu aja bi,.. nanti kalau kita sudah nggak ada, ummi bakal ngaku juga sama abi,... ", kata Zakly.&lt;br /&gt;" Udah ah,... nggak selesai-selesai maemnya nanti, ingat abi belum sholat lho..", kataku mengalihkan pembicaraan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah suamiku sholat, seperti biasa kami berkumpul di ruang tengah. Dan juga seperti biasa mereka tak pernah habis-habis akan topik bahasan. Mulai dari kerusuhan tentang adanya isyu pembunuhan dukun santet yang menyebabkan sebagian ulama juga ikut terbunuh, tentang harga sembako yang masih saja sulit dijangkau, dan juga tentang keanekaragaman visi dari bermacam-macam partai Islam yang ada. Sampai pada masalah banyaknya anak-anak yang putus sekolah karena tak ada biaya serta kondisi gizi anak-anak balita yang memprihatinkan. Dan seperti biasa, mereka ingin agar segera terbentuk khalifah Islam dimana segala macam bentuk perundang-undangan bersumber pada Al Qur'an dan sunnah Rasul yang insya Allah apabila semuanya itu dilakukan dapat menjamin pola kehidupan masyarakat akan menjadi baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari balik layar monitor kuperhatikan Sarah tidak selincah biasanya dalam berdiskusi dengan mas-masnya, Sarah hanya sesekali menimpali itu pun dengan nada bicara yang tanpa semangat, sedangkan aku dari tadi duduk di depan komputer, tapi hanya satu paragraf yang berhasil kutulis. Karena perhatianku lebih tercurah pada apa yang mereka bahas dibanding dengan susunan cerita yang sedang kukerjakan. Ingin rasanya aku cepat-cepat menarik suamiku ke kamar untuk membahas keinginan Sarah. Tapi kulihat mereka masih asyik, dan sekarang`mereka sedang nonton Dunia Dalam Berita. Biasanya sehabis acara itu mereka masih duduk di situ untuk membahas berita yang baru saja mereka lihat, sebelum akhirnya masuk ke kamar masing-masing. Setelah dunia dalam berita....&lt;br /&gt;" Abi nggak capek,... khan tadi baru pulang, besok harus ke kantor khan ? ", kataku.&lt;br /&gt;" Besok saja diterusin obrolannya,... atau kalian ngobrol berempat saja... ", sambil kutatap mereka.&lt;br /&gt;" Kasian abi dong.... ", sambungku lagi.&lt;br /&gt;" Hhhmm.... hhmm.... ", Zakly pura-pura batuk, yang aku tahu itu hanya untuk menggodaku saja.&lt;br /&gt;" Iya deh,...lagian masa abi ngobrol sama kalian aja, abi khan juga pingin ngobrol sama ummi ", kata suamiku.&lt;br /&gt;Tawa mereka memecah lagi...&lt;br /&gt;" Bukan,... bukan gitu, abi khan baru pulang, dan besok harus kerja ", bantahku.&lt;br /&gt;" Iya..iya...udah yok mi,.. kita bobo...", ajak suamiku.&lt;br /&gt;" Jangan lupa lho, periksa lagi pintu jendela sebelum kalian masuk kamar ", perintahku pada mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kulirik jam, sudah pukul 10 kurang seperempat. Tak mungkin rasanya aku bercerita malam ini. Suamiku tentu lelah, biar besok saja setelah sholat shubuh pikirku. Dan kulihat suamiku sudah merebah di tempat tidur dan bersiap-siap untuk tidur. Iya,... nggak mungkin malam ini, besok saja putusku. Tapi aku masih belum dapat memejamkan mata, ingin rasanya hari segera berganti. Aku tidak biasa memendam sesuatu terhadap suamiku. Aku ingin segera menumpahkan apa yang menjadi beban pikiranku. Yah,... insya Allah nanti selepas shubuh...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah qiyamul lail, sambil menunggu shubuh aku bergantian membaca qur'an dengan suamiku. Seperti biasa suamiku dan anak-anak sholat shubuh di mesjid. Tinggal aku, Sarah dan Asih sholat berjama'ah di rumah. Pada halaman terakhir aku membaca Al Matsurat, suamiku pun tiba. Akhirnya setelah kulipat mukena dan kurapikan sajadah aku berdiri di hadapan suamiku yang sedang duduk di tepi tempat tidur....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Mas,... mas masih ngantuk ? mau tidur lagi ? ".&lt;br /&gt;" Nggak kog,... mas nggak ngantuk, kenapa de' ? ".&lt;br /&gt;" Mmhhh... ada yang mau ade' omongin sama mas... ".&lt;br /&gt;" Iya,.. tentang apa de' ? ", tanya suamiku seraya menarikku untuk duduk di hadapannya.&lt;br /&gt;" Mmhh.. ini tentang Sarah mas,... ".&lt;br /&gt;" Iya,.. ada apa memangnya sama Sarah ? ".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya kuceritakan semua apa yang menjadi keinginan Sarah. Rasa banggaku terhadap Sarah yang memiliki niat seperti itu. Persetujuanku terhadap keinginannya, tapi juga sekaligus rasa khawatirku, rasa cemasku akan putri tunggalku. Betapa aku amat mengasihinya dan aku tidak ingin ada sesuatu hal buruk yang akan dialaminya kelak. Di satu pihak apa yang menjadi keinginan Sarah patut untuk aku dukung, karena yang dilakukan Sarah hanyalah untuk mencari ridhoNya semata, tak boleh aku menghalanginya dari jalan Allah. Tapi di pihak yang lain aku khawatir bila nanti suaminya tidak bisa berlaku adil atau rasa cemburu dari madunya akan menyakiti hatinya. Aku rasa kekhawatiranku adalah hal yang wajar, karena waktu Fatimah mengadu kepada Rasulullah SAW akan niat Ali ra yang hendak nikah lagi, Rasulullah pun berkata bahwa apabila menyakiti hati Fatimah, itu sama halnya dengan menyakiti hati beliau, karena rasa kasih sayang Rasulullah sangat besar terhadap Fatimah. Tapi aku sungguh tersentuh dengan niat Sarah yang subhanallah sangat mulia. Kutumpahkan semua uneg-uneg di hatiku pada suamiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" De',... mas tahu,...ade' sayang sekali pada Sarah, begitu juga mas ", kata suamiku perlahan.&lt;br /&gt;" Tapi de',... ade' tahu khan kalau Sarah itu bukan milik kita, Allah cuma menitipkan Sarah ke kita. Alhamdulillah Allah mau memberikan amanahNya pada kita, bukan cuma Sarah, tapi juga Fadhil, Yazid dan Zakly ".&lt;br /&gt;" Mas bangga pada anak-anak, begitu juga mas bangga pada ade' yang sudah berperan buat mentarbiyah mereka. Karena mereka semua nantinya harus kita pertanggung-jawabkan kepada Allah. Nah,...sekarang misalnya ade' ada di posisi Asma, sudah fisiknya lemah, sakit-sakitan, kesepian..., padahal dia menginginkan untuk dapat berperan menjadi pendidik generasi yang dapat menggantikan perjuangan generasi sebelumnya, dia juga menginginkan akan adanya panggilan 'ummi' dari seorang anak yang lucu. Gimana coba ? ", tanya suamiku dengan lembut.&lt;br /&gt;" Dari cerita ade' tadi,...Asma sendiri yang usul supaya suaminya nikah lagi, rasanya apa yang ade' khawatirkan insya Allah nggak akan terjadi deh...Dia sudah rela suaminya menikah lagi, dia sudah ridho dan insya Allah diapun akan memperlakukan Sarah dengan baik.. . Ade' juga tau khan kalau Allah pasti memberikan yang terbaik, belum tentu apa yang menurut kita nggak baik tapi sebenarnya itu justru baik menurut Allah, cuma Allah yang tahu ade '...., kita tidak tahu apa-apa... ".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai sini air mataku mulai menetes...Astaghfirullah...Ampuni aku ya Allah,... aku terlalu melibatkan perasaan dan emosiku. Sarah hanyalah milik-Mu, dan Engkau yang akan menjaganya... " Ade',..ade' inget khan kalau rasa cinta kita terhadap keluarga, harta dan sebagainya tidak boleh melebihi rasa cinta kita terhadap Allah, Rasul dan jihad di jalan-Nya ? ",tanya suamiku.&lt;br /&gt;Aku hanya mengangguk....&lt;br /&gt;" Jadi insyaAllah kitapun akan mendapat ridho Allah, dari apa yang dilakukan Sarah nanti...., karena kita dengan ikhlas menyetujui Sarah menikah hanya karena kita juga sama-sama mencintai-Nya ".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami sama-sama terdiam sesaat. Kutarik nafas panjang...&lt;br /&gt;" Mas,...", panggilku lirih.&lt;br /&gt;" Ya sayang... gimana ? ", tanya suamiku,&lt;br /&gt;" Iya mas...ade' sudah tenang sekarang,...kalau tadi meskipun ade' setuju tapi tetap ada yang ganjal rasanya ".&lt;br /&gt;" Kalau sekarang.. ? ", tanya suamiku.&lt;br /&gt;" Ade' sekarang sudah ikhlas mas,... hati ade' sudah plong rasanya, ade' sadar ada Allah yang akan menjaga Sarah, Sarah kan cuma milik Allah ya mas ?? ".&lt;br /&gt;" Nah,... gitu dong... insya Allah Sarah, Asma dan Farid bisa membentuk keluarga sakinah, yang bisa mencetak generasi rabbani, kita tinggal mendo'akan mereka saja de'...".&lt;br /&gt;" Tapi mas,... ", kataku tertahan.&lt;br /&gt;" Tapi kenapa lagi ? masih belum sreg juga ?&lt;br /&gt;" Bukan begitu,... cuma mas kog kayanya begitu gampang memutuskan masalah ini, kayanya mas sudah tau tentang ini sebelumnya ", kataku penuh curiga.&lt;br /&gt;" Mmmhhh... sebenernya sebelum ade' cerita tadi mas udah tau kog de'... ", kata suamiku.&lt;br /&gt;" Hah.... ?? ", tanyaku heran.&lt;br /&gt;" Mmmhh.. sebelum mas ke Jakarta Farid dateng ke kantor mas, sudah diskusi dengan mas... ".&lt;br /&gt;" Lho.. ??? ".&lt;br /&gt;" Iya,... Mas juga tahu siapa Farid itu, juga isterinya, tapi waktu itu mas sorenya udah buru-buru mau berangkat mas pikir nanti saja pulang dari Jakarta cerita ama ade', terus pas ade' lagi belanja sama Asih mas interlokal dari Jakarta, yang ada di rumah Sarah, mas tanya sama Sarah. Ternyata Sarah juga sudah tahu dari Yasmin, mungkin Asma sudah minta Yasmin bilang ke Sarah, begitu de' ", penjelasan suamiku.&lt;br /&gt;" Lho,.. Sarah kog nggak bilang kemaren sama ade' kalo mas sebenarnya sudah ngomong sama Sarah duluan ?", tanyaku masih kebingungan.&lt;br /&gt;" Iya,... mas bilang sama Sarah, supaya Sarah bilang sama ade' saja, tanya pendapat ade' gimana gitu... . Khan nggak enak kalau tahu-tahu mas udah langsung ngasih persetujuan duluan padahal ade' masih belum tahu apa-apa", kata suamiku lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Subhanallah....betapa suamiku sangat menghargai aku, dari dulu suamiku tidak pernah mengambil keputusan sendiri dalam masalah rumah tangga, selalu mengajakku untuk berunding terlebih dahulu.&lt;br /&gt;" Tapi mas,...ade' masih mau tanya lagi nih.. ", kataku.&lt;br /&gt;" Iya sayang,... kenapa lagi ? ".&lt;br /&gt;" Tadi mas bilang kalau mas tahu bener siapa Farid itu, memang mas sudah kenal sebelumnya sama Farid ? ".&lt;br /&gt;" Mmmhh....mmmhh....", suamiku tidak menjawab hanya tersenyum saja.&lt;br /&gt;Dan aku tahu apa itu artinya...suamiku tidak akan menjawab pertanyaan semacam itu. Tapi akupun tahu sebesar apa kasih sayang suamiku terhadap Sarah. Tidak mungkin rasanya suamiku membuat keputusan besar seperti ini tanpa lebih dahulu menyelidiki bagaimana keluarga Farid dan Asma.&lt;br /&gt;" Yang penting de',... kita berdo'a aja untuk kebahagiaan mereka ", ujar suamiku.&lt;br /&gt;" Hhhmm... iya deh,... yang penting kita tinggal berdoa saja buat mereka ", kataku.&lt;br /&gt;" Terus mas ada lagi,.. berarti mas tahu dong kemarin pas ade' gelisah soalnya ada yang mau ade' omongin sama mas, ya khan ?", tanyaku.&lt;br /&gt;" Iya doonngg...., masa mas nggak tahu, khan ade paling nggak bisa menyembunyikan sesuatu dari mas, meskipun sebenarnya ade' berusaha nutup-nutupin juga... ".&lt;br /&gt;" Berarti mas tau dong sebenarnya ade' pingin ngomong kemaren ? ", tanyaku lebih gencar.&lt;br /&gt;" Iya dong...tau dong....", kata suamiku sambil tertawa.&lt;br /&gt;" Ih,... mas jahat,... nggak mau dibahas dari kemarin saja... mas tau nggak, ade' tuh semalam nggak nyenyak bobonya,... pingin cepat-cepat pagi biar cepat cerita sama mas... ", jelasku.&lt;br /&gt;" Iya.... mas juga tahu, mas iseng saja... sekalian melatih kesabaran ade'...", sambung suamiku masih tertawa.&lt;br /&gt;" Mas jahat ih.... sudah tua masih suka iseng ngerjain isterinya... ", kataku berusaha untuk tidak ikut tersenyum.&lt;br /&gt;" He.. he.... alaah de'.... mau ketawa aja pakai gengsi segala sih.... ", kata suamiku sambil mengacak-ngacak rambutku. " Hhmmmm.... si mas....", aku sudah kehabisan kata-kata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba suara pintu kamar diketuk dengan agak keras, aku sudah hafal siapa lagi kalau bukan Zakly yang berani mengetuk seperti itu...&lt;br /&gt;" Abi,... Ummi,.... pada mau pamitan nih.... ", teriak Zakly dari luar.&lt;br /&gt;" Hhmm....Zakly ya, ngomong agak pelanan khan bisa ", kataku sambil membuka pintu kamar.&lt;br /&gt;" He.. he.... abis tadi Sarah udah ngetuk tapi nggak dibukain sih,..ya udah Zakly aja yang ngetuk lagi, katanya membela diri.&lt;br /&gt;" Lho bi,... kog belum siap ?? nggak ke kantor hari ini ya.. ? ", tanya Fadhil.&lt;br /&gt;" Iya,... nanti agak siangan... ", jawab suamiku.&lt;br /&gt;" Udah pada sarapan ? ", tanyaku.&lt;br /&gt;" Udah dong.... khan kita sarapan sendirian.... ummi sama abi khan masih di dalam kamar ", kata Zakly sambil sedikit memonyongkan bibirnya.&lt;br /&gt;" Khan udah pada gede juga.... ", kataku sambil tertawa.&lt;br /&gt;" Ya udah mi,... berangkat dulu nih.... ", kata Yazid sambil mereka bergantian mencium tangan kami satu-persatu.&lt;br /&gt;" Sarah,...berangkat ya mi... ", katanya sambil berbisik di telingaku sambil mencium pipiku.&lt;br /&gt;" Iya nak,... hati-hati ", lantas kupeluk Sarah agak erat. Sarah pun membalas pelukanku dan sambil mengusap kerudungnya aku seraya berbisik bahwa aku ikhlas menyetujuinya. Kulihat mata Sarah berkaca-kaca....&lt;br /&gt;" Woow... Sarah pamit ke ummi aja sampai kaya gitu, kaya di film-film telenovela aja ", goda Zakly.&lt;br /&gt;" Udah ah,... kamu khan nggak tahu ", balas Sarah.&lt;br /&gt;" Lho memangnya ada apa sih mi... ? ", tanya Fadhil.&lt;br /&gt;" Udah,... sekarang berangkat saja kalian, udah siang lho nanti malam saja kita bahas... ", kata suamiku.&lt;br /&gt;" Lho... emang ada apa... ?? ", tanya Zakly lagi.&lt;br /&gt;" Udah.... berangkat sana.... ingat Zakly kalau naik motor jangan ngebut....terus kalian kalau jajan jangan sembarangan, sekarang lagi musim macam-macam penyakit ", kataku mulai lagi dengan segala pesan-pesan.&lt;br /&gt;" Yah,.... ummi balik lagi dah... padahal kemarin udah anteng, udah diem ya mas Yazid ? ", kata Zakly.&lt;br /&gt;" Iya nih ummi... habis abi sudah pulang sih...", timpal Yazid.&lt;br /&gt;" Iya,... balik lagi deh berisiknya ", tambah Zakly.&lt;br /&gt;" Zakly,... kog ngomong gitu sama umminya.. ", kataku.&lt;br /&gt;" Afwan mi,.. becanda mi.... ", kata Zakly sambil memeluk bahuku.&lt;br /&gt;" Hhmmm... udah ah,..pada terlambat lho nanti... ".&lt;br /&gt;" Assalamu'alaikum....", kata mereka berbarengan.&lt;br /&gt;" Wa'alaikumussalam...".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku antar mereka sampai depan rumah. Sambil menikmati hangatnya sinar mentari pagi di teras depan, aku termenung,....alhamdulillah aku bahagia ya Allah atas segala nikmat-Mu. Lindungilah mereka Ya Allah, tuntunlah selalu langkah-langkah mereka, penuhilah hati dan cinta mereka hanya dengan iman dan takwa kepada-Mu semata....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rabbanaa hablanaa min azwajinaa wadzurriyaatinaa qurrota&lt;br /&gt;'ayun waj'alnaa lil muttaqiina imaama...&lt;br /&gt;Amiin Ya Rabbal 'aalamiin....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;24 DZULHIJJAH 1416 H&lt;br /&gt;--by US--&lt;br /&gt;( buat AS,... Jazakallahu khoiron katsiro&lt;br /&gt;untuk dry cleaning-nya tiap hari :-) )&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6496427822632927265-7203456491795215515?l=akhimuammar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://akhimuammar.blogspot.com/feeds/7203456491795215515/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6496427822632927265&amp;postID=7203456491795215515' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6496427822632927265/posts/default/7203456491795215515'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6496427822632927265/posts/default/7203456491795215515'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://akhimuammar.blogspot.com/2008/06/seindah-mentari-pagi.html' title='Seindah Mentari Pagi'/><author><name>muammar_ikhwan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09232577519138736451</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_jirrn9uMBd0/R2XC7Uy2JGI/AAAAAAAAABA/v18DfXzrmhE/S220/Muamar.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6496427822632927265.post-866935716772904499</id><published>2008-06-02T00:04:00.000-07:00</published><updated>2008-06-02T00:10:01.502-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerpen islami'/><title type='text'>Mencari Senyum</title><content type='html'>Seorang lelaki tua dengan langkah tertatih-tatih memasuki sebuah kota. Wajahnya kusut, matanya liar dan pakaiannya kumal. Beberapa orang yang berpapasan dengannya segera menyingkir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di suatu tempat, di bawah sebuah pohon setua dirinya, lelaki itu tersungkur. Perlahan ia mencoba bangkit dan kembali memandangi orang yang lalu lalang di kota itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki Tua: “Tolong…! Tolonglah aku! Tolong…!” (mengiba, mengulang-ulang perkataannya)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua lelaki muda melintas di hadapannya. Memandang sekilas kemudian menghampirinya. Lelaki tua itu terus merintih-rintih. Beberapa orang lewat begitu saja tanpa peduli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki 1: “Ada apa, Pak? Ada apa?” (memegang tangan, membimbing lelaki tua itu bangkit)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki 2: “Ya, apa ada yang bisa kami bantu?” (prihatin)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki Tua: “Tolonglah saya. Tolong! Saya…saya mencari sesuatu yang telah tak ada lagi di kota kami.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua lelaki muda itu saling berpandangan heran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki 1: “Sesuatu yang tak ada lagi di kota bapak?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki Tua: “Ya…,aku mencari sesuatu yang sangat berharga, yang tiba-tiba saja tercerabut dari wajah semua orang di kota kami.” (manggut-manggut, sedih)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki 1 dan lelaki 2: “Apa itu…?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki Tua: (menerawang penuh harap) “Sebuah senyuman.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki 1 dan 2: “Senyuman?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki 1: “Aneh. Bapak bilang bapak mencari sebuah senyuman. Apa saya tidak salah dengar?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki Tua: (menggeleng-gelengkan kepala) “Ya, aku sudah berjalan begitu jauh, mencari sebuah senyuman.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki 2: “Jangan bergurau! Semua manusia diciptakan dengan wajah. Di dalam wajah kita, ada bibir yang bisa digerakkan begini, begini dan begitu (menggerakkan bibirnya ke depan, ke samping dan sebagainya dengan kesal).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki 1: “Ya, bahkan orang segila apa pun masih memiliki senyuman. Aku benar-benar tak mengerti. ”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki Tua: “Kalau begitu kalian menganggapku lebih dari gila!? (sewot). Dengar, aku tidak mengada-ada! Semua orang di kotaku sudah tak bisa lagi tersenyum! Titik!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki 1 dan 2 saling berpandangan kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki 1 : (menarik napas panjang, menggaruk-garuk kepala yang tak gatal) “ Baiklah. Sesuatu terjadi tentu ada sebabnya. Mungkin aku pun telah gila, tetapi aku ingin tahu hal apa yang menyebabkan penduduk di kota kalian tak bisa tersenyum?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki 2: “Ya, apa ada orang-orang yang berkeliaran dan menjahit semua bibir penduduk di kotamu, sehingga mereka tak bisa lagi tersenyum atau membuka mulut untuk tertawa?” (mengejek)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki Tua: (menggeleng, serius) “Tidak. Bahkan jahitan-jahitan di mulut kami telah dilepaskan. Dulu memang penduduk kota kami tidak bisa bicara, kecuali (mencontohkan) Hm…hm…(mengangguk-angguk), tetapi kini, setelah jahitan-jahitan dilepaskan dari bibir kami, entah mengapa bibir kami menjadi kebas. Kami bebas berkata-kata tetapi tak bisa lagi tersenyum. Bahkan, bila kami mencoba untuk tertawa yang keluar adalah amarah, tangisan dan airmata….”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki 2: “Aku tak mengerti. Aku benar-benar tak mengerti. Lebih baik aku pergi daripada mendengarkan celotehan orang gila ini!” (kesal dan berbalik akan pergi)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki 1: (mengejar lelaki 2 yang bergegas pergi) “Tunggu, teman! Tetapi…kurasa, entahlah…, ia datang dari jauh, mungkin ia mengatakan yang sebenarnya, dan mungkin kita bisa kita menolongnya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki 2: (cemberut) “ Menolong? Bagaimana menolong orang gila ini?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki 1 bergegas menghampiri lelaki tua itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki 1: “Katamu seluruh penduduk di kotamu tak dapat lagi tersenyum?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki Tua: (manggut-manggut): “Ya…,ya….”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki 1: “Berarti kau juga?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki Tua: (manggut-manggut lagi) “Tentu saja!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki 1 bergegas kembali menghampiri Lelaki 2. Wajahnya lebih cerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki 1: “Dengar, lelaki tua itu mengaku bernasib sama dengan seluruh penduduk di kotanya! Ia juga tak bisa tersenyum! Tugas kita adalah menolongnya agar ia bisa tersenyum lagi! Nah, setelah ia bisa tersenyum kembali, mungkin hal ini akan berpengaruh pada para penduduk kota itu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki 2: (Bengong) “Jadi…kita harus membuatnya tersenyum?“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki 1: “Ya, tunggulah sebentar di sini. Aku akan menyuruh orang membawa makanan dan minuman yang enak untuknya. Siapa tahu ia akan tersenyum.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki 2: “Tentu saja (setuju, yakin), ia akan tersenyum dan berterimakasih pada kita.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki 1 meninggalkan tempat itu. Lelaki 2 sesekali memperhatikan si lelaki tua. Wajah lelaki tua itu keras, dingin, dan penuh curiga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lama, Lelaki 1, kembali bersama seorang lelaki lain bergaya genit (lelaki 3) yang membawa baki penuh berisi makanan dan minuman yang enak. Mereka meletakkan nampan besar itu di hadapan si lelaki tua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki 1: “Ini kubawakan makanan dan minuman lezat. Nikmati dan tersenyumlah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki Tua: (memakan makanan dan minuman itu dengan rakus) “Terimakasih….”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki 2: (menghampiri) “Mengapa kau tak mengucapkan terimakasih sambil tersenyum pada kami?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki Tua : “Sudah kukatakan, aku tak bisa tersenyum!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki 1,2,3 saling berpandangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki 2: “Aku akan menggelitik kakinya. Biasanya bila digelitik, orang pasti akan tertawa!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki 1 : “Ya, ya…, ide yang bagus!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki 3: (bindeng) “Aih, ike juga setuju!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki 2 segera menggelitik kaki lelaki tua itu, tetapi tak ada reaksi. Ia menggelitik sekujur badan orangtua itu. Sia-sia. Lelaki tua tersebut tak juga tertawa. Akhirnya ketiga lelaki itu menggelitik sekujur badannya secara bersamaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki Tua: “Aduh…aduh, sakit! Aduh perih! A…duh!” (mengerang)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki 1,2,3: (Terkejut, menghentikan tindakan mereka) “Sakit? Perih?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki 2: “Mengapa kau tak tersenyum? Seharusnya kau tertawa! Orang akan tertawa bila kegelian!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki tua: (melotot) “Aku tidak bisa, tahu! Bodoh! Bukankah sudah kukatakan sejak tadi, aku tak bisa lagi tersenyum. Jadi berhentilah melakukan hal yang konyol! Tolong aku, anak muda!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki 1,2,3 berpandangan keheranan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki 1: (bangkit) “Sebentar, aku punya akal!” (pergi)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki 2 dan 3 bangkit sambil memandang lelaki tua itu sebal. Mereka bolak-balik di hadapan lelaki tua itu sambil memikirkan cara membuatnya tersenyum. Sesekali lelaki 2 nyengir kuda melihat gaya lelaki 3 yang centil. Tetapi lelaki tua itu sama sekali tak bergeming.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki 3 (bindeng): (berlari gembira menghampiri lelaki tua itu) “Aih, aku punya dollar yang banyak! Kau mau? Ambillah? Nih, ini! Semua menjadi milikmu!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki Tua: “Untukku? Boleh.” (memasukkan semua dolar ke sakunya).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki 3 : (bengong, bindeng) “Mana ucapan terimakasihmu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki Tua: “Terimakasih.” (datar)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki 3: (kesal, bindeng) “Di mana-mana, orang itu kalau dikasih bantuan, apalagi uang, matanya berbinar-binar, hati menjadi girang dan ia akan tersenyum bahkan tertawa. Bagaimana sih?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki Tua: (cemberut) “Ngasih kok nggak ikhlas. Sudahlah, tolong saja aku dan para penduduk kota agar bisa tersenyum kembali….”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki 2 dan 3: “Huh!” (kesal)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba, lelaki 1 datang bersama seorang badut yang lucu sekali. Badut itu menari-nari, menggerakkan kepalanya ke kanan dan ke kiri. Sang Badut mengitari lelaki tua dan mencoba terus menghiburnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Badut (jenaka) : “Apakabar, Pak tua? Tralala trilili, aku pelucu, penghibur semua orang (tertawa-tawa), janganlah takut!” (badut memamerkan berbagai aksi lucu)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki 1,2,3 : (tertawa dan bertepuk tangan melihat aksi badut)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki tua itu menatap Sang Badut agak lama, lalu di luar dugaan, ia malah menangis. Lambat laun tangisan itu berubah isakan yang semakin kencang. Lelaki 1,2 dan 3 keheranan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki Tua: ( Menangis, sedih sekali) “Mengapa harus ada orang sepertimu? (menunjuk-nunjuk badut). Setelah tiga puluh dua tahun kepedihan ini kau muncul dengan konyolnya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki 3: “Aih, apa maksudmu, Pak Tua!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki 1: “Ya, bukankah seharusnya badut dapat membuat orang tersenyum dan tertawa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki Tua: (menangis)“Sungguh, aku telah melihat badut-badut bermunculan tahun ini di sepanjang jalan di kota kami. Seolah mereka adalah pahlawan yang bisa mengurangi derita dan membuat kami menyunggingkan senyuman. (mencoba berhenti menangis) Dengar! Kami hanya bisa menertawakanmu dalam kegetiran terpencil di sudut sanubari kami. Kalian tak bisa membodohi kami. Sebab kalian cuma badut! Bahkan bila kalian mengenakan jas, dasi atau sorban sekali pun! Senyumku bukan untuk orang seperti kalian!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki 2: “Oh, Tuhan! Aku tak mengerti! Ia malah marah!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Badut: (Kesal) “Ya, sudah. Lebih baik aku pergi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki 1 dan 2 berpandangan bingung sambil menggelengkan kepala. Lelaki 3 dengan centil melambai-lambaikan tangannya pada Sang Badut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki 3: “Aih, daaag, Om Badut!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suram. Ke empat lelaki itu termenung sesaat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki Tua: (berjalan,mencari, mendamba)“Senyuman…,di mana senyuman itu? Aku ingin membawa berjuta senyuman kembali ke kota kami…, senyuman…mana senyuman itu? Kehidupan kota kami bagai mati tanpa senyuman….” (merintih sedih)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hening.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki 1: (berteriak) “Pak Tua! Hei, Pak Tua! Sebenarnya siapakah yang mengambil semua senyuman dari kota kalian!?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki 2: “Ya! Itu yang belum kau ceritakan pada kami!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki Tua: (mengernyitkan kening, menggelengkan kepala, menerawang) “Aku tidak begitu pasti. Mereka para penjarah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki 2: “Penjarah? Apa yang mereka jarah?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki Tua: “Apa saja. Harta, kedudukan bahkan kehormatan. Mereka menjarah beras, gula juga perempuan. Mereka membakar dan membuat onar. Memaksa kami menggigil karena takut dan lapar, setiap malam dan siang. Mereka bermain-main dengan darah lalu tiba-tiba para ulama kami mati. Kemudian tak ada lagi senyum yang bisa kami temukan. Semua senyum mereka rampas, untuk mereka bagikan pada orang-orang gila yang kini berkeliaran di kota kami…. “&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hening lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba terdengar suara hiruk pikuk. Lelaki-lelaki itu mencari arah datangnya suara dan terkejut melihat banyak orang menuju ke arah mereka. Wajah orang-orang itu seperti mencari sesuatu. Lelaki 1 segera menghampiri salah seorang di antara mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki 1: “Siapa kalian? Darimana dan hendak kemana?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang 1: “Kami mencari orang-orang yang bercahaya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki 2: (menghampiri) “ Orang-orang yang bercahaya?Apa maksudmu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang 1: “Kami telah kehilangan senyuman. Hanya orang-orang bercahaya yang bisa mengembalikan senyum kami.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki Tua : ( tersentak, tergopoh-gopoh) “Jadi kalian juga seperti aku? Hidup tanpa senyuman?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang itu mengangguk-angguk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki Tua: “Dan hanya orang-orang yang bercahaya, yang bisa membuat kita kembali tersenyum?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang 1: “Ya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki 2: “Siapa mereka? Di mana mereka?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang 1: “Entahlah. Kita bisa jelas mengetahui, ketika kita melangkah di jalan cahaya….”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki Tua: “Melangkah di jalan cahaya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang 1: “Ya, melangkah di jalan cahaya!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang itu mengangguk-angguk dan segera berlalu dari hadapan mereka. Tiba-tiba lelaki tua menyusul. Ia berlari ke arah orang-orang itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki Tua: “Aku ikut! Cahaya! Cahaya!” (berlari meninggalkan ketiga lelaki yang tampak bingung).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki 3: “Aih, masak sih senyuman begitu susah dicari. Sampai harus menuju cahaya segala. Lihat nih (pada lelaki 2), senyumku manis kan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki 2: (melompat, terbelalak) “Itu bukan senyuman! (pada Lelaki 1) Teman, lihatlah, seringainya! Menyeramkan!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki 3: (bingung, mencoba tersenyum, tetapi yang tampak seringai yang mengerikan)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki 1: “Benar! Kkkau menakuti kami! Seharusnya kau tersenyum. Lihat senyumku, ini…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki 3: (takut) “Aih, tolong!! Senyummu membuatku takut! Toloooong!” (lari meninggalkan Lelaki 1 dan Lelaki 2).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki 2: “Berhenti tersenyum! Kau menyeramkan. Nah, lihat senyumku (mencoba tersenyum, tetapi kaku) “A…apa yang terjadi…, a…aku tak bisa tersenyum….”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki 3: (memegang bibirnya) “A…aku juga…,mengapa bisa begini? Apa yang…sebenarnya terjadi?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Panik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki 1 dan 2: (sedih, bingung) “Senyuman…, di mana senyuman? (mencari, melangkah tak tentu arah) Cahaya…, cahaya… di mana cahaya? Senyuman…senyuman… di mana senyuman…? Cahayaaaa!?? Senyumaaaann!?? Senyumaaaan!?? Cahayaaaa!??”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Utan Kayu, 1998&lt;br /&gt;Helvy Tiana Rosa&lt;br /&gt;5 Februari 2001&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6496427822632927265-866935716772904499?l=akhimuammar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://akhimuammar.blogspot.com/feeds/866935716772904499/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6496427822632927265&amp;postID=866935716772904499' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6496427822632927265/posts/default/866935716772904499'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6496427822632927265/posts/default/866935716772904499'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://akhimuammar.blogspot.com/2008/06/mencari-senyum.html' title='Mencari Senyum'/><author><name>muammar_ikhwan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09232577519138736451</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_jirrn9uMBd0/R2XC7Uy2JGI/AAAAAAAAABA/v18DfXzrmhE/S220/Muamar.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6496427822632927265.post-152226476341302010</id><published>2008-06-01T23:56:00.000-07:00</published><updated>2008-06-01T23:59:53.433-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel islami'/><title type='text'>Ikhwan-Akhwat Bolehkah Bercanda ?</title><content type='html'>Canda (gurauan) dalam bahasa Arab disebut mizah atau mumazahah. Al-Jailany dalam Syarah Al-Adabul Mufrad,&lt;br /&gt;mendefinisikan canda adalah berbicara secara ramah dan menciptakan kegembiraan terhadap orang lain (Ath-&lt;br /&gt;Thahthawi, Senyum dan Tangis Rasulullah, hlm. 116). Hukumnya mubah menurut An-Nawawi (An-Nawawi, Al-Adzkar,&lt;br /&gt;hlm.279). Dalilnya, hadits dari Abu Hurairah RA, bahwa para shahabat bertanya,&amp;rdquo; Wahai Rasulullah,&lt;br /&gt;sesungguhnya Anda telah mencandai kami.&amp;rdquo; Rasulullah saw. menjawab &amp;ldquo;Sesungguhnya tidaklah aku&lt;br /&gt;berbicara, kecuali yang benar.&amp;rdquo; (HR Tirmidzi, al-Adzkar, hlm. 279).&lt;br /&gt;Jadi, bercanda itu hukumnya mubah, asalkan sesuai syari&amp;rsquo;ah. Itu secara umum. Lalu bolehkah bercanda dengan&lt;br /&gt;lawan jenis yang bukan mahram? Jawabnya, boleh (mubah) sepanjang sesuai syariah. Dalilnya, karena Rasulullah&lt;br /&gt;pernah mencandai seorang gadis yatim di rumah Ummu Sulaim. Rasul berkata kepada gadis yatim itu, &amp;rdquo;Engkau&lt;br /&gt;masih muda, tapi Allah tidak akan membuat keturunanmu nanti tetap muda. &amp;ldquo; Ummu Sulaimah lalu&lt;br /&gt;berkata,&amp;rdquo;Hai Rasulullah, Engkau berdoa kepada Allah bagi anak yatimku, agar Allah tidak membuat keturunannya&lt;br /&gt;tetap muda. Demi Allah, ya memang dia tidak muda selama-lamanya.&amp;rdquo; (HR. Ibnu Hibban, dari Anas bin Malik RA)&lt;br /&gt;(Ath-Thahthawi, Senyum dan Tangis Rasulullah, hlm. 134; Nasy&amp;rsquo;at Al-Masri, Senyum-senyum Rasulullah, hlm. 65-&lt;br /&gt;66).&lt;br /&gt;Jadi, bercanda dengan lawan jenis non-mahram, juga mubah berdasarkan dalil di atas. Baik itu di dunia nyata maupun di&lt;br /&gt;dunia maya seperti via e-mail, chatting, atau kirim-kiriman SMS. Tetapi, meski mubah secara syar&amp;rsquo;i, wajib&lt;br /&gt;diperhatikan beberapa rambu syariahnya. Di antaranya :&lt;br /&gt;Pertama, materi canda :&lt;br /&gt;1. Tidak mengolok-ngolok/mempermainkan ajaran Islam&lt;br /&gt;2. Tidak menyakiti perasaan&lt;br /&gt;3. Tidak mengandung kebohongan, ghibah (menggunjing), dan kecabulan&lt;br /&gt;4. Tidak melampaui batas, yakni tidak membuat melalaikan kewajiban dan tidak menjerumuskan pada yang haram&lt;br /&gt;(&amp;lsquo;Aadil bin Muhammad Al-&amp;lsquo;Abdul &amp;lsquo;Aali, Pemuda dan canda, hlm. 38-44)&lt;br /&gt;Kedua, pihak wanita tidak boleh genit, baik dalam perkataan tulisan, maupun dalam tingkah laku. (QS. Al-Ahzab:32).&lt;br /&gt;Ketiga, wajib menutup aurat dan menjaga pandangan (ghadhdhul bashar) (QS. An-nur:31), dan tidak boleh berkhalwat&lt;br /&gt;(menyendiri berdua).&lt;br /&gt;Keempat, jika dalam kehidupan umum (seperti kampus), wajib dipenuhi syaratnya : (1) dalam rangka melakukan&lt;br /&gt;aktivitas yang dibolehkan syariah (seperti belajar mengajar)è (misalnya : Bapak dosen yang mengajar di kelas sedikit&lt;br /&gt;melucu agar suasana cair/sebagai ice breaker &amp;ndash; red. KI), dan (2) interaksi itu mengharuskan pertemuan&lt;br /&gt;(ijtima&amp;rsquo;) antara pria dan wanita. Jika tidak mengharuskan pertemuan &amp;ndash; alias bisa dikerjakan masing-masing&lt;br /&gt;&amp;ndash; maka tidak boleh ada interaksi, sehingga tidak boleh ada canda. Misalnya, aktivitas makan-makan di kantin, dll.&lt;br /&gt;Ini semua tidak boleh dilakukan secara bersama. (Taqiyuddin An-Nabhani, An-Nizham al-Ijtima&amp;rsquo;I fi al-islam, hal.&lt;br /&gt;40). Wallahu a&amp;rsquo;lam. (www.konsultasi.wordpress.com)&lt;br /&gt;Jadi, sebaiknya sangat berhati-hati untuk bercanda dengan lawan jenis. Baik di dunia nyata ataupun di dunia maya&lt;br /&gt;(email, chatting, SMS) karena bisa jadi akan menuju kepada perbuatan haram. Kalau memang ingin bercanda, masih&lt;br /&gt;banyak obyek lain yang halal, misalnya dengan teman sesama jenis, atau dengan istri.&lt;br /&gt;Sumber Jawaban : Rubrik Konsultasi Fikih, Majalah Sobat Muda, Edisi 2 / Tahun I Oktober 2004 diasuh oleh Ust.&lt;br /&gt;Muhammad Shiddiq al-Jawi.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6496427822632927265-152226476341302010?l=akhimuammar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://akhimuammar.blogspot.com/feeds/152226476341302010/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6496427822632927265&amp;postID=152226476341302010' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6496427822632927265/posts/default/152226476341302010'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6496427822632927265/posts/default/152226476341302010'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://akhimuammar.blogspot.com/2008/06/ikhwan-akhwat-bolehkah-bercanda.html' title='Ikhwan-Akhwat Bolehkah Bercanda ?'/><author><name>muammar_ikhwan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09232577519138736451</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_jirrn9uMBd0/R2XC7Uy2JGI/AAAAAAAAABA/v18DfXzrmhE/S220/Muamar.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6496427822632927265.post-5339133721147544550</id><published>2008-05-23T01:33:00.000-07:00</published><updated>2008-05-23T01:35:01.760-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kisah salafiyyun'/><title type='text'>KHALIFAH UMAR BIN ABDUL AZIZ</title><content type='html'>Biodata Ringkas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nama : Abu Jaafar Umar bin Abdul Aziz bin Marwan bin Hakam&lt;br /&gt;Nama Ibu : Laila binti ‘Asim bin Umar bin Al-Khatab&lt;br /&gt;T/Lahir : 61H&lt;br /&gt;Umur : 39 tahun&lt;br /&gt;Tarikh M/Dunia : 101H&lt;br /&gt;Jawatan : Khalifah Ke 6 Bani Umaiyyah&lt;br /&gt;Tarikh Lantikan : Safar 99H @ 717M&lt;br /&gt;Lama Berkhidmat : 2 tahun 5 bulan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendidikan&lt;br /&gt;Beliau telah menghafaz al-Quran sejak masih kecil lagi. Merantau ke Madinah untuk menimba ilmu pengetahuan. Beliau telah berguru dengan beberapa tokoh terkemuka spt Imam Malik b. Anas, Urwah b. Zubair, Abdullah b. Jaafar, Yusuf b. Abdullah dan sebagainya. Kemudian beliau melanjutkan pelajaran dengan beberapa tokoh terkenal di Mesir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau telah dipanggil balik ke Damsyik oleh Khalifah Abdul Malik b. Marwan apabila bapanya meninggal dunia dan dikahwinkan dengan puteri Khalifah, Fatimah bte Abdul Malik (sepupunya)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sifat-Sifat Peribadi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau mempunyai keperibadian yang tinggi, disukai ramai dan warak yang diwarisi dari datuknya Saidina Umar b Al-Khatab. Baginda amat berhati-hati dengan harta terutamanya yang melibatkan harta rakyat. Sesungguhnya kisah Khalifah Umar bin Abdul Aziz yang menyediakan dua lilin di rumahnya, satu untuk kegunaan urusan negara dan satu lagi untuk kegunaan keluarga sendiri tentunya telah diketahui umum dan tidak perlu diulang-ulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai seorang yang zuhud, kehidupannya semasa menjadi Gabenor Madinah dan Khalifah adalah sama seperti kehdupannya semasa menjadi rakyat biasa. Harta yang ada termasuk barang perhiasan isterinya diserahkan kepada Baitulmal dan segala perbelanjaan negara berdasarkan konsep jimat-cermat dan berhati-hati atas alasan ia adalah harta rakyat. Ini terbukti apabila beliau dengan tegasnya menegur dan memecat pegawai yang boros dan segala bentuk jamuan negara tidak dibenarkan menggunakan harta kerajaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada suatu hari beliau berkhutbah yang mana antara isinya adalah spt berikut ;&lt;br /&gt;“Setiap orang yang musafir mesti memperlengkapi bekalannya. Siapkanlah taqwa dalam perjalanan kamu dari dunia menuju akhirat. Pastikan dirimu sama ada mendapat pahala atau siksa, senang atau susah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jangan biarkan masa berlalu sehingga hatimu menjadi keras dan musuh sempat mengoda. Sebaik-baiknya saudara menganggap bahawa hidup pada petang hari tidak akan sampai ke pagi hari dan hidup pada pagi hari tidak akan sampai ke petang hari. Memang tidak jarang terjadi kematian ditengah-tengahnya”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saudara-saudara dapat menyaksikan sendiri bahawa ramai orang yang tertipu dengan dunia, padahal orang yang layak bergembira tidak lain kecuali orang yang selamat daripada siksaan Allah SWT dan orang yang lepas dari tragedi hari qiamat.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sementara orang yang tidak mahu mengubati yang sudah luka, kemudian datang lagi penyakit lain, bagaimana mungkin mahu bergembira ? Saya berlindung kepada Allah SWT daripada perbuatan yang tidak aku pegangi dan amalkan sendiri. Seandainya begitu, alangkah rugi dan tercelanya aku. Dan jelaslah tempatku nanti pada hari yang jelas kelihatan siapa yang kaya dan siapa yang miskin”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Di sana nanti akan diadakan timbangan amal serta manusia akan diserahi tanggungjawab yang berat. Seandainya tugas itu dipikul oleh binatang-binatang nescaya ia akan hancur, jika dipikul oleh gunung nescaya ia akan runtuh, kalau dipikul oleh bumi nescaya bumi akan retak. Saudara-saudara belum tahu bahawa tiada tempat di antara Syurga dan Neraka ? Kamu akan memasuki salah satu daripadanya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ada seorang lelaki yang mengirim surat kepada rakannya yang isinya : “Sesungguhnya dunia ini adalah tempat bermimpi dan akhirat barulah terjaga” Jarak pemisah antara keduanya adalah mati. Jadi, kita sekarang sedang bermimpi yang panjang”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terdapat banyak riwayat dan athar para sahabat yang menceritakan tentang keluruhan budinya. Di antaranya ialah :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1) At-Tirmizi meriwayatkan bahawa Umar Al-Khatab telah berkata : “Dari anakku (zuriatku) akan lahir seorang lelaki yang menyerupainya dari segi keberaniannya dan akan memenuhkan dunia dengan keadilan”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2) Dari Zaid bin Aslam bahawa Anas bin Malik telah berkata : “Aku tidak pernah menjadi makmum di belakang imam selepas wafatnya Rasulullah SAW yang mana solat imam tersebut menyamai solat Rasulullah SAW melainkan daripada Umar bin Abdul Aziz dan beliau pada masa itu adalah Gabenor Madinah”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3) Al-Walid bin Muslim menceritakan bahawa seorang lelaki dari Khurasan telah berkata : “Aku telah beberapa kali mendengar suara datang dalam mimpiku yang berbunyi : “Jika seorang yang berani dari Bani Marwan dilantik menjadi Khalifah, maka berilah baiah kepadanya kerana dia adalah pemimpin yang adil”.” Lalu aku menanti-nanti sehinggalah Umar b. Abdul Aziz menjadi Khalifah, akupun mendapatkannya dan memberi baiah kepadanya”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4) Qais bin Jabir berkata : “Perbandingan Umar b Abdul Aziz di sisi Bani Ummaiyyah seperti orang yang beriman di kalangan keluarga Firaun”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5) Hassan al-Qishab telah berkata :”Aku melihat serigala diternak bersama dengan sekumpulan kambing di zaman Khalifah Umar Ibnu Aziz”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6) Umar b Asid telah berkata :”Demi Allah, Umar Ibnu Aziz tidak meninggal dunia sehingga datang seorang lelaki dengan harta yang bertimbun dan lelaki tersebut berkata kepada orang ramai :”Ambillah hartaku ini sebanyak mana yang kamu mahu”. Tetapi tiada yang mahu menerimanya (kerana semua sudah kaya) dan sesungguhnya Umar telah menjadikan rakyatnya kaya-raya”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7) ‘Atha’ telah berkata : “Umar Abdul Aziz mengumpulkan para fuqaha’ setiap malam. Mereka saling ingat memperingati di antara satu sama lain tentang mati dan hari qiamat, kemudian mereka sama-sama menangis kerana takut kepada azab Allah seolah-olah ada jenayah di antara mereka.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Umar Ibnu Aziz Sebagai Khalifah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau dilantik menjadi Khalifah stelah kematian sepupunya, Khalifah Sulaiman atas wasiat khalifah tersebut. Setelah mengambilalih tampuk pemerintahan, beliau telah mengubah beberapa perkara yang lebih mirip kepada sistem fuedal. Di antara perubahan awal yang dilakukannya ialah :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1) menghapuskan cacian terhadap Saidina Ali b Abu Thalib dan keluarganya yang disebut dalam khutbah-khutbah Jumaat dan digantikan dengan beberapa potongan ayat suci al-Quran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2) merampas kembali harta-harta yang disalahgunakan oleh keluarga Khalifah dan mengembalikannya ke Baitulmal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3) memecat pegawai-pegawai yang tidak cekap, menyalahgunakan kuasa dan pegawai yang tidak layak yang dilantik atas pengaruh keluarga Khalifah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4) menghapuskan pegawai peribadi bagi Khalifah sebagaimana yang diamalkan oleh Khalifah terdahulu. Ini membolehkan beliau bebas bergaul dengan rakyat jelata tanpa sekatan tidak seperti khalifah dahulu yang mempunyai pengawal peribadi dan askar-askar yang mengawal istana yang menyebabkan rakyat sukar berjumpa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain daripada itu, beliau amat mengambilberat tentang kebajikan rakyat miskin di mana beliau juga telah menaikkan gaji buruh sehingga ada yang menyamai gaji pegawai kerajaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau juga amat menitikberatkan penghayatan agama di kalangan rakyatnya yang telah lalai dengan kemewahan dunia. Khalifah umar telah memerintahkan umatnya mendirikan solat secara berjammah dan masjid-masjid dijadikan tempat untuk mempelajari hukum Allah sebegaimana yang berlaku di zaman Rasulullah SAW dan para Khulafa’ Ar-Rasyidin. Baginda turut mengarahkan Muhammad b Abu Bakar Al-Hazni di Mekah agar mengumpul dan menyusun hadith-hadith Raulullah SAW.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam bidang ilmu pula, beliau telah mengarahkan cendikawan Islam supaya menterjemahkan buku-buku kedoktoran dan pelbagai bidang ilmu dari bahasa Greek, Latin dan Siryani ke dalam bahasa Arab supaya senang dipelajari oleh umat Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam mengukuhkan lagi dakwah Islamiyah, beliau telah menghantar 10 orang pakar hukum Islam ke Afrika Utara serta menghantar beberapa orang pendakwah kepada raja-raja India, Turki dan Barbar di Afrika Utara untuk mengajak mereka kepada Islam. Di samping itu juga beliau telah menghapuskan bayaran Jizyah yang dikenakan ke atas orang yang bukan Islam dengan harapan ramai yang akan memeluk Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khalifah Umar b Abdul Aziz yang terkenal dengan keadilannya telah menjadikan keadilan sebagai keutamaan pemerintahannya. Beliau mahu semua rakyat dilayan sama adil tidak mengira keturunan dan pangkat supaya keadilan dapat berjalan dengan sempurna. Keadilan yang beliau perjuangan adalah menyamai keadilan di zaman datuknya, Khalifah Umar Al-Khatab ! yang sememangnya dinanti-nantikan oleh rakyat yang selalu ditindas oleh pembesar yang angkuh dan zalim sebelumnya…..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau akhirnya menghembuskan nafasnya yang terakhir setelah memerintah selama 2 tahun 5 bulan2 tahun 5 bulan satu tempoh yang terlalu pendek bagi sebuah pemerintahan….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi Khalifah Umar b Abdul Aziz telah membuktikan sebaliknya. Dalam tempoh tersebut, kerajaan Umaiyyah semakin kuat tiada pemberontakan dalaman, kurang berlaku penyelewengan, rakyat mendapat layanan yang sewajarnya dan menjadi kaya-raya hinggakan Baitulmal penuh dengan harta zakat kerana tiada lagi orang yang mahu menerima zakat………..kebanyakannya sudah kaya ataupun sekurang-kurangnya boleh berdikari sendiri..&lt;br /&gt;Semua ini adalah jasa Khalifah Umar b Abdul Aziz yang sangat masyhur, adil dan warak yang wajar menjadi contoh kepada pemerintahan zaman moden ini….hanya 852 hari dapat mengubah sistem pemerintahan ke arah pemerintahan yang diredahi Allah dan menjadi contoh sepanjang zaman..satu rekod yang sukar diikuti oleh orang lain melainkan ornag yang benar - benar ikhlas…..&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6496427822632927265-5339133721147544550?l=akhimuammar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://akhimuammar.blogspot.com/feeds/5339133721147544550/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6496427822632927265&amp;postID=5339133721147544550' title='9 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6496427822632927265/posts/default/5339133721147544550'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6496427822632927265/posts/default/5339133721147544550'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://akhimuammar.blogspot.com/2008/05/khalifah-umar-bin-abdul-aziz.html' title='KHALIFAH UMAR BIN ABDUL AZIZ'/><author><name>muammar_ikhwan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09232577519138736451</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_jirrn9uMBd0/R2XC7Uy2JGI/AAAAAAAAABA/v18DfXzrmhE/S220/Muamar.jpg'/></author><thr:total>9</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6496427822632927265.post-2492899170540479401</id><published>2008-05-23T01:31:00.000-07:00</published><updated>2008-06-01T23:56:41.127-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='umum'/><title type='text'>Istri Dewan dan Anaknya</title><content type='html'>Wachidin*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat gegap gempita kampanye Pemilu Legislatif 2004 yang lalu seorang yang dikenal “preman” sesumbar di khalayak umum akan meng’iris’ daun telinganya bila saya jadi Anggota Dewan. Malah sebagian politisi lokal menganggap partai saya sebagai partai gurem yang tidak mungkin mendapatkan satu pun jatah kursi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhamdulillah empat kursi telah diraih partai dakwah kami. Lebih-lebih di desa tempat saya tinggal partai kami meraih urutan pertama, sehingga mendapat hadiah dua ekor kambing, sebagaimana janji donatur bila ada desa yang menang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai seorang guru di sebuah SMA swasta, bagi saya menjadi anggota dewan terasa mimpi. Mimpi pakai jas seharga satu juta lima puluh ribu saat dilantik. Jas dewan ini kemudian saya hibahkan kepada kader yang menikah bulan Agustus, dua hari setelah saya dilantik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah saya jadi Anggota Dewan, menurut istri muncullah istilah menggelikan baginya seperti “Ibu Dewan” atau saran tetangga “harus tampil beda”. Adalagi sindiran ibu-ibu PKK, “Kapan nih naik mobil dewan?”. Bahkan ada yang lebih usil lagi, “Ummi harus ngurus badan, biar Abi nggak nikah lagi.” Istri saya mesem-mesem saja mendengar komentar ini.&lt;br /&gt;Di desa, jabatan adalah hal yang prestise. Jangankan anggota dewan, pegawai negeri golongan rendah saja jadi rebutan para orang tua pencari menantu. Tak ketinggalan di desa rumah dan perabotan jadi ajang kompetisi, dandananpun bak orang metropolitan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak keempat saya yang masih SMP memberondong saya dengan bermacam permintaan, mulai dari komputer sampai HP. Ada juga yang minta meja belajar, sepatu baru, sampai lantai rumah minta dikeramik! Wah, entah darimana dapat informasi anggota dewan uangnya banyak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelumnya saya sering minta maaf kepada istri dan anak-anak karena tidak terpenuhinya sarana dan prasarana kehidupan rumah tangga yang layak. Kencangnya aktivitas dakwah selain mengajar menjadi alasan sulitnya mencari peluang tambahan dapur. Istri sayalah yang menutup ekonomi keluarga sampai anak bisa kuliah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selintas saya berpikir, saatnya sekarang ini memenuhi permintaan anak-anak dalam batas kewajaran. Terutama ingin meringankan istri yang kadang pontang-panting mencari dana tambahan ketika anak mau semesteran. Namun sekarang, saya dan istri harus menghadapi setumpuk proposal pembangunan masjid atau mushala ada di meja. Ada tukang becak yang datang malu-malu minta sumbangan untuk anaknya yang di SMP. Kader yang sakit jantung dan ada lagi kader di ujung desa datang mohon sumbangan adiknya operasi usus buntu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya yakin masih banyak saudara kita yang butuh pertolongan, walau sejujurnya, ambisi pribadi, kepentingan dunia dan hawa nafsu seringkali melintas dalam benak saya. Saya bersyukur istri dan anak-anak bisa mengerti. Semua ini tidak akan terwujud tanpa pengertian yang besar dari mereka. Bahkan ketika “preman” yang berjanji mengiris daun telinganya pun sempat datang minta sumbangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*Anggota DPRD Kab. Tegal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sumber :http://www.ummigroup.co.id&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6496427822632927265-2492899170540479401?l=akhimuammar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://akhimuammar.blogspot.com/feeds/2492899170540479401/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6496427822632927265&amp;postID=2492899170540479401' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6496427822632927265/posts/default/2492899170540479401'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6496427822632927265/posts/default/2492899170540479401'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://akhimuammar.blogspot.com/2008/05/wachidin-saat-gegap-gempita-kampanye.html' title='Istri Dewan dan Anaknya'/><author><name>muammar_ikhwan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09232577519138736451</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_jirrn9uMBd0/R2XC7Uy2JGI/AAAAAAAAABA/v18DfXzrmhE/S220/Muamar.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6496427822632927265.post-6471576229597876917</id><published>2008-05-23T01:30:00.001-07:00</published><updated>2008-05-23T01:30:55.023-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kisah salafiyyun'/><title type='text'>HASAN AL BASHRI</title><content type='html'>Suatu hari ummahatul mu’minin, Ummu Salamah, menerima khabar bahwa mantan "maula" (pembantu wanita)-nya telah melahirkan seo¬rang putera mungil yang sehat. Bukan main gembiranya hati Ummu Salamah mendengar berita tersebut. Diutusnya seseorang untuk mengundang bekas pembantunya itu untuk menghabiskan masa nifas di&lt;br /&gt;rumahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu muda yang baru melahirkan tersebut bernama Khairoh, orang yang amat disayangi oleh Ummu Salamah. Rasa cinta ummahatul mu’minin kepada bekas maulanya itu, membuat ia begitu rindu untuk segera melihat puteranya. Ketika Khairoh dan puteranya tiba, Ummu Salamah memandang bayi yang masih merah itu dengan penuh sukacita dan cinta. Sungguh bayi mungil itu sangat menawan. "Sudahkah kau beri nama bayi ini, ya Khairoh?" tanya Ummu Salamah. "Belum ya ibunda. Kami serahkan kepada ibunda untuk menamainya" jawab Khai¬roh. Mendengar jawaban ini, ummahatul mu’minin berseri-seri, seraya berujar "Dengan berkah Allah, kita beri nama Al-Hasan." Maka do’apun mengalir pada si kecil, begitu selesai acara pembe¬rian nama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Hasan bin Yasar - atau yang kelak lebih dikenal sebagai Hasan Al-Basri, ulama generasi salaf terkemuka - hidup di bawah asuhan dan didikan salah seorang isteri Rasulullah SAW: Hind binti Suhail yang lebih terkenal sebagai Ummu Salamah. Beliau&lt;br /&gt;adalah seorang puteri Arab yang paling sempurna akhlaqnya dan paling kuat pendiriannya, ia juga dikenal - sebelum Islam - sebagai penulis yang produktif. Para ahli sejarah mencatat beliau sebagai yang paling luas ilmunya di antara para isteri Rasulullah&lt;br /&gt;SAW.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu terus berjalan. Seiring dengan semakin akrabnya hubun¬gan antara Al-Hasan dengan keluarga Nabi SAW, semakin terbentang luas kesempatan baginya untuk ber"uswah" (berteladan) pada ke¬luarga Rasulullah SAW. Pemuda cilik ini mereguk ilmu dari rumah-rumah ummahatul mu’minin serta mendapat kesempatan menimba ilmu bersama sahabat yang berada di masjid Nabawiy.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ditempa oleh orang-orang sholeh, dalam waktu singkat Al-Hasan mampu meriwayatkan hadist dari Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Abu Musa Al-Asy’ari, Abdullah bin Umar, Abdullah bin Abbas, Anas bin Malik dan sahabat-sahabat RasuluLlah lainnya.&lt;br /&gt;Al-Hasan sangat mengagumi Ali bin Abi Thalib, karena keluasan ilmunya serta kezuhudannya. Penguasan ilmu sastra Ali bin Abi Thalib yang demikian tinggi, kata-katanya yang penuh nasihat dan hikmah, membuat Al-Hasan begitu terpesona.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada usia 14 tahun, Al-Hasan pindah bersama orang tuanya ke kota Basrah, Iraq, dan menetap di sana. Dari sinilah Al-Hasan mulai dikenal dengan sebutan Hasan Al-Basri. Basrah kala itu terkenal sebagai kota ilmu dalam Daulah Islamiyyah. Masjid-masjid&lt;br /&gt;yang luas dan cantik dipenuhi halaqah-halaqah ilmu. Para sahabat dan tabi’in banyak yang sering singgah ke kota ini.&lt;br /&gt;Di Basrah, Hasan Al-Basri lebih banyak tinggal di masjid, mengikuti halaqah-nya Ibnu Abbas. Dari beliau, Hasan Al-Basri banyak belajar ilmu tafsir, hadist dan qiro’at. Sedangkan ilmu fiqih, bahasa dan sastra dipelajarinya dari sahabat-sahabat yang&lt;br /&gt;lain. Ketekunannya mengejar dan menggali ilmu menjadikan Hasan Al-Basri sangat ‘alim dalam berbagai ilmu. Ia terkenal sebagai seorang faqih yang terpercaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keluasan dan kedalaman ilmunya membuat Hasan Al-Basri banyak didatangi orang yang ingin belajar langsung kepadanya. Nasihat Hasan Al-Basri mampu menggugah hati seseorang, bahkan membuat para pendengarnya mencucurkan air mata. Nama Hasan Al-Basri makin harum dan terkenal, menyebar ke seluruh negeri dan sampai pula ke telinga penguasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Al-Hajaj ats-Tsaqofi memegang kekuasan gubernur Iraq, ia terkenal akan kediktatorannya. Perlakuannya terhadap rakyat¬ terkadang sangat melampaui batas. Nyaris tak ada seorang pun penduduk Basrah yang berani mengajukan kritik atasnya atau menen¬tangnya. Hasan Al-Basri adalah salah satu di antara sedikit penduduk Basrah yang berani mengutarakan kritik pada Al-Hajaj. Bahkan di depan Al-Hajaj sendiri, Hasan Al-Basri pernah menguta¬rakan kritiknya yang amat pedas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu tengah diadakan peresmian istana Al-Hajaj di tepian kota Basrah. Istana itu dibangun dari hasil keringat rakyat, dan kini rakyat diundang untuk menyaksikan peresmiannya. Saat itu tampillah Hasan Al-Basri menyuarakan kritiknya terhadap Al-Hajaj:&lt;br /&gt;"Kita telah melihat apa-apa yang telah dibangun oleh Al-Hajaj. Kita juga telah mengetahui bahwa Fir’au membangun istana yang lebih indah dan lebih megah dari istana ini. Tetapi Allah menghancurkan istana itu … karena kedurhakaan dan kesombongannya …"&lt;br /&gt;Kritik itu berlangsung cukup lama. Beberapa orang mulai cemas dan berbisik kepada Hasan Al-Basri, "Ya Abu Sa’id, cukupkanlah kritikmu, cukuplah!" Namun beliau menjawab, "Sungguh Allah telah mengambil janji dari orang-orang yang berilmu, supaya menerangkan kebenaran kepada manusia dan tidak menyembunyikannya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu mendengar kritik tajam tersebut, Al-Hajaj menghardik para ajudannya, "Celakalah kalian! Mengapa kalian biarkan budak dari Basrah itu mencaci maki dan bicara seenaknya? Dan tak seo¬rangpun dari kalian mencegahnya? Tangkap dia, hadapkan kepadaku!" .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua mata tertuju kepada sang Imam dengan hati berge¬tar. Hasan Al-Basri berdiri tegak dan tenang menghadapi Al-Hajaj bersama puluhan polisi dan algojonya. Sungguh luar biasa ketenan¬gan beliau. Dengan keagungan seorang mu’min, izzah seorang muslim dan ketenangan seorang da’i, beliau hadapi sang tiran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat ketenangan Hasan Al-Basri, seketika kecongkakan Al-Hajaj sirna. Kesombongan dan kebengisannya hilang. Ia langsung menyambut Hasan Al-Basri dan berkata lembut, "Kemarilah ya Abu Sa’id …" Al-Hasan mendekatinya dan duduk berdampingan. Semua mata memandang dengan kagum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mulailah Al-Hajaj menanyakan berba¬gai masalah agama kepada sang Imam, dan dijawab oleh Hasan Al-Basri dengan bahasa yang lembut dan mempesona. Semua pertanyaan¬nya dijawab dengan tuntas. Hasan Al-Basri dipersilakan untuk pulang. Usai pertemuan itu, seorang pengawal Al-Hajaj bertanya, "Wahai Abu Sa’id, sungguh aku melihat anda mengucapkan sesuatu ketika hendak berhadapan dengan Al-Hajaj. Apakah sesungguhnya kalimat yang anda baca itu?" Hasan Al-Basri menjawab, "Saat itu kubaca: Ya Wali dan PelindungKu dalam kesusahan. Jadikanlah hukuman Hajaj sejuk dan keselamatan buatku, sebagaimana Engkau telah jadikan api sejuk dan menyelamatkan Ibrahim."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nasihatnya yang terkenal diucapkannya ketika beliau diundang oleh penguasa Iraq, Ibnu Hubairoh, yang diangkat oleh Yazid bin Abdul Malik. Ibnu Hubairoh adalah seorang yang jujur dan sholeh, namun hatinya selalu gundah menghadapi perintah-perintah Yazid yang bertentangan dengan nuraninya. Ia berkata, "Allah telah memberi kekuasan kepada Yazid atas hambanya dan mewajibkan kita untuk mentaatinya. Ia sekarang menugaskan saya untuk memerintah Iraq dan Parsi, namun kadang-kadang perintahnya bertentangan dengan kebenaran. Ya, Abu Sa’id apa pendapatmu? Nasihatilah aku …"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkata Hasan Al-Basri, "Wahai Ibnu Hubairoh, takutlah kepada Allah ketika engkau mentaati Yazid dan jangan takut kepada Yazid¬ketika engkau mentaati Allah. Ketahuilah, Allah membelamu dari Yazid, dan Yazid tidak mampu membelamu dari siksa Allah. Wahai Ibnu Hubairoh, jika engkau mentaati Allah, Allah akan memelihara¬mu dari siksaan Yazid di dunia, akan tetapi jika engkau mentaati Yazid, ia tidak akan memeliharamu dari siksa Allah di dunia dan akhirat. Ketahuilah, tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam ma’siat kepada Allah, siapapun orangnya." Berderai air mata Ibnu Hubairoh mendengar nasihat Hasan Al-Basri yang sangat dalam itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada malam Jum’at, di awal Rajab tahun 110H, Hasan Al-Basri memenuhi panggilan Robb-nya. Ia wafat dalam usia 80 tahun. Pendu¬duk Basrah bersedih, hampir seluruhnya mengantarkan jenazah Hasan Al-Basri ke pemakaman. Hari itu di Basrah tidak diselenggarakan sholat Ashar berjamaah, karena kota itu kosong tak berpenghuni.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;sumber: http://myquran.org/forum/index.php/topic,11274.0.html&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6496427822632927265-6471576229597876917?l=akhimuammar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://akhimuammar.blogspot.com/feeds/6471576229597876917/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6496427822632927265&amp;postID=6471576229597876917' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6496427822632927265/posts/default/6471576229597876917'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6496427822632927265/posts/default/6471576229597876917'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://akhimuammar.blogspot.com/2008/05/hasan-al-bashri.html' title='HASAN AL BASHRI'/><author><name>muammar_ikhwan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09232577519138736451</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_jirrn9uMBd0/R2XC7Uy2JGI/AAAAAAAAABA/v18DfXzrmhE/S220/Muamar.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6496427822632927265.post-4283615552489155003</id><published>2008-05-23T01:28:00.000-07:00</published><updated>2008-05-23T01:29:37.699-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kisah salafiyyun'/><title type='text'>RIWAYAT HIDUP IMAM MUSLIM</title><content type='html'>Penghimpun dan penyusun hadits terbaik kedua setelah Imam Bukhari adalah Imam Muslim. Nama lengkapnya ialah Imam Abul Husain Muslim bin al-Hajjaj bin Muslim bin Kausyaz al Qusyairi an-Naisaburi. Ia juga mengarang kitab As-Sahih (terkenal dengan Sahih Muslim). Ia salah seorang ulama terkemuka yang namanya tetap dikenal hingga kini. Ia dilahirkan di Naisabur pada tahun 206 H. menurut pendapat yang sahih sebagaimana dikemukakan oleh al-Hakim Abu Abdullah dalam kitabnya ‘Ulama’ul Amsar.*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*Kehidupan dan Lawatannya untuk Mencari Ilmu*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia belajar hadits sejak masih dalam usia dini, yaitu mulaii tahun 218 H. Ia pergi ke Hijaz, Irak, Syam, Mesir dan negara negara lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam lawatannya Imam Muslim banyak mengunjungi ulama-ulama kenamaan untuk berguru hadits kepada mereka. Di Khurasan, ia berguru kepada Yahya bin Yahya dan Ishak bin Rahawaih; di Ray ia berguru kepada Muhammad bin Mahran dan Abu ‘Ansan. Di Irak ia belajar hadits kepada Ahmad bin Hambal dan Abdullah bin Maslamah; di Hijaz belajar kepada Sa’id bin Mansur dan Abu Mas’Abuzar; di Mesir berguru kepada ‘Amr bin Sawad dan Harmalah bin Yahya, dan kepada ulama ahli hadits yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muslim berkali-kali mengunjungi Baghdad untuk belajar kepada ulama-ulama ahli hadits, dan kunjungannya yang terakhir pada 259 H. di waktu Imam Bukhari datang ke Naisabur, Muslim sering datang kepadanya untuk berguru, sebab ia mengetahui jasa dan ilmunya. Dan ketika terjadi fitnah atau kesenjangan antara Bukhari dan Az-Zihli, ia bergabung kepada Bukhari, sehingga hal ini menjadi sebab terputusnya hubungan dengan Az-Zihli. Muslim dalam Sahihnya maupun dalam kitab lainnya, tidak memasukkan hadits-hadits yang diterima dari Az-Zihli padahal ia adalah gurunya. Hal serupa ia lakukan terhadap Bukhari. Ia tidak meriwayatkan hadits dalam Sahihnya, yang diterimanya dari Bukhari, padahal iapun sebagai gurunya. Nampaknya pada hemat Muslim, yang lebih baik adalah tidak memasukkan ke dalam Sahihnya hadits-hadits yang diterima dari kedua gurunya itu, dengan tetap mengakui mereka sebagai guru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Muslim wafat pada Minggu sore, dan dikebumikan di kampung Nasr Abad, salah satu daerah di luar Naisabur, pada hari Senin, 25 Rajab 261 H. dalam usia 55 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Guru-gurunya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain yang telah disebutkan di atas, Muslim masih mempunyai banyak ulama&lt;br /&gt;yang menjadi gurunya. Di antaranya : Usman dan Abu Bakar, keduanya putra Abu Syaibah; Syaiban bin Farwakh, Abu Kamil al-Juri, Zuhair bin Harb, Amr an-Naqid, Muhammad bin al-Musanna, Muhammad bin Yassar, Harun bin Sa’id al-Ayli, Qutaibah bin Sa’id dan lain sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keahlian dalam Hadits&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila Imam Bukhari merupakan ulama terkemuka di bidang hadits sahih, berpengetahuan luas mengenai ilat-ilat dan seluk beluk hadits, serta tajam kritiknya, maka Imam Muslim adalah orang kedua setelah Imam Bukhari, baik dalam ilmu dan pengetahuannya maupun dalam keutamaan dan kedudukannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Muslim banyak menerima pujian dan pengakuan dari para ulama ahli hadits maupun ulama lainnya. Al-Khatib al-Baghdadi berketa, "Muslim telah mengikuti jejak Bukhari, memperhatikan ilmunya dan menempuh jalan yang dilaluinya." Pernyataan ini tidak berarti bahwa Muslim hanyalah seorang pengekor. Sebab, ia mempunyai cirri khas dan karakteristik tersendiri dalam menyusun kitab, serta metode baru yang belum pernah diperkenalkan orang&lt;br /&gt;sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Quraisy al-Hafiz menyatakan bahwa di dunia ini orang yang benar-benar ahli di bidang hadits hanya empat orang; salah satu di antaranya adalah Muslim (Tazkiratul Huffaz, jilid 2, hal. 150). Maksud perkataan tersebut adalah ahli ahli hadits terkemuka yang hidup di masa Abu Quraisy, sebab ahli hadits itu cukup banyak jumlahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karya-karya Imam Muslim&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Muslim meninggalkan karya tulis yang tidak sedikit jumlahnya, di antaranya :&lt;br /&gt;1. Al-Jami’ as-Sahih (Sahih Muslim).&lt;br /&gt;2. Al-Musnadul Kabir (kitab yang menerangkan nama-nama para perawi hadits).&lt;br /&gt;3. Kitabul-Asma’ wal-Kuna.&lt;br /&gt;4. Kitab al-’Ilal.&lt;br /&gt;5. Kitabul-Aqran.&lt;br /&gt;6. Kitabu Su’alatihi Ahmad bin Hambal.&lt;br /&gt;7. Kitabul-Intifa’ bi Uhubis-Siba’.&lt;br /&gt;8. Kitabul-Muhadramin.&lt;br /&gt;9. Kitabu man Laisa lahu illa Rawin Wahid.&lt;br /&gt;10. Kitab Auladis-Sahabah.&lt;br /&gt;11. Kitab Awhamil-Muhadditsin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kitab Sahih Muslim&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara kitab-kitab di atas yang paling agung dan sangat bermanfat luas, serta masih tetap beredar hingga kini ialah Al Jami’ as-Sahih, terkenal dengan Sahih Muslim. Kitab ini merupakan salah satu dari dua kitab yang paling sahih dan murni sesudah Kitabullah. Kedua kitab Sahih ini diterima baik oleh segenap umat Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Muslim telah mengerahkan seluruh kemampuannya untuk meneliti dan mempelajari keadaan para perawi, menyaring hadits-hadits yang diriwayatkan, membandingkan riwayat riwayat itu satu sama lain. Muslim sangat teliti dan hati-hati dalam menggunakan lafaz-lafaz, dan selalu memberikan isyarat akan adanya perbedaan antara lafaz-lafaz itu. Dengan usaha yang sedeemikian rupa, maka lahirlah kitab Sahihnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukti kongkrit mengenai keagungan kitab itu ialah suatu kenyataan, di mana Muslim menyaring isi kitabnya dari ribuan riwayat yang pernah didengarnya. Diceritakan, bahwa ia pernah berkata: "Aku susun kitab Sahih ini yang disaring dari 300.000 hadits."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diriwayatkan dari Ahmad bin Salamah, yang berkata : "Aku menulis bersama Muslim untuk menyusun kitab Sahihnya itu selama 15 tahun. Kitab itu berisi 12.000 buah hadits.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pada itu, Ibn Salah menyebutkan dari Abi Quraisy al-Hafiz, bahwa jumlah hadits Sahih Muslim itu sebanyak 4.000 buah hadits. Kedua pendapat tersebut dapat kita kompromikan, yaitu bahwa perhitungan pertama memasukkan hadits-hadits yang berulang-ulang penyebutannya, sedangkan perhitungan kedua hanya menghitung hadits-hadits yang tidak disebutkan berulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Muslim berkata di dalam Sahihnya: "Tidak setiap hadits yang sahih menurutku, aku cantumkan di sini, yakni dalam Sahihnya. Aku hanya mencantumkan hadits-hadits yang telah disepakati oleh para ulama hadits."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Muslim pernah berkata, sebagai ungkapan gembira atas karunia Tuhan yang diterimanya: "Apabila penduduk bumi ini menulis hadits selama 200 tahun, maka usaha mereka hanya akan berputar-putar di sekitar kitab musnad&lt;br /&gt;ini."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketelitian dan kehati-hatian Muslim terhadap hadits yang diriwayatkan dalam Sahihnya dapat dilihat dari perkataannya sebagai berikut : "Tidaklah aku mencantumkan sesuatu hadits dalam kitabku ini, melainkan dengan alasan; juga tiada aku menggugurkan sesuatu hadits daripadanya melainkan dengan alasan pula."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Muslim di dalam penulisan Sahihnya tidak membuat judul setiap bab secara terperinci. Adapun judul-judul kitab dan bab yang kita dapati pada sebagian naskah Sahih Muslim yang sudah dicetak, sebenarnya dibuat oleh para pengulas yang datang kemudian. Di antara pengulas yang paling baik membuatkan judul-judul bab dan sistematika babnya adalah Imam Nawawi dalam Syarahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: Kitab Hadis Sahih yang Enam, Muhammad Muhammad Abu Syuhbah*&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6496427822632927265-4283615552489155003?l=akhimuammar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://akhimuammar.blogspot.com/feeds/4283615552489155003/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6496427822632927265&amp;postID=4283615552489155003' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6496427822632927265/posts/default/4283615552489155003'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6496427822632927265/posts/default/4283615552489155003'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://akhimuammar.blogspot.com/2008/05/riwayat-hidup-imam-muslim.html' title='RIWAYAT HIDUP IMAM MUSLIM'/><author><name>muammar_ikhwan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09232577519138736451</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_jirrn9uMBd0/R2XC7Uy2JGI/AAAAAAAAABA/v18DfXzrmhE/S220/Muamar.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6496427822632927265.post-3035580384044759400</id><published>2008-05-23T01:27:00.000-07:00</published><updated>2008-05-23T01:28:08.762-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kisah salafiyyun'/><title type='text'>RIWAYAT HIDUP IMAM SYAFI'I</title><content type='html'>PENGENALAN&lt;br /&gt;Nama dan Keturunan Imam Al-Shafi’i&lt;br /&gt;Nama beliau ialah Muhammad bin Idris bin Al-‘Abbas bin ‘Uthman bin Shafi’ bin Al-Saib bin ‘Ubaid bin Yazid bin Hashim bin ‘Abd al-Muttalib bin ’Abd Manaf bin Ma’n bin Kilab bin Murrah bin Lu’i bin Ghalib bin Fahr bin Malik bin Al-Nadr bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrakah bin Ilias bin Al-Nadr bin Nizar bin Ma’d bin ‘Adnan bin Ud bin Udad.&lt;br /&gt;Keturunan beliau bertemu dengan titisan keturunan Rasulullah s.a.w pada ‘Abd Manaf. Ibunya berasal dari Kabilah Al-Azd, satu kabilah Yaman yang masyhur.&lt;br /&gt;Penghijrahan ke Palestine&lt;br /&gt;Sebelum beliau dilahirkan, keluarganya telah berpindah ke Palestine kerana beberapa keperluan dan bapanya terlibat di dalam angkatan tentera yang ditugaskan untuk mengawal perbatasan Islam di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelahiran dan Kehidupannya&lt;br /&gt;Menurut pendapat yang masyhur, beliau dilahirkan di Ghazzah – Palestine pada tahun 150 Hijrah. Tidak lama sesudah beliau dilahirkan bapanya meninggal dunia. Tinggallah beliau bersama-sama ibunya sebagai seorang anak yatim. Kehidupan masa kecilnya dilalui dengan serba kekurangan dan kesulitan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENGEMBARAAN IMAM AL-SHAFI’I&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidup Imam As-Shafi’i (150H – 204H ) merupakan satu siri pengembaraan yang tersusun di dalam bentuk yang sungguh menarik dan amat berkesan terhadap pembentukan kriteria ilmiah dan popularitinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Shafi’i di Makkah ( 152H – 164H )&lt;br /&gt;Pengembaraan beliau bermula sejak beliau berumur dua tahun lagi (152H), ketika itu beliau dibawa oleh ibunya berpindah dari tempat kelahirannya iaitu dari Ghazzah, Palestine ke Kota Makkah untuk hidup bersama kaum keluarganya di sana.&lt;br /&gt;Di kota Makkah kehidupan beliau tidak tetap kerana beliau dihantar ke perkampungan Bani Huzail, menurut tradisi bangsa Arab ketika itu bahawa penghantaran anak-anak muda mereka ke perkampungan tersebut dapat mewarisi kemahiran bahasa ibunda mereka dari sumber asalnya yang belum lagi terpengaruh dengan integrasi bahasa-bahasa asing seperti bahasa Parsi dan sebagainya. Satu perkara lagi adalah supaya pemuda mereka dapat dibekalkan dengan Al-Furusiyyah (Latihan Perang Berkuda). Kehidupan beliau di peringkat ini mengambil masa dua belas tahun ( 152 – 164H ).&lt;br /&gt;Sebagai hasil dari usahanya, beliau telah mahir dalam ilmu bahasa dan sejarah di samping ilmu-ilmu yang berhubung dengan Al-Quran dan Al-Hadith. Selepas pulang dari perkampungan itu beliau meneruskan usaha pembelajarannya dengan beberapa mahaguru di Kota Makkah sehingga beliau menjadi terkenal. Dengan kecerdikan dan kemampuan ilmiahnya beliau telah dapat menarik perhatian seorang mahagurunya iaitu Muslim bin Khalid Al-Zinji yang mengizinkannya untuk berfatwa sedangkan umur beliau masih lagi di peringkat remaja iaitu lima belas tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Shafi’i di Madinah ( 164H – 179H )&lt;br /&gt;Sesudah itu beliau berpindah ke Madinah dan menemui Imam Malik. Beliau berdamping dengan Imam Malik di samping mempelajari ilmunya sehinggalah Imam Malik wafat pada tahun 179H, iaitu selama lima belas tahun.&lt;br /&gt;Semasa beliau bersama Imam Malik hubungan beliau dengan ulama-ulama lain yang menetap di kota itu dan juga yang datang dari luar berjalan dengan baik dan berfaedah. Dari sini dapatlah difahami bahawa beliau semasa di Madinah telah dapat mewarisi ilmu bukan saja dari Imam Malik tetapi juga dari ulama-ulama lain yang terkenal di kota itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Shafi’i di Yaman ( 179H – 184H )&lt;br /&gt;Apabila Imam Malik wafat pada tahun 179H, kota Madinah diziarahi oleh Gabenor Yaman. Beliau telah dicadangkan oleh sebahagian orang-orang Qurasyh Al-Madinah supaya mencari pekerjaan bagi Al-Shafi’i. Lalu beliau melantiknya menjalankan satu pekerjaan di wilayah Najran.&lt;br /&gt;Sejak itu Al-Shafi’i terus menetap di Yaman sehingga berlaku pertukaran Gabenor wilayah itu pada tahun 184H. Pada tahun itu satu fitnah ditimbulkan terhadap diri Al-Shafi’i sehingga beliau dihadapkan ke hadapan Harun Al-Rashid di Baghdad atas tuduhan Gabenor baru itu yang sering menerima kecaman Al-Shafi’i kerana kekejaman dan kezalimannya. Tetapi ternyata bahawa beliau tidak bersalah dan kemudiannya beliau dibebaskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Shafi’i di Baghdad ( 184H – 186H )&lt;br /&gt;Peristiwa itu walaupun secara kebetulan, tetapi membawa erti yang amat besar kepada Al-Shafi’i kerana pertamanya, ia berpeluang menziarahi kota Baghdad yang terkenal sebagai pusat ilmu pengetahuan dan para ilmuan pada ketika itu. Keduanya, ia berpeluang bertemu dengan Muhammad bin Al-Hassan Al-Shaibani, seorang tokoh Mazhab Hanafi dan sahabat karib Imam Abu Hanifah dan lain-lain tokoh di dalam Mazhab Ahl al-Ra’y.&lt;br /&gt;Dengan peristiwa itu terbukalah satu era baru dalam siri pengembaraan Al-Imam ke kota Baghdad yang dikatakan berlaku sebanyak tiga kali sebelum beliau berpindah ke Mesir.&lt;br /&gt;Dalam pengembaraan pertama ini Al-Shafi’i tinggal di kota Baghdad sehingga tahun 186H. Selama masa ini (184 – 186H) beliau sempat membaca kitab-kitab Mazhab Ahl al-Ra’y dan mempelajarinya, terutamanya hasil tulisan Muhammad bin Al-Hassan Al-Shaibani, di samping membincanginya di dalam beberapa perdebatan ilmiah di hadapan Harun Al-Rashid sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Shafi’i di Makkah ( 186H – 195H )&lt;br /&gt;Pada tahun 186H, Al-Shafi’i pulang ke Makkah membawa bersamanya hasil usahanya di Yaman dan Iraq dan beliau terus melibatkan dirinya di bidang pengajaran. Dari sini muncullah satu bintang baru yang berkerdipan di ruang langit Makkah membawa satu nafas baru di bidang fiqah, satu nafas yang bukan Hijazi, dan bukan pula Iraqi dan Yamani, tetapi ia adalah gabungan dari ke semua aliran itu. Sejak itu menurut pendapat setengah ulama, lahirlah satu Mazhab Fiqhi yang baru yang kemudiannya dikenali dengan Mazhab Al-Shafi’i.&lt;br /&gt;Selama sembilan tahun (186 – 195H) Al-Shafi’i menghabiskan masanya di kota suci Makkah bersama-sama para ilmuan lainnya, membahas, mengajar, mengkaji di samping berusaha untuk melahirkan satu intisari dari beberapa aliran dan juga persoalan yang sering bertentangan yang beliau temui selama masa itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Shafi’i di Baghdad ( 195H – 197H )&lt;br /&gt;Dalam tahun 195H, untuk kali keduanya Al-Shafi’i berangkat ke kota Baghdad. Keberangkatannya kali ini tidak lagi sebagai seorang yang tertuduh, tetapi sebagai seorang alim Makkah yang sudah mempunyai personaliti dan aliran fiqah yang tersendiri. Catatan perpindahan kali ini menunjukkan bahawa beliau telah menetap di negara itu selama dua tahun (195 – 197H).&lt;br /&gt;Di dalam masa yang singkat ini beliau berjaya menyebarkan “Method Usuli” yang berbeza dari apa yang dikenali pada ketika itu. Penyebaran ini sudah tentu menimbulkan satu respon dan reaksi yang luarbiasa di kalangan para ilmuan yang kebanyakannya adalah terpengaruh dengan method Mazhab Hanafi yang disebarkan oleh tokoh utama Mazhab itu, iaitu Muhammad bin Al-Hasan Al-Shaibani.&lt;br /&gt;Kata Al-Karabisi : “Kami sebelum ini tidak kenal apakah (istilah) Al-Kitab, Al- Sunnah dan Al-Ijma’, sehinggalah datangnya Al-Shafi’i, beliaulah yang menerangkan maksud Al-Kitab, Al-Sunnah dan Al-Ijma’”.&lt;br /&gt;Kata Abu Thaur : “Kata Al-Shafi’i : Sesungguhnya Allah Ta’ala telah menyebut (di dalam kitab-Nya) mengenai sesuatu maksud yang umum tetapi Ia menghendaki maksudnya yang khas, dan Ia juga telah menyebut sesuatu maksud yang khas tetapi Ia menghendaki maksudnya yang umum, dan kami (pada ketika itu) belum lagi mengetahui perkara-perkara itu, lalu kami tanyakan beliau …”&lt;br /&gt;Pada masa itu juga dikatakan beliau telah menulis kitab usulnya yang pertama atas permintaan ‘Abdul Rahman bin Mahdi, dan juga beberapa penulisan lain dalam bidang fiqah dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Shafi’i di Makkah dan Mesir ( 197H – 204H )&lt;br /&gt;Sesudah dua tahun berada di Baghdad (197H) beliau kembali ke Makkah. Pada tahun 198H, beliau keluar semula ke Baghdad dan tinggal di sana hanya beberapa bulan sahaja. Pada awal tahun 199H, beliau berangkat ke Mesir dan sampai ke negara itu dalam tahun itu juga. Di negara baru ini beliau menetap sehingga ke akhir hayatnya pada tahun 204H.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;FATWA-FATWA IMAM AL-SHAFI’I&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perpindahan beliau ke Mesir mengakibatkan satu perubahan besar dalam Mazhabnya. Kesan perubahan ini melibatkan banyak fatwanya semasa beliau di Baghdad turut sama berubah. Banyak kandungan kitab-kitab fiqahnya yang beliau hasilkan di Baghdad disemak semula dan diubah. Dengan ini terdapat dua fatwa bagi As-Shafi’i, fatwa lama dan fatwa barunya. Fatwa lamanya ialah segala fatwa yang diucapkan atau ditulisnya semasa beliau berada di Iraq, fatwa barunya ialah fatwa yang diucapkan atau ditulisnya semasa beliau berada di Mesir. Kadang-kadang dipanggil fatwa lamanya dengan Mazhabnya yang lama atau Qaul Qadim dan fatwa barunya dinamakan dengan Mazhab barunya atau Qaul Jadid.&lt;br /&gt;Di sini harus kita fahami bahawa tidak kesemua fatwa barunya menyalahi fatwa lamanya dan tidak pula kesemua fatwa lamanya dibatalkannya, malahan ada di antara fatwa barunya yang menyalahi fatwa lamanya dan ada juga yang bersamaan dengan yang lama. Kata Imam Al-Nawawi : “Sebenarnya sebab dikatakan kesemua fatwa lamanya itu ditarik kembali dan tidak diamalkannya hanyalah berdasarkan kepada ghalibnya sahaja”.&lt;br /&gt;Imam As-Shafi’i pulang ke pangkuan Ilahi pada tahun 204H, tetapi kepulangannya itu tidaklah mengakibatkan sebarang penjejasan terhadap perkembangan aliran Fiqhi dan Usuli yang diasaskannya. Malahan asas itu disebar dan diusaha-kembangkan oleh para sahabatnya yang berada di Al-Hijaz, Iraq dan Mesir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PARA SAHABAT IMAM AL-SHAFI’I&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara para sahabat Imam Al-Shafi’i yang terkenal di Al-Hijaz (Makkah dan Al-Madinah) ialah :-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Abu Bakar Al-Hamidi, ‘Abdullah bun Al-Zubair Al-Makki yang wafat pada tahun 219H.&lt;br /&gt;2. Abu Wahid Musa bin ‘Ali Al-Jarud Al-Makki yang banyak menyalin kitab-kitab Al-Shafi’i. Tidak diketahui tarikh wafatnya.&lt;br /&gt;3. Abu Ishak Ibrahim bin Muhammad bin Al-‘Abbasi bin ‘Uthman bin Shafi ‘Al-Muttalibi yang wafat pada tahun 237H.&lt;br /&gt;4. Abu Bakar Muhammad bin Idris yang tidak diketahui tarikh wafatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara di Iraq pula kita menemui ramai para sahabat Imam Al-Shafi’i yang terkenal, di antara mereka ialah :-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Abu ‘Abdullah Ahmad bin Hanbal, Imam Mazhab yang keempat. Beliau wafat pada tahun 241H.&lt;br /&gt;2. Abu ‘Ali Al-Hasan bin Muhammad Al-Za’farani yang wafat pada tahun 249H.&lt;br /&gt;3. Abu Thaur Ibrahim bin Khalid Al-Kalbi yang wafat pada tahun 240H.&lt;br /&gt;4. Al-Harith bin Suraij Al-Naqqal, Abu ‘Umar. Beliau wafat pada tahun 236H.&lt;br /&gt;5. Abu ‘Ali Al-Husain bin ‘Ali Al-Karabisi yang wafat pada tahun 245H.&lt;br /&gt;6. Abu ‘Abdul RahmanAhmad bin Yahya Al-Mutakallim. Tidak diketahui tarikh wafatnya.&lt;br /&gt;7. Abu Zaid ‘Abdul Hamid bin Al-Walid Al-Misri yang wafat pada tahun 211H.&lt;br /&gt;8. Al-Husain Al-Qallas. Tidak diketahui tarikh wafatnya.&lt;br /&gt;9. ‘Abdul ‘Aziz bin Yahya Al-Kannani yang wafat pada tahun 240H.&lt;br /&gt;10. ‘Ali bin ‘Abdullah Al-Mudaiyini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Mesir pula terdapat sebilangan tokoh ulama yang kesemua mereka adalah sahabat Imam Al-Shafi’i, seperti :-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Abu Ibrahim Isma’il bin Yahya bin ‘Amru bin Ishak Al-Mudhani yang wafat pada tahun 264H.&lt;br /&gt;2. Abu Muhammad Al-Rabi’ bin Sulaiman Al-Muradi yang wafat pada tahun 270H.&lt;br /&gt;3. Abu Ya’kub Yusuf bin Yahya Al-Misri Al-Buwaiti yang wafat pada tahun 232H.&lt;br /&gt;4. Abu Najib Harmalah bin Yahya Al-Tajibi yang wafat pada tahun 243H.&lt;br /&gt;5. Abu Musa Yunus bin ‘Abdul A’la Al-Sadaghi yang wafat pada tahun 264H.&lt;br /&gt;6. Abu ‘Abdullah Muhammad bin ‘Abdullah bin ‘Abdul Hakam Al-Misri yang wafat pada tahun 268H.&lt;br /&gt;7. Al-Rabi’ bin Sulaiman Al-Jizi yang wafat pada tahun 256H.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari usaha gigih mereka, Mazhab Al-Shafi’i tersebar dan berkembang luas di seluruh rantau Islam di zaman-zaman berikutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PERKEMBANGAN MAZHAB IMAM AL-SHAFI’I&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Ibn Al-Subki bahawa Mazhab Al-Shafi’I telah berkembang dan menjalar pengaruhnya di merata-rata tempat, di kota dan di desa, di seluruh rantau negara Islam. Pengikut-pengikutnya terdapat di Iraq dan kawasan-kawasan sekitarnya, di Naisabur, Khurasan, Muru, Syria, Mesir, Yaman, Hijaz, Iran dan di negara-negara timur lainnya hingga ke India dan sempadan negara China. Penyebaran yang sebegini meluas setidak-tidaknya membayangkan kepada kita sejauh mana kewibawaan peribadi Imam Al-Shafi’i sebagai seorang tokoh ulama dan keunggulan Mazhabnya sebagai satu-satunya aliran fiqah yang mencabar aliran zamannya. IMAM AL-SHAFI’I DAN PENULISANNYA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Permulaan Mazhabnya&lt;br /&gt;Sebenarnya penulisan Imam Al-Shafi’i secara umumnya mempunyai pertalian yang rapat dengan pembentukan Mazhabnya. Menurut Muhammad Abu Zahrah bahawa pwmbentukan Mazhabnya hanya bermula sejak sekembalinya dari kunjungan ke Baghdad pada tahun 186H. Sebelum itu Al-Shafi’i adalah salah seorang pengikut Imam Malik yang sering mempertahankan pendapatnya dan juga pendapat fuqaha’ Al-Madinah lainnya dari kecaman dan kritikan fuqaha’ Ahl Al-Ra’y. Sikapnya yang sebegini meyebabkan beliau terkenal dengan panggilan “Nasir Al-Hadith”.&lt;br /&gt;Detik terawal Mazhabnya bermula apabila beliau membuka tempat pengajarannya (halqah) di Masjid Al-Haram. Usaha beliau dalam memperkembangkan Mazhabnya itu bolehlah dibahagikan kepada tiga peringkat :-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Peringkat Makkah (186 – 195H)&lt;br /&gt;2. Peringkat Baghdad (195 – 197H)&lt;br /&gt;3. Peringkat Mesir (199 – 204H)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam setiap peringkat diatas beliau mempunyai ramai murid dan para pengikut yang telah menerima dan menyebar segala pendapat ijtihad dan juga hasil kajiannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulisan Pertamanya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang agak sulit untuk menentukan apakah kitab pertama yang dihasilkan oleh Al-Shafi’i dan di mana dan selanjutnya apakah kitab pertama yang dihasilkannya dalam Ilmu Fiqah dan di mana? Kesulitan ini adalah berpunca dari tidak adanya keterangan yang jelas mengenai kedua-dua perkara tersebut. Pengembaraannya dari satu tempat ke satu tempat yang lain dan pulangnya semula ke tempat awalnya tambah menyulitkan lagi untuk kita menentukan di tempat mana beliau mulakan usaha penulisannya.&lt;br /&gt;Apa yang kita temui – sesudah kita menyemak beberapa buah kitab lama dan baru yang menyentuh sejarah hidupnya, hanya beberapa tanda yang menunjukkan bahawa kitabnya “Al-Risalah” adalah ditulis atas permintaan ‘Abdul Rahman bin Mahdi, iaitu sebuah kitab di dalam Ilmu Usul, pun keterangan ini tidak juga menyebut apakah kitab ini merupakan hasil penulisannya yang pertama atau sebelumnya sudah ada kitab lain yang dihasilkannya. Di samping adanya pertelingkahan pendapat di kalangan ‘ulama berhubung dengan tempat di mana beliau menghasilkan penulisan kitabnya itu. Ada pendapat yang mengatakan bahawa beliau menulisnya sewaktu beliau berada di Makkah dan ada juga pendapat yang mengatakan bahawa beliau menulisnya ketika berada di Iraq.&lt;br /&gt;Kata Ahmad Muhammad Shakir : “Al-Shafi’I telah mengarang beberapa buah kitab yang jumlahnya agak besar, sebahagiannya beliau sendiri yang menulisnya, lalu dibacakannya kepada orang ramai. Sebahagiannya pula beliau merencanakannya sahaja kepada para sahabatnya. Untuk mengira bilangan kitab-kitabnya itu memanglah sukar kerana sebahagian besarnya telahpun hilang. Kitab-kitab itu telah dihasilkan penulisannya ketika beliau berada di Makkah, di Baghdad dan di Mesir”.&lt;br /&gt;Kalaulah keterangan di atas boleh dipertanggungjawabkan maka dapatlah kita membuat satu kesimpulan bahawa Al-Shafi’i telah memulakan siri penulisannya sewaktu beliau di Makkah lagi, dan kemungkinan kitabnya yang pertama yang dihasilkannya ialah kitab “Al-Risalah”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Hujjah Dan Kitab-kitab Mazhab Qadim&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di samping “Al-Risalah” terdapat sebuah kitab lagi yang sering disebut-sebut oleh para ulama sebagai sebuah kitab yang mengandungi fatwa Mazhab Qadimnya iaitu “Al-Hujjah”. Pun keterangan mengenai kitab ini tidak menunjukkan bahawa ia adalah kitab pertama yang di tulis di dala bidang Ilmu Fiqah semasa beliau berada di Iraq, dan masa penulisannya pun tidak begitu jelas. Menurut beberapa keterangan, beliau menghasilkannya sewaktu beliau berpindah ke negara itu pada kali keduanya, iaitu di antara tahun-tahun 195 – 197H.&lt;br /&gt;Bersama-sama “Al-Hujjah” itu terdapat beberapa buah kitab lain di dalam Ilmu Fiqah yang beliau hasilkan sendiri penulisannya atau beliau merencanakannya kepada para sahabatnya di Iraq, antaranya seperti kitab-kitab berikut :-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Al-Amali&lt;br /&gt;2. Majma’ al-Kafi&lt;br /&gt;3. ‘Uyun al-Masa’il&lt;br /&gt;4. Al-Bahr al-Muhit&lt;br /&gt;5. Kitab al-Sunan&lt;br /&gt;6. Kitab al-Taharah&lt;br /&gt;7. Kitab al-Solah&lt;br /&gt;8. Kitab al-Zakah&lt;br /&gt;9. Kitab al-Siam&lt;br /&gt;10. Kitab al-Haj&lt;br /&gt;11. Bitab al-I’tikaf&lt;br /&gt;12. Kitab al-Buyu’&lt;br /&gt;13. Kitab al-Rahn&lt;br /&gt;14. Kitab al-Ijarah&lt;br /&gt;15. Kitab al-Nikah&lt;br /&gt;16. Kitab al-Talaq&lt;br /&gt;17. Kitab al-Sadaq&lt;br /&gt;18. Kitab al-Zihar&lt;br /&gt;19. Kitab al-Ila’&lt;br /&gt;20. Kitab al-Li’an&lt;br /&gt;21. Kitab al-Jirahat&lt;br /&gt;22. Kitab al-Hudud&lt;br /&gt;23. Kitab al-Siyar&lt;br /&gt;24. Kitab al-Qadaya&lt;br /&gt;25. Kitab Qital ahl al-Baghyi&lt;br /&gt;26. Kitab al-‘Itq dan lain-lain&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setengah perawi pula telah menyebut bahawa kitab pertama yang dihasilkan oleh Al-Shafi’i adalah di dalam bentuk jawapan dan perdebatan, iaitu satu penulisan yang dituju khas kepada fuqaha’ ahl al-Ra’y sebagai menjawab kecaman-kecaman mereka terhadap Malik dan fuqaha’ Al-Madinah. Kenyataan mereka ini berdasarkan kepada riwayat Al-Buwaiti : “Kata Al-Shafi’i : Ashab Al-Hadith (pengikut Imam Malik) telah berhimpun bersama-sama saya. Mereka telah meminta saya menulis satu jawapan terhadap kitab Abu Hanifah. Saya menjawab bahawa saya belum lagi mengetahui pendapat mereka, berilah peluang supaya dapat saya melihat kitab-kitab mereka. Lantas saya meminta supaya disalinkan kitab-kitab itu.Lalu disalin kitab-kitab Muhammad bin Al-Hasan untuk (bacaan) saya. Saya membacanya selama setahun sehingga saya dapat menghafazkan kesemuanya. Kemudian barulah saya menulis kitab saya di Baghdad.&lt;br /&gt;Kalaulah berdasarkan kepada keterangan di atas, maka kita pertama yang dihasilkan oleh Al-Shafi’i semasa beliau di Iraq ialah sebuah kitab dalam bentuk jawapan dan perdebatan, dan cara penulisannya adalah sama dengan cara penulisan ahl al-Ra’y. Ini juga menunjukkan bahawa masa penulisannya itu lebih awal dari masa penulisan kitab “Al-Risalah”, iaitu di antara tahun-tahun 184 – 186H.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Method Penulisan Kitab-Kitab Qadim&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berhubung dengan method penulisan kitab “Al-Hujjah” dan lain-lain belum dapat kita pastikan dengan yakin kerana sikap asalnya tida kita temui, kemungkinan masih lagi ada naskah asalnya dan kemungkinan juga ianya sudah hilang atau rosak dimakan zaman. Walaubagaimanapun ia tidak terkeluar – ini hanya satu kemungkinan sahaja – dari method penulisan zamannya yang dipengaruhi dengan aliran pertentangan mazhab-mazhab fuqaha’ di dalam beberapa masalah, umpamanya pertentangan yang berlaku di antara mazhab beliau dengan Mazhab Hanafi da juga Mazhab Maliki. Keadaan ini dapat kita lihat dalam penulisan kitab “Al-Um” yang pada asalnya adalah kumpulan dari beberapa buah kitab Mazhab Qadimnya. Setiap kitab itu masing-masing membawa tajuknya yang tersendiri, kemudian kita itu pula dipecahkan kepada bab-bab kecil yang juga mempunyai tajuk-tajuk yang tersendiri. Di dalam setiap bab ini dimuatkan dengan segala macam masalah fiqah yang tunduk kepada tajuk besar iaitu tajuk bagi sesuatu kitab, umpamanya kitab “Al-Taharah”, ia mengandungi tiga puluh tujuh tajuk bab kecil, kesemua kandungan bab-bab itu ada kaitannya dengan Kitab “Al-Taharah”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perawi Mazhab Qadim&lt;br /&gt;Ramai di antara para sahabatnya di Iraq yang meriwayat fatwa qadimnya, di antara mereka yang termasyhur hanya empat orang sahaja :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Abu Thaur, Ibrahim bin Khalid yang wafat pada tahun 240H.&lt;br /&gt;2. Al-Za’farani, Al-Hasan bin Muhammad bin Sabah yang wafat pada tahun 260H.&lt;br /&gt;3. Al-Karabisi, Al-Husain bin ‘Ali bin Yazid, Abu ‘Ali yang wafat pada tahun 245H.&lt;br /&gt;4. Ahmad bin Hanbal yang wafat pada tahun 241H.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Al-Asnawi, Al-Shafi’i adalah ‘ulama’ pertama yang hasil penulisannya meliputi banyak bab di dalam Ilmu Fiqah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perombakan Semula Kitab-kitab Qadim&lt;br /&gt;Perpindahan beliau ke Mesir pada tahun 199H menyebabkan berlakunya satu rombakan besar terhadap fatwa lamanya. Perombakan ini adalah berpunca dari penemuan beliau dengan dalil-dalil baru yang belum ditemuinya selama ini, atau kerana beliau mendapati hadis-hadis yang sahih yang tidak sampai ke pengetahuannya ketika beliau menulis kitab-kitab qadimnya, atau kerana hadis-hadis itu terbukti sahihnya sewaktu beliau berada di Mesir sesudah kesahihannya selama ini tidak beliau ketahui. Lalu dengan kerana itu beliau telah menolak sebahagian besar fatwa lamanya dengan berdasarkan kepada prinsipnya : “Apabila ditemui sesebuah hadis yang sahih maka itulah Mazhab saya”.&lt;br /&gt;Di dalam kitab “Manaqib Al-Shafi’i”, Al-Baihaqi telah menyentuh nama beberapa buah kitab lama (Mazhab Qadim) yang disemak semula oleh Al-Shafi’i dan diubah sebahagian fatwanya, di antara kitab-kitab itu ialah :-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Al-Risalah&lt;br /&gt;2. Kitab al-Siyam&lt;br /&gt;3. Kitab al-Sadaq&lt;br /&gt;4. Kitab al-Hudud&lt;br /&gt;5. Kitab al-Rahn al-Saghir&lt;br /&gt;6. Kitab al-Ijarah&lt;br /&gt;7. Kitab al-Jana’iz&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Al-Baihaqi lagi Al-shafi’i telah menyuruh supaya dibakar kitab-kitab lamanya yang mana fatwa ijtihadnya telah diubah.&lt;br /&gt;Catatan Al-Baihaqi itu menunjukkan bahawa Al-Shafi’i melarang para sahabatnya meriwayat pendapat-pendapat lamanya yang ditolak kepada orang ramai. Walaupun begitu kita masih menemui pendapat-pendapat itu berkecamuk di sana-sini di dalam kitab-kitab fuqaha’ mazhabnya samada kitab-kitab yang ditulis fuqaha’ yang terdahulu atau pun fuqaha’ yang terkemudian. Kemungkinan hal ini berlaku dengan kerana kitab-kitab lamanya yang diriwayatkan oleh Al-Za’farani, Al-Karabisi dan lain-lain sudah tersebar dengan luasnya di Iraq dan diketahui umum, terutamanya di kalangan ulama dan mereka yang menerima pendapat-pendapatnya itu tidak mengetahui larangan beliau itu.&lt;br /&gt;Para fuqaha’ itu bukan sahaja mencatat pendapat-pendapat lamanya di dalam penulisan mereka, malah menurut Al-Nawawi ada di antara mereka yang berani mentarjihkan pendapat-pendapat itu apabila mereka mendapatinya disokong oleh hadis-hadis yang sahih.&lt;br /&gt;Pentarjihan mereka ini tidak pula dianggap menentangi kehendak Al-Shafi’i, malahan itulah pendapat mazhabnya yang berdasarkan kepada prinsipnya : “Apabila ditemui sesebuah hadis yang sahih maka itulah mazhab saya”.&lt;br /&gt;Tetapi apabila sesuatu pendapat lamanya itu tidak disokong oleh hadis yang sahih kita akan menemui dua sikap di kalangan fuqaha’ Mazhab Al-Shafi’i :-&lt;br /&gt;Pertamanya : Pendapat itu harus dipilih dan digunakan oleh seseorang mujtahid Mazhab Al-Shafi’i atas dasar ia adalah pendapat Al-Shafi’i yang tidak dimansuhkan olehnya, kerana seseorang mujtahid (seperti Al-Shafi’i) apabila ia mengeluarkan pendapat barumya yang bercanggah dengan pendapat lamanya tidaklah bererti bahawa ia telah menarik pendapat pertamanya, bahkan di dalam masalah itu dianggap mempunyai dua pendapatnya.&lt;br /&gt;Keduanya : Tidak harus ia memilih pendapat lama itu. Inilah pendapat jumhur fuqaha’ Mazhab Al-Shafi’i kerana pendapat lama dan baru adalah dua pendapatnya yang bertentangan yang mustahil dapat diselaraskan kedua-duanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kitab-kitab Mazhab Jadid&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara kitab-kitab yang beliau hasilkan penulisannya di Mesir atau beliau merencanakannya kepada para sahabatnya di sana ialah :-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;i. Al-Risalah. Kitab ini telah ditulis buat pertama kalinya sebelum beliau berpeindah ke Mesir.&lt;br /&gt;ii. Beberapa buah kitab di dalam hukum-hukum furu’ yang terkandung di dalam kitab “Al-Um”, seperti :-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a) Di dalam bab Taharah :&lt;br /&gt;1. Kitab al-Wudu’&lt;br /&gt;2. Kitab al-Tayammum&lt;br /&gt;3. Kitab al-Taharah&lt;br /&gt;4. Kitab Masalah al-Mani&lt;br /&gt;5. Kitab al-Haid&lt;br /&gt;B) Di dalam bab Solah :&lt;br /&gt;6. Kitab Istiqbal al-Qiblah&lt;br /&gt;7. Kitab al-Imamah&lt;br /&gt;8. Kitab al-Jum’ah&lt;br /&gt;9. Kitab Solat al-Khauf&lt;br /&gt;10. Kitab Solat al-‘Aidain&lt;br /&gt;11. Kitab al-Khusuf&lt;br /&gt;12. Kitab al-Istisqa’&lt;br /&gt;13. Kitab Solat al-Tatawu’&lt;br /&gt;14. Al-Hukm fi Tarik al-Solah&lt;br /&gt;15. Kitab al-Jana’iz&lt;br /&gt;16. Kitab Ghasl al-Mayyit&lt;br /&gt;c) Di dalam bab Zakat :&lt;br /&gt;17. Kitab al-Zakah&lt;br /&gt;18. Kitab Zakat Mal al-Yatim&lt;br /&gt;19. Kitab Zakat al-Fitr&lt;br /&gt;20. Kitab Fard al-Zakah&lt;br /&gt;21. Kitab Qasm al-Sadaqat&lt;br /&gt;d) Di dalam bab Siyam (Puasa) :&lt;br /&gt;22. Kitab al-Siyam al-Kabir&lt;br /&gt;23. Kitab Saum al-Tatawu’&lt;br /&gt;24. Kitab al-I’tikaf&lt;br /&gt;e) Di dalam bab Haji :&lt;br /&gt;25. Kitab al-Manasik al-Kabir&lt;br /&gt;26. Mukhtasar al-Haj al-Kabir&lt;br /&gt;27. Mukhtasar al-Haj al-Saghir&lt;br /&gt;f) Di dalam bab Mu’amalat :&lt;br /&gt;28. Kitab al-Buyu’&lt;br /&gt;29. Kitab al-Sarf&lt;br /&gt;30. Kitab al-Salam&lt;br /&gt;31. Kitab al-Rahn al-Kabir&lt;br /&gt;32. Kitab al-Rahn al-Saghir&lt;br /&gt;33. Kitab al-Taflis&lt;br /&gt;34. Kitab al-Hajr wa Bulugh al-Saghir&lt;br /&gt;35. Kitab al-Sulh&lt;br /&gt;36. Kitab al-Istihqaq&lt;br /&gt;37. Kitab al-Himalah wa al-Kafalah&lt;br /&gt;38. Kitab al-Himalah wa al-Wakalah wa al-Sharikah&lt;br /&gt;39. Kitab al-Iqrar wa al-Mawahib&lt;br /&gt;40. Kitab al-Iqrar bi al-Hukm al-Zahir&lt;br /&gt;41. Kitab al-Iqrar al-Akh bi Akhihi&lt;br /&gt;42. Kitab al-‘Ariah&lt;br /&gt;43. Kitab al-Ghasb&lt;br /&gt;44. Kitab al-Shaf’ah&lt;br /&gt;g) Di dalam bab Ijarat (Sewa-menyewa) :&lt;br /&gt;45. Kitab al-Ijarah&lt;br /&gt;46. Kitab al-Ausat fi al-Ijarah&lt;br /&gt;47. Kitab al-Kara’ wa al-Ijarat&lt;br /&gt;48. Ikhtilaf al-Ajir wa al-Musta’jir&lt;br /&gt;49. Kitab Kara’ al-Ard&lt;br /&gt;50. Kara’ al-Dawab&lt;br /&gt;51. Kitab al-Muzara’ah&lt;br /&gt;52. Kitab al-Musaqah&lt;br /&gt;53. Kitab al-Qirad&lt;br /&gt;54. Kitab ‘Imarat al-Aradin wa Ihya’ al-Mawat&lt;br /&gt;h) Di dalam bab ‘Ataya (Hadiah-menghadiah) :&lt;br /&gt;55. Kitab al-Mawahib&lt;br /&gt;56. Kitab al-Ahbas&lt;br /&gt;57. Kitab al-‘Umra wa al-Ruqba&lt;br /&gt;i) Di dalam bab Wasaya (Wasiat) :&lt;br /&gt;58. Kitab al-Wasiat li al-Warith&lt;br /&gt;59. Kitab al-Wasaya fi al-‘Itq&lt;br /&gt;60. Kitab Taghyir al-Wasiah&lt;br /&gt;61. Kitab Sadaqat al-Hay’an al-Mayyit&lt;br /&gt;62. Kitab Wasiyat al-Hamil&lt;br /&gt;j) Di dalam bab Faraid dan lain-lain :&lt;br /&gt;63. Kitab al-Mawarith&lt;br /&gt;64. Kitab al-Wadi’ah&lt;br /&gt;65. Kitab al-Luqatah&lt;br /&gt;66. Kitab al-Laqit&lt;br /&gt;k) Di dalam bab Nikah :&lt;br /&gt;67. Kitab al-Ta’rid bi al-Khitbah&lt;br /&gt;68. Kitab Tahrim al-Jam’i&lt;br /&gt;69. Kitab al-Shighar&lt;br /&gt;70. Kitab al-Sadaq&lt;br /&gt;71. Kitab al-Walimah&lt;br /&gt;72. Kitab al-Qism&lt;br /&gt;73. Kitab Ibahat al-Talaq&lt;br /&gt;74. Kitab al-Raj’ah&lt;br /&gt;75. Kitab al-Khulu’ wa al-Nushuz&lt;br /&gt;76. Kitab al-Ila’&lt;br /&gt;77. Kitab al-Zihar&lt;br /&gt;78. Kitab al-Li’an&lt;br /&gt;79. Kitab al-‘Adad&lt;br /&gt;80. Kitab al-Istibra’&lt;br /&gt;81. Kitab al-Rada’&lt;br /&gt;82. Kitab al-Nafaqat&lt;br /&gt;l) Di dalam bab Jirah (Jenayah) :&lt;br /&gt;83. Kitab Jirah al-‘Amd&lt;br /&gt;84. Kitab Jirah al-Khata’ wa al-Diyat&lt;br /&gt;85. Kitab Istidam al-Safinatain&lt;br /&gt;86. Al-Jinayat ‘ala al-Janin&lt;br /&gt;87. Al-Jinayat ‘ala al-Walad&lt;br /&gt;88. Khata’ al-Tabib&lt;br /&gt;89. Jinayat al-Mu’allim&lt;br /&gt;90. Jinayat al-Baitar wa al-Hujjam&lt;br /&gt;91. Kitab al-Qasamah&lt;br /&gt;92. Saul al-Fuhl&lt;br /&gt;m) Di dalam bab Hudud :&lt;br /&gt;93. Kitab al-Hudud&lt;br /&gt;94. Kitab al-Qat’u fi al-Sariqah&lt;br /&gt;95. Qutta’ al-Tariq&lt;br /&gt;96. Sifat al-Nafy&lt;br /&gt;97. Kitab al-Murtad al-Kabir&lt;br /&gt;98. Kitab al-Murtad al-Saghir&lt;br /&gt;99. Al-Hukm fi al-Sahir&lt;br /&gt;100. Kitab Qital ahl al-Baghy&lt;br /&gt;n) Di dalam bab Siar dan Jihad :&lt;br /&gt;101. Kitab al-Jizyah&lt;br /&gt;102. Kitab al-Rad ‘ala Siyar al-Auza’i&lt;br /&gt;103. Kitab al-Rad ‘ala Siyar al-Waqidi&lt;br /&gt;104. Kitab Qital al-Mushrikin&lt;br /&gt;105. Kitab al-Asara wa al-Ghulul&lt;br /&gt;106. Kitab al-Sabq wa al-Ramy&lt;br /&gt;107. Kitab Qasm al-Fai’ wa al-Ghanimah&lt;br /&gt;o) Di dalam bab At’imah (Makan-makanan) :&lt;br /&gt;108. Kitab al-Ta’am wa al-Sharab&lt;br /&gt;109. Kitab al-Dahaya al-Kabir&lt;br /&gt;110. Kitab al-Dahaya al-Saghir&lt;br /&gt;111. Kitab al-Said wa al-Dhabaih&lt;br /&gt;112. Kitab Dhabaih Bani Israil&lt;br /&gt;113. Kitab al-Ashribah&lt;br /&gt;p) Di dalam bab Qadaya (Kehakiman) :&lt;br /&gt;114. Kitab Adab al-Qadi&lt;br /&gt;115. Kitab al-Shahadat&lt;br /&gt;116. Kitab al-Qada’ bi al-Yamin ma’a al-Shahid&lt;br /&gt;117. Kitab al-Da’wa wa al-Bayyinat&lt;br /&gt;118. Kitab al-Aqdiah&lt;br /&gt;119. Kitab al-Aiman wa al-Nudhur&lt;br /&gt;q) Di dalam bab ‘Itq (Pembebasan) dan lain-lain :&lt;br /&gt;120. Kitab al-‘Itq&lt;br /&gt;121. Kitab al-Qur’ah&lt;br /&gt;122. Kitab al-Bahirah wa al-Sa’ibah&lt;br /&gt;123. Kitab al-Wala’ wa al-Half&lt;br /&gt;124. Kitab al-Wala’ al-Saghir&lt;br /&gt;125. Kitab al-Mudabbir&lt;br /&gt;126. Kitab al-Mukatab&lt;br /&gt;127. Kitab ‘Itq Ummahat al-Aulad&lt;br /&gt;128. Kitab al-Shurut&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di samping kitab-kitab di atas ada lagi kitab-kitab lain yang disenaraikan oleh al-Baihaqi sebagai kitab-kitab usul, tetapi ia juga mengandungi hukum-hukum furu’, seperti :-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Kitab Ikhtilaf al-Ahadith&lt;br /&gt;2. Kitab Jima’ al-Ilm&lt;br /&gt;3. Kitab Ibtal al-Istihsan&lt;br /&gt;4. Kitan Ahkam al-Qur’an&lt;br /&gt;5. Kitab Bayan Fard al-Lah, ‘Azza wa Jalla&lt;br /&gt;6. Kitab Sifat al-Amr wa al-Nahy&lt;br /&gt;7. Kitab Ikhtilaf Malik wa al-Shafi’i&lt;br /&gt;8. Kitab Ikhtilaf al-‘Iraqiyin&lt;br /&gt;9. Kitab al-Rad ‘ala Muhammad bin al-Hasan&lt;br /&gt;10. Kitab ‘Ali wa ‘Abdullah&lt;br /&gt;11. Kitab Fada’il Quraysh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada sebuah lagi kitab al-Shafi’i yang dihasilkannya dalam Ilmu Fiqah iaitu “al-Mabsut”. Kitab ini diperkenalkan oleh al-Baihaqi dan beliau menamakannya dengan “al-Mukhtasar al-Kabir wa al-Manthurat”, tetapi pada pendapat setengah ulama kemungkinan ia adalah kitab “al-Um”.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6496427822632927265-3035580384044759400?l=akhimuammar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://akhimuammar.blogspot.com/feeds/3035580384044759400/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6496427822632927265&amp;postID=3035580384044759400' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6496427822632927265/posts/default/3035580384044759400'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6496427822632927265/posts/default/3035580384044759400'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://akhimuammar.blogspot.com/2008/05/riwayat-hidup-imam-syafii.html' title='RIWAYAT HIDUP IMAM SYAFI&apos;I'/><author><name>muammar_ikhwan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09232577519138736451</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_jirrn9uMBd0/R2XC7Uy2JGI/AAAAAAAAABA/v18DfXzrmhE/S220/Muamar.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6496427822632927265.post-8466464757060463048</id><published>2008-05-23T01:22:00.000-07:00</published><updated>2008-05-23T01:23:52.782-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kisah salafiyyun'/><title type='text'>UMMU SULAIM BINTI MALHAN</title><content type='html'>Ummu Sulaim Binti Malhan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau bernama Rumaisha’, Ummu Sulaim binti Malhan bin Khalid bin Zaid bin Haram bin Jundub bin Amir bin Ghanam bin ‘Ady bin Najjar al-Anshariyyah al-Khazrajiyyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau adalah seorang wanita yang memiliki sifat keibuan dan cantik, dirinya dihiasi pula dengan ketabahan, kebijaksanan, lurus pemikirannya, dan dihiasi pula dengan kecerdasan berfikir dan kefasihan serta berakhlak mulia, sehingga nantinya cerita yang baik ditujukan kepada beliau dan setiap lisan memuji atasnya. Karena beliau memiliki sifat yang agung tersebut sehingga mendorong putra pamannya yang bernama Malik bin Nadlar untuk segera menikahinya. Dari hasil pernikahannya ini lahirlah Anas bin Malik, salah seorang shahabat yang agung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tatkala cahaya nubuwwah mulai terbit dan dakwah tauhid muncul sehingga menyebabkan orang-orang yang berakal sehat dan memiliki fitrah yang lurus untuk bersegera masuk Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ummu Sulaim termasuk golongan pertama yang masuk Islam awal-awal dari golongan Anshar. Beliau tidak mempedulikan segala kemungkinan yang akan menimpanya didalam masyarakat jahiliyah penyembah berhala yang telah beliau buang tanpa ragu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun halangan pertama yang harus beliau hadapi adalah kemarahan Malik suaminya yang baru saja pulang dari bepergian dan mendapati istrinya telah masuk Islam. Malik berkata dengan kemarahan yang memuncak, “Apakah engkau murtad dari agamamu?”. Maka dengan penuh yakin dan tegar beliau menjawab: ”Tidak, bahkan aku telah beriman”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu ketika beliau menuntun Anas (putra beliau) sembari mengatakan: “Katakanlah La ilaha illallah.” (Tidak ada ilah yang haq kecuali Allah). Katakanlah, Asyhadu anna Muhammadan Rasulullah.” (aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah) kemudian Anas mau menirukannya. Akan tetapi ayah Anas mengatakan, “Janganlah engkau merusak anakku”. Maka beliau menjawab: “Aku tidak merusaknya akan tetapi aku mendidik dan memperbaikinya”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perasaan gengsi dengan dosa-dosa menyebabkan Malik bin Nadlar menentukan sikap terhadap istrinya yang –menurutnya- keras kepala dan tetap ngotot berpegang kepada akidah yang baru, maka Malik tidak memiliki alternatif lain selain memberi khabar kepada istrinya bahwa dia akan pergi dari rumah dan tidak akan kembali hingga istrinya mau kembali kepada agama nenek moyangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manakala Malik mendengar istrinya dengan tekad yang kuat karena teguh terhadap pendiriannya mengulang-ulang kalimat “Ashadu an la ilaha illallah wa asyhadu anna Muhammadan Rasulullah”, maka Malik pergi dari rumah dalam keadaan marah dan kemudian bertemu dengan musuh  sehingga akhirnya dia dibunuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Ummu Sulaim mengetahui bahwa suaminya telah terbunuh, beliau tetap tabah mengatakan: “Aku tidak akan menyampih Anas sehingga dia sendiri yang memutusnya, dan aku tidak akan menikah sehingga Anas menyuruhku”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian Ummu Anas menemui Rasulullah yang dicintai dengan rasa malu kemudian beliau mengajukan agar buah hatinya, Anas dijadikan pembantu oleh guru manusia  yang mengajarkan segala kebaikan. Rasulullah menerimanya sehingga sejuklah pandangan Ummu Sulaim karenanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian orang-orang banyak membicarakan Anas bin Malik dan juga ibunya dengan penuh takjub dan bangga. Begitu pula Abu Thalhah mendengar kabar tersebut sehingga menjadikan hatinya cenderung cinta dan takjub. Kemudian dia beranikan diri melamar Ummu Sulaim dan menyediakan baginya mahar yang tinggi. Akan tetapi, tiba-tiba saja pikirannya menjadi kacau dan lisannya menjadi kelu tatkala Ummu Sulaim menolak dengan wibawa dan penuh percaya diri dengan berkata: “Sesungguhnya tidak pantas bagiku menikah dengan orang musyrik. Ketahuilah wahai Abu Thalhah bahwa tuhan-tuhan kalian adalah hasil pahatan orang dari keluarga fulan, dan sesungguhnya seandainya kalian mau membakarnya maka akan terbakarlah tuhan kalian”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Thalhah merasa sesak dadanya, kemudian dia berpaling sedangkan dirinya seolah-olah tidak percaya dengan apa yang telah dia lihat dan dia dengar. Akan tetapi cintanya yang tulus mendorong dia kembali pada hari berikutnya dengan membawa mahar yang lebih banyak, roti maupun susu dengan harapan Ummu Sulaim akan luluh dan menerimanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi Ummu Sulaim adalah seorang da`iyah yang cerdik yang tatkala melihat dunia menari-nari dihadapannya berupa harta, kedudukan dan laki-laki yang masih muda, dia merasakan bahwa keterikatan hatinya dengan Islam lebih kuat dari pada seluruh kenikmatan dunia. Beliau berkata dengan sopan: “Orang seperti anda memang tidak pantas ditolak, wahai Abu Thalhah, hanya saja engkau adalah orang kafir sedangkan saya adalah seorang muslimah sehingga tidak baik bagiku menerima lamarnmu”. Abu Thalhah bertanya: “lantas apa yang anda inginkan?”, beliau balik bertanya: “Apa yang saya inginkan?”. Abu Thalhah bertanya: “apakah anda menginginkan emas atau pera?”. Ummu Sulaim berkata: “Sesungguhnya aku tidak menginginkan emas ataupun perak akan tetapi saya menginginkan agar anda masuk Islam”. “Kepada siapa saya harus datang untuk masuk Islam?”, tanya Abu Thalhah. Beliau berkata: “Datanglah kepada Rasulullah untuk itu!”. Maka pergilah Abu Thalhah untuk menemui Nabi yang tatkala itu sedang duduk-duduk bersama para sahabat. Demi melihat kedatangan Abu Thalhah, Rasulullah bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Telah datang kepada kaliaan Abu Thalhah sedang sudah tampak cahaya Islam dikedua matanya”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya Abu Thalhah menceritakan kepada Nabi tentang apa yang dikatakan oleh Ummu Sulaim, maka da menikahi Ummu Sulaim dengan mahar keislamannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam riwayat lain dikatakan bahwa Ummu sulaim berkata:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Demi Allah! orang yang seperti anda tidak pantas untuk ditolak, hannya saja engkau adalah orang kafir sedangkan aku adalah seorang muslimah sehingga tidak halal untuk menikah denganmu. Jika kamu mau masuk Islam maka itulah mahar bagiku dan aku tidak meminta yang selain dari itu”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh ungkapan tersebut mampu menyentuh perasaan yang paling dalam dan mengisi hati Abu Thalhah, sungguh Ummu Sulaim telah bercokol dihatinya secara sempurna, dia bukanlah seorang wanita yang suka bermain-main dan takluk dengan rayuan-rayuan kemewahan, sesungguhnya dia adalah wanita cerdas, dan apakah dia akan mendapatkan yang lebih baik darinya untuk diperistri, atau ibu bagi anak-anaknya?”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa terAsa lisan Abu Thalhah mengulang-ulang: “Aku berada diatas apa yang kamu yakini, aku bersaksi bahwa tidak ada ilah yang haq kecuali Allah dan aku bersaksi Muhammad adalah utusan Allah”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ummu Sulaim lalu menoleh kepada putranya, Anas dan beliau berkata dengan suka cita karena hidayah Allah yang diberikan kepada Abu Thalhah melalui tangannya: “Wahai Anas! Nikahkanlah aku dengan Abu thalhah”. Kemudian beliaupun dinikahkan dengan Islam sebagai mahar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itulah Tsabit meriwayatkan hadits dari Anas :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku belum pernah mendengar seorang wanitapun yang paling mulia maharnya dari Ummu Sulaim karena maharnya adalah Islam”.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ummu Sulaim hidup bersama Abu Thalhah dengan kehidupan suami-istri yang diisi dengan nilai-nilai Islam yang menaungi bagi kehidupan suami istri, dengan kehidupan yang tenang dan penuh kebahagiaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ummu Sulaim adalah profil seorang istri yang menunaikan hak-hak suami isteri dengan sebaik-baiknya, sebagaimana juga contoh terbaik sebagai seorang ibu, seorang pendidik yang utama dan seorang da`iyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah Abu Thalhah mulai memasuki madrasah imaniyah melalui istrinya yang utama yakni Ummu Sulaim sehingga pada gilirannya beliau minum dari mata air nubuwwah hingga menjadi setara dalam hal kemuliaan dengan Ummu Sulaim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Marilah kita dengarkan penuturan Anas bin Malik yang menceritakan kepada kita bagaimana perlakuan Abu Thalhah terhadap kitabullah dan komitmennya terhadap al-Qur`an sebagai landasan dan kepribadian. Anas bin Malik berkata :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Abu Thalhah adalah orang yang paling kaya di kalangan Anshar Madinah, adapun harta yang paling disukainya adalah kebun yang berada di masjid, yang biasanya Rasulullah masuk ke dalamnya dan minum air jernih didalamnya. Tatkala turun ayat :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu nafkahkan sebagian harta yang kamu cintai.” (Q,.s. Âli’ Imran: 92).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seketika Abu Thalhah berdiri menghadap Rasulullah dan berkata: “Sesungguhnya Allah telah berfirman di dalam kitab-Nya (yang artinya), “Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebahagian harta yang kamu cintai.” Dan sesungguhnya harta yang paling aku sukai adalah kebunku, untuk itu aku sedekahkan ia untuk Allah dengan harapan mendapatkan kebaikan dan simpanan di sisi Allah, maka pergunakanlah sesuka kamu, wahai Rasulullah”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah bersabda :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bagus …..bagus.. itulah harta yang menguntungkan…. Itulah harta yang paling menguntungkan…..aku telah mendengar apa yang kamu katakan dan aku memutuskan agar engkau sedekahkan kepada kerabat-kerabatmu”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka Abu Thalhah membagi-bagikannya kepada sanak kerabat dan anak-anak dari pamannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah memuliakan kedua suami-istri ini dengan seorang anak laki-laki sehingga keduanya sangat bergembira dan anak tersebut menjadi penyejuk pandangan bagi keduanya dengan pergaulannya dan tingkah lakunya. Anak tersebut diberi nama Abu ‘Umair. Suatu ketika anak tersebut bermain-main dengan seekor burung lalu burung tersebut mati. Hal itu menjadikan anak tersebut bersedih dan menangis. Pada waktu itu, Rasulullah melewati dirinya maka beliau berkata kepada anak tersebut  untuk menghibur dan bermain dengannya: “Wahai Abu Umair! Apa yang dilakukan oleh anak  burung pipit itu?”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah berkehendak untuk menguji keduanya dengan keduanya dengan seorang anak yang cakap dan dicintai, suatu ketika Abu Umair sakit sehingga kedua orang tuanya disibukkan olehnya. Sudah menjadi kebiasaan bagi ayahnya apabila kembali dari pasar, pertama kali  yang dia kerjakan setelah mengucapkan salam adalah bertanya tentang kesehatan anaknya, dan beliau belum merasa tenang sebelum melihat anaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu ketika Abu Thalhah keluar ke masjid dan bersamaan dengan itu anaknya meninggal. Maka ibu Mu`minah yang sabar ini menghadapi musibah tersebut dengan jiwa yang ridla dan baik. Sang ibu membaringkannya ditempat tidur sambil senantiasa mengulangi kalimat: “Inna lillahi wa inna ilahi raji`un”. Beliau berpesan kepada anggota keluarganya: “Janganlah kalian menceritakan kepada Abu Thalha hingga aku sendiri yang menceritakan kepadanya”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Abu Thalhah kembali, Ummu Sulaim mengusap air mata kasih sayangnya, kemudian dengan bersemangat menyambut suaminya dan menjawab pertanyaannya seperti biasanya: “Apa yang dilakukan oleh anakku?”. Beliau menjawab: “dia dalam keadaan tenang”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Thalhah mengira bahwa anaknya sudah dalam keadaan sehat, sehingga Abu Thalhah bergembira dengan ketenangan dan kesehatannya, dan dia tidak mau mendekat karena khawatir mengganggu ketenangannya. Kemudian Ummu Sulaim mendekati beliau dan mempersiapkan malam baginya, lalu beliau makan dan minum sementara Ummu Sulaim bersolek dengan dandanan lebih cantik daripada hari-hari sebelumnya, beliau mengenakan baju yang paling bagus, berdandan dan memakai wangi-wangian, kemudian keduanyapun berbuat sebagai mana layaknya suami istri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tatkala Ummu Sulaim melihat bahwa suaminya sudah kenyang dan mencampurinya serta merasa tenang dengan keadaan anaknya maka beliau memuji Allah karena tidak membuat risau suaminya dan beliau biarkan suaminya terlelap dalam tidurnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tatkala diakhir malam beliau berkata kepada suaminya: “Wahai Abu Thalhah! bagaimana pendapatmu seandainya suatu kaum menitipkan barangnya kepada suatu keluarga kemudian suatu ketika mereka mengambil titipannya tersebut, maka bolehkah bagi keluarga tersebut untuk menolaknya?”. Abu Thalhah menjawab: “Tentu saja tidak boleh”. Kemudian Ummu Sulaim berkata lagi: “Bagaimana pendapatmu jika keluarga tersebut berkeberatan tatkala titipannya diambil setelah dia sudah dapat memanfaatkannya?”. Abu Thalhah berkata: “Berarti mereka tidak adil”. Ummu Sulaim berkata: ”Sesunggguhnya anakmu titipan dari Allah dan Allah telah mengambilnya, maka tabahkanlah hatimu dengan meninggalnya anakmu”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Thalhah tidak kuasa menahan amarahnya, maka beliau berkata dengan marah: “kau biarkan aku dalam keadaan seperti ini baru kamu kabari tentang anakku?”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau ulang-ulang kata-kata tersebut hingga beliau mengucapkan kalimat istirja` (Inna lillahi wa inna ilahi raji`un) lalu bertahmid kepada Allah sehingga berangsur-angsur jiwanya menjadi tenang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keesokan harinnya beliau pergi menghadap Rasulullah dan mengabarkan kapada Rasulullah tentang apa yang terjadi, kemudian Rasulullah bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Semoga Allah memberkahi malam kalian berdua”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mulai hari itulah Ummu Sulaim mengandung seorang anak yang akhirnya diberi nama Abdullah. Tatkala Ummu Sulaim melahirkan, beliau utus Anas bin Malik untuk membawanya kepada Rasulullah selanjutnya Anas berkata: “Wahai Rasulullah, bahwasanya Ummu Sulaim melahirkan tadi malam”. Maka Rasulullah mengunyah kurma dan mentahnik bayi tersebut (menggosokan kurma yang telah dikunyah ke langit-langit mulut si bayi). Anas berkata: “Berilah nama baginya, wahai Rasulullah!”. Beliau bersabda: “namanya Abdullah” .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ubbabah, salah seorang rijal sanad berkata: “Aku melihat dia memiliki tujuh anak yang kesemuanya hafal al-Qur`an”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diantara kejadian yang mengesankan pada diri wanita yang utama dan juga suaminya yang mukmin adalah bahwa Allah menurunkan ayat tentang mereka berdua dimana umat manusia dapat beribadah dengan membacanya. Abu Hurairah berkata:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Telah datang seorang laki-laki kepada Rasulullah dan berkata: “Sesungguhnya aku dalam keadaan lapar”. Maka Rasulullah menanyakan kepada salah satu istrinya tentang makanan yang ada dirumahnya, namun beliau menjawab: “Demi Dzat Yang mengutusmu dengan haq, aku tidak memiliki apa-apa kecuali hanya air, kemudian beliau bertanya kepada istri yang lain, namun jawabannya tidak berbeda. Seluruhnya menjawab dengan jawaban yang sama. Kemudian Rasulullah bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Siapakah yang akan menjamu tamu ini, semoga Allah merahmatinya”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka berdirilah salah seorang Anshar yang namanya Abu Thalhah seraya berkata: “Saya wahai Rasulullah”. Maka dia pergi bersama tamu tadi menuju rumahnya kemudian sahabat Anshar tersebut bertanya kepada istrinya (Ummu Sulaim): “Apakah kamu memiliki makanan?”. Istrinya menjawab: “Tidak punya melainkan makanan untuk anak-anak”. Abu Thalhah berkata: ”Berikanlah minuman kepada mereka dan tidurkanlah mereka. Nanti apabila tamu saya masuk maka akan saya perlihatkan bahwa saya ikut makan, apabila makanan sudah berada di tangan maka berdirilah. Mereka duduk-duduk dan tamu makan hidangan tersebut sementara kedua sumi-istri tersebut bermalam dalam keadaan tidak makan. Keesokan harinya keduanya datang kepada Rasulullah lalu Rasulullah bersabda: “Sungguh Allah takjub (atau tertawa) terhadap fulan dan fulanah”. Dalam riwayat lain, Rasulullah bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sungguh Allah takjub terhadap apa yang kalian berdua lakukan terhadap tamu kalian” .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di akhir hadits disebutkan: “Maka turunlah ayat (artinya):&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan mereka mengutamakan (orang-orang muhajirin) atas diri mereka sendiri. Sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu).” (Q,.s. al-Hasyr :9).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Thalhah tidak kuasa menahan rasa gembiranya, maka beliau bersegera memberikan khabar gembira tersebut kepada istrinya sehingga sejuklah pandangan matanya karena Allah menurunkan ayat tentang mereka dalam al-Qur`an yang senantiasa dibaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ummu Sulaim tidak hanya cukup menunaikan tugasnya untuk mendakwahkan Islam dengan penjelasan saja, bahkan beliau antusias untuk turut andil dalam berjihad bersama pahlawan kaum muslimin. Tatkala perang Hunain tampak sekali sikap kepahlawanannya dalam memompa semangat pada dada mujahidin dan mengobati mereka yang luka. Bahkan beliau juga mempersiapkan diri untuk melawan dan menghadapi musuh yang akan menyerangnya. Diriwayatkan oleh Muslim di dalam shahihnya dan Ibnu Sa`ad di dalam Thabaqat dengan sanad yang shahih bahwa Ummu Sulaim membawa badik (pisau) pada perang Hunain kemudian Abu Thalhah berkata: “Wahai Rasulullah! ini Ummu Sulaim berkata: “Wahai Rasulullah apabila ada orang musyrik yang mendekatiku maka akan robek perutnya dengan badik ini”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anas berkata: “Rasulullah berperang bersama Ummu Sulaim dan para Wanita dari kalangan Anshar, apabila berperang, para wanita tersebut memberikan minum kepada mujahidin dan mengobati yang luka”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah Ummu Sulaim memiliki kedudukan yang tinggi di sisi Rasulullah, beliau tidak pernah masuk rumah selain rumah Ummu Sulaim bahkan Rasulullah telah memberi kabar gembira bahwa beliau termasuk ahli surga. Beliau bersabda :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku masuk ke surga, tiba-tiba mendengar sebuah suara, maka aku bertanya: “Siapa itu?”. Mereka berkata: “Dia adalah Rumaisha` binti Malhan ibu dari Anas bin Malik”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat untukmu wahai Ummu Sulaim, karena anda memang sudah layak mendapatkan itu semua, engkau adalah seorang istri shalihah yang suka menasehati, seorang da`iyah yang bijaksana, seorang pendidik yang sadar sehingga memasukkan anaknya ke dalam madrasah nubuwwah tatkala berumur sepuluh tahun yang pada gilirannya beliau menjadi seorang ulama diantara ulama Islam, selamat untukmu…..selamat untukmu…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Diambil dari buku Mengenal Shahabiah Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam dengan sedikit perubahan, penerbit Pustaka AT-TIBYAN, Hal. 204)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;di ambil dari ebook di: http://ebooksamuderailmu.googlepages.com/UmmuSulaimBintiMalhan.doc&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6496427822632927265-8466464757060463048?l=akhimuammar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://akhimuammar.blogspot.com/feeds/8466464757060463048/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6496427822632927265&amp;postID=8466464757060463048' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6496427822632927265/posts/default/8466464757060463048'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6496427822632927265/posts/default/8466464757060463048'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://akhimuammar.blogspot.com/2008/05/ummu-sulaim-binti-malhan.html' title='UMMU SULAIM BINTI MALHAN'/><author><name>muammar_ikhwan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09232577519138736451</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_jirrn9uMBd0/R2XC7Uy2JGI/AAAAAAAAABA/v18DfXzrmhE/S220/Muamar.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6496427822632927265.post-7526470555405340176</id><published>2008-05-23T01:20:00.000-07:00</published><updated>2008-05-23T01:21:52.541-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerpen islami'/><title type='text'>BIDADARI SYURGA, AINUL MARDIYAH</title><content type='html'>Pengantar &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah ini Sudah sangat terkenal. Penulis diambil dari salah seorang blogger. Ada bebrapa referensi lain, misalnya dari milis, Myquran. Ataupun dari milis. Yang saya pahami, bahwa kisah ini hanyalah karangan seorang sastrawan Aceh, untuk memberikan semangat kepada pemuda pemuda di Aceh dalam melawan penjajahan. Jadi bukan kisah nyata. Wallahu a’lam. Namun demikian, alangkah bagusnya jika kita bisa mengambil ibroh/pelajaran dari kisah kisah tersebut.&lt;br /&gt;_________________________________________________ &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam suatu kisah yang dipaparkan Al Yafi’i dari Syeikh Abdul Wahid bin Zahid, dikatakan: Suatu hari ketika kami sedang bersiap-siap hendak berangkat perang, aku meminta beberapa teman untuk membaca sebuah ayat. Salah seorang lelaki tampil sambil membaca ayat Surah At Taubah ayat 111, yang artinya sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    "Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mu’min, diri dan harta mereka dengan memberikan sorga untuk mereka" &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selesai ayat itu dibaca, seorang anak muda yang berusia 15 tahun atau lebih bangkit dari tempat duduknya. Ia mendapat harta warisan cukup besar dari ayahnya yang telah meninggal. Ia berkata:"Wahai Abdul Wahid, benarkah Allah membeli dari orang-orang mu’min diri dan harta mereka dengan sorga untuk mereka?" "Ya, benar, anak muda" kata Abdul Wahid. Anak muda itu melanjutkan:"Kalau begitu saksikanlah, bahwa diriku dan hartaku mulai sekarang aku jual dengan sorga."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak muda itu kemudian mengeluarkan semua hartanya untuk disedekahkan bagi perjuangan. Hanya kuda dan pedangnya saja yang tidak. Sampai tiba waktu pemberangkatan pasukan, ternyata pemuda itu datang lebih awal. Dialah orang yang pertama kali kulihat. Dalam perjalanan ke medan perang pemuda itu kuperhatikan siang berpuasa dan malamnya dia bangun untuk beribadah. Dia rajin mengurus unta-unta dan kuda tunggangan pasukan serta sering menjaga kami bila sedang tidur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sewaktu sampai di daerah Romawi dan kami sedang mengatur siasat pertempuran, tiba-tiba dia maju ke depan medan dan berteriak:"Hai, aku ingin segera bertemu dengan Ainul Mardhiyah . ." Kami menduga dia mulai ragu dan pikirannya kacau, kudekati dan kutanyakan siapakah Ainul Mardiyah itu. Ia menjawab: "Tadi sewaktu aku sedang kantuk, selintas aku bermimpi. Seseorang datang kepadaku seraya berkata: "Pergilah kepada Ainul Mardiyah." Ia juga mengajakku memasuki taman yang di bawahnya terdapat sungai dengan air yang jernih dan dipinggirnya nampak para bidadari duduk berhias dengan mengenakan perhiasan-perhiasan yang indah. Manakala melihat kedatanganku , mereka bergembira seraya berkata: "Inilah suami Ainul Mardhiyah . . . . ."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Assalamu’alaikum" kataku bersalam kepada mereka. "Adakah di antara kalian yang bernama Ainul Mardhiyah?" Mereka menjawab salamku dan berkata: "Tidak, kami ini adalah pembantunya. Teruskanlah langkahmu" Beberapa kali aku sampai pada taman-taman yang lebih indah dengan bidadari yang lebih cantik, tapi jawaban mereka sama, mereka adalah pembantunya dan menyuruh aku meneruskan langkah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya aku sampai pada kemah yang terbuat dari mutiara berwarna putih. Di pintu kemah terdapat seorang bidadari yang sewaktu melihat kehadiranku dia nampak sangat gembira dan memanggil-manggil yang ada di dalam: "Hai Ainul Mardhiyah, ini suamimu datang . …"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika aku dipersilahkan masuk kulihat bidadari yang sangat cantik duduk di atas sofa emas yang ditaburi permata dan yaqut. Waktu aku mendekat dia berkata: "Bersabarlah, kamu belum diijinkan lebih dekat kepadaku, karena ruh kehidupan dunia masih ada dalam dirimu." Anak muda melanjutkan kisah mimpinya: "Lalu aku terbangun, wahai Abdul Hamid. Aku tidak sabar lagi menanti terlalu lama".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum lagi percakapan kami selesai, tiba-tiba sekelompok pasukan musuh terdiri sembilan orang menyerbu kami. Pemuda itu segera bangkit dan melabrak mereka. Selesai pertempuran aku mencoba meneliti, kulihat anak muda itu penuh luka ditubuhnya dan berlumuran darah. Ia nampak tersenyum gembira, senyum penuh kebahagiaan, hingga ruhnya berpisah dari badannya untuk meninggalkan dunia. ( Irsyadul Ibad ).&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6496427822632927265-7526470555405340176?l=akhimuammar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://akhimuammar.blogspot.com/feeds/7526470555405340176/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6496427822632927265&amp;postID=7526470555405340176' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6496427822632927265/posts/default/7526470555405340176'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6496427822632927265/posts/default/7526470555405340176'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://akhimuammar.blogspot.com/2008/05/bidadari-syurga-ainul-mardiyah.html' title='BIDADARI SYURGA, AINUL MARDIYAH'/><author><name>muammar_ikhwan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09232577519138736451</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_jirrn9uMBd0/R2XC7Uy2JGI/AAAAAAAAABA/v18DfXzrmhE/S220/Muamar.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6496427822632927265.post-2954359483372012950</id><published>2008-05-23T01:19:00.001-07:00</published><updated>2008-05-23T01:19:56.202-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kisah salafiyyun'/><title type='text'>IMAM NAWAWI</title><content type='html'>IMAM NAWAWI (631H – 676H = 1233 –1277 M)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namanya ialah Muhyiddin Abu Zakaria Yahya bin Syirfu al Nawawi. Dilahirkan di Nawa sebuah wilayah di Damsyik Syam pada bulan Muharram tahun 631 Hijrah.&lt;br /&gt;Kebolehan menghafaz Al-Quran sejak kecil lagi. Pada tahun 649 Hijrah, ketika berusia lingkungan sembilan belas tahun telah pergi ke kota Damsyik untuk belajar. Mendalami ilmu di madrasah al-Ruwahiyyah atas tanggungan madrasah itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karangannya adalah banyak, di antaranya yang terkenal ialah kitab-kitab syarah sahih muslim, Riyadhus Salihin, Al-Adhkar, Al-Tibyan fi adab hamalat al-Quran, al-Irsyad wa al-Taqrib fi ‘Ulum al-Hadith, al-Aidah fi Manasik al-Hajj, Syarah Muhazzab, al-Raudah, Tahdhib al-Asma’ wa al-Lughat, al-Minhaj dan Matan al-Arbain.&lt;br /&gt;Antara kitabnya yang begitu popular dalam pengajian ilmu ialah Matan al-Arbain (hadis 40), Riyadhus Salihin, Syarah Sahih Muslim dan al-Adhkar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehidupannya dihabiskan kepada bakti dan khidmat suci terhadap penyebaran dam perkembangan ilmu pengetahuan Islam. Makan minumnya hanya sekali dalam sehari, sekadar memelihara kesihatan badannya. Juga tidak sanagat menghiraukan akan soal pemakaian dan perhiasan, cukuplah apa yang memadai sahaja. Tidak juga gemar akan makan buah-buahan kerana khuatir akan mengantuk yang akan mengganggu tugas sehariannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang yang begitu bertakwa menurut erti kata sepenuhnya, wara’nya dan kebersihan jiwanya. Seorang ulama’ yang amatlah suka ditemui. Ada juga riwayat yang mengatakan bahawa keengganan beliau untuk makan buah-buahan di Damsyik itu bukan hanya khuatir akan mengantuk tetapi kerana buah-buahan di Damsyik dikala itu terlalu banyak mengandungi syubhat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepanjang hayatnya sentiasa istiqamah dalam menjalankan kewajipan menyebarkan ilmu dengan mengajar dan mengarang di samping senantiasa beribadah di tengah-tengah suasana hidup yang serba kekurangan, sehingga hidupnya dilingkungi oleh usaha dan amal saleh terhadap agama, masyarakat dan umat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau pernah diusir keluar dari negeri Syam oleh sultan al-Malik al-Zahir yang tidak senang akan fatwa yang dikeluarkan olehnya. Beliau bukanlah seorang ulama’ yang mencari kebenaran untuk dirinya sahaja, beliau hidup di dalam masyarakat. Beliau tidak menjual ilmu yang dimiliki dengan harta benda dunia. Beliau mencurahkan ilmu kepada masyarakat ummat. Beliau memimpin ummat bukan ummat yang memimpin beliau. Mengeluarkan fatwa tanpa memandang sesiapa, walaupun fatwanya itu meyusahkan kedudukannya. Inilah contoh ulama’ pewaris nabi (warithatul anbiya’).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepanjang hayatnya banyak menulis, mengarang, mengajar dan menasihat. Inilah yang telah mengangkat ketinggian peribadinya dan dikagumi. Imam Nawawi wafat pada 24 Rejab 676 Hijrah, dan dimakamkan di Nawa, setelah sekian lama beliau hidup dengan membujang tidak beristeri di tengah-tengah suasana masyarakat Damsyik dan telah berjaya menyumbangkan tenaga fikiran dan ‘ilmunya kepada agama Islam dan umatnya. Sekianlah, mudah-mudahan Allah melimpahkan rahmatnya ke atas beliau. Amin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;FATWA IMAM NAWAWI YANG MENGGEMPARKAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut riwayat bahawa apabila baginda sultan al-Malik al-Zahir telah mengadakan persiapan perang untuk memerangi orang-orang Tatar (monggol) lalu digunakanlah fatwa ‘ulama yang mengharuskan mengambil harta rakyat untuk kepentingan perang melawan musuh. ‘Ulama fiqh negeri Syam telah menulis menerangkan fatwa tersebut, tetapi baginda belum merasa senang hati kalau imam Nawawi tidak memberi fatwanya. Lalu baginda bertitah “Masih adakah lagi orang lain”. “Masih ada, al-Syaikh Muhyiddin al-Nawawi” – demikian jawapan yang disampaikan kepada baginda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian baginda menjemput Imam Nawawi dan meminta beliau memberi fatwanya bersama ‘ulama fiqh mengenai pengambilan harta rakyat untuk peperangan. Beliau berterus terang tidak mahu memberi fatwanya dan enggan. Baginda bertanya: “Apakah sebabnya beliau enggan?” Lalu beliau memberi penjelasan mengapa beliau terpaksa menerangkan sikapnya dan keenggannya memfatwakan sama seperti para ‘ulama. Beliau dalam penjelasan kepada baginda menerangkan seperti berikut! Ampun Tuanku! Adalah patik sememangnya mengetahui dengan sesungguhnya bahwasanya tuanku adalah dahulunya seorang tawanan tidak ada sebarang harta benda. Tetapi pertolongan Allah telah dilimpahkan kurnianya kepada tuanku dengan dijadikan tuanku seorang raja. Ampun Tuanku! Adalah patik telah mendengar bahawanya tuanku ada memiliki seribu orang hamab tiap-tiap seorang ada mempunyai beberapa ketul emas. Manakala dua ratus orang khadam wanita milik tunaku, masing-masing mempunyai perhiasan yang bernilai. Andaikata tuanku sendirian membelanjakan kesemua itu untuk keperluan pernag sehingga mereka tidak lagi mempunyai barang-barang itu, maka patik bersedia memberi fatwa untuk membenarkan tuanku mengambil harta rakyat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesimpulannya, beliau berfatwa tidak membenarkan baginda mengambil harta rakyat selama kekayaannya sendiri masih dapat dipergunakan. Baginda al-Malik al-Zahir murka kepadanya kerana fatwanya yang amat menggemparkan sehingga baginda mengeluarkan perintah supaya beliau segera keluar dari Damsyik. Imam Nawawi terima saja perintah pengusirannya itu dengan nada yang tenang. Lalu beliau pun keluar ke Nawa. Para ‘ulama Syam telah berusaha menjemput beliau balik semula ke Damsyik, tetapi beliau enggan dengan berkata: “Saya tidak akan balik ke Damsyik selama baginda masih berkuasa”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Sumber rujukan asal, HADIS EMPAT PULUH, Cetakan Dewan Pustaka Fajar)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6496427822632927265-2954359483372012950?l=akhimuammar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://akhimuammar.blogspot.com/feeds/2954359483372012950/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6496427822632927265&amp;postID=2954359483372012950' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6496427822632927265/posts/default/2954359483372012950'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6496427822632927265/posts/default/2954359483372012950'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://akhimuammar.blogspot.com/2008/05/imam-nawawi.html' title='IMAM NAWAWI'/><author><name>muammar_ikhwan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09232577519138736451</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_jirrn9uMBd0/R2XC7Uy2JGI/AAAAAAAAABA/v18DfXzrmhE/S220/Muamar.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6496427822632927265.post-1001034872471606194</id><published>2008-05-23T01:05:00.000-07:00</published><updated>2008-05-23T01:06:19.894-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kisah salafiyyun'/><title type='text'>SYAIKH SAYID SABIQ - ULAMA FIQH YANG ULUNG</title><content type='html'>Harimau mati meninggalkan belang, manusia mati meninggalkan nama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah pepatah Melayu dalam menggambarkan kehilangan orang yang sangat berjasa. Lebih-lebih lagi jika jasa itu berupa ilmu yang bermanfaat untuk manusia dan lahir dari seorang ulama yang beramal serta ikhlas dalam menyampaikannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada kata-kata yang dapat menggambarkan kesedihan umat Islam apabila satu demi satu ulama besar menyambut seruan Allah. Bermula dengan kepergian Syaikh Sya’rawi, disusul dengan meninggalnya Mufti Kerajaan Arab Saudi, Syaikh Abdul Aziz Baz. Tatklala kita sedang terlena menyambut millennium baru, kita dikejutkan dengan berita meninggalnya Syaikh Abu al-Hasan Ali an-Nadawi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanggal 28 Februari 2000, giliran Syaikh Sayyid Sabiq pula pergi menyertai kafilah solihin dan ulama ‘amilin menyambut panggilan Ilahi. Beliau seorang ulama al-Azhar yang tersohor di dunia, penulis  buku fiqh yang sangat masyhur, Fiqh Sunnah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jenazah beliau dishalatkan oleh beribu-ribu orang di Masjid Rabiah al-Adawiyah, Madinah Nasr dengan diimami oleh Syaikh al-Azhar as-Syarief, Dr. Muhammad Sayid Tantawi. Turut mengikuti solat jenazah as-Sayid Hani Wajdi yang mewakili Presiden Republik Arab Mesir, Mufti Kerajaan Mesir, Dr. Nasr Farid Wasil, Menteri Awqaf, Dr. Hamdi Zaqzuq, Presiden Parti Buruh, Ibrahim Syukri, Ketua Jabhah Ulama al-Azhar dan anggota-anggotanya, Ketua Jam’iyah Syarqiyyah, Dr. Fuad Mukhaimar. serta puluhan ulama dan pemimpin masyarakat setempat yang tidak ketinggalan memberikan penghormatan terakhir terhadap ulama besar umat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jenazah beliau kemudian dibawa ke tanah tempat kelahirannya di Markaz Bajour, Maneofiah untuk disemayamkan di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejarah Hidup&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Sayyid Sabiq dilahirkan pada tahun 1915 dan mendapat pendidikan di al-Azhar. Disinilah awal perkenalan beliau dengan al-lkhwan al-Muslimun (Ikhwanul Muslimin). Pada tahun 1948, beliau bersama-sama al-Ikhwan al-Muslimun menyertai Perang Palestina. Akibatnya, beliau dipenjara di bawah tanah pada tahun 1949-1950.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah bebas, Syaikh Sayyid Sabiq kembali ke al-Azhar dan mendalami bidang dakwah. Beliau aktif dalam al-Ikhwan al-Muslimun sampai menjadi orang kepercayaan Imam Hasan al-Banna, Mursyidul ‘Am al-Ikhwan al-Muslimun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun 1951, beliau bekerja di Kementerian Awqaf Mesir. Kefasihan ilmunya mulai tampak. Beliau dinaikkan pangkat hingga menjadi Wakil Kementerian Awqaf Mesir. Pada tahun 1964, beliau berhijrah ke Yaman, kemudian menetap di Arab Saudi mengajar mata kuliah Dakwah dan Ushuluddin, Universitas Ummul-Qura selama lebih dari 20 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegiatan Dakwah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Sayyid Sabiq merupakan seorang yang banyak mengembara untuk menyampaikan dakwah. Banyak negara yang dilawatinya termasuk Indonesia, Inggris, negara-negara bagian bekas Uni Soviet dan seluruh negara Arab. Beliau meninggalkan kesan yang mendalam di setiap negara yang diziarahinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Sayyid Sabiq juga banyak membuka majlis-majlis ilmu di rumahnya. Setiap hari Ahad dikhususkan untuk kaum wanita dan orang yang sudah berumahtangga. Pengajian untuk kaum laki-laki diadakan setiap hari Minggu. Malam Kamis merupakan malam yang dinanti-nantikan oleh semua jamaah yang melakukan shalat Isya’ di Masjid ‘lbadur-Rahman, Akhir Mahattoh, Haiyu Sabie’ karena pada malam itu dikhususkan untuk pengajian yang dipimpin langsung oleh Syaikh Sayyid Sabiq. Dalam majlis itu, beliau banyak memberi fatwa dan menjawab permasalahan-permasalahan yang muncul ditengah umat Islam. Banyak pelajar dari negara lain mengikuti majlis beliau walaupun Syaikh Sayyid Sabiq sering menggunakan Bahasa Arab Ammi (lahjah arab tempatan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu contoh kegigihannya dalam menyampaikan dakwah, dikisahkan bahawa ketika beliau berada dalam penjara, dengan berpijak di atas ember yang telah disusun dalam bilik penjara untuk dijadikan mimbar karena tubuh beliau kecil dan kurus, beliau dengan lantang dan bersemangat menerangkan hukum fiqh dan agama terhadap tahanan-tahanan politik yang ditangkap bersamanya. Pengawal penjara dan tentara yang mengawal mereka turut mengikuti kuliah tidak resmi beliau dari balik jeruji besi penjara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh Pribadi dan Akhlak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Sayyid Sabiq merupakan seorang patut di contoh dalam kepribadian dan akhlak. Beliau bukan saja berilmu, melainkan juga memiliki budi pekerti yang mulia dan pandai menjaga hubungan yang baik sesama manusia. Sifatnya yang suka melucu, lemah lembut dan menghormati orang lain walaupun dengan kanak-kanak membuat beliau disenangi oleh segenap lapisan masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buah Karya dan Keilmuan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Sayyid Sabiq adalah seorang ulama yang mumpuni dalam ilmu dan mempunyai pemahaman yang luas tentang Islam. Hal ini ini yang menjadikan Syaikh Muhammad al-Ghazali menjuluki Syaikh Sayid Sabiq sebagai orang yang paling faqih di abad ini. Beliau menjadi tempat rujukan ulama-ulama besar termasuk Syaikh Sya’rowi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau seorang ulama yang berani mengatakan kesyumulan Islam. Ini terbukti dengan kitab hasil tulisannya yang terkenal, Fiqh Sunnah. Kitab ini telah diterjemahkan ke dalam banyak bahasa. Ide penulisan kitab ini berasal dari Imam as-Syahid Hasan al-Banna yang meminta beliau supaya menyusun sebuah kitab fiqh yang sahih berdasarkan al-Quran dan as-Sunnah yang mampu menyelesaikan khilaf di kalangan umat Islam dan menghilangkan sifat ta’asub kepada mazhab. Penyusunan itu juga bertujuan untuk menghapuskan pendapat mengada-ada yang menyatakan bahwa pintu ijtihad telah tertutup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata setelah hampir 50 tahun Fiqh Sunnah yang di dalamnya terhimpun sekitar tiga ribu hadis itu ditulis, kitab itu masih mendapat sambutan luar biasa dari umat Islam serta mendapat penghargaan dari ulama sedunia sebagai kitab fiqh terbaik zaman ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau juga mengarang beberapa  kitab lain seperti, ‘Unsur-unsur Kekuatan Dalam Islam’, ‘Islam Kita’ dan sebuah risalah kecil mengenai riba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anugrah dan Penghargaan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepanjang hayatnya, Syaikh Sayyid Sabiq banyak menerima anugrah dan penghargaan atas ketokohan dan keilmuan beliau. Puncaknya, Piagam Penghargaan Mesir yang dianugerahkan oleh Presiden Mesir, Mohammad Husni Mubarak pada tanggal 5 Maret 1988. Di tingkat regional, Syaikh Sayyid Sabiq mendapat penghargaan Jaaizah al-Malik Faisal al-Alamiah pada tahun 1994 oleh Kerajaan Arab Saudi atas usahanya menyebarkan dakwah Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penutup&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga Allah SWT membalas segala jasa dan pengorbanan Syaikh Sayyid Sabiq sepanjang hayatnya dalam usaha menyebarkan ajaran Islam kepada masyarakat. Beliau telah mewakafkan dirinya di jalan dakwah dan melakukan perkara yang tidak mampu dilakukan oleh sebagian besar ulama’ yang sezaman dengannya. Mengarungi liku-liku hidup selaku pejuang agama yang mempunyai keikhlasan sejati. Pernah menghadapi musuh dalam peperangan dan dipenjarakan karena mempertahankan yang haq. Kitab Fiqh Sunnah peninggalannya terus menjadi pilihan umat Islam sebagai rujukan mereka. Semoga Allah merahmati beliau dan menempatkan beliau di tempat yang selayaknya dalam syurga, dan memberi kita semua kekuatan dalam manapaki kegigihan dan jalan yang telah dilalui oieh Syaikh Sayyid Sabiq. Amiin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;di terjemahkan secara bebas dari bahasa Malaysia:&lt;br /&gt;Biografi Sayyid Sabiq-Ulama yang Terulung penulis Fiqhus Sunnah&lt;br /&gt;www.dakwah.info&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6496427822632927265-1001034872471606194?l=akhimuammar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://akhimuammar.blogspot.com/feeds/1001034872471606194/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6496427822632927265&amp;postID=1001034872471606194' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6496427822632927265/posts/default/1001034872471606194'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6496427822632927265/posts/default/1001034872471606194'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://akhimuammar.blogspot.com/2008/05/syaikh-sayid-sabiq-ulama-fiqh-yang.html' title='SYAIKH SAYID SABIQ - ULAMA FIQH YANG ULUNG'/><author><name>muammar_ikhwan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09232577519138736451</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_jirrn9uMBd0/R2XC7Uy2JGI/AAAAAAAAABA/v18DfXzrmhE/S220/Muamar.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6496427822632927265.post-1152266899378630383</id><published>2008-05-23T01:03:00.000-07:00</published><updated>2008-05-23T01:04:36.842-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kisah salafiyyun'/><title type='text'>IMAM BUKHORI</title><content type='html'>Sumber dari segala sumber hukum yang utama atau yang pokok di dalam agama Islam adalah Al-Qur’an dan As-Sunnah. Selain sebagai sumber hukum, Al-Qur’an dan As-Sunnah juga merupakan sumber ilmu pengetahuan yang universal. Isyarat sampai kepada ilmu yg mutakhir telah tercantum di dalamnya. Oleh karenanya siapa yang ingin mendalaminya, maka tidak akan ada habis-habisnya keajaibannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mengetahui As-Sunnah atau hadits-hadits Nabi, maka salah satu dari beberapa bagian penting yang tidak kalah menariknya untuk diketahui adalah mengetahui profil atau sejarah orang-orang yang mengumpulkan hadits, yang dengan jasa-jasa mereka kita yang hidup pada jaman sekarang ini dapat dengan mudah memperoleh sumber hukum secara lengkap dan sistematis serta dapat melaksanakan atau meneladani kehidupan Rasulullah untuk beribadah seperti yang dicontohkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk itu pada beberapa edisi kali ini, kami sajikan secara berturut-turut Profile Sejarah Hidup Enam Tokoh Penghimpun Hadits yang paling terkenal serta Sekilas Penjelasan Tentang Kitab Hadits-nya yang masyur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abad ketiga Hijriah merupakan kurun waktu terbaik untuk menyusun atau menghimpun Hadits Nabi di dunia Islam. waktu itulah hidup enam penghimpun ternama Hadits Sahih yaitu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Bukhari&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Muslim&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Abu Daud&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Tirmizi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Nasa’i&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Ibn Majah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tokoh Islam penghimpun dan penyusun hadits itu banyak, dan yang lebih terkenal di antaranya seperti yang disebut diatas. Adapun urutan pertama yang paling terkenal diantara enam tokoh tersebut di atas adalah Amirul-Mu’minin fil-Hadits (pemimpin orang mukmin dalam hadits), suatu gelar ahli hadits tertinggi. Nama lengkapnya adalah Abu Abdullah Muhammad ibn Ismail ibn Ibrahim ibn al-Mughirah ibn Bardizbah. Abu Abdullah Muhammad ibn Ismail, terkenal kemudian sebagai Imam Bukhari, lahir di Bukhara pada 13 Syawal 194 H (21 Juli 810 M), cucu seorang Persia bernama Bardizbah. Kakeknya, Bardizbah, adalah pemeluk Majusi, agama kaumnya. Kemudian putranya, al-Mughirah, memeluk Islam di bawah bimbingan al-Yaman al Ja’fi, gubernur Bukhara. Pada masa itu Wala dinisbahkan kepadanya. Karena itulah ia dikatakan “al-Mughirah al-Jafi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengenai kakeknya, Ibrahim, tidak terdapat data yang menjelaskan. Sedangkan ayahnya, Ismail, seorang ulama besar ahli hadits. Ia belajar hadits dari Hammad ibn Zayd dan Imam Malik. Riwayat hidupnya telah dipaparkan oleh Ibn Hibban dalam kitab As-Siqat, begitu juga putranya, Imam Bukhari, membuat biografinya dalam at-Tarikh al-Kabir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayah Bukhari disamping sebagai orang berilmu, ia juga sangat wara’ (menghindari yang subhat/meragukan dan haram) dan takwa. Diceritakan, bahwa ketika menjelang wafatnya, ia berkata: “Dalam harta yang kumiliki tidak terdapat sedikitpun uang yang haram maupun yang subhat.” Dengan demikian, jelaslah bahwa Bukhari hidup dan terlahir dalam lingkungan keluarga yang berilmu, taat beragama dan wara’. Tidak heran jika ia lahir dan mewrisi sifat-sifat mulia dari ayahnya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia dilahirkan di Bukhara setelah salat Jum’at. Tak lama setelah bayi yang baru lahr itu membuka matanya, iapun kehilangan penglihatannya. Ayahnya sangat bersedih hati. Ibunya yang saleh menagis dan selalu berdo’a ke hadapan Tuhan, memohon agar bayinya bisa melihat. Kemudian dalam tidurnya perempuan itu bermimpi didatangi Nabi Ibrahim yang berkata: “Wahai ibu, Allah telah menyembuhkan penyakit putramu dan kini ia sudah dapat melihat kembali, semua itu berkat do’amu yang tiada henti-hentinya.” Ketika ia terbangun, penglihatan bayinya sudah normal. Ayahnya meninggal di waktu dia masih kecil dan meninggalkan banyak harta yang memungkinkan ia hidup dalam pertumbuhan dan perkembangan yang baik. Dia dirawat dan dididikl oleh ibunya dengan tekun dan penuh perhatian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keunggulan dan kejeniusan Bukhari sudah nampak semenjak masih kecil. Allah menganugerahkan kepadanya hati yang cerdas, pikiran yang tajam dan daya hafalan yang sangat kuat, teristimewa dalam menghafal hadits. Ketika berusia 10 tahun, ia sudah banyak menghafal hadits. Pada usia 16 tahun ia bersama ibu dan abang sulungnya mengunjungi berbagai kota suci. Kemudian ia banyak menemui para ulama dan tokoh-tokoh negerinya untuk memperoleh dan belajar hadits, bertukar pikiran dan berdiskusi dengan mereka. Dalam usia 16 tahun, ia sudah hafal kitab sunan Ibn Mubarak dan Waki, juga mengetahui pendapat-pendapat ahli ra’yi (penganut faham rasional), dasar-dasar dan mazhabnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasyid ibn Ismail, abangnya yang tertua menuturkan, pernah Bukhari muda dan beberpa murid lainnya mengikuti kuliah dan ceramah cendekiawan Balkh. Tidak seperti murid lainnya, Bukhari tidak pernah membuat catatan kuliah. Ia dicela membuang waktu dengan percuma karena tidak mencatat. Bukhari diam tidak menjawab. Pada suatu hari, karena merasa kesal terhadap celaan yang terus-menerus itu, Bukhari meminta kawan-kawannya membawa catatan mereka. Tercenganglah mereka semua karena Bukhari ternyata hapal di luar kepala 15.000 haddits, lengkap terinci dengan keterangan yang tidak sempat mereka catat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 210 H, Bukhari berangkat menuju Baitullah untuk menunaikan ibadah haji, disertai ibu dan saudaranya, Ahmad. Saudaranya yang lebih tua ini kemudian pulang kembali ke Bukhara, sedang dia sendiri memilih Mekah sebagai tempat tinggalnya. Mekah merupakan salah satu pusat ilmu yang penting di Hijaz. Sewaktu-waktu ia pergi ke Madinah. Di kedua tanah suci itulah ia menulis sebagian karya-karyanya dan menyusun dasar-dasar kitab Al-Jami’as-Sahih dan pendahuluannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia menulis Tarikh Kabir-nya di dekat makam Nabi s.a.w. dan banyak menulis pada waktu malam hari yang terang bulan. Sementara itu ketiga buku tarikhnya, As-Sagir, Al-Awsat dan Al-Kabir, muncul dari kemampuannya yang tinggi mengenai pengetahuan terhadap tokoh-tokoh dan kepandaiannya bemberikan kritik, sehingga ia pernah berkata bahwa sedikit sekali nama-nama yang disebutkan dalam tarikh yang tidak ia ketahui kisahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian ia pun memulai studi perjalanan dunia Islam selama 16 tahun. Dalam perjalanannya ke berbagai negeri, hampir semua negeri Islam telah ia kunjungi sampai ke seluruh Asia Barat. Diceritakan bahwa ia pernah berkata: “Saya telah mengunjungi Syam, Mesir, dan Jazirah masing-masing dua kali, ke basrah empat kali, menetap di Hijaz (Mekah dan Madinah) selama enam tahun dan tak dapat dihitung lagi berapa kali saya mengunjungi Kufah dan Baghdad untuk menemui ulama-ulama ahli hadits.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada waktu itu, Baghdad adalah ibu kota negara yang merupakan gudang ilmu dan ulama. Di negeri itu, ia sering menemui Imam Ahmad bin Hambal dan tidak jarang ia mengajaknya untuk menetap di negeri tersebut dan mencelanya karena menetap di negeri Khurasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam setiap perjalanannya yang melelahkan itu, Imam Bukhari senantiasa menghimpun hadits-hadits dan ilmu pengetahuan dan mencatatnya sekaligus. Di tengah malam yang sunyi, ia bangun dari tidurnya, menyalakan lampu dan menulis setiap masalah yang terlintas di hatinya, setelah itu lampu di padamkan kembali. Perbutan ini ia lakukan hampir 20 kali setiap malamnya. Ia merawi hadits dari 80.000 perawi, dan berkat ingatannya yang memang super jenius, ia dapat menghapal hadits sebanyak itu lengkap dengan sumbernya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemasyuran Imam Bukhari segera mencapai bagian dunia Islam yang jauh, dan kemanapun ia pergi selalu di elu-elukan. Masyarakat heran dan kagum akan ingatanya yang luar biasa. Pada tahun 250 H. Imam Bukhari mengunjungi Naisabur. Kedatangannya disambut gembira oleh para penduduk, juga oleh gurunya, az-Zihli dan para ulama lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Muslim bin al-Hajjaj, pengarang kitab as-Sahih Muslim menceritakan: “Ketika Muhammad bin Ismail dating ke Naisabur, aku tidak pernah melihat seorang kepala daerah, para ulama dan penduduk Naisabur memberikan sambutan seperti apa yang mereka berikan kepadanya.” Mereka menyambut kedatangannya dari luar kota sejauh dua atau tiga marhalah (± 100 km), sampai-sampai Muhammad bin Yahya az-Zihli berkata: “Barang siapa hendak menyambut kedatangan Muhammad bin Ismail besok pagi, lakukanlah, seebab aku sendiri akan ikut menyambutnya. Esok paginya Muhammad bin Yahya az-Zihli, sebagian ulama dan penduduk Naisabur menyongsong kedatangan Imam Bukhari, ia pun lalu memasuki negeri itu dan menetap di daerah perkampungan orang-orang Bukhara. Selama menetap di negeri itu, ia mengajarkan hadits secara tetap. Sementara itu, az-zihli pun berpesan kepada para penduduk agar menghadiri dan mengikuti pengajian yang diberikannya. Ia berkata: “Pergilah kalian kepada orang alim yang saleh itu, ikuti dan dengarkan pengajiannya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lama kemudian terjadi fitnah terhadap Imam bukhari atas perbuatan orang-orang yang iri dengki. Mereka meniupkan tuduhannya kepada Imam Bukhari sebagai orang yang berpendapat bahwa “Al-Qur’an adalah makhluk.” Hal inilah yang menimbulkan kebencian dan kemarahan gurunya, az-Zihli kepadanya, sehingga ia berkata: “Barang siapa berpendapat lafadz-lafadz Al-Qur’an adalah makhluk, maka ia adalah ahli bid’ah. Ia tidak boleh diajak bicara dan majelisnya tidak boleh di datangi. Dan barang siapa masih mengunjungi majelisnya, curigailah dia.” Setelah adanya ultimatum tersebut, orang-orang mulai menjauhinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada hakikatnya, Imam Bukhari terlepas dari fitnah yang dituduhkan kepadanya itu. Diceritakan, seorang berdiri dan mengajukan pertanyaan kepadanya: “Bagaimana pendapat Anda tentang lafadz-lafadz Al-Qur’an, makhluk ataukah bukan?” Bukhari berpaling dari orang itu dan tidak mau menjawab kendati pertanyaan itu diajukan sampai tiga kali. Tetapi orang tersebut terus mendesaknya, maka ia menjawab: “Al-Qur’an adalah kalam Allah, bukan makhluk, sedangkan perbuatan manusia adalah makhluk dan fitnah merupakan bid’a.” Yang dimaksud dengan perbuatan manusia adalah bacaan dan ucapan mereka. Pendapat yang dikemukakan Imam Bukhari ini, yakni dengan membedakan antara yang dibaca dengan bacaan, adalah pendapat yang menjadi pegangan para ulama ahli tahqiq dan ulama salaf. Tetapi dengki dan iri adalah buta dan tuli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Bukhari perbah berkata: “Iman adalah perkataan dan perbuatan, bisa bertambah dan bisa berkurang. Al-Qur’an adalah kalam Allah, bukan makhluk. Sahabat Rasulullah SAW. yang paling utama adalah Abu Bakar, Umar, Usman kemudian Ali. Dengan berpegang pada keyakinan dan keimanan inilah aku hidup, aku mati dan dibangkitkan di akherat kelak, insya Allah.” Demikian juga ia pernah berkata: “Barang siapa menuduhku berpendapat bahwa lafadz-lafadz Al-Qur’an adalah makhluk, ia adalah pendusta.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Az-Zahli benar-benar telah murka kepadanya, sehingga ia berkata: “Lelaki itu (Bukhari) tidak boleh tinggal bersamaku di negeri ini.” Oleh karena Imam Bukhari berpendapat bahwa keluar dari negeri itu lebih baik, demi menjaga dirinya, dengan hrapan agar fitnah yang menimpanya itu dapat mereda, maka ia pun memutuskan untuk keluar dari negeri tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah keluar dari Naisabur, Imam Bukhari pulang ke negerinya sendiri, Bukhara. Kedatangannya disambut meriah oleh seluruh penduduk. Untuk keperluan itu, mereka mengadakan upacara besar-besaran, mendirikan kemah-kemah sepanjang satu farsakh (± 8 km) dari luar kota dan menabur-naburkan uang dirham dan dinar sebagai manifestasi kegembiraan mereka. Selama beberapa tahun menetap di negerinya itu, ia mengadakan majelis pengajian dan pengajaran hadits.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi kemudian badai fitnah dating lagi. Kali ini badai itu dating dari penguasa Bukhara sendiri, Khalid bin Ahmad az-Zihli, walaupun sebabnya timbul dari sikap Imam Bukhari yang terlalu memuliakan ilmu yang dimlikinya. Ketika itu, penguasa Bukhara, mengirimkan utusan kepada Imam Bukhari, supaya ia mengirimkan kepadanya dua buah karangannya, al-Jami’ al-Sahih dan Tarikh. Imam Bukhari keberatan memenuhi permintaan itu. Ia hanya berpesan kepada utusan itu agar disampaikan kepada Khalid, bahwa “Aku tidak akan merendahkan ilmu dengan membawanya ke istana. Jika hal ini tidak berkenan di hati tuan, tuan adalah penguasa, maka keluarkanlah larangan supaya aku tidak mengadakan majelis pengajian. Dengan begitu, aku mempunyai alas an di sisi Allah kelak pada hari kiamat, bahwa sebenarnya aku tidak menyembunyikan ilmu.” Mendapat jawaban seperti itu, sang penguasa naik pitam, ia memerintahkan orang-orangnya agar melancarkan hasutan yang dapat memojokkan Imam Bukhari. Dengan demikian ia mempunyai alas an untuk mengusir Imam Bukhari. Tak lama kemudian Imam Bukhari pun diusir dari negerinya sendiri, Bukhara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Bukhari, kemudian mendo’akan tidak baik atas Khalid yang telah mengusirnya secara tidak sah. Belum sebulan berlalu, Ibn Tahir memerintahkan agar Khalid bin Ahmad dijatuhi hukuman, dipermalukan di depan umum dengan menungang himar betina. Maka hidup sang penguasa yang dhalim kepada Imam Bukhari itu berakhir dengan kehinaan dan dipenjara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Bukhari tidak saja mencurahkan seluruh intelegensi dan daya ingatnnya yang luar biasa itu pada karya tulisnya yang terpenting, Sahih Bukhari, tetapi juga melaksanakan tugas itu dengan dedikasi dan kesalehan. Ia selalu mandi dan berdo’a sebelum menulis buku itu. Sebagian buku tersebut ditulisnya di samping makan Nabi di Madinah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Durami, guru Imam Bukhari, mengakui keluasan wawasan hadits muridnya ini: “Di antara ciptaan Tuhan pada masanya, Imam Bukharilah agaknya yang paling bijaksana.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu ketika penduduk Samarkand mengirim surat kepada Imam Bukhari yang isinya meminta ia supaya menetap di negeri mereka. Maka kemudian ia pergi untuk memenuhi permohonan mereka. Ketika perjalanannya sampai di Khartand, sebuah dsa kecil yang terletak dua farsakh sebelum Samarkand, dan desa itu terdapat beberapa familinya, ia pun singgah terlebih dahulu untuk mengunjungi mereka. Tetapi di desa itu Imam Bukhari jatuh sakit hingga menemui ajalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia wafat pada malam Idul Fitri tahun 256 H. (31 Agustus 870 M), dalam usia 62 tahun kurang 13 hari. Sebelum meninggal dunia, ia berpesan bahwa jika meninggal nanti jenazahnya agar dikafani tiga helai kain, tanpa baju dalam dan tidak memakai sorban. Pesan itu dilaksanakan dengan baik oleh masyarakat setempat. Jenazahnya dikebumikan lepas dzuhur, hari raya Idul Fitri, sesudah ia melewati perjalanan hidup panjang yang penuh dengan berbagai amal yang mulia. Semoga Allah melimpahkan rahmat dan ridha-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengembaraannya ke berbagai negeri telah mempertemukan Imam Bukhari dengan guru-guru yang berbobot dan dapat dipercaya, yang mencapai jumlah sangat banyak. Diceritakan bahwa dia menyatakan: “Aku menulis hadits yang diterima dari 1.080 orang guru, yang semuanya adalah ahli hadits dan berpendirian bahwa iman adalah ucapan dan perbuatan.” Di antara guru-guru besar itu adalah Ali ibn al-Madini, Ahmad ibn Hanbal, Yahya ibn Ma’in, Muhammad ibn Yusuf al-Faryabi, Maki ibn Ibrahim al-Bakhi, Muhammad ibn Yusuf al-Baykandi dan Ibn Rahawaih. Guru-guru yang haditsnya diriwayatkan dalam kitab Sahih-nya sebanyak 289 orang guru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena kemasyurannya sebagai seorang alim yang super jenius, sangat banyak muridnya yang belajar dan mendengar langsung haditsnya dari dia. Tak dapat dihitung dengan pasti berapa jumlah orang yang meriwayatkan hadits dari Imam Bukhari, sehingga ada yang berpendapat bahwa kitab Sahih Bukhari didengar secara langsung dari dia oleh sembilan puluh ribu (90.000) orang (Muqaddimah Fathul-Bari, jilid 22, hal. 204). Di antara sekian banyak muridnya yang paling menonjol adalah Muslim bin al-Hajjaj, Tirmizi, Nasa’i, Ibn Khuzaimah, Ibn Abu Dawud, Muhammad bin Yusuf al-Firabri, Ibrahim bin Ma’qil al-Nasafi, Hammad bin Syakr al-Nasawi dan Mansur bin Muhammad al-Bazdawi. Empat orang yang terakhir ini merupakan yang paling masyur sebagai perawi kitab Sahih Bukhari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam bidang kekuatan hafalan, ketajaman pikiran dan pengetahuan para perawi hadits, juga dalam bidang ilat-ilat hadits, Imam Bukhari merupakan salah satu tanda kekuasaan (ayat) dan kebesaran Allah di muka bumi ini. Allah telah mempercayakan kepada Bukhari dan para pemuka dan penghimpun hadits lainnya, untuk menghafal dan menjaga sunah-sunah Nabi kita Muhammad SAW. Diriwayatkan, bahwa Imam Bukhari berkata: “Saya hafal hadits di luar kepala sebanyak 100.000 buah hadits sahih, dan 200.000 hadits yang tidak sahih.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengenai kejeniusan Imam Bukhari dapat dibuktikan pada kisah berikut. Ketika ia tiba di Baghdad, ahli-ahli hadits di sana berkumpul untuk menguji kemampuan dan kepintarannya. Mereka mengambil 100 buah hadits, lalu mereka tukar-tukarkan sanad dan matannya (diputar balikkan), matan hadits ini diberi sanad hadits lain dan sanad hadits lain dinbuat untuk matan hadits yang lain pula. 10 orang ulama tampil dan masing-masing mengajukan pertanyaan sebanyak 10 pertanyaan tentang hadits yang telah diputarbalikkan tersebut. Orang pertama tampil dengan mengajukan sepuluh buah hadits kepada Bukhari, dan setiap orang itu selesai menyebutkan sebuah hadits, Imam Bukhari menjawab dengan tegas: “Saya tidak tahu hadits yang Anda sebutkan ini.” Ia tetap memberikan jawaban serupa sampai kepada penanya yang ke sepuluh, yang masing-masing mengajukan sepuluh pertanyaan. Di antara hadirin yang tidak mengerti, memastikan bahwa Imam Bukhari tidak akan mungkin mampu menjawab dengan benar pertanyaan-pertanyaan itu, sedangkan para ulama berkata satu kepada yang lainnya: “Orang ini mengetahui apa yang sebenarnya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah 10 orang semuanya selesai mengajukan semua pertanyaannya yang jumlahnya 100 pertanyaan tadi, kemudian Imam Bukhari melihat kepada penanya yang pertama dan berkata: “Hadits pertama yang anda kemukakan isnadnya yang benar adalah begini; hadits kedua isnadnya yang benar adalah beginii” Begitulah Imam Bukhari menjawab semua pertanyaan satu demi satu hingga selesai menyebutkan sepuluh hadits. Kemudian ia menoleh kepada penanya yang kedua, sampai menjawab dengan selesai kemudian menoleh kepada penanya yang ketiga sampai menjawab semua pertanyaan dengan selesai sampai pada penanya yang ke sepuluh sampai selesai. Imam Bukhari menyebutkan satu persatu hadits-hadits yang sebenarnya dengan cermat dan tidak ada satupun dan sedikitpun yang salah dengan jawaban yang urut sesuai dengan sepuluh orang tadi mengeluarkan urutan pertanyaanya. Maka para ulama Baghdad tidak dapat berbuat lain, selain menyatakan kekagumannya kepada Imam Bukhari akan kekuatan daya hafal dan kecemerlangan pikirannya, serta mengakuinya sebagai “Imam” dalam bidang hadits.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian hadirin memberikan komentar terhadap “uji coba kemampuan” yang menegangkan ini, ia berkata: “Yang mengagumkan, bukanlah karena Bukhari mampu memberikan jawaban secara benar, tetapi yang benar-benar sangat mengagumkan ialah kemampuannya dalam menyebutkan semua hadits yang sudah diputarbalikkan itu secara berurutan persis seperti urutan yang dikemukakan oleh 10 orang penguji, padahal ia hanya mendengar pertanyaan-pertanyaan yang banyak itu hanya satu kali.”Jadi banyak pemirsa yang heran dengan kemampuan Imam Bukhari mengemukakan 100 buah hadits secara berurutan seperti urutannya si penanya mengeluarkan pertanyaannya padahal beliau hanya mendengarnya satu kali, ditambah lagi beliau membetulkan rawi-rawi yang telah diputarbalikkan, ini sungguh luar biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Bukhari pernah berkata: “Saya tidak pernah meriwayatkan sebuah hadits pun juga yang diterima dari para sahabat dan tabi’in, melainkan saya mengetahui tarikh kelahiran sebagian besar mereka, hari wafat dan tempat tinggalnya. Demikian juga saya tidak meriwayatkan hadits sahabat dan tabi’in, yakni hadits-hadits mauquf, kecuali ada dasarnya yang kuketahui dari Kitabullah dan sunah Rasulullah SAW.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan kedudukannya dalam ilmu dan kekuatan hafalannya Imam Bukhari sebagaimana telah disebutkan, wajarlah jika semua guru, kawan dan generasi sesudahnya memberikan pujian kepadanya. Seorang bertanya kepada Qutaibah bin Sa’id tentang Imam Bukhari, ketika menyatakan : “Wahai para penenya, saya sudah banyak mempelajari hadits dan pendapat, juga sudah sering duduk bersama dengan para ahli fiqh, ahli ibadah dan para ahli zuhud; namun saya belum pernah menjumpai orang begitu cerdas dan pandai seperti Muhammad bin Isma’il al-Bukhari.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam al-A’immah (pemimpin para imam) Abu Bakar ibn Khuzaimah telah memberikan kesaksian terhadap Imam Bukhari dengan mengatakan: “Di kolong langit ini tidak ada orang yang mengetahui hadits, yang melebihi Muhammad bin Isma’il.” Demikian pula semua temannya memberikan pujian. Abu Hatim ar-Razi berkata: “Khurasan belum pernah melahirkan seorang putra yang hafal hadits melebihi Muhammad bin Isma’il; juga belum pernah ada orang yang pergi dari kota tersebut menuju Irak yang melebihi kealimannya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Hakim menceriakan, dengan sanad lengkap. Bahwa Muslim (pengarang kitab Sahih), dating kepada Imam Bukhari, lalu mencium antara kedua matanya dan berkata: “Biarkan saya mencium kaki tuan, wahai maha guru, pemimpin para ahli hadits dan dokter ahli penyakit (ilat) hadits.” Mengenai sanjungan diberikan ulama generasi sesudahnya, cukup terwakili oleh perkataan al-Hafiz Ibn Hajar yang menyatakan: “Andaikan pintu pujian dan sanjungan kepada Bukhari masih terbuka bagi generasi sesudahnya, tentu habislah semua kertas dan nafas. Ia bagaikan laut tak bertepi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Bukhari adalah seorang yang berbadan kurus, berperawakan sedang, tidak terlalu tinggi juga tidak pendek; kulitnya agak kecoklatan dan sedikit sekali makan. Ia sangat pemalu namun ramah, dermawan, menjauhi kesenangan dunia dan cinta akhirat. Banyak hartanya yang disedekahkan baik secara sembunyi maupun terang-terangan, lebih-lebih untuk kepentingan pendidikan dan para pelajar. Kepada para pelajar ia memberikan bantuan dana yang cukup besar. Diceritakan ia pernah berkata: “Setiap bulan, saya berpenghasilan 500 dirham,semuanya dibelanjakan untuk kepentingan pendidikan. Sebab, apa yang ada di sisi Allah adalah lebih baik dan lebih kekal.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Bukhari sangat hati-hati dan sopan dalam berbicara dan dalam mencari kebenaran yang hakiki di saat mengkritik para perawi. Terhadap perawi yang sudah jelas-jelas diketahui kebohongannya, ia cukup berkata: “Perlu dipertimbangkan, para ulama meninggalkannya atau para ulama berdiam diri tentangnya.” Perkataan yang tegas tentang para perawi yang tercela ialah: “Haditsnya diingkari.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun ia sangat sopan dalam mengkritik para perawi, namun ia banyak meninggalkan hadits yang diriwayatkan seseorang hanya karena orang itu diragukan. Dalam sebuah riwayat diceritakan bahwa ia berkata: “Saya meninggalkan 10.000 hadits yang diriwayatkan oleh perawi yang perlu dipertimbangkan, dan meninggalkan pula jumlah yang sama atau lebih, yang diriwayatkan perawi yang dalam pandanganku, perlu dipertimbangkan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain dikenal sebagai ahli hadits, Imam Bukhari juga sebenarnya adalah ahli dalam fiqh. Dalam hal mengeluarkan fatwa, ia telah sampai pada derajat mujtahid mustaqiil (bebas, tidak terikat pendapatnya pada madzhab-madzhab tertentu) atau dapat mengeluarkan hukum secara sendirian. Dia mempunyai pendapat-pendapat hukum yang digalinya sendiri. Pendapat-pendapatnya itu terkadang sejalan dengan madzhab Abu Hanifah, terkadang sesuai dengan Madzhab Syafi’i dan kadang-kadang berbeda dengan keduanya. Selain itu pada suatu saat ia memilih madzhab Ibn Abbas, dan disaat lain memilih madzhab Mujahid dan ‘Ata dan sebagainya. Jadi kesimpulannya adalah Imam Bukhari adalah seorang ahli hadits yang ulung dan ahli fiqh yg berijtihad sendiri, kendatipun yang lebih menonjol adalah setatusnya sebagai ahli hadits, bukan sebagai ahli fiqh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sela-sela kesibukannya sebagai seorang alim, ia juga tidak melupakan kegiatan lain yang dianggap penting untuk menegakkan Diunul Islam. Imam Bukhari sering belajar memanah sampai mahir, sehingga dikatakan bahwa sepanjang hidupnya, ia tidak pernah luput dalam memanah kecuali hanya dua kali. Keadaan itu timbul sebagai pengamalan sunah Rasul yang mendorong dan menganjurkan kaum Muslimin belajar menggunakan anak panah dan alat-alat perang lainnya. Tujuannya adalah untuk memerangi musuh-musuh Islam dan mempertahankannya dari kejahatan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diantara hasil karya Imam Bukhari adalah sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Jami’ as-Sahih (Sahih Bukhari).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Adab al-Mufrad.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;At-Tarikh as-Sagir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;At-Tarikh al-Awsat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;At-Tarikh al-Kabir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;At-Tafsir al-Kabir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Musnad al-Kabir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kitab al-’Ilal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Raf’ul-Yadain fis-Salah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Birril-Walidain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kitab al-Asyribah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Qira’ah Khalf al-Imam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kitab ad-Du’afa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asami as-Sahabah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kitab al-Kuna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekilas Tentang Kitab AL-JAMI’ AS-SAHIH (Sahih Bukhari)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diceritakan, Imam Bukhari berkata: “Aku bermimpi melihat Rasulullah SAW.; seolah-olah aku berdiri di hadapannya, sambil memegang kipas yang kupergunakan untuk menjaganya. Kemudian aku tanyakan mimpi itu kepada sebagian ahli ta’bir, ia menjelaskan bahwa aku akan menghancurkan dan mengikis habis kebohongan dari hadits Rasulullah SAW. Mimpi inilah, antara lain, yang mendorongku untuk melahirkan kitab Al-Jami’ as-Sahih.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam menghimpun hadits-hadits sahih dalam kitabnya, Imam Bukhari menggunakan kaidah-kaidah penelitian secara ilmiah dan sah yang menyebabkan kesahihan hadits-haditsnya dapat dipertanggungjawabkan. Beliau telah berusaha dengan sungguh-sungguh untuk meneliti dan menyelidiki keadaan para perawi, serta memperoleh secara pasti kesahihan hadits-hadits yang diriwayatkannya. Beliau senantiasa membanding-bandingkan hadits-hadits yang diriwayatkan, satu dengan yang lain, menyaringnya dan memlih has mana yang menurutnya paling sahih. Sehingga kitabnya merupakan batu uji dan penyaring bagi hadits-hadits tersebut. Hal ini tercermin dari perkataannya: “Aku susun kitab Al-Jami’ ini yang dipilih dari 600.000 hadits selama 16 tahun.” Dan beliau juga sangat hati-hati, hal ini dapat dilihat dari pengakuan salah seorang muridnya bernama al-Firbari menjelaskan bahwa ia mendengar Muhammad bin Isma’il al-Bukhari berkata: “Aku susun kitab Al-Jami’ as-Sahih ini di Masjidil Haram, dan tidaklah aku memasukkan ke dalamnya sebuah hadits pun, kecuali sesudah aku memohonkan istikharoh kepada Allah dengan melakukan salat dua rekaat dan sesudah aku meyakini betul bahwa hadits itu benar-benar sahih.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maksud pernyataan itu ialah bahwa Imam Bukhari mulai menyusun bab-babnya dan dasar-dasarnya di Masjidil Haram secara sistematis, kemudian menulis pendahuluan dan pokok-pokok bahasannya di Rawdah tempat di antara makan Nabi SAW. dan mimbar. Setelah itu, ia mengumpulkan hadits-hadits dan menempatkannya pada bab-bab yang sesuai. Pekerjaan ini dilakukan di Mekah, Madinah dengan tekun dan cermat, menyusunnya selama 16 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan usaha seperti itu, maka lengkaplah bagi kitab tersebut segala faktor yang menyebabkannya mencapai kebenaran, yang nilainya tidak terdapat pada kitab lain. Karenanya tidak mengherankan bila kitab itu mempunyai kedudukan tinggi dalam hati para ulama. Maka sungguh tepatlah ia mendapat predikat sebagai “Buku Hadits Nabi yang Paling Sahih.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diriwayatkan bahwa Imam Bukhari berkata: “Tidaklah kumasukkan ke dalam kitab Al-Jami’as-Sahih ini kecuali hadits-hadits yang sahih; dan kutinggalkan banyak hadits sahih karena khawatir membosankan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesimpulan yang diperoleh para ulama, setelah mengadakan penelitian secara cermat terhadap kitabnya, menyatakan bahwa Imam Bukhari dalam kitab Sahih-nya selalu berpegang teguh pada tingkat kesahihan yang paling tinggi, dan tidak turun dari tingkat tersebut kecuali dalam beberapa hadits yang bukan merupakan materi pokok dari sebuah bab, seperti hadits mutabi dan hadits syahid, dan hadits-hadits yang diriwayatkan dari sahabat dan tabi’in.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jumlah Hadits Kitab Al-Jami’as-Sahih (Sahih Bukhari)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-’Allamah Ibnus-Salah dalam Muqaddimah-nya menyebutkan, bahwa jumlah hadits Sahih Bukhari sebanyak 7.275 buah hadits, termasuk hadits-hadits yang disebutnya berulang, atau sebanyak 4.000 hadits tanpa pengulangan. Perhitungan ini diikuti oleh Al-”Allamah Syaikh Muhyiddin an-Nawawi dalam kitabnya, At-Taqrib.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain pendapat tersebut di atas, Ibn Hajar di dalam muqaddimah Fathul-Bari, kitab syarah Sahih Bukhari, menyebutkan, bahwa semua hadits sahih mawsil yang termuat dalam Sahih Bukhari tanpa hadits yang disebutnya berulang sebanyak 2.602 buah hadits. Sedangkan matan hadits yang mu’alaq namun marfu’, yakni hadits sahih namun tidak diwasalkan (tidak disebutkan sanadnya secara sambung-menyambung) pada tempat lain sebanyak 159 hadits. Semua hadits Sahih Bukhari termasuk hadits yang disebutkan berulang-ulang sebanyak 7.397 buah. Yang mu’alaq sejumlah 1.341 buah, dan yang mutabi’ sebanyak 344 buah hadits. Jadi, berdasarkan perhitungan ini dan termasuk yang berulang-ulang, jumlah seluruhnya sebanyak 9.082 buah hadits. Jumlah ini diluar haits yang mauquf kepada sahabat dan (perkataan) yang diriwayatkan dari tabi’in dan ulama-ulama sesudahnya&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6496427822632927265-1152266899378630383?l=akhimuammar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://akhimuammar.blogspot.com/feeds/1152266899378630383/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6496427822632927265&amp;postID=1152266899378630383' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6496427822632927265/posts/default/1152266899378630383'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6496427822632927265/posts/default/1152266899378630383'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://akhimuammar.blogspot.com/2008/05/imam-bukhori.html' title='IMAM BUKHORI'/><author><name>muammar_ikhwan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09232577519138736451</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_jirrn9uMBd0/R2XC7Uy2JGI/AAAAAAAAABA/v18DfXzrmhE/S220/Muamar.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6496427822632927265.post-1135847573297188835</id><published>2008-05-23T01:00:00.000-07:00</published><updated>2008-05-23T01:03:22.182-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerpen islami'/><title type='text'>PERJALANAN YANG JAUH</title><content type='html'>Nurah, saudara perempuanku nampak pucat dan kurus sekali. Tetapi&lt;br /&gt;seperti biasa, ia masih membaca Al-Qur’anul Karim. Jika ingin&lt;br /&gt;menemuinya, pergilah ke mushallanya. Di sana engkau akan mendapatinya&lt;br /&gt;sedang ruku’, sujud dan menengadahkan ke langit. Itulah yang&lt;br /&gt;dilakukannya setiap pagi, sore dan di tengah malam hari. Ia tidak&lt;br /&gt;pernah jenuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbeda dengannya, aku selalu asyik membaca majalah-majalah seni,&lt;br /&gt;tenggelam dengan buku-buku cerita dan hampir tak pernah beranjak dari&lt;br /&gt;video. Bahkan, aku sudah identik dengan benda yang satu ini. Setiap&lt;br /&gt;video diputar pasti di situ ada aku. Karena ‘kesibukanku’ ini, banyak&lt;br /&gt;kewajiban yang tak bisa kuselesaikan bahkan, aku suka meninggalkan&lt;br /&gt;shalat. Setelah tiga jam berturut-turut menonton video di tengah&lt;br /&gt;malam, aku dikagetkan oleh suara adzan yang berkumandang dari masjid&lt;br /&gt;dekat rumahku. Sekonyong-konyong malas menggelayuti semua&lt;br /&gt;persendianku, maka aku pun segera menghampiri tempat tidur. Nurah&lt;br /&gt;memanggilku dari mushallanya. Dengan berat sekali, aku menyeret&lt;br /&gt;kaki menghampirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ada apa Nurah?,” tanyaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jangan tidur sebelum shalat Subuh!”, ia mengingatkan. “Ah. Subuhkan&lt;br /&gt;masih satu jam lagi. Yang baru saja kan adzan pertama!” Begitulah, ia&lt;br /&gt;selalu penuh perhatian padaku. Sering memberiku nasihat, sampai&lt;br /&gt;akhimya ia terbaring sakit. ia tergeletak lemah di tempat tidur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hanah!,” panggilnya lagi suatu ketika. Aku tak mampu menolaknya.&lt;br /&gt;Suara itu begitu jujur dan polos. “Ada apa saudariku?”, tanyaku pelan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Duduklah!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menurut dan duduk di sisinya. Hening… Sejenak kemudian Nurah&lt;br /&gt;melantunkan ayat suci Al-Qur’an dengan suaranya yang merdu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tiap jiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari Kiamat&lt;br /&gt;sajalah disempurnakan pahalamu.” (Al Imran: 185) Diam sebentar, lalu&lt;br /&gt;ia bertanya: “Apakah kamu tidak percaya adanya kematian?” “Tentu saja&lt;br /&gt;percaya!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apakah kamu tidak percaya bahwa amalmu kelak akan dihisab, baik yang&lt;br /&gt;besar maupun yang kecil?” “Percaya. Tetapi bukankah Allah Maha&lt;br /&gt;Pengampun dan Maha Penyayang, sementara aku masih muda, umurku masih&lt;br /&gt;panjang!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ukhti, apakah kamu tidak takut mati yang datangnya tiba-tiba?&lt;br /&gt;Lihatlah Hindun, dia lebih muda darimu, tetapi meninggal karena&lt;br /&gt;sebuah kecelakaan. Lihat pula si fulanah…Kematian tidak mengenal&lt;br /&gt;umur. Umur bukan ukuran bagi kematian seseorang. Aku menjawabnya&lt;br /&gt;penuh ketakutan. Suasana tengah malam yang gelap mencekam, semakin&lt;br /&gt;menambah rasa takutku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku takut dengan gelap, bagaimana engkau menakut-nakutiku lagi dengan&lt;br /&gt;kematian? Di mana aku akan tidur nanti ?” Jiwa asliku yang amat&lt;br /&gt;penakut betul-betul tampak. Kucoba menenangkan diri aku benusaha&lt;br /&gt;tegar dengan mengalihkan pembicaraan pada tema yang menyenangkan,&lt;br /&gt;rekreasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oh ya, kukira ukhti setuju pada liburan ini kita pergi rekreasi&lt;br /&gt;bersama?”, pancingku. “‘Tidak, karena barangkali tahun ini aku akan&lt;br /&gt;pergi jauh, ke tempat yang jauh… mungkin… umur ada di tangan&lt;br /&gt;Allah, Hanah”, ia lalu terisak. Suara itu bergetar, aku ikut hanyut&lt;br /&gt;dalam kesedihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekejap, langsung terlintas dalam benakku tentang sakitnya yang&lt;br /&gt;ganas. Para dokter, secara rahasia telah mengabarkan hal itu kepada&lt;br /&gt;ayah. Menurut analisa medis, para dokter sudah tak sanggup, dan itu&lt;br /&gt;berarti dekatnya kematian. Tetapi, siapa yang mengabarkan ini semua&lt;br /&gt;padanya?, atau ia memang merasa sudah datang waktunya?, “Mengapa&lt;br /&gt;termenung? Apa yang engkau lamunkan?”, Nurah membuyarkan lamunanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa kau mengira, hal ini kukatakan karena aku sedang sakit? Tidak.&lt;br /&gt;Bahkan boleh jadi umurku lebih panjang dari umur orang-orang sehat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan kamu, sampai kapan akan terus hidup? Mungkin 20 tahun lagi, 40&lt;br /&gt;tahun atau… Lalu apa setelah itu? Kita tidak berbeda. Kita semua&lt;br /&gt;pasti akan pergi, entah ke Surga atau ke Neraka. Apakah engkau belum&lt;br /&gt;mendengar ayat: “Barangsiapa dijauhkan dari Neraka dimasukkan ke&lt;br /&gt;dalam Surga maka sungguh ia telah beruntung” ( Ali Imran:&lt;br /&gt;185) “Sampai besok pagi,” ia menutup nasihatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku bergegas meninggalkannya menuju kamar. Nasihatnya masih terngiang-&lt;br /&gt;ngiang di gendang telingaku, “Semoga Allah memberimu petunjuk, jangan&lt;br /&gt;lupa shalat!” Pagi hari…Jam dinding menunjukkan angka delapan pagi.&lt;br /&gt;Terdengar pintu kamarku diketuk dari luar. “Pada jam ini biasanya aku&lt;br /&gt;belum mau bangun” pikirku. Tetapi di luar terdengar suara gaduh,&lt;br /&gt;orang banyak terisak. “Ya Rabbi, apa yang terjadi?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mungkin Nurah…?, “firasatku berbicara. Dan benar, Nurah pingsan,&lt;br /&gt;ayah segera melarikannya ke rumah sakit. Tidak ada rekreasi tahun&lt;br /&gt;ini. Kami semua harus menunggui Nurah yang sedang sakit. Lama sekali&lt;br /&gt;menunggu kabar dari rumah sakit dengan harap-harap cemas. Tepat pukul&lt;br /&gt;satu siang, telepon di rumah kami berdering. Ibu segera&lt;br /&gt;mengangkatnya. Suara ayah di seberang, ia menelpon dari rumah&lt;br /&gt;sakit. “Kalian bisa pergi ke rumah sakit sekarang!,”&lt;br /&gt;demikian pesan ayah singkat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata ibu, tampak sekali ayah begitu panik, nada suaranya berbeda dari&lt;br /&gt;biasanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mana sopir…?” kami semua terburu-buru: Kami menyuruh sopir&lt;br /&gt;menjalankan mobil dengan cepat. Tapi ah, jalan yang biasanya terasa&lt;br /&gt;dekat bila aku menikmatinya dalam perjalanan liburan, kini terasa&lt;br /&gt;amat panjang, panjang dan lama sekali. Jalanan macet yang biasanya&lt;br /&gt;kunanti-nantikan sehingga aku bisa menengok ke kanan-kiri, cuci mata,&lt;br /&gt;kini terasa menyebalkan. Di sampingku, ibu berdo’a untuk keselamatan&lt;br /&gt;Nurah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dia anak shalihah. Ia tidak pernah menyia-nyiakan waktunya. Ia&lt;br /&gt;begitu rajin beribadah”, ibu bergumam sendirian. Kami turun di depan&lt;br /&gt;pintu rumah sakit. Kami segera masuk ruangan. Para pasien pada&lt;br /&gt;tergeletak lunglai. Di sana sini terdengar lirih suara rintihan. Ada&lt;br /&gt;yang baru saja masuk karena kecelakaan mobil, ada yang matanya buta,&lt;br /&gt;ada yang mengerang keras. Pemandangan yang membuat bulu kudukku&lt;br /&gt;merinding. Kami naik tangga eskalator menuju lantai atas. Nurah&lt;br /&gt;berada di ruang perawatan intensif. Di depan pintu terpampang&lt;br /&gt;papan peringatan: “Tidak boleh masuk lebih dari satu orang!” Kami&lt;br /&gt;terperangah. Tak lama kemudian, seorang perawat datang menemui, kami.&lt;br /&gt;Perawat memberitahu kalau kini kondisi Nurah mulai membaik, setelah&lt;br /&gt;beberapa saat sebelumnya tak sadarkan diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tengah kerumunan para dokter yang merawat, dari sebuah lubang kecil&lt;br /&gt;jendela yang ada di pintu, aku melihat kedua bola mata Nurah sedang&lt;br /&gt;memandangiku. Ibu yang berdiri di sampingnya tak kuat menahan air&lt;br /&gt;matanya. Waktu besuknya habis, ibu segera keluar dari ruang perawatan&lt;br /&gt;intensif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini tiba giliranku masuk. Dokter memperingatkan agar aku tidak banyak&lt;br /&gt;mengajaknya bicara. Aku diberi waktu dua menit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Assalamu ‘alaikum!, bagaimana keadaanmu Nurah?, tadi malam, engkau&lt;br /&gt;baik-baik saja. Apa yang terjadi denganmu?”, aku menghujaninya dengan&lt;br /&gt;pertanyaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Alhamdulillah, aku sekarang baik-baik saja, jawabnya dengan berusaha&lt;br /&gt;tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi, mengapa tanganmu dingin sekali, kenapa?” aku menyelidik. Aku&lt;br /&gt;duduk di pinggir dipan. Lalu kucoba meraba betisnya, tapi ia segera&lt;br /&gt;menjauhkannya dari jangkauanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ma’af, kalau aku mengganggumu!”, aku tertunduk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak apa-apa. Aku hanya ingat firman Allah Ta’alaa:&lt;br /&gt;“Dan bertaut betis(kiri) dengan betis(kanan), kepada Tuhanmullah pada&lt;br /&gt;hari itu kami dihalau”. (Al-Qiyamah: 29-30)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nurah melantunkan ayat suci Alquran. Aku menguatkan diri. Sekuat&lt;br /&gt;tenaga aku berusaha untuk tidak menangis di hadapan Nurah, aku&lt;br /&gt;membisu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hanah, berdoalah untukku. Mungkin sebentar lagi aku akan menghadap.&lt;br /&gt;Mungkin aku segera mengawali hari pertama kehidupanku di akhirat&lt;br /&gt;Perjalananku amat jauh tapi bekalku sedikit sekali”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertahananku runtuh. Air mataku tumpah. Aku menangis sejadi-jadinya.&lt;br /&gt;Ayah mengkhawatirkan keadaanku. Sebab mereka tak pernah melihatku&lt;br /&gt;menangis seperti itu. Bersamaan dengan tenggelamnya matahari pada&lt;br /&gt;hari itu. Nurah meninggal dunia. Suasana begitu cepat berubah.&lt;br /&gt;Seperti baru beberapa menit aku bebincang-bincang dengannya. Kini ia&lt;br /&gt;telah meninggalkan kami buat selama-selamanya. Dan, ia tak akan&lt;br /&gt;pernah bertemu lagi dengan kami. Tak akan pernah pulang lagi. Tidak&lt;br /&gt;akan bersama-sama lagi. Oh Nurah Suasana di rumah&lt;br /&gt;kami digelayuti duka yang amat dalam. Sunyi mencekam. Lalu pecah oleh&lt;br /&gt;tangisan yang mengharu biru. Sanak kerabat dan tetangga berdatangan&lt;br /&gt;melawat. Aku tidak bisa membedakan lagi, siapa-siapa yang datang,&lt;br /&gt;tidak pula apa yang mereka percakapan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tenggelam dengan diriku sendiri. Ya Allah, bagaimana dengan&lt;br /&gt;diriku? Apa yang bakal terjadi pada diriku? Aku tak kuasa lagi, meski&lt;br /&gt;sekedar menangis. Aku ingin memberinya penghormatan terakhir. Aku&lt;br /&gt;ingin menghantarkan salam terakhir. Aku ingin mencium keningnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini, tak ada sesuatu yang kuingat selain satu hal. Aku ingat firman&lt;br /&gt;Allah yang dibacakannya kepadaku menjelang kematiannya. “Dan bertaut&lt;br /&gt;betis (kiri) dengan betis (kanan)”. Aku kini benar-benar paham&lt;br /&gt;bahwa “Kepada Tuhanmullah pada hari itu kamu dihalau”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku tidak tahu, ternyata malam itu, adalah malam terakhir aku&lt;br /&gt;menjumpainya di mushallanya. Malam ini, aku sendirian di mushalla&lt;br /&gt;almarhumah terbayang kembali saudara kembarku, Nurah yang demikian&lt;br /&gt;baik kepadaku. Dialah yang senantiasa menghibur kesedihanku, ikut&lt;br /&gt;memahami dan merasakan kegalauanku, saudari yang selalu mendo’akanku&lt;br /&gt;agar aku mendapat hidayah Allah, saudari yang senantiasa mengalirkan&lt;br /&gt;air mata pada tiap-tiap pertengahan malam, yang selalu menasihatiku&lt;br /&gt;tentang mati, hari perhitungan .ya Allah! Malam ini adalah malam&lt;br /&gt;pertama bagi Nurah di kuburnya. Ya Allah, rahmatilah dia, terangilah&lt;br /&gt;kuburnya. Ya Allah, ini mushaf Nurah, ini sajadahnya dan ini..ini&lt;br /&gt;gaun merah muda yang pernah dikatakannya padaku, bakal dijadikan&lt;br /&gt;kenangan manis pernikahannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menangisi hari-hariku yang berlalu dengan sia-sia. Aku menangis&lt;br /&gt;terus-menerus, tak bisa berhenti. Aku berdo’a kepada Allah semoga Dia&lt;br /&gt;merahmatiku dan menerima taubatku. Aku mendo’akan Nurah agar mendapat&lt;br /&gt;keteguhan dan kesenangan di kuburnya, sebagaimana ia begitu sering&lt;br /&gt;dan suka mendo’akanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba aku tersentak dengan pikiranku sendiri. “Apa yang terjadi&lt;br /&gt;jika yang meninggal adalah aku? Bagaimana kesudahanku?” Aku tak&lt;br /&gt;berani mencari jawabannya, ketakutanku memuncak. Aku menangis,&lt;br /&gt;menangis lebih keras lagi. Allahu Akbar, Allahu Akbar…Adzan fajar&lt;br /&gt;berkumandang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi, duhai alangkah merdunya suara panggilan itu kali ini. Aku&lt;br /&gt;merasakan kedamaian dan ketentraman yang mendalam. Aku jawab ucapan&lt;br /&gt;muadzin, lalu segera kuhamparkan lipatan sajadah, selanjutnya aku&lt;br /&gt;shalat Subuh. Aku shalat seperti keadaan orang yang hendak berpisah&lt;br /&gt;selama-lamanya. Shalat yang pemah kusaksikan terakhir kali dari&lt;br /&gt;saudari kembarku Nurah. Jika tiba waktu pagi, aku tak menunggu waktu&lt;br /&gt;sore dan jika tiba waktu sore, aku tidak menunggu waktu pagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: http://www.agus-haris.net&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6496427822632927265-1135847573297188835?l=akhimuammar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://akhimuammar.blogspot.com/feeds/1135847573297188835/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6496427822632927265&amp;postID=1135847573297188835' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6496427822632927265/posts/default/1135847573297188835'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6496427822632927265/posts/default/1135847573297188835'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://akhimuammar.blogspot.com/2008/05/perjalanan-yang-jauh.html' title='PERJALANAN YANG JAUH'/><author><name>muammar_ikhwan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09232577519138736451</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_jirrn9uMBd0/R2XC7Uy2JGI/AAAAAAAAABA/v18DfXzrmhE/S220/Muamar.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6496427822632927265.post-7639217066085244023</id><published>2008-05-23T00:57:00.000-07:00</published><updated>2008-05-23T00:58:39.164-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kisah salafiyyun'/><title type='text'>'AMMAR BIN YASIR</title><content type='html'>Yasir bin ‘Amir, ayahanda ‘Ammar, berangkat meninggalkan negerinya di Yaman guna mencari dan menemui salah seorang saudaranya… Rupanya ia berkenan dan cocok tinggal di Mekah. Bermukimlah ia disana dan mengikat perjanjian persahabatan dengan Abu Hudzaifah Ibnul Mughirah. Abu Hudzaifah mengawinkan dengan salah seorang sahayanya bernama Sumayah&lt;br /&gt;binti Khayyath, dan dari perkawinan yang penuh berkah ini, dikarunia seorang putra bernama ‘Ammar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keislaman mereka termasuk dalam golongan yang pertama, sebagaimana halnya dengan mereka yang pertama masuk Islam. Mereka cukup menderita dengan sikap kebiadaban dan kekejaman kaum Quraisy… Orang-orang Quraisy menjalankan siasat terhadap kaum muslimin sesuai suasana: seandainya mereka ini golongan bangasawan dan berpengaruh, mereka&lt;br /&gt;hadapi dengan ancaman dan gertakan. Abu Jahal, misalnya, menggertak dengan ungkapan, “Kamu berani meninggalkan agama nenek moyangmu padahal mereka lebih baik daripadamu! Akan kami uji sampai dimana ketabahanmu; akan kami jatuhkan kehormatanmu; akan kami rusak perniagaanmu; dan akan kami musnahkan harta bendamu!” Setelah itu, mereka lancarkan kepadanya perang urat syaraf yang amat sengit. Sementara, sekiranya yang beriman itu dari kalangan penduduk Mekah yang rendah martabatnya dan yang miskin; atau dari golongan budak belian, mereka didera dan disulutnya dengan api bernyala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keluarga Yasir telah ditakdirkan oleh Allah SWT termasuk dalam golongan yang kedua ini. Maka, masuklah keluarga Yasir ke dalam kelompok yang mendapat perlakuan yang zalim dari mereka. Setiap hari, Yasir, Sumayyah, dan ‘Ammar dibawa ke padang pasir Mekah yang demikian panas, lalu didera dengan berbagai adzab dan siksa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan cobaan itu, Sumayyah telah menunjukan kepada manusia sikap ketabahan, suatu kemuliaan yang tak pernah hapus dan kehormatan yang pamornya tak pernah luntur; suatu sikap yang telah menjadikannya seorang bunda kandung bagi orang-orang mu’min disetiap zaman, dan bagi para budiman sepanjang masa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengorbanan-pengorbanan mulia yang dahsyat itu tak ubahnya sebagai tumbal yang akan menjamin bagi agama dan ‘aqidah yang teguh dan tak akan lapuk. Ia juga menjadi teladan yang akan mengisi hati orang-orang beriman dengan rasa simpati, kebanggan dan kasih sayang; ia adalah menara yang akan menjadi pedoman bagi generasi-generasi mendatang untuk mencapai hakikat agama, kebenaran dan kebesarannya…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk meletakkan dasar, memancangkan tiang-tiang, dan memperkokoh agama-Nya, Allah memperlihatkan model contoh melalui para pemuka dan tokoh-tokoh utamanya dengan sikap pengorbanan harta dan jiwanya agar menjadi teladan istimewa bagi orang-orang beriman yang kemudian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumayyah, Yassir, dan ‘Ammar adalah termasuk teladan istimewa, sampai-sampai Rasulullah SAW setiap hari mennghampiri tempat dimana mereka mendapat siksaan dari orang-orang zalim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada suatu hari, ketika Rasulullah SAW mengunjungi mereka, ‘Amar memanggilnya, katanya, “Wahai Rosulullah, adzab yang kami derita telah sampai ke puncak.” Maka, seru Rasulullah SAW, “Sabarlah, wahai Abal Yaqdhan… Sabarlah, wahai keluarga Yasir…Tempat yang dijanjikan bagi kalian adalah syurga!” Betapa beratnya siksaan yang dialami ‘Ammar oleh kaum yang zalim, dilukiskan oleh kawan-kawannya dalam beberapa riwayat: berkata ‘Ammar bin Hakam, “Ammar itu disiksa - sampai-sampai ia tidak menyadari apa yang diucapkannya.” Berkata pula ‘Ammar bin Maimun, “Orang-orang musyrik membakar ‘Ammar bin Yasir dengan api.” Maka Rasulullah SAW lewat di tempatnya, lalu memegang kepalanya dengan tangan beliau, sambil bersabda, “Hai api, jadikan kamu sejuk dan dingin di tubuh ‘Ammar, sebagaimana kamu dulu juga sejuk dan dingin di tubuh Ibrahim!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang musrik menghabiskan segala daya dan upaya dalam melampiaskan kezaliman dan kekejiannya terhadap ‘Ammar, sampai-sampai ia meresa dirinya benar-benar celaka, ketika siksaan itu mencapai puncaknya: didera, dicambuk, disalib di hamparan gurun yang panas, ditindih dengan batu laksana bara merah, dibakar dengan besi panas, bahkan sampai ditenggelamkan ke dalam air hingga sesak nafasnya dan mengelupas kulitnya yang penuh dengan luka. Ketika ia sampai tidak sadarkan diri karena siksaan yang demikian berat,&lt;br /&gt;orang-orang itu mengatakan kepadanya, “Pujalah olehmu Tuhan-Tuhan kami!” Mereka ajarkan kepadanya pujaan itu, sementara ia mengikutinya tanpa menyadari apa yang diucapkannya.&lt;br /&gt;Ketika ia siuman sebentar karena siksaannya berhenti, tiba-tiba ia sadar akan apa yang telah diucapkannya. Maka, hilanglah akalnya dan terbayanglah diruang matanya, betapa besar kesalahan yang telah dilakukannya, suatu dosa besar yang tak dapat ditebus dan diampuni lagi…, Tetapi iradat Allah Yang Maha Agung lagi Maha Tinggi telah memutuskan agar peristiwa yang mengharukan itu mencapai titik kesudahan yang amat luhur…. Tangan yang penuh berkah&lt;br /&gt;itu terulur menjabat tangan ‘Ammar sambil menyampaikan selamat kepadanya, “Bangunlah hai pahlawan! Tak ada sesalan atasmu dan tak ada cacat!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh benar apa yang telah difirmankan Allah SWT, artinya, “Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan mengatakan: “Kami telah beriman,” padahal mereka belum lagi diuji?” (Q. S. Al-’Ankabut: 2)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apakah kalian mengira akan dapat masuk Syurga, padahal belum lagi terbukti bagi Allah orang-orang yang berjuang diantara kalian, begitupun orang-orang yang tabah?” (Q. S. Ali Imran: 142)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sungguh, kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, hingga terbuktilah bagi Allah orang-orang yang benar dan terbukti pula orang-orang yang dusta.” (Q. S. Al-’Ankabut: 3)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apakah kalian mengira akan dibiarkan begitu saja, padahal belum lagi terbukti bagi Allah orang-orang yang berjaung diantara kalia?” (Q. S. At-Taubah: 16)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan musibah yang telah menimpa kalian disaat berhadapannya dua pasukan, adalah dengan adzin Allah, yakni agar terbukti baginya orang-orang yang beriman.” (Q. S. Ali Imran:166)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘Ammar menghadapi cobaan dan siksaan itu dengan ketabahn luar biasa, hingga pendera-penderanya merasa lelah, lemah, dan bertekuk lutut di hadapan tembok keimanan yang maha kokoh. Memang, demikianlah Al-Qur’an mendidik para pemeluknya: menghadapi kekejaman dan kekerasan dengan kesabaran, keteguhan dan pantang menyerah, yang merupakan esensi dari keimanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu ketika, Rasulullah SAW menjumpai ‘Ammar; didapatinya ia sedang menangis, maka disapulah isak tangis itu dengan tangan beliau seraya sabdanya, “Orang-orang kafir itu telah menyiksamu dan menenggelamkanmu kedalam air sampai kamu mengucapkan begini dan begitu…?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Benar,” wahai Rasulullah,” ujar ‘Ammar sambil meratap. Maka sabda Rasullah sambil tersenyum, “Jika mereka memaksamu lagi, tidak apa, ucapkanlah seperti apa yang kamu katakan tadi!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian, Rasulullah membacakan kepadanya sebuah ayat: “Kecuali orang yang dipaksa, sedang hatinya tetap teguh dalam keimanan.” (Q.S. An-nahl: 106) Setelah mendengarnya, kembalilah ‘Ammar dengan hati yang diliputi rasa haru, tenang, dan bahagia: seolah telah hilang semua penderitaan yang selama ini ia rasakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘Amar menduduki martabat yang tinggi di tengah-tengah masyarakat Islam yang beriman; Rasulullah SAW amat sayang kepadanya; beliau sering membanggakannya kepada para sahabat lainnya, katanya, “Diri ‘Ammar dipenuhi keimanan sampai ke tulang pungungnya!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika terjadi selisih faham antara Khalid bin Walid dengan ‘Ammar, Rasullah bersabda:&lt;br /&gt;“Siapa yang memusuhi ‘Ammar, maka ia akan dimusuhi Allah; dan siapa yang membenci ‘Ammar, maka ia akan dibenci Allah!” Maka, tak ada pilihan bagi Khalid bin Walid, pahlawan Islam itu, selain segera mendatangi ‘Ammar untuk mengakui kekhilafannya dan meminta maaf.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengenai perawakan ‘Ammar, para ahli riwayat melukiskannya sebagai berikut: Ia adalah seorang yang bertubuh tinggi dengan bahunya yang bidang dan matanya yang biru; seorang yang amat pendiam: tidak suka banyak bicara. Sepak terjangnya di dalam medan pertempuran, ‘Ammar termasuk pejuang militan yang tangguh. Ia senantiasa ikut bergabung bersama Rasulullah dalam semua perjuangan bersenjata seperti: perang Badar, Uhud, Khandak, dan Tabuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan, tatkala Rasulullah telah mendahuluinya ke Ar-Rafiqul A’la, ia tidaklah berhenti, tetapi melanjutkan perjuangannya secara terus menerus. Saat pasukan kaum muslimin berhadap-hadapan dengan kaum Persi dan Romawi, termasuk kaum murtad, ‘Ammar - sebagai seorang prajurit yang gagah perkasa - selalu berada dibarisan pertama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada masa khalifah Umar, ‘Ammar bin Yasir, tokoh yang sangat perkasa dan kokoh imannya, juga dipilih untuk menjadi wali negeri di Kuffah; Ibnu Mas’ud sebagai bendaharanya. Kepada penduduknya, Ummar menulis sepucuk surat berita gembira dengan diangkatnya wali negeri baru itu, katanya:&lt;br /&gt;“Saya kirim kepada tuan-tuan ‘Ammar bin Yasir sebagai Amir, dan Ibnu Mas’ud sebagai bendahara dan wazir… Keduanya adalah orang-orang pilihan, dari golongan sahabat Muhammad SAW, dan termasuk pahlawan-pahlawan Badar!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam melaksankan pemerintahan, ‘Ammar melakukan suatu sistem yang tidak dapat diikuti oleh orang-orang yang rakus akan dunia. Pangkat dan jabatannya tidak menambah kecuali keshalihan, zuhud dan kerendahan hatinya. Salah seorang yang hidup pada masanya di Kufah, Ibnu Abil Hudzail, bercerita, “Saya melihat ‘Ammar bin Yasir sewaktu menjadi amir di Kufah membeli sayuran di pasar, lalu mengikatnya dengan tali dan memikulnya di atas punggung dan&lt;br /&gt;membawanya pulang.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu ketika, salah seorang awam berkata (menghina) kepada ‘Ammar bin Yasir, “Hai, yang telinganya terpotong!” Mendengar omongan orang itu, sang amir yang tidak kelihatan keamirannya, berkata, “Yang kamu cela itu adalah telingaku yang terbaik karena ia ditimpa kecelakaan waktu perang fisabilillah.” Memang, telinga ‘Ammar itu putus dalam perang sabil di Yamamah. Ketika itu, Ammar bin Yasir maju bagaikan angin topan dan menyerbu barisan tentara Musailamatul Kadzab sehingga melumpuhkan kekuatan musuh. Ketika gerakan&lt;br /&gt;pasukan muslimin mengendor, pasukan kafirin segera membangkitkan semangatnya dengan seruannya yang gemuruh, hingga mereka kembali maju menerjang bagaikan anak panah yang lepas dari busurnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abdullah bin Umar r.a. menceritakan peristiwa itu sebagai berikut: “Waktu perang Yamamah, saya melihat ‘Ammar sedang berada disebuah batu karang. Ia berdiri sambil berseru, “Hai kaum muslimin, apakah tuan-tuan hendak lari dari Syurga…? Inilah, saya: ‘Ammar bin Yasir, kemarilah tuan-tuan…! Ketika saya melihat dan memperhatikannya, kiranya sebelah telinganya telah putus beruntai-untai, sedang ia berperang dengan amat sengitnya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, musuh-musuh Islam bergerak dibawah tanah: berusaha menebus kekalahannya dimedan tempur dengan jalan meyebarkan fitnah. Terbunuhnya Umar merupakan hasil pertama yang dicapai oleh gerakan atau subversi ini. Berhasilnya usaha mereka terhadap Umar, membangkitkan minat dan semangat mereka untuk melanjutkannya, mereka sebarkan fitnah dan nyalakan apinya disebagian besar negeri-negeri Islam. Gerakan ini menjalar ke Madinah.&lt;br /&gt;Apa yang terjadi pada Umar r.a., terjadi pula pada diri Utsman r.a. Peristiwa itu menyebabkan syahidnya Utsman r.a. dan terbukanya pintu fitnah yang melanda kaum muslimin. Sepeninggal Utsman, kekalifahan dipegang oleh Ali r.a. Mu’awiyah bangkit hendak merebut jabatan khalifah dari tangan Ali r.a. Para sahabat, disamping berpihak kepada Ali, ada juga yang membela&lt;br /&gt;Mu’wiyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahukah anda, di pihak mana, ‘Ammar berdiri waktu itu? Ia berdiri di samping Ali bin Abi Thalib: bukan karena fanatik tetapi karena tunduk kepada kebenaran dan teguh memegang janji - Ali adalah Khalifah kaum muslimin. Dengan cahaya pandangan ruhani dan ketulusannya, ‘Ammar dapat mengetahui pemilik hak satu-satunya dalam perselisihan ini. Menurut keyakinannya: tak seorang pun berhak atas hal ini, selain imam Ali. Oleh karena itu, ia berdiri disampingnya. Ali r.a. merasa gembira atas sokongan yang diberikan oleh ‘Ammar. Keyakinan Ali r.a. bahwa ia berada pada pihak yang benar kian bertambah karena dukungan sahabatnya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian, datanglah saat perang Shiffin yang mengerikan itu. Imam Ali menghadapi pekerjaan penting ini sebagai tugas memadamkan pembangkangan dan pemberontakan. Sementara, ‘Ammar ikut bersamanya. Waktu itu, usianya telah mencapai 93 tahun. Ia bangkit menghunus pedangnya demi membela kebenaran yang menurut keimanannya harus dipertahankan.&lt;br /&gt;Pandangan terhadap pertempuran ini telah lama di maklumkannya dalam kata-kata sebagai berikut:&lt;br /&gt;“Hai ummat manusia! Marilah kita berangakat menuju gerombolan yang mengaku-ngaku hendak menuntutkan bela Utsman! Demi Allah, maksud mereka bukanlah hendak menuntutkan bahaya itu, tetapi sebenarnya mereka telah merasakan manisnya dunia dan telah ketagihan terhadapnya, dan mereka mengetahui bahwa kebanaran itu menjadi penghalang bagi pelampiasan nafsu serakah mereka. Mereka bukan yang berlomba dan tidak termasuk barisan&lt;br /&gt;pendahulu pemeluk agama Islam. Argumentasi apa sehingga mereka merasa berhak untuk ditaati oleh kaum muslimin dan diangkat sebagai pemimpin, dan tidak pula dijumpai dalam hati mereka perasaan takut kepada Allah, yang akan mendorong mereka mengikuti kebenaran…! Mereka telah menipu orang banyak dengan mengakui hendak menuntutkan bela kematian Utsman, padahal tujuan mereka yang sesungguhnya ialah hendak menjadi raja dan penguasa adikara!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian diambilnya bendera dengan tangannya, lalu dikibarkannya tinggi-tinggi diatas kepala sambil berseru, “Demi Dzat yang menguasai jiwaku, saya telah bertempur dengan mengibarkan bendera ini bersama Rasulullah SAW, dan inilah aku siap berperang pula dengan mengibarkannya sekarang ini! Demi nyawa saya berada dalam tangan-Nya, seandainya mereka&lt;br /&gt;menggempur dan menyerbu hingga berhasil mencapai kubu pertahanan kita, saya tahu bahwa kita pasti berada di pihak yang haq, dan mereka di pihak yang bathil”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang mengikuti ‘Ammar, mereka percaya kebenaran ucapannya. Berkatalah Abu Abdirrahman Sullami, “Kami ikut serta dengan Ali r.a. dipertempuran Shiffin, maka saya melihat ‘Ammar bin Yasir r.a. setiap ia menyerbu ke sesuatu jurusan atau turun ke suatu lembah, para sahabat Rasulullah pun mengikutinya, tak ubahnya ia bagai penji-panji bagi mereka” ‘Ammar teringat akan sabda Rasulnya, “Ammar akan di bunuh oleh golongan&lt;br /&gt;pendurhaka,” sehingga ia merasa peristiwa ini akan mengantarkannya menjadi syahid. Ia menerjuni akhir perjuangan hidupnya yang menonjol dengan gagah berani. Sebelum ia berangkat ke Rafiqul A’la, ia tanamkan pendidikan terakhir tentang keteguhan hati membela kebenaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berita tewasnya ‘Ammar segera tersebar, dan sabda Rasulullah SAW yang didengar oleh semua sahabatnya, sewaktu mereka sedang membina masjid di Madinah dimasa yang telah jauh sebelumnya, berpindah dari mulut ke mulut. Maka, sekarang jelaslah, siapa kiranya golongan pendurhaka itu, tidak lain adalah golongan yang membunuh ‘Ammar: yaitu dari pihak Mu’awiyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan kenyataan ini semangat dan kepercayaan pengikut-pengikut Ali kian bertambah. Sementara di pihak Mu’awiyah, keraguan mulai menyusup kedalam hati mereka, bahkan sebagian telah bersedia hendak memisahkan diri dan begabung dengan Ali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah pemakaman ‘Ammar, beberapa saat kemudian kaum muslimin berdiri kerheran-heranan dikuburnya…! ‘Ammar berdendang di depan mereka di atas arena perjuangan, hatinya penuh dengan kemgembiraan, tak ubahnya bagi seorang perantau yang merindukan kampung halaman, tiba-tiba dibawa pulang, dan terlontarlah seruan dari mulutnya: “Hari ini aku akan berjumpa dengan para kekasih tercinta, dengan Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah ia telah mengetahui hari yang mereka janjikan akan dijumpainya? Para sahabat saling jumpa-menjumpai dan bertanya, “Apakah anda masih ingat waktu sore hari itu di Madinah, ketika kita sedang duduk-duduk bersama Rasulullah SAW, dan wajahnya berseri-seri lalu bersabda, “Syurga telah merindukan ‘Ammar.” “Benar,” ujar yang lain. “Dan waktu itu, juga disebutnya nama-nama yang lain, diantaranya: ‘Ali, Salman dan Bilal…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: Karakteristik Perihidup Enam Puluh Shahabat Rasulullah, Khalid Muh.&lt;br /&gt;Khalid&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6496427822632927265-7639217066085244023?l=akhimuammar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://akhimuammar.blogspot.com/feeds/7639217066085244023/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6496427822632927265&amp;postID=7639217066085244023' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6496427822632927265/posts/default/7639217066085244023'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6496427822632927265/posts/default/7639217066085244023'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://akhimuammar.blogspot.com/2008/05/ammar-bin-yasir.html' title='&apos;AMMAR BIN YASIR'/><author><name>muammar_ikhwan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09232577519138736451</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_jirrn9uMBd0/R2XC7Uy2JGI/AAAAAAAAABA/v18DfXzrmhE/S220/Muamar.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6496427822632927265.post-7314510361983224820</id><published>2008-05-23T00:55:00.000-07:00</published><updated>2008-05-23T00:56:43.935-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kisah salafiyyun'/><title type='text'>AISYAH r.a.</title><content type='html'>Seorang gadis kecil periang berumur sembilan tahun sedang gembira bermain-main dengan teman-temannya. Rambutnya awut awutan dan mukanya kotor karena debu. Tiba-tiba beberapa orang yang sudah agak tua muncul dari sebuah rumah di dekat situ dan datang ke tempat anak-anak tadi bermain-main. Mereka lalu membawa anak gadis itu pulang, memberinya pakaian yang rapi, dan malam itu juga, gadis itu dinikahkan dengan laki-iaki paling agung di antara manusia, Nabi ummat Islam. Suatu penghormatan paling unik yang pernah diterima seorang wanita. Aisyah adalah salah seorang putri tersayang Sayidina Abu Bakar ra, sahabat Nabi yang setia, yang kemudian menggantikan Nabi sebagai Khalifah Islam yang pertama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aisyah ra. lahir di Mekkah 614 Masehi, delapan tahun sebelum permulaan zaman Hijrah. Orangtuanya sudah memeluk agama Islam. Sejak mulai kecil anak gadis itu telah dididik sesuai dengan tradisi paling mulia - agama Islam - dan dengan sempurna dipersiapkan dan diberinya hak penuh untuk kemudian menduduki tempat yang mulia. Ia menjadi istri Nabi selama sepuluh tahun. Masih muda sewaktu dinikahkan dengan Nabi, tetapi ia memiliki kemampuan sangat baik sehingga dapat menyesuaikan diri dengan tugas barunya. Kehadirannya membuktikan bahwa ia seorang yang cerdas dan setia, dan sebagai istri, sangat mencintai tokoh dermawan paling besar bagi umat manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di seluruh dunia, ia diakui sebagai pembawa riwayat paling otentik bagi ajaran Islam seperti apa yang telah disunahkan oleh suaminya. Ia di anugerahi ingatan yang sangat tajam, dan mampu mengingat segala pertanyaan yang diajukan para tamu wanita kepada Nabi, serta juga mengingat segenap jawaban yang diberikan oleh Nabi. Diingatnya secara sempurna semua yang disampaikan Nabi kepada para delegasi dan jemaah di masjid. Karena kamar Aisyah itu bersebelahan dengan masjid, dengan cermat dan tekun ia mendengarkan dakwah, ta’lim, dan mudzakarah Nabi dengan para sahabat dan orang-orang lain. Ia mengajukan juga pertanyaan-pertanyaan kepada Nabi tentang soal-soal yang sulit dan rumit sehubungan dengan ajaran agama Islam. Hal-hal inilah yang menyebabkan ia menjadi ilmuwan dan periwayat yang paling besar dan paling otentik bagi sunnah Nabi dan ajaran Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aisyah tidak ditakdirkan hidup bersama-sama dengan Nabi untuk waktu yang lama. Pernikahannya itu berlangsung hanya sepuluh tahun saja. Tahun 11 Hijrah, 632 Masehi, Nabi wafat dan dimakamkan di kamar yang dihuni Aisyah. Nabi digantikan oleh seorang sahabat yang setia, Abu Bakar ra, sebagai khalifah islam yang pertama. Aisyah terus menduduki urutan pertama, dan setelah Fathima ra. meninggal dunia di tahun 11 Hijrah, Aisyah dianggap sebagai wanita yang paling penting di dunia Islam. Tetapi ayahnya, Abu Bakar, tidak berumur panjang. Ia meninggal dunia dua setengah tahun setelah wafat Nabi. Selama kekuasaan Umar al-Faruq, khalifah yang kedua, Aisyah menduduki posisi sebagai ibu utama di seluruh daerah-daerah Islam yang secara cepat makin meluas. Orang datang untuk meminta nasihat-nasihatnya yang bijaksana tentang segala hal yang penting. Umar terbunuh dan kemudian Khalifah Usman. Dua peristiwa kesyahidan tersebut telah mengguncangkan sendi-sendi Islam, dan menjurus kepada perpecahan yang tragis di kalangan umat Islam. Keadaan itu sangat merugikan agama yang sedang menyebar luas dan berkembang dengan cepat, yang pada waktu itu telah menjalar sampai ke batas pegunungan Atlas di sebelah Barat, dan ke puncak-puncak Hindu Kush di sebelah Timur. Aisyah tidak dapat tinggal diam sebagai penonton dalam menghadapi oknum-oknum pemecah-belah itu. Dengan sepenuh hati ia membela mereka yang menuntut balas atas kesyahidan khalifah yang ketiga. Di dalam Perang Unta, suatu pertempuran melawan Ali, khalifah yang keempat, pasukan Aisyah kalah dan ia terus mundur ke Madinah di bawah perlindungan pengawal yang diberikan oleh putra khalifah sendiri. Beberapa orang sejarawan yang menaruh minat terhadap peristiwa itu, baik yang Muslim maupun yang bukan, memberikan kritik kepada Aisyah dalam pertempuran melawan Ali. Tetapi tidak seorang pun yang meragukan kesungguhan hati dan keyakinan Aisyah untuk menuntut balas bagi darah Usman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aisyah menyaksikan berbagai perubahan yang dialami oleh Islam selama tiga puluh tahun kekuasaan khalifah yang saleh. Ia meninggal dunia tahun 678 Masehi. Ketika itu kekuasaan berada di tangan Muawiyah. Penguasa ini amat takut kepada Aisyah dengan kritik-kritiknya yang pedas berkenaan dengan negara Islam yang secara politis sedang berubah itu. Ibu Utama agama Islam ini terkenal dengan bermacam ragam sifatnya kesalehannya, umurnya, kebijaksanaannya, kesederhanaannya, kemurahan hatinya, dan kesungguhan hatinya untuk menjaga kemurnian riwayat sunnah Nabi. Kesederhanaan dan kesopanannya segera menjadi obor penyuluh bagi wanita Islam sejak waktu itu juga. Ia menghuni ruangan yang berukuran kurang dari 12 X 12 kaki bersama-sama dengan Nabi. Ruangan itu beratap rendah, terbuat dari batang dan daun kurma, diplester dengan lumpur. Pintunya cuma satu, itu pun tanpa daun pintu, dan hanya ditutup dengan secarik kain yang digantungkan di atasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama masa hidup Nabi, jarang Aisyah tidak kekurangan makan. Pada malam hari ketika Nabi mengembuskan napasnya yang terakhir, Aisyah tidak mempunyai minyak Waktu Khalifah Umar berkuasa, istri dan beberapa sahabat Nabi mendapatkan tunjangan yang cukup besar tiap bulannya. Aisyah jarang menahan uang atau pemberian yang diterimanya sampai keesokan harinya, karena semuanya itu segera dibagikan kepada orang-orang yang membutuhkannya. Pada suatu hari di bulan Ramadhan, waktu Abdullah ibn Zubair menyerahkan sekantung uang sejumlah satu lakh dirham, Aisyah membagikan uang itu sebelum waktu berbuka puasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aisyah pada zamannya terkenal sebagai orator. Pengabdiannya kepada basyarakat, dan usahanya untuk mengembangkan pengetahuan orang tentang sunnah dan fiqh, tidak ada tandingannya di dalam catatan sejarah Islam. Jika orang menemukan persoalan mengenai sunnah dan fiqh yang sukar untuk dipecahkan, soal itu akhirnya dibawa kepada Aisyah, dan kata kata Aisyah menjadi keputusan terakhir. Kecuali Ali, Abdullah ibn Abbas dengan Abdullah ibn Umar, Aisyah juga termasuk kelompok intelektual di tahun-tahun pertama Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu Agung Agama Islam ini mengembuskan napas yang terakhir 17 Ramadhan, 58 Hijriah (13 Juli, 678 Masehi). Kematiannya menimbulkan rasa duka terutama di Madinah dan di seluruh dunia Islam. Aisyah rha. bersama Khadijah ra. dan Fathima az-Zahra ra. dianggap sebagai wanita yang paling menonjol di kalangan wanita Islam. Kebanyakan para ulama menempatkan Fathimah ra. di tangga teratas, diikuti oleh Khadijah ra, dengan Aisyah ra sebagai yang terakhir. Tapi ulama ibn Hazim malah menempatkan Aisyah ra. nomor dua sesudah Nabi Muhammad SAW, di atas semua istri, sahabat, dan rekan-rekannya. Menurut Allama ibn Taimiya, Fatima-lah yang berada di tempat teratas, karena ia itu anak tersayang Nabi, Khadijah itu agung karena dialah orang pertama yang memeluk agama Islam. Tetapi, tidak seorang pun yang menandingi Aisyah mengenai peranannya dalam menyebarluaskan ajaran Nabi.&lt;br /&gt;sumber: http://sahabatnabi.0catch.com/aisyah.htm&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6496427822632927265-7314510361983224820?l=akhimuammar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://akhimuammar.blogspot.com/feeds/7314510361983224820/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6496427822632927265&amp;postID=7314510361983224820' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6496427822632927265/posts/default/7314510361983224820'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6496427822632927265/posts/default/7314510361983224820'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://akhimuammar.blogspot.com/2008/05/aisyah-ra.html' title='AISYAH r.a.'/><author><name>muammar_ikhwan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09232577519138736451</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_jirrn9uMBd0/R2XC7Uy2JGI/AAAAAAAAABA/v18DfXzrmhE/S220/Muamar.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6496427822632927265.post-3860651660221638092</id><published>2008-05-23T00:54:00.000-07:00</published><updated>2008-05-23T01:14:54.636-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kisah salafiyyun'/><title type='text'>ABU HURAIRAH r.a.</title><content type='html'>Abu Hurairah r.a. dilahirkan 19 tahun sebelum Hijrah. Nama kecil beliau sebelum memeluk agama Islam tidak diketahui dengan jelas, tetapi pendapat yang mashyur adalah Abd Syams. Nama Islamnya adalah Abd al-Rahman. Beliau berasal dari qabilah al-Dusi di Yaman. Abu Hurairah r.a. memeluk Islam pada tahun 7 Hijrah ketika Rasulullah S.A.W. berangkat menuju ke Khaibar.  Ketika itu ibunya masih belum menerima Islam bahkan menghina Nabi. Abu Hurairah r.a. lalu bertemu Rasulullah S.A.W. dan meminta baginda berdoa agar ibunya masuk Islam. Kemudian Abu Hurairah r.a. menemui ibunya kembali, mengajaknya masuk Islam. Ternyata ibunya telah berubah, bersedia mengucapkan dua kalimat syahadat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah pulang dari Perang Khaibar, Rasulullah S.A.W. memperluas Masjid Nabawi ke arah barat dengan menambah ruang sebanyak tiga tiang lagi. Abu Hurairah r.a. turut terlibat dalam perluasan masjid ini. Ketika dilihatnya Rasulullah S.A.W. turut mengangkat batu, ia meminta agar beliau menyerahkan batu itu kepadanya.  Rasulullah S.A.W. menolak seraya bersabda, "Tiada kehidupan sebenarnya, melainkan kehidupan akhirat."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Hurairah r.a. pernah salah dalam menimbang makanan yang lezat sehingga dia dikenakan hukuman dipukul oleh Rasulullah S.A.W.  Bagaimanapun Abu Hurairah r.a. gembira "Karena Nabi menjanjikan akan memberi syafaat kepada orang yang pernah merasa disakitinya baik secara sengaja atau tidak," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu cintanya kepada Rasulullah S.A.W. sehingga siapa pun yang dicintai, ia ikut mencintainya. Misalnya,ia suka mencium Hasan dan Husain, karena melihat Rasulullah S.A.W.mencium kedua cucunya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gelar Abu Hurairah r.a. adalah karena kegemarannya bermain dengan anak kucing. Diceritakan pada suatu masa ketika Abu Hurairah r.a. bertemu Rasullullah S.A.W. dia ditanyai apa yang ada dalam lengan bajunya. ketika dia menunjukkan anak kucing yang ada dalam lengan bajunya lantas dia digelar Abu Hurairah r.a. oleh Rasullullah S.A.W. Semenjak itu dia lebih dikenal dengan nama Abu Hurairah r.a..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Hurairah r.a. berpindah ke Madinah untuk mengadu nasib. Di sana ia bekerja menjadi buruh kasar bagi siapa yang memerlukannya Sering kali dia mengikatkan batu ke perutnya, kerana menahan lapar yang amat sangat. Malah diceritakan bahawa dia pernah berbaring berhampiran mimbar masjid sehinggakan orang menyangka dia kurang waras. Rasullullah S.A.W.  yang mendengarkan masalah tersebut, segera menemui Abu Hurairah r.a. yang  menjelaskan bahawa dia berbuat sedemikian kerana lapar, lalu Rasullullah S.A.W. pun segera memberinya makanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Hurairah r.a. adalah sahabat yang sangat dekat dengan Nabi S.A.W. Ia dikenal sebagai salah seorang ahli shuffah, yaitu orang-orang miskin atau sedang menuntut ilmu dan tinggal di halaman masjid. Beliau begitu dekat dengan Nabi S.A.W., sehingga baginda selalu menyuruh Abu Hurairah r.a. untuk mengumpulkan ahli shuffah, jika ada makanan yang hendak dibagikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernah pula pada suatu ketika, dia duduk di pinggir jalan tempat orang biasanya berlalu lalang sambil mengikatkan batu ke perutnya. Dilihatnya Abu Bakar r.a melintas. Lalu dia minta dibacakan satu ayat Al-Quran. "Aku bertanya begitu supaya dia mengajakku ikut, memberiku pekerjaan," tutur Abu Hurairah r.a.. Tapi Abu Bakar r.a. cuma membacakan ayat, lantas berlalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dilihatnya Umar ibn Khattab r.a.. "Tolong ajari aku ayat Al-Quran," kata Abu Hurairah r.a.. Ternyata dia kecewa sekali lagi kerana Umar r.a.melakukan hal yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lama kemudian Rasullullah S.A.W.  pula yang lewat. Nabi tersenyum. "Beliau tahu apa isi hati saya. Beliau dapat membaca raut muka saya dengan tepat," tutur Abu Hurairah r.a..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya Aba Hurairah!" panggil Nabi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Labbaik, ya Rasulullah!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ikutlah aku!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau mengajak Abu Hurairah r.a. ke rumahnya. Di dalam rumah didapati semangkok susu. "Dari mana datangnya susu ini?" tanya Rasulullah S.A.W.. Beliau diberitahu bahwa seseorang telah memberikan susu itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya Aba Hurairah!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Labbaik, Ya Rasulullah!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tolong panggilkan ahli shuffah," kata Rasullullah S.A.W.  Susu tadi lalu dibagikan kepada ahli shuffah, termasuk Abu Hurairah r.a.. Sejak itulah, Abu Hurairah r.a. mengabdi kepada Rasullullah S.A.W. , bergabung dengan ahli shuffah di pondok masjid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Hurairah r.a. berhasil meriwayatkan banyak hadis karena beliau sentiasa dekat dengan Rasulullah selama 3 tahun, setelah memeluk Islam. Ini sebagaimana yang di riwayatkan olehnya :-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terjemahannya :-&lt;br /&gt;                               … sesungguhnya saudara kami daripada golongan Muhajirin sibuk dengan urusan mereka di pasar dan orang-orang Ansar pula sibuk bekerja di ladang mereka sementara aku seorang yang miskin sentiasa bersama Rasulullah S.A.W. ‘Ala Mil’i Batni. Aku hadir di majlis yang mereka tidak hadir dan aku hafal pada masa mereka lupa.(HR. Bukhari)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada mulanya Abu Hurairah r.a. mempunyai ingatan yang lemah lalu beliau mengadu kepada Rasulullah. Rasulullah lalu mendoakan agar Abu Hurairah r.a. diberkati dengan daya ingatan yang kuat lalu semenjak hari itu Abu Hurairah dikurniakan dengan daya ingatan yang kuat yang membuat beliau mampu meriwayatkan jumlah hadis terbanyak di kalangan para sahabat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KISAH ABU HURAIRAH R.A. MENJAGA GUDANG ZAKAT.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dikisahkan pada satu ketika Abu Hurairah r.a. diamanahkan oleh Rasulullah S.A.W. untuk menjaga gudang hasil zakat. Pada suatu malam Abu Hurairah r.a. melihat seseorang mengendap-gendap hendak mencuri, lalu ditangkapnya. Orang itu pun hendak dibawanya berjumpa Rasulullah S.A.W. tetapi pencuri itu memohon minta dikasihani seraya menyatakan bahawa dia mencuri untuk memenuhi kebutuhan keluarganya yang kelaparan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Hurairah r.a. merasa kasihan lalu melepaskan pencuri itu dengan pesan agar tidak mengulangi perbuatannya lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keesokkan harinya perkara tersebut dilaporkan kepada Rasulullah S.A.W.  Rasulullah S.A.W. tersenyum lalu bersabda bahawa pencuri itu pasti akan kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata keesokkan malamnya pencuri itu datang lagi. Sekali lagi Abu Hurairah r.a. menangkap pencuri itu lalu hendak dibawanya kehadapan Rasulullah S.A.W. Sekali lagi, pencuri itu memohon agar dibebaskan sehingga Abu Hurairah r.a. merasa kasihan lalu melepaskannya sekali lagi. Keesokkan harinya, dia melaporkan hal tersebut kepada Rasulullah S.A.W. yang mengulangi sabdanya bahawa pencuri itu pasti akan kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah pencuri itu ditangkap sekali lagi pada malam berikutnya, Abu Hurairah r.a. mengancam akan membawanya kehadapan Rasulullah S.A.W. Pencuri itu meminta belaskasihan agar dibebaskan sekali lagi. Melihat Abu Hurairah r.a. enggan melepaskannya, pencuri itu menyatakan dia akan mengajar sesuatu yang baik jika ia di bebaskan. Pencuri itu berkata bahwa jika seseorang membaca ayat Kursi sebelum tidur, syaithan tidak akan menggangguinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Hurairah r.a. merasa tersentuh mendengarkan ajaran pencuri itu lalu melepaskannya pergi. Keesokkan harinya dia melaporkan peristiwa tersebut kepada Rasulullah S.A.W. Rasulullah S.A.W. bersabda, pencuri yang ditemuinya itu adalah pembohong besar, tetapi apa yang diajarkan kepada Abu Hurairah r.a. itu adalah benar. Sebenarnya pencuri itu adalah syaithan yang dilaknat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun Abu Hurairah r.a. merupakan seorang yang miskin pada mulanya, ia telah dipinang oleh salah seorang majikannya yang kaya raya untuk putrinya, Bisrah binti Gazwan. Ini menunjukkan betapa Islam telah mengubah pandangan seseorang dari membedakan kelas kepada menyanjung keimanan. Abu Hurairah r.a. dipandang mulia karena kealiman dan kesalihannya. Perilaku islami telah memuliakannya, lebih dari kemuliaan pada masa jahiliah yang memandang kebangsawanan dan kekayaan sebagai ukuran kemuliaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak menikah, Abu Hurairah r.a. membagi malamnya kepada tiga bagian: untuk membaca Al-Quran, untuk tidur dan keluarga, dan untuk mengulang-ulang hadis. Ia dan keluarganya tetap hidup sederhana walaupun telah menjadi orang berada. Abu Hurairah r.a. suka bersedekah, menjamu tamu, bahkan memberi sedekah rumahnya di Madinah untuk pembantu-pembantunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah S.A.W. pernah mengutuskan Abu Hurairah r.a. berdakwah ke Bahrain bersama Al-Ala ibn Abdillah Al-Hadrami r.a. Dia juga pernah diutus bersama Quddamah r.a. untuk mengutip jizyah di Bahrain, sambil membawa surat ke Amir Al-Munzir ibn Sawa At-Tamimi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin disebabkan oleh kepercayaan Rasulullah itu, Abu Hurairah r.a. diangkat menjadi gubernur Bahrain ketika Umar r.a. menjadi Amirul Mukminin. Tapi pada 23 Hijrah, Umar r.a. memecatnya kerana Abu Hurairah r.a. dituduh menyimpan uang yang banyak sehingga 10,000 dinar. Ketika disidang, Abu Hurairah r.a. berhasil membuktikan bahawa harta itu diperolehnya dari berternak kuda dan pemberian orang. Khalifah Umar r.a. menerima penjelasan itu dan memaafkannya. Lalu dia diminta menerima jabatan Gubernur kembali, tapi Abu Hurairah r.a. menolak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penolakan itu diiringi lima alasan. "Aku takut berkata tanpa pengetahuan; aku takut memutuskan perkara bertentangan dengan hukum (agama); aku tidak mau disebat; aku tak mau harta benda hasil pencarianku disita; dan aku takut nama baikku tercemar," katanya. Dia memilih untuk tinggal di Madinah, menjadi warga biasa yang memperlihatkan kesetiaan kepada Umar, dan para pemimpin sesudahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khalifah Umar ibn Khattab r.a. pula pernah melarang Abu Hurairah r.a. menyampaikan hadis dan hanya membolehkan menyampaikan ayat Al-Quran. Ini disebabkan tersebar kabar angin bahawa Abu Hurairah r.a. banyak memetik hadis palsu. Larangan khalifah baru dibatalkan setelah Abu Hurairah r.a. mengutarakan hadis mengenai bahaya hadis palsu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadis itu berbunyi,&lt;br /&gt;"Barangsiapa yang berdusta padaku (Nabi S.A.W.) secara sengaja, hendaklah mempersiapkan diri duduk dalam api neraka." Hadis ini diriwayatkan Bukhari, Muslim, Abu Dawud, At-Tirmidzi, Ibnu Majah, Ad-Darimi, dan Ahmad ibn Hanbal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika kediaman Amirul Mukminin Ustman ibn Affan r.a. dikepung pemberontak, dalam peristiwa yang dikenal sebagai al-fitnatul kubra (fitnah/bencana besar), Abu Hurairah r.a. bersama 700 orang Muhajirin dan Anshar tampil mengawal rumah tersebut. Meski dalam keadaan siap untuk bertempur, Khalifah Ustman ibn Affan r.a. melarang pengikut setianya itu memerangi kaum pemberontak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada masa Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib r.a. , Abu Hurairah r.a. menolak tawaran menjadi gubernur Madinah. Ketika terjadi pertemuan antara Khalifah Ali dan lawannya, Muawiyah ibn Abi Sufyan, ia bersikap tidak memihak dan menghindari fitnah. Setelah Muawiyah berkuasa, Abu Hurairah r.a. dilantik menjadi gubernur Madinah setelah diusulkan oleh Marwan ibn Hakam. Di Kota Penuh Cahaya (Al-Madinatul Munawwarah) ini pula ia mengembuskan nafas terakhir pada 57 atau 58 H. (676-678 M.) dalam usia 78 tahun. Abu Hurairah r.a. meninggalkan sebanyak 5,374 hadis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadis Abu Hurairah r.a. yang disepakati Imam Bukhari dan Muslim berjumlah 325 hadis, oleh Bukhari sendiri sebanyak 93 hadis, dan oleh Muslim sendiri 189 hadis. Hadis yang diriwayatkan Abu Hurairah r.a. juga terdapat dalam kitab-kitab hadis lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terdapat pula golongan yang mempertikaikan tentang kesahihan hadis-hadis yang di sampaikan oleh Abu Hurairah r.a. seperti dari golongan orientalis barat, Ignaz Goldizihar yang telah membuat kritikan terhadap hadis dan para perawinya termasuk Abu Hurairah. Tuduhan beliau telah mempengaruhi beberapa penulis Islam seperti Ahmad Amin dan Mahmud Abu Rayyuh untuk mengkritik kedudukan Abu Hurairah sebagai perawi hadis. Tuduhan-tuduhan ini telah disanggah oleh Mustafa al Sibai dalam al Sunnah wa Makanatuha halaman 273-283.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain dari golongan ini terdapat juga kritikan kuat dari golongan Syiah. Ini mungkin disebabkan Abu Hurairah r.a. merupakan pendukung Ustman ibn Affan r.a. dan juga pernah menjadi pegawai dinasti Umayah. Penolakannya menyandang jabatan gubernur ketika ditawarkan oleh Ali r.a. dan tidak adanya hadis yang berisi pujian atau pengistimewaan kepada Ali dan keluarganya mungkin merupakan sebab-sebab lain Abu Hurairah dikritik oleh kaum Syiah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wallahu a’alam bisshawab&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sumber: http://w3.spancity.com/yosri/TokohRiwayatAbuHurairah.htm dengan perubahan seperlunya&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6496427822632927265-3860651660221638092?l=akhimuammar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://akhimuammar.blogspot.com/feeds/3860651660221638092/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6496427822632927265&amp;postID=3860651660221638092' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6496427822632927265/posts/default/3860651660221638092'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6496427822632927265/posts/default/3860651660221638092'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://akhimuammar.blogspot.com/2008/05/abu-hurairah-ra.html' title='ABU HURAIRAH r.a.'/><author><name>muammar_ikhwan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09232577519138736451</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_jirrn9uMBd0/R2XC7Uy2JGI/AAAAAAAAABA/v18DfXzrmhE/S220/Muamar.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6496427822632927265.post-7925932398089342157</id><published>2008-05-23T00:48:00.000-07:00</published><updated>2008-05-23T00:49:57.889-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kisah salafiyyun'/><title type='text'>SHALAHUDDIN AL AYYUBI</title><content type='html'>Shalahuddin Al Ayyubi, Pahlawan Islam dari Seratus Medan Pertempuran (1137 - 1193 M)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hudzaifah.org - SULTAN SALAHUDDIN AL-AYYUBI, namanya telah terpateri di hati sanubari pejuang Muslim yang memiliki jiwa patriotik dan heroik, telah terlanjur terpahat dalam sejarah perjuangan umat Islam karena telah mampu menyapu bersih, menghancurleburkan tentara salib yang merupakan gabungan pilihan dari seluruh benua Eropa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konon guna membangkitkan kembali ruh jihad atau semangat di kalangan Islam yang saat itu telah tidur nyenyak dan telah lupa akan tongkat estafet yang telah diwariskan oleh Nabi Muhammad saw., maka Salahuddinlah yang mencetuskan ide dirayakannya kelahiran Nabi Muhammad saw. Melalui media peringatan itu dibeberkanlah sikap ksatria dan kepahlawanan pantang menyerah yang ditunjukkan melalui “Siratun Nabawiyah”. Hingga kini peringatan itu menjadi tradisi dan membudaya di kalangan umat Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jarang sekali dunia menyaksikan sikap patriotik dan heroik bergabung menyatu dengan sifat perikemanusian seperti yang terdapat dalam diri pejuang besar itu. Rasa tanggung jawab terhadap agama (Islam) telah ia baktikan dan buktikan dalam menghadapi serbuan tentara ke tanah suci Palestina selama dua puluh tahun, dan akhirnya dengan kegigihan, keampuhan dan kemampuannya dapat memukul mundur tentara Eropa di bawah pimpinan Richard Lionheart dari Inggris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hendaklah diingat, bahwa Perang Salib adalah peperangan yang paling panjang dan dahsyat penuh kekejaman dan kebuasan dalam sejarah umat manusia, memakan korban ratusan ribu jiwa, di mana topan kefanatikan membabi buta dari Kristen Eropa menyerbu secara menggebu-gebu ke daerah Asia Barat yang Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang penulis Barat berkata, “Perang Salib merupakan salah satu bagian sejarah yang paling gila dalam riwayat kemanusiaan. Umat Nasrani menyerbu kaum Muslimin dalam ekspedisi bergelombang selama hampir tiga ratus tahun sehingga akhirnya berkat kegigihan umat Islam mereka mengalami kegagalan, berakibat kelelahan dan keputusasaan. Seluruh Eropa sering kehabisan manusia, daya dan dana serta mengalami kebangkrutan sosial, bila bukan kehancuran total. Berjuta-juta manusia yang tewas dalam medan perang, sedangkan bahaya kelaparan, penyakit dan segala bentuk malapetaka yang dapat dibayangkan berkecamuk sebagai noda yang melekat pada muka tentara Salib. Dunia Nasrani Barat saat itu memang dirangsang ke arah rasa fanatik agama yang membabi buta oleh Peter The Hermit dan para pengikutnya guna membebaskan tanah suci Palestina dari tangan kaum Muslimin”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Setiap cara dan jalan ditempuh”, kata Hallam guna membangkitkan kefanatikan itu. Selagi seorang tentara Salib masih menyandang lambang Salib, mereka berada di bawah lindungan gereja serta dibebaskan dari segala macam pajak dan juga untuk berbuat dosa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peter The Hermit sendiri memimpin gelombang serbuan yang kedua terdiri dari empat puluh ribu orang. Setelah mereka sampai ke kota Malleville mereka menebus kekalahan gelombang serbuan pertama dengan menghancurkan kota itu, membunuh tujuh ribu orang penduduknya yang tak bersalah, dan melampiaskan nafsu angkaranya dengan segala macam kekejaman yang tak terkendali. Gerombolan manusia fanatik yang menamakan dirinya tentara Salib itu mengubah tanah Hongaria dan Bulgaria menjadi daerah-daerah yang tandus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bilamana mereka telah sampai ke Asia Kecil, mereka melakukan kejahatan-kejahatan dan kebuasan-kebuasan yang membuat alam semesta menggeletar” demikian tulis pengarang Perancis Michaud.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gelombang serbuan tentara Salib ketiga yang dipimpin oeh seorang Rahib Jerman, menurut pengarang Gibbon terdiri dari sampah masyarakat Eropa yang paling rendah dan paling dungu. Bercampur dengan kefanatikan dan kedunguan mereka itu izin diberikan guna melakukan perampokan, perzinaan dan bermabuk-mabukan. Mereka melupakan Konstantin dan Darussalam dalam kemeriahan pesta cara gila-gilaan dan perampokan, pengrusakan dan pembunuhan yang merupakan peninggalan jelek dari mereka atas setiap daerah yang mereka lalui” kata Marbaid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gelombang serbuan tentara Salib keempat yang diambil dari Eropa Barat, menurut keterangan penulis Mill “terdiri dari gerombolan yang nekat dan ganas. Massa yang membabi buta itu menyerbu dengan segala keganasannya menjalankan pekerjaan rutinnya merampok dan membunuh. Tetapi akhirnya mereka dapat dihancurkan oleh tentara Hongaria yang naik pitam dan telah mengenal kegila-gilaan tentara Salib sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentara Salib telah mendapat sukses sementara dengan menguasai sebagian besar daerah Syria dan Palestina termasuk kota suci Yerusalem. Tetapi Kemenangan-kemenangan mereka ini telah disusul dengan keganasan dan pembunuhan terhadap kaum Muslimin yang tak bersalah yang melebihi kekejaman Jengis Khan dan Hulagu Khan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;John Stuart Mill ahli sejarah Inggris kenamaan, mengakui pembunuhan-pembunuhan massal penduduk Muslim ini pada waktu jatuhnya kota Antioch. Mill menulis: “Keluruhan usia lanjut, ketidakberdayaan anak-anak dan kelemahan kaum wanita tidak dihiraukan sama sekali oleh tentara Latin yang fanatik itu. Rumah kediaman tidak diakui sebagai tempat berlindung dan pandangan sebuah masjid merupakan pembangkit nafsu angkara untuk melakukan kekejaman. Tentara Salib menghancurleburkan kota-kota Syria, membunuh penduduknya dengan tangan dingin, dan membakar habis perbendaharaan kesenian dan ilmu pengetahuan yang sangat berharga, termasuk “Kutub Khanah” (Perpustakaan) Tripolis yang termasyhur itu. “Jalan raya penuh aliran darah, sehingga keganasan itu kehabisan tenaga,” kata Stuart Mill. Mereka yang cantik rupawan disisihkan untuk pasaran budak belian di Antioch. Tetapi yang tua dan yang lemah dikorbankan di atas panggung pembunuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lewat pertengahan abad ke-12 Masehi ketika tentara Salib mencapai puncak kemenangannya dan Kaisar Jerman, Perancis serta Richard Lionheart Raja Inggris telah turun ke medan pertempuran untuk turut merebut tanah suci Baitul Maqdis, gabungan tentara Salib ini disambut oleh Sultan Shalahuddin al Ayyubi (biasa disebut Saladin), seorang Panglima Besar Muslim yang menghalau kembali gelombang serbuan umat Nasrani yang datang untuk maksud menguasai tanah suci. Dia tidak saja sanggup untuk menghalau serbuan tentara Salib itu, akan tetapi yang dihadapi mereka sekarang ialah seorang yang berkemauan baja serta keberanian yang luar biasa yang sanggup menerima tantangan dari Nasrani Eropa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapakah Shalahuddin? Bagaimana latar belakang kehidupannya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Shalahuddin dilahirkan pada tahun 1137 Masehi. Pendidikan pertama diterimanya dari ayahnya sendiri yang namanya cukup tersohor, yakni Najamuddin al-Ayyubi. Di samping itu pamannya yang terkenal gagah berani juga memberi andil yang tidak kecil dalam membentuk kepribadian Shalahuddin, yakni Asaduddin Sherkoh. Kedua-duanya adalah pembantu dekat Raja Syria Nuruddin Mahmud.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asaduddin Sherkoh, seorang jenderal yang gagah berani, adalah komandan Angkatan Perang Syria yang telah memukul mundur tentara Salib baik di Syria maupun di Mesir. Sherkoh memasuki Mesir dalam bulan Februari 1167 Masehi untuk menghadapi perlawanan Shawer seorang menteri khalifah Fathimiyah yang menggabungkan diri dengan tentara Perancis. Serbuan Sherkoh yang gagah berani itu serta kemenangan akhir yang direbutnya dari Babain atas gabungan tentara Perancis dan Mesir itu menurut Michaud “memperlihatkan kehebatan strategi tentara yang bernilai ringgi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Aziz AI Athir menulis tentang serbuan panglima Sherkoh ini sebagai berikut: “Belum pernah sejarah mencatat suatu peristiwa yang lebih dahsyat dari penghancuran tentara gabungan Mesir dan Perancis dari pantai Mesir, oleh hanya seribu pasukan berkuda”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tanggal 8 Januari 1169 M Sherkoh sampai di Kairo dan diangkat oleh Khalifah Fathimiyah sebagai Menteri dan Panglima Angkatan Perang Mesir. Tetapi sayang, Sherkoh tidak ditakdirkan untuk lama menikmati hasil perjuangannya. Dua bulan setelah pengangkatannya itu, dia berpulang ke rahmatullah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepeninggal Sherkoh, keponakannya Shalahuddin al-Ayyubi diangkat jadi Perdana Menteri Mesir. Tak seberapa lama ia telah disenangi oleh rakyat Mesir karena sifat-sifatnya yang pemurah dan adil bijaksana itu. Pada saat khalifah berpulang ke rahmatullah, Shalahuddin telah menjadi penguasa yang sesungguhnya di Mesir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Syria, Nuruddin Mahmud yang termasyhur itu meninggal dunia pada tahun 1174 Masehi dan digantikan oleh putranya yang berumur 11 tahun bernama Malikus Saleh. Sultan muda ini diperalat oleh pejabat tinggi yang mengelilinginya terutama (khususnya) Gumushtagin. Shalahuddin mengirimkan utusan kepada Malikus Saleh dengan menawarkan jasa baktinya dan ketaatannya. Shalahuddin bahkan melanjutkan untuk menyebutkan nama raja itu dalam khotbah-khotbah Jumatnya dan mata uangnya. Tetapi segala macam bentuk perhatian ini tidak mendapat tanggapan dari raja muda itu berserta segenap pejabat di sekelilingnya yang penuh ambisi itu. Suasana yang meliputi kerajaan ini sekali lagi memberi angin kepada tentara Salib, yang selama ini dapat ditahan oleh Nuruddin Mahmud dan panglimanya yang gagah berani, Jenderal Sherkoh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atas nasihat Gumushtagin, Malikus Saleh mengundurkan diri ke kota Aleppo, dengan meninggalkan Damaskus diserbu oleh tentara Perancis. Tentara Salib dengan segera menduduki ibukota kerajaan itu, dan hanya bersedia untuk menghancurkan kota itu setelah menerima uang tebusan yang sangat besar. Peristiwa itu menimbulkan amarah Shalahuddin al-Ayyubi yang segera ke Damaskus dengan suatu pasukan yang kecil dan merebut kembali kota itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah ia berhasil menduduki Damaskus dia tidak terus memasuki istana rajanya Nuruddin Mahmud, melainkan bertempat di rumah orang tuanya. Umat Islam sebaliknya sangat kecewa akan tingkah laku Malikus Saleh. dan mengajukan tuntutan kepada Shalahuddin untuk memerintah daerah mereka. Tetapi Shalahuddin hanya mau memerintah atas nama raja muda Malikus Saleh. Ketika Malikus Saleh meninggal dunia pada tahun 1182 Masehi, kekuasaan Shalahuddin telah diakui oleh semua raja-raja di Asia Barat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diadakanlah gencatan senjata antara Sultan Shalahuddin dan tentara Perancis di Palestina, tetapi menurut ahli sejarah Perancis Michaud: “Kaum Muslimin memegang teguh perjanjiannya, sedangkan golongan Nasrani memberi isyarat untuk memulai lagi peperangan.” Berlawanan dengan syarat-syarat gencatan senjata, penguasa Nasrani Renanud atau Reginald dari Castillon menyerang suatu kafilah Muslim yang lewat di dekat istananya, membunuh sejumlah anggotanya dan merampas harta bendanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantaran peristiwa itu Sultan sekarang bebas untuk bertindak. Dengan siasat perang yang tangkas Sultan Shalahuddin mengurung pasukan musuh yang kuat itu di dekat bukit Hittin pada tahun 1187 M serta menghancurkannya dengan kerugian yang amat besar. Sultan tidak memberikan kesempatan lagi kepada tentara Nasrani untuk menyusun kekuatan kembali dan melanjutkan serangannya setelah kemenangan di bukit Hittin. Dalam waktu yang sangat singkat dia telah dapat merebut kembali sejumlah kota yang diduduki kaum Nasrani, termasuk kota-kota Naplus, Jericho, Ramlah, Caosorea, Arsuf, Jaffa dan Beirut. Demikian juga Ascalon telah dapat diduduki Shalahuddin sehabis pertempuran yang singkat yang diselesaikan dengan syarat-syarat yang sangat ringan oleh Sultan yang berhati mulia itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang Shalahuddin menghadapkan perhatian sepenuhnya terhadap kota Jerusalem yang diduduki tentara Salib dengan kekuatan melebihi enam puluh ribu prajurit. Ternyata tentara salib ini tidak sanggup menahan serbuan pasukan Sultan dan menyerah pada tahun 1193. Sikap penuh perikemanusiaan Sultan Shalahuddin dalam memperlakukan tentara Nasrani itu merupakan suatu gambaran yang berbeda seperti langit dan bumi, dengan perlakuan dan pembunuhan secara besar-besaran yang dialami kaum Muslimin ketika dikalahkan oleh tentara Salib sekitar satu abad sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut penuturan ahli sejarah Michaud, pada waktu Jerusalem direbut oleh tentara Salib pada tahun 1099 Masehi, kaum Muslimin dibunuh secara besar-besaran di jalan-jalan raya dan di rumah-rumah kediaman. Jerusalem tidak memiliki tempat berlindung bagi umat Islam yang menderita kekalahan itu. Ada yang melarikan diri dari cengkeraman musuh dengan menjatuhkan diri dari tembok-tembok yang tinggi, ada yang lari masuk istana, menara-menara, dan tak kurang pula yang masuk masjid. Tetapi mereka tidak terlepas dari kejaran tentara Salib. Tentara Salib yang menduduki masjid Umar di mana kaum Muslimin dapat bertahan untuk waktu yang singkat. mengulangl lagi tindakan-tindakan yang penuh kekejaman. Pasukan infanteri dan kavaleri menyerbu kaum pengungsi yang lari tunggang langgang. Di tengah-tengah kekacaubalauan kaum peenyerbu itu yang terdengar hanyalah erangan dan teriakan maut. Pahlawan Salib yang berjasa itu berjalan menginjak-injak tumpukan mayat Muslimin, mengejar mereka yang masih berusaha dengan sia-sia melarikan diri. Raymond d’ Angiles yang menyaksikan peristiwa itu mengatakan bahwa “di serambi masjid mengalir darah sampai setinggi lutut, dan sampai ke tali tukang kuda prajurit.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyembelihan manusia biadab ini berhenti sejenak, ketika tentara Salib berkumpul untuk melakukan misa syukur atas kemenangan yang telah mereka peroleh. Tetapi setelah beribadah itu, mereka melanjutkan kebiadaban dengan keganasan. “Semua tawanan” kata Michaud, “yang tertolong nasibnya karena kelelahan tentara Salib yang semula tertolong karena mengharapkan diganti dengan uang tebusan yang besar, semua dibunuh dengan tanpa ampun. Kaum Muslimin terpaksa menjatuhkan diri mereka dari menara dan rumah kediaman; mereka dibakar hidup-hidup, mereka diseret dari tempat persembunyiannya di bawah tanah; mereka dipancing dari tempat perlindungannya agar keluar untuk dibunuh di atas timbunan mayat.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cucuran air mata kaum wanita, pekikan anak-anak yang tak bersalah, bahkan juga kenangan dari tempat di mana Nabi lsa memaafkan algojo-algojonya, tidak dapat meredakan nafsu angkara tentara yang menang itu. Penyembelihan kejam itu berlangsung selama seminggu. Dan sejumlah kecil yang dapat melarikan diri dari pembunuhan jatuh menjadi budak yang hina dina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang ahli sejarah Barat, Mill menambahkan pula: “Telah diputuskan, bahwa kaum Muslimin tidak boleh diberi ampun. Rakyat yang ditaklukkan oleh karena itu harus diseret ke tempat-tempat umum untuk dibunuh hidup-hidup. Ibu-ibu dengan anak yang melengket pada buah dadanya, anak-anak laki-laki dan perempuan, seluruhnya disembelih. Lapangan-Iapangan kota, jalan-jalan raya, bahkan pelosok-pelosok Jerusalem yang sepi telah dipenuhi oleh bangkai-bangkai mayat laki-laki dan perempuan, dan anggota tubuh anak-anak. Tiada hati yang menaruh belas kasih atau teringat untuk berbuat kebajikan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah rangkaian riwayat pembantaian secara masal kaum Muslimin di Jerusalem sekira satu abad sebelum Sultan Shalahuddin merebut kembali kota suci, di mana lebih dari tujuh puluh ribu umat Islam yang tewas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebaliknya, ketika Sultan Shalahuddin merebut kembali kota Jerusalem pada tahun 1193 M, dia memberi pengampunan umum kepada penduduk Nasrani untuk tinggal di kota itu. Hanya para prajurit Salib yang diharuskan meninggalkan kota dengan pembayaran uang tebusan yang ringan. Bahkan sering terjadi bahwa Sultan Shalahuddin yang mengeluarkan uang tebusan itu dari kantongnya sendiri dan diberikannya pula kemudian alat pengangkutan. Sejumlah kaum wanita Nasrani dengan mendukung anak-anak mereka datang menjumpai Sultan dengan penuh tangis seraya berkata: “Tuan saksikan kami berjalan kaki, para istri serta anak-anak perempuan para prajurit yang telah menjadi tawanan Tuan, kami ingin meninggalkan negeri ini untuk selama-lamanya. Para prajurit itu adalah tumpuan hidup kami. Bila kami kehilangan mereka akan hilang pulalah harapan kami. Bilamana Tuan serahkan mereka kepada kami mereka akan dapat meringankan penderitaan kami dan kami akan mempunyai sandaran hidup.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sultan Shalahuddin sangat tergerak hatinya dengan permohonan mereka itu dan dibebaskannya para suami kaum wanita Nasrani itu. Mereka yang berangkat meninggalkan kota, diperkenankan membawa seluruh harta bendanya. Sikap dan tindakan Sultan Shalahuddin yang penuh kemanusiaan serta dari jiwa yang mulia ini memperlihatkan suasana kontras yang sangat mencolok dengan penyembelihan kaum Muslimin di kota Jerusalem dalam tangan tentara Salib satu abad sebe1umnya. Para komandan pasukan tentara Shalahuddin saling berlomba dalam memberikan pertolongan kepada tentara Salib yang telah dikalahkan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para pelarian Nasrani dari kota Jerusalem itu tidaklah mendapat perlindungan oleh kota-kota yang dikuasai kaum Nasrani. “Banyak kaum Nasrani yang meninggalkan Jerusalem,” kata Mill, pergi menuju Antioch, tetapi panglima Nasrani Bohcmond tidak saja menolak memberikan perlindungan kepada mcreka, bahkan merampasi harta benda mereka. Maka pergilah mereka menuju ke tanah kaum Muslimin dan diterima di sana dengan baik. Michaud mcmberikan keterangan yang panjang lebar tentang sikap kaum Nasrani yang tak berperikemanusiaan ini terhadap para pelarian Nasrani dari Jerusalem. Tripoli menutup pintu kotanya dari pengungsi ini, kata Michaud. “Seorang wanita karena putus asa melemparkan anak bayinya ke dalam laut sambil menyumpahi kaum Nasrani yang menolak untuk memberikan pertolongan kepadanya,” kata Michaud. Sebaliknya Sultan Shalahuddin bersikap penuh timbang rasa terhadap kaum Nasrani yang ditaklukkan itu. Sebagai pertimbangan terhadap perasaan mereka, dia tidak memasuki Jerusalem sebelum mereka meninggalkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Jerusalem Sultan Shalahuddin mengarahkan pasukannya ke kota Tyre, di mana tentara Salib yang tidak tahu berterima kasih terhadap Sultan Shalahuddin yang telah mengampuninya di Jerusalem, menyusun kekuatan kembali untuk melawan Sultan. Sultan Shalahuddin menaklukkan sejumlah kota yang diduduki oleh tentara Salib di pinggir pantai, termasuk kota Laodicea, Jabala, Saihun, Becas, dan Debersak. Sultan telah melepas hulu balang Perancis bernama Guy de Lusignan dengan perjanjian, bahwa dia harus segera pulang ke Eropa. Tetapi tidak lama setelah pangeran Nasrani yang tak tahu berterima kasih ini mendapatkan kebebasannya, dia mengingkari janjinya dan mengumpulkan suatu pasukan yang cukup besar dan mengepung kota Ptolemais.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jatuhnya Jerusalem ke tangan kaum Muslimin menimbulkan kegusaran besar di kalangan dunia Nasrani. Sehingga mereka segera mengirimkan bala bantuan dari seluruh pelosok Eropa. Kaisar Jerman dan Perancis serta raja Inggris Richard Lion Heart segera berangkat dengan pasukan yang besar untuk merebut tanah suci dari tangan kaum Muslimin. Mereka mengepung kota Akkra yang tidak dapat direbut selama berapa bulan. Dalam sejumlah pertempuran terbuka, tentara Salib mengalami kekalahan dengan meninggalkan korban yang cukup besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang yang harus dihadapi Sultan Shalahuddin ialah berupa pasukan gabungan dari Eropa. Bala bantuan tentara Salib mengalir ke arah kota suci tanpa putus-putusnya, dan sungguh pun kekalahan dialami mereka secara bertubi-tubi, namun demikian tentara Salib ini jumlah semakin besar juga. Kota Akkra yang dibela tentara Islam berbulan-bulan lamanya menghadapi tentara pilihan dari Eropa, akhirnya karena kehabisan bahan makanan terpaksa menyerah kepada musuh dengan syarat yang disetujui bersama secara khidmat, bahwa tidak akan dilakukan pembunuhan-pembunuhan dan bahwa mereka diharuskan membayar uang tebusan sejumlah 200.000 emas kepada pimpinan pasukan Salib. Karena kelambatan dalam suatu penyelesaian uang tebusan ini, Raja Richard Lionheart menyuruh membunuh kaum Muslimin yang tak berdaya itu dengan dan hati yang dingin di hadapan pandangan mata saudara sesama kaum Muslimin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perilaku Raja Inggris ini tentu saja sangat menusuk perasaan hati Sultan Shalahuddin. Dia bernadzar untuk menuntut bela atas darah kaum Muslimin yang tak bersalah itu. Dalam pertempuran yang berkecamuk sepanjang 150 mil garis pantai, Sultan Shalahuddin memberikan pukulan-pukulan yang berat terhadap tentara Salib.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya Raja Inggris yang berhati singa itu mengajukan permintaan damai yang diterima oleh Sultan. Raja itu merasakan bahwa yang dihadapinya adalah seorang yang berkemauan baja dan tenaga yang tak terbatas serta menyadari betapa sia-sianya melanjutkan perjuangan terhadap orang yang demikian itu. Dalam bulan September 1192 Masehi dibuatlah perjanjian perdamaian. Tentara Salib itu meninggalkan tanah suci dengan ransel dengan barang-barangnya kembali menuju Eropa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Berakhirlah dengan demikian serbuan tentara Salib itu” tulis Michaud “di mana gabungan pasukan pilihan dari Barat merebut kemenangan tidak lebih daripada kejatuhan kota Akkra dan kehancuran kota Askalon. Dalam pertempuran itu Jerman kehilangan seorang kaisarnya yang besar beserta kehancuran tentara pilihannya. Lebih dari enam ratus ribu orang pasukan Salib mendarat di depan kota Akkra dan yang kembali pulang ke negerinya tidak lebih dari seratus ribu orang. Dapatlah dipahami mengapa Eropa dengan penuh kesedihan menerima hasil perjuangan tentara Salib itu, oleh karena yang turut dalam pertempuran terakhir adalah tentara pilihan. Bunga kesatria Barat yang menjadi kebanggaan Eropa telah turut dalam pertempuran ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sultan Shalahuddin mengakhiri sisa-sisa hidupnya dengan kegiatan-kegiatan bagi kesejahteraan masyarakat dengan membangun rumah sakit, sekolah-sekolah, perguruan-perguruan tinggi serta masjid-masjid di seluruh daerah yang diperintahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi sayang, dia tidaklah ditakdirkan untuk lama merasakan nikmat perdamaian. Beberapa bulan kemudian dia pulang ke rahmatullah pada tanggal 4 Maret tahun 1193. “Hari itu merupakan hari musibah besar, yang belum pernah dirasakan oleh dunia Islam dan kaum Muslimin, semenjak mereka kehilangan Khulafa Ar-Rasyidin” demikian tulis seorang penulis Islam. Kalangan Istana seluruh daerah kerajaan berikut seluruh umat Islam tenggelam dalam lautan duka nestapa. Seluruh isi kota mengikuti usungan jenazahnya ke kuburan dengan penuh kesedihan dan tangisan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah berakhirnya kehidupan Sultan Shalahuddin, seorang raja yang sangat dalam perikemanusiaannya dan tak ada tolok bandingannya, jiwa kepahlawanan yang dimilikinya dalam sejarah kemanusiaan. Dalam pribadinya, Allah telah melimpahkan hati seorang Muslim yang penuh kasih sayang terhadap kemanusiaan dicampur dengan sangat harmonis dengan keperkasaan seorang genius dalam medan pertempuran. Utusan yang menyampaikan berita kematiannnya itu ke Baghdad membawa serta baju perangnya, kudanya, uang sebanyak satu dinar dan 36 dirham sebagai milik pribadinya yang masih ketinggalan. Orang yang hidup satu zaman dengannya, serta segenap ahli sejarah sama sependapat bahwa Sultan Shalahuddin adalah seorang yang sangat lemah lembut hatinya, ramah tamah, sabar, seorang sahabat yang baik dari kaum cendekiawan dan golongan ulama yang diperlakukannya dengan rasa hormat yang mendalam serta dengan penuh kebajikan. “Di Eropa” tulis Philip K Hitti, dia telah menyentuh alam khayalan para penyanyi maupun para penulis novel zaman sekarang, dan masih tetap dinilai sebagai suri teladan kaum kesatria.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga Allah melapangkan kuburnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disarikan dari:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Shalahuddin al-Ayyubi, oleh Kwaja Jamil Ahmad (Lihat: Suara Masjid No. 91, Jumadil Akhir-Rajab 1402 H/April 1982 M)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. The Preaching of Islam, oleh Thomas W. Arnold&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dikutip ari www.hudzaifah.org&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6496427822632927265-7925932398089342157?l=akhimuammar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://akhimuammar.blogspot.com/feeds/7925932398089342157/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6496427822632927265&amp;postID=7925932398089342157' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6496427822632927265/posts/default/7925932398089342157'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6496427822632927265/posts/default/7925932398089342157'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://akhimuammar.blogspot.com/2008/05/shalahuddin-al-ayyubi.html' title='SHALAHUDDIN AL AYYUBI'/><author><name>muammar_ikhwan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09232577519138736451</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_jirrn9uMBd0/R2XC7Uy2JGI/AAAAAAAAABA/v18DfXzrmhE/S220/Muamar.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6496427822632927265.post-8152696678687090482</id><published>2008-05-23T00:43:00.001-07:00</published><updated>2008-05-23T00:47:45.147-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kisah salafiyyun'/><title type='text'>SYAHIDNYA IBNU TAIMIYAH</title><content type='html'>Nama lengkap beliau adalah Taqiyuddin Abdul Abbas Ahmad bin Abdul Salam bin Abdullah bin Muhammad bin Taimiyah Al-Harrani Al-Hambali, yang lahir pada hari Senin, 10 Rabiul Awwal 66l H. (22 Januari 1263 M) di Harran. Ayah beliau adalah seorang alim ahli agama, seorang besar dalam bidang agama Islam, iaitu Syihabuddin Abu Ahmad Halim Ibnu Taimiyah. Ayah beliau ini adalah seorang Imam Muhaqqiq yang banyak ilmunya, meninggal tahun 681H Neneknya adalah Syeikhul Islam, Majduddin Abul Barakat Abbas Salam Ibnu Taimiyah, seorang Hafiz Hadith yang ternama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kerana diburu oleh bangsa Monggol, maka ayah beliau pindah ke Damaskus dengan seluruh keluarganya. Di Damaskus itulah beliau mempelajari agama Islam, yang ternyata sebagai anak yang cerdas. Guru beliau antara lain adalah ulama besar yang bernama Zainuddin Abdul Daim Al-Mukaddasi, Najmuddin Ibnu Asakir, dan seorang ulama perempuan terkenal, Zainab binti Makki, dan sebagainya yang lebih dari seratus guru lagi banyaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau kuat ingatan, cepat hafal, lekas faham, dan tidak bosan membaca serta tidak pernah beristirehat di dalam menambah ilmu, juga dalam perjuangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah ayah beliau meninggal dunia, beliau menggantikan ayah beliau mengajarkan ilmu fiqh dalam mazhab Hambali dan dalam ilmu tafsir. Pada tahun 691H. (1292 M) beliau pergi haji, dan di Kota Makkah beliau bertemu dengan ramai ulama besar. Ramai ulama yang beliau tinggalkan namanya kerana salah dalam sesuatu debat dan pendapat di dalam masalah hukum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah Ibnu Taimiyah, ulama besar yang merengkuk dalam penjara Mesir. Baru saja beliau bebas dari penjara, kemudian ditangkap lagi dan dipenjarakan yang kedua kalinya selama setengah tahun lagi. Sebabnya kerana beliau menulis sebuah kitab yang isinya tentang masalah ketuhanan yang tidak disetujui oleh para ulama. Di dalam, penjara yang hanya setengah tahun itu beliau berhasil menginsafkan banduan yang merengkok bersama beliau sehingga semua yang insaf itu menjadi pendukung beliau dan menjadi pengikut yang setia. (Ada sumber yang mengatakan bahawa di penjara yang kedua ini selama satu setengah tahun lagi lamanya).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun isi kitab yang menyebabkan beliau di penjara yang kedua itu adalah beliau menentang ajaran Tasawwuf Ittihadiyah yang menyatakan bahawa Allah boleh hulul (bertempat) dalam tubuh makhluk. Jelasnya kepercayaan hulul ialah kepercayaan bahawa Allah bersemayam dalam tubuh salah seorang yang memungkinkan untuk itu kerana kemurnian jiwanya atau kesucian rohnya. Adapun kepercayaan ittihad (Al-lttihad) ialah kepercayaan tentang Allah yang dapat bersatu dengan manusia. Apabila telah terjadi ittihad, maka orang yang bersangkutan tak sedar diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini mereka namakan makwu, atau sampai kepada tingkat lenyapnya zat yang fana dengan Zat Allah yang baqa. Kalau sudah sampai tingkat yang begini, maka segala yang diucapkan tidak terkena hukum syirik walaupun pada zahirnya syirik, kerana orang yang mengucapkan itu sedang dalam keadaan sukar atau mabuk kepayang. Di antara kaum sufi dan Guru Thariqat mempercayai melancarkan faham ini adalah Umar Ibnul Faridh dan Ibnu ‘Ath’allal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah faham sesat yang beliau tentang, tetapi beliau bahkan di penjara selama satu setengah tahun di Syam.&lt;br /&gt;Baru beberapa hari keluar dari penjara yang kedua, ia ditangkap lagi dan dipenjarakan selama lapan bulan lamanya di Aleksandria, kerana fatwa beliau pula yang tidak sesuai dengan faham para ulama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keluar dari penjara Aleksandria, beliau dipanggil oleh Sultan Nashir Qalaun untuk memberikan fatwa di muka umum. Sebabnya sampai sikap sultan demikian ialah kerana sultan senang terhadap sifat terus-terang beliau. Beliau bersedia memberikan fatwa atau ceramah di muka umum, dan ternyata fatwa beliau itu menggemparkan para ulama yang bermazhab Syafi’e, namun beliau tetap dikasihi oleh Sultan. Bahkan beliau mendapat tawaran menjadi professor pada sebuah Sekolah Tinggi yang didirikan oleh Putera Mahkota.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam tahun 1313 beliau diminta untuk memimpin peperangan lagi ke Syiria. Beliau diangkat menjadi professor lagi dalam sebuah Sekolah Tinggi, tetapi pada bulan Ogos 1318 beliau dilarang mengeluarkan fatwa oleh Penguasa, padahal fatwa-fatwa beliau itu diperlukan umat saat itu. Dengan diam-diam para murid beliau mengumpulkan fatwa-fatwa beliau yang cemerlang itu dan berhasil dibukukan, kemudian dicetak, yang bernama “Fatwa Ibnu Taimiyah” Alangkah sedih hati rakyat yang ternyata masih ramai yang mencintai beliau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka tetap mendatangi beliau minta fatwa-fatwa, terlebih lagi rakyat baru lepas rindunya terhadap beliau yang baru pulang ke Kota Damsyik yang beliau tinggalkan selama lebih dari tujuh tahun, dalam waktu itu beliau hidup dari penjara ke penjara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa waktu kemudian beliau ditangkap lagi dan dipenjarakan yang keempat kalinya selama lima bulan lapan hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah hidup beliau, dari penjara ke penjara. Semua perkara yang dijadikan masalah telah beliau keluarkan fatwanya. Soal talak tiga di dalam satu majlis hanya satu yang jatuh, tentang beliau melarang berziarah ke Masjid atas kubur keramat kecuali Masjid Haram di Makkah dan Masjid Nabawi di Madinah dan Baitul Muqaddis di Jerusalem. Juga sekitar masalah keTuhanan dan memurnikan ajaran Islam, mengamalkan ibadah yang murni menurut faham yang terdahulu, iaitu faham salaf. Juga masalah syirik dan bid’ah yang membahayakan akidah Islam beliau tentang, agar Islam kembali kepada kemurniannya seperti zaman salaf.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang terakhir beliau ditangkap lagi atas perintah Sultan dalam bulan Sya’ban 726 H. (Julai 1326 M) dan kemudian dipenjarakan yang kelima kalinya selama 20 bulan. Kali ini kamar tahanannya amat sempit dan bertembok tebal. Dalam kamar tahanannya itu beliau tetap menulis, kerana menulis itu yang membawa kebahagiaan bagi beliau. Beliau dilarang berfatwa kemudian menulis, bahkan isi tulisannya sangat bagus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka walaupun beliau hidup dalam lingkungan tembok penjara yang tebal, tetapi hati beliau tidak sedih dan tidak pula gundah. Dalam penjara inilah beliau berkata yang kemudian terkenal sampai sekarang, iaitu: “Orang yang terpenjara ialah yang dipenjara syaitan, orang yang terkurung ialah orang yang dikurung syaitan. Dan dipenjara yang sebenarnya ialah yang dipenjarakan hawa nafsunya. Bila orang-orang yang memenjarakan saya ini tahu bahawa saya dalam penjara ini merasa bahagia dan merasa merdeka, maka merekapun akan dengki atas kemerdekaan saya ini, dan akhirnya mereka tentulah mengeluarkan saya dari penjara ini.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah petugas tahu bahawa beliau dalam penjara terus menulis, maka semua kitab dan alat-alat tulis beliau dirampas dan dikeluarkan dari kamar penjara. Itulah hukuman yang paling kejam bagi beliau. Keadaan ini beliau terima dengan hati sedih dan bercucuran air mata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam penjara terakhir ini beliau bersama dengan para murid beliau yang juga dimasukkan dalam tahanan. Namun semua pengikut beliau yang ditahan itu telah dibebaskan, kecuali seorang murid beliau yang paling setia yang masih menyertai beliau dalam penjara, iaitu Ibnul Qayyim Al-Jauziyah (691-751H).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah tidak boleh menulis lagi, beliau pun mengambil kitab suci Al-Quran yang tidak ikut dirampas. Beliau baca Al-Quran itu sampai penat, kemudian berzikir dan solat, membaca Al-Quran lagi bertilawat, kemudian solat dan berzikir. Demikianlah yang beliau kerjakan, sehingga sejak beliau tidak boleh menulis telah menamatkan (mengkhatamkan) membaca Al-Quran 80 (lapan puluh kali).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan ketika beliau membaca akan masuk ke 81 kalinya, tetapi ketika sampai kepada ayat yang ertinya,” … Sesungguhnya orang yang muttaqin itu akan duduk di dalam syurga dan sungai-sungai yang mengalir di bawahnya, di dalam kedudukan yang benar, pada sisi Tuhan Allah Yang Maha Kuasa.” Beliau pun tidak dapat meneruskan bacaannya lagi, kerana jatuh sakit selama 20 hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu beliau telah berusia 67 tahun, dan telah merengkuk dalam penjara yang terakhir itu selama lebih dari 20 bulan lamanya, dan ketika itu sakit beliau semakin bertambah. Orang ramai tidak mengetahui bahawa beliau dalam keadaan sakit, kerana yang mengurus diri beliau hanyalah Ibnul Qayyim Al-Jauziyah muridnya yang setia. Baru setelah muadzin berseru dari atas menara bahawa beliau telah pulang ke rahmatullah, berduyun-duyun orang mengerumuni gerbang penjara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ramai orang yang terisak menangis dan meratapi kematian beliau. Juga ramai orang yang ingin mengambil berkah dari hanya melihat wajah beliau, memegang jenazah beliau dan bahkan ada yang mencium beliau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau meninggal dunia hari Isnin, 20 Zul Kaedah 728 H. (26-28 September 1328 M), dalam usia 67 tahun, setelah sakit dalam penjara lebih dari 20 hari. Beliau menghembuskan nafas yang terakhir di atas tikar solatnya, sedang dalam keadaan membaca Al-Quran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun begitu beliau seorang yang banyak dibenci terutama oleh mereka yang bermazhab Syafi’e, tetapi jenazah beliau diiringkan ke pusara oleh 200,000 orang lelaki dan 15,000 orang wanita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah akibat yang dialami oleh beliau dalam memperjuangkan kebenaran, demi tegaknya agama Islam di atas dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sumber google&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6496427822632927265-8152696678687090482?l=akhimuammar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://akhimuammar.blogspot.com/feeds/8152696678687090482/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6496427822632927265&amp;postID=8152696678687090482' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6496427822632927265/posts/default/8152696678687090482'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6496427822632927265/posts/default/8152696678687090482'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://akhimuammar.blogspot.com/2008/05/syahidnya-ibnu-taimiyah_23.html' title='SYAHIDNYA IBNU TAIMIYAH'/><author><name>muammar_ikhwan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09232577519138736451</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_jirrn9uMBd0/R2XC7Uy2JGI/AAAAAAAAABA/v18DfXzrmhE/S220/Muamar.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6496427822632927265.post-5138926457990350155</id><published>2008-05-23T00:43:00.000-07:00</published><updated>2008-05-23T01:35:59.941-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kisah salafiyyun'/><title type='text'>SYAHIDNYA IBNU TAIMIYAH</title><content type='html'>Nama lengkap beliau adalah Taqiyuddin Abdul Abbas Ahmad bin Abdul Salam bin Abdullah bin Muhammad bin Taimiyah Al-Harrani Al-Hambali, yang lahir pada hari Senin, 10 Rabiul Awwal 66l H. (22 Januari 1263 M) di Harran. Ayah beliau adalah seorang alim ahli agama, seorang besar dalam bidang agama Islam, iaitu Syihabuddin Abu Ahmad Halim Ibnu Taimiyah. Ayah beliau ini adalah seorang Imam Muhaqqiq yang banyak ilmunya, meninggal tahun 681H Neneknya adalah Syeikhul Islam, Majduddin Abul Barakat Abbas Salam Ibnu Taimiyah, seorang Hafiz Hadith yang ternama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kerana diburu oleh bangsa Monggol, maka ayah beliau pindah ke Damaskus dengan seluruh keluarganya. Di Damaskus itulah beliau mempelajari agama Islam, yang ternyata sebagai anak yang cerdas. Guru beliau antara lain adalah ulama besar yang bernama Zainuddin Abdul Daim Al-Mukaddasi, Najmuddin Ibnu Asakir, dan seorang ulama perempuan terkenal, Zainab binti Makki, dan sebagainya yang lebih dari seratus guru lagi banyaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau kuat ingatan, cepat hafal, lekas faham, dan tidak bosan membaca serta tidak pernah beristirehat di dalam menambah ilmu, juga dalam perjuangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah ayah beliau meninggal dunia, beliau menggantikan ayah beliau mengajarkan ilmu fiqh dalam mazhab Hambali dan dalam ilmu tafsir. Pada tahun 691H. (1292 M) beliau pergi haji, dan di Kota Makkah beliau bertemu dengan ramai ulama besar. Ramai ulama yang beliau tinggalkan namanya kerana salah dalam sesuatu debat dan pendapat di dalam masalah hukum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah Ibnu Taimiyah, ulama besar yang merengkuk dalam penjara Mesir. Baru saja beliau bebas dari penjara, kemudian ditangkap lagi dan dipenjarakan yang kedua kalinya selama setengah tahun lagi. Sebabnya kerana beliau menulis sebuah kitab yang isinya tentang masalah ketuhanan yang tidak disetujui oleh para ulama. Di dalam, penjara yang hanya setengah tahun itu beliau berhasil menginsafkan banduan yang merengkok bersama beliau sehingga semua yang insaf itu menjadi pendukung beliau dan menjadi pengikut yang setia. (Ada sumber yang mengatakan bahawa di penjara yang kedua ini selama satu setengah tahun lagi lamanya).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun isi kitab yang menyebabkan beliau di penjara yang kedua itu adalah beliau menentang ajaran Tasawwuf Ittihadiyah yang menyatakan bahawa Allah boleh hulul (bertempat) dalam tubuh makhluk. Jelasnya kepercayaan hulul ialah kepercayaan bahawa Allah bersemayam dalam tubuh salah seorang yang memungkinkan untuk itu kerana kemurnian jiwanya atau kesucian rohnya. Adapun kepercayaan ittihad (Al-lttihad) ialah kepercayaan tentang Allah yang dapat bersatu dengan manusia. Apabila telah terjadi ittihad, maka orang yang bersangkutan tak sedar diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini mereka namakan makwu, atau sampai kepada tingkat lenyapnya zat yang fana dengan Zat Allah yang baqa. Kalau sudah sampai tingkat yang begini, maka segala yang diucapkan tidak terkena hukum syirik walaupun pada zahirnya syirik, kerana orang yang mengucapkan itu sedang dalam keadaan sukar atau mabuk kepayang. Di antara kaum sufi dan Guru Thariqat mempercayai melancarkan faham ini adalah Umar Ibnul Faridh dan Ibnu ‘Ath’allal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah faham sesat yang beliau tentang, tetapi beliau bahkan di penjara selama satu setengah tahun di Syam.&lt;br /&gt;Baru beberapa hari keluar dari penjara yang kedua, ia ditangkap lagi dan dipenjarakan selama lapan bulan lamanya di Aleksandria, kerana fatwa beliau pula yang tidak sesuai dengan faham para ulama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keluar dari penjara Aleksandria, beliau dipanggil oleh Sultan Nashir Qalaun untuk memberikan fatwa di muka umum. Sebabnya sampai sikap sultan demikian ialah kerana sultan senang terhadap sifat terus-terang beliau. Beliau bersedia memberikan fatwa atau ceramah di muka umum, dan ternyata fatwa beliau itu menggemparkan para ulama yang bermazhab Syafi’e, namun beliau tetap dikasihi oleh Sultan. Bahkan beliau mendapat tawaran menjadi professor pada sebuah Sekolah Tinggi yang didirikan oleh Putera Mahkota.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam tahun 1313 beliau diminta untuk memimpin peperangan lagi ke Syiria. Beliau diangkat menjadi professor lagi dalam sebuah Sekolah Tinggi, tetapi pada bulan Ogos 1318 beliau dilarang mengeluarkan fatwa oleh Penguasa, padahal fatwa-fatwa beliau itu diperlukan umat saat itu. Dengan diam-diam para murid beliau mengumpulkan fatwa-fatwa beliau yang cemerlang itu dan berhasil dibukukan, kemudian dicetak, yang bernama “Fatwa Ibnu Taimiyah” Alangkah sedih hati rakyat yang ternyata masih ramai yang mencintai beliau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka tetap mendatangi beliau minta fatwa-fatwa, terlebih lagi rakyat baru lepas rindunya terhadap beliau yang baru pulang ke Kota Damsyik yang beliau tinggalkan selama lebih dari tujuh tahun, dalam waktu itu beliau hidup dari penjara ke penjara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa waktu kemudian beliau ditangkap lagi dan dipenjarakan yang keempat kalinya selama lima bulan lapan hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah hidup beliau, dari penjara ke penjara. Semua perkara yang dijadikan masalah telah beliau keluarkan fatwanya. Soal talak tiga di dalam satu majlis hanya satu yang jatuh, tentang beliau melarang berziarah ke Masjid atas kubur keramat kecuali Masjid Haram di Makkah dan Masjid Nabawi di Madinah dan Baitul Muqaddis di Jerusalem. Juga sekitar masalah keTuhanan dan memurnikan ajaran Islam, mengamalkan ibadah yang murni menurut faham yang terdahulu, iaitu faham salaf. Juga masalah syirik dan bid’ah yang membahayakan akidah Islam beliau tentang, agar Islam kembali kepada kemurniannya seperti zaman salaf.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang terakhir beliau ditangkap lagi atas perintah Sultan dalam bulan Sya’ban 726 H. (Julai 1326 M) dan kemudian dipenjarakan yang kelima kalinya selama 20 bulan. Kali ini kamar tahanannya amat sempit dan bertembok tebal. Dalam kamar tahanannya itu beliau tetap menulis, kerana menulis itu yang membawa kebahagiaan bagi beliau. Beliau dilarang berfatwa kemudian menulis, bahkan isi tulisannya sangat bagus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka walaupun beliau hidup dalam lingkungan tembok penjara yang tebal, tetapi hati beliau tidak sedih dan tidak pula gundah. Dalam penjara inilah beliau berkata yang kemudian terkenal sampai sekarang, iaitu: “Orang yang terpenjara ialah yang dipenjara syaitan, orang yang terkurung ialah orang yang dikurung syaitan. Dan dipenjara yang sebenarnya ialah yang dipenjarakan hawa nafsunya. Bila orang-orang yang memenjarakan saya ini tahu bahawa saya dalam penjara ini merasa bahagia dan merasa merdeka, maka merekapun akan dengki atas kemerdekaan saya ini, dan akhirnya mereka tentulah mengeluarkan saya dari penjara ini.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah petugas tahu bahawa beliau dalam penjara terus menulis, maka semua kitab dan alat-alat tulis beliau dirampas dan dikeluarkan dari kamar penjara. Itulah hukuman yang paling kejam bagi beliau. Keadaan ini beliau terima dengan hati sedih dan bercucuran air mata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam penjara terakhir ini beliau bersama dengan para murid beliau yang juga dimasukkan dalam tahanan. Namun semua pengikut beliau yang ditahan itu telah dibebaskan, kecuali seorang murid beliau yang paling setia yang masih menyertai beliau dalam penjara, iaitu Ibnul Qayyim Al-Jauziyah (691-751H).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah tidak boleh menulis lagi, beliau pun mengambil kitab suci Al-Quran yang tidak ikut dirampas. Beliau baca Al-Quran itu sampai penat, kemudian berzikir dan solat, membaca Al-Quran lagi bertilawat, kemudian solat dan berzikir. Demikianlah yang beliau kerjakan, sehingga sejak beliau tidak boleh menulis telah menamatkan (mengkhatamkan) membaca Al-Quran 80 (lapan puluh kali).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan ketika beliau membaca akan masuk ke 81 kalinya, tetapi ketika sampai kepada ayat yang ertinya,” … Sesungguhnya orang yang muttaqin itu akan duduk di dalam syurga dan sungai-sungai yang mengalir di bawahnya, di dalam kedudukan yang benar, pada sisi Tuhan Allah Yang Maha Kuasa.” Beliau pun tidak dapat meneruskan bacaannya lagi, kerana jatuh sakit selama 20 hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu beliau telah berusia 67 tahun, dan telah merengkuk dalam penjara yang terakhir itu selama lebih dari 20 bulan lamanya, dan ketika itu sakit beliau semakin bertambah. Orang ramai tidak mengetahui bahawa beliau dalam keadaan sakit, kerana yang mengurus diri beliau hanyalah Ibnul Qayyim Al-Jauziyah muridnya yang setia. Baru setelah muadzin berseru dari atas menara bahawa beliau telah pulang ke rahmatullah, berduyun-duyun orang mengerumuni gerbang penjara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ramai orang yang terisak menangis dan meratapi kematian beliau. Juga ramai orang yang ingin mengambil berkah dari hanya melihat wajah beliau, memegang jenazah beliau dan bahkan ada yang mencium beliau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau meninggal dunia hari Isnin, 20 Zul Kaedah 728 H. (26-28 September 1328 M), dalam usia 67 tahun, setelah sakit dalam penjara lebih dari 20 hari. Beliau menghembuskan nafas yang terakhir di atas tikar solatnya, sedang dalam keadaan membaca Al-Quran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun begitu beliau seorang yang banyak dibenci terutama oleh mereka yang bermazhab Syafi’e, tetapi jenazah beliau diiringkan ke pusara oleh 200,000 orang lelaki dan 15,000 orang wanita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah akibat yang dialami oleh beliau dalam memperjuangkan kebenaran, demi tegaknya agama Islam di atas dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sumber google&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6496427822632927265-5138926457990350155?l=akhimuammar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://akhimuammar.blogspot.com/feeds/5138926457990350155/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6496427822632927265&amp;postID=5138926457990350155' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6496427822632927265/posts/default/5138926457990350155'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6496427822632927265/posts/default/5138926457990350155'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://akhimuammar.blogspot.com/2008/05/syahidnya-ibnu-taimiyah.html' title='SYAHIDNYA IBNU TAIMIYAH'/><author><name>muammar_ikhwan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09232577519138736451</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_jirrn9uMBd0/R2XC7Uy2JGI/AAAAAAAAABA/v18DfXzrmhE/S220/Muamar.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6496427822632927265.post-4498279459047834612</id><published>2008-05-23T00:39:00.000-07:00</published><updated>2008-05-23T00:41:28.616-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerpen islami'/><title type='text'>KETIKA MAS GAGAH PERGI</title><content type='html'>Oleh : Helvi Tyana Rosa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mas gagah berubah! Ya, beberapa bulan belakangan ini masku, sekaligus saudara kandungku satu-satunya itu benar-benar berubah!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mas Gagah Perwira Pratama, masih kuliah di Tehnik Sipil UI semester tujuh. Ia seorang kakak yang sangat baik, cerdas, periang dan tentu saja…ganteng !Mas Gagah juga sudah mampu membiayai sekolahnya sendiri dari hasil mengajar privat untuk anak-anak SMA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak kecil aku sangat dekat dengannya. Tak ada rahasia di antara kami. Ia selalu mengajakku ke mana ia pergi. Ia yang menolong di saat aku butuh pertolongan. Ia menghibur dan membujuk di saat aku bersedih. Membawakan oleh-oleh sepulang sekolah dan mengajariku mengaji. Pendek kata, ia selalu melakukan hal-hal yang baik, menyenangkan dan berarti banyak bagiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat memasuki usia dewasa, kami jadi semakin dekat. Kalau ada saja sedikit waktu kosong, maka kami akan menghabiskannya bersama. Jalan-jalan, nonton film atau konser musik atau sekedar bercanda dengan teman-teman. Mas Gagah yang humoris itu akan membuat lelucon-lelocon santai hingga aku dan teman-temanku tertawa terbahak. Dengan sedan putihnya ia berkeliling mengantar teman-temanku pulang usai kami latihan teater. Kadang kami mampir dan makan-makan dulu di restoran, atau bergembira ria di Dufan Ancol.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ada yang tak menyukai Mas Gagah. Jangankan keluarga atau tetangga, nenek-kakek, orang tua dan adik kakak teman-temanku menyukai sosoknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kakak kamu itu keren, cute, macho dan humoris. Masih kosong nggak sih?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Git, gara-gara kamu bawa Mas Gagah ke rumah, sekarang orang rumahku suka membanding-bandingkan teman cowokku sama Mas Gagah lho! Gila, berabe kan?!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Gimana ya Git, agar Mas Gagah suka padaku?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan banyak lagi lontaran-lontaran senada yang mampir ke kupingku. Aku Cuma mesem-mesem bangga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernah kutanyakan pada Mas Gagah mengapa ia belum juga punya pacar. Apa jawabnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mas belum minat tuh! Kan lagi konsentrasi kuliah. Lagian kalau Mas pacaran…, banyak anggaran. Banyak juga yang patah hati! He..he..he…"Kata Mas Gagah pura-pura serius.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mas Gagah dalam pandanganku adalah cowok ideal. Ia serba segalanya. Ia punya rancangan masa depan, tetapi tak takut menikmati hidup. Ia moderat tetapi tidak pernah meninggalkan shalat!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah Mas Gagah!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi seperti yang telah kukatakan, entah mengapa beberapa bulan belakangan ini ia berubah! Drastis! Dan aku seolah tak mengenal dirinya lagi. Aku sedih. Aku kehilangan. Mas Gagah yang kubanggakan kini entah kemana…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mas Gagah! Mas! Mas Gagaaaaaahhh!" teriakku kesal sambil mengetuk pintu kamar Mas Gagah keras-keras. Tak ada jawaban. Padahal kata Mama, Mas Gagah ada di kamarnya. Kulihat stiker metalik di depan pintu kamar Mas Gagah. Tulisan berbahasa Arab gundul. Tak bisa kubaca. Tetapi aku bisa membaca artinya: Jangan masuk sebelum memberi salam!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Assalaamu’alaikum!"seruku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pintu kamar terbuka dan kulihat senyum lembut Mas Gagah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Wa alaikummussalaam warohmatullahi wabarokatuh. Ada apa Gita? Kok teriak-teriak seperti itu?" tanyanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Matiin kasetnya!"kataku sewot.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Lho memangnya kenapa?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Gita kesel bin sebel dengerin kasetnya Mas Gagah! Memangnya kita orang Arab…, masangnya kok lagu-lagu Arab gitu!" aku cemberut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ini Nasyid. Bukan sekedar nyanyian Arab tapi dzikir, Gita!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bodo!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Lho, kamar ini kan daerah kekuasaannya Mas. Boleh Mas melakukan hal-hal yang Mas sukai dan Mas anggap baik di kamar sendiri," kata Mas Gagah sabar. "Kemarin waktu Mas pasang di ruang tamu, Gita ngambek.., Mama bingung. Jadinya ya dipasang di kamar."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tapi kuping Gita terganggu Mas! Lagi asyik dengerin kaset Air Supply yang baru…,eh tiba-tiba terdengar suara aneh dari kamar Mas!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mas kan pasang kasetnya pelan-pelan…"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pokoknya kedengaran!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya, wis. Kalau begitu Mas ganti aja dengan nasyid yang bahasa Indonesia atau bahasa Inggris. Bagus lho!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ndak, pokoknya Gita nggak mau denger!" Aku ngeloyor pergi sambil membanting pintu kamar Mas Gagah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Heran. Aku benar-benar tak habis pikir mengapa selera musik Mas Gagah jadi begitu. Ke mana kaset-kaset Scorpion, Wham, Elton John, Queen, Eric Claptonnya?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Wah, ini nggak seperti itu Gita! Dengerin Scorpion atau Eric Clapton belum tentu mendatangkan manfaat, apalagi pahala. Lainlah ya dengan nasyid senandung islami. Gita mau denger? Ambil aja di kamar. Mas punya banyak kok!" begitu kata Mas Gagah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya perubahan Mas Gagah nggak Cuma itu. Banyak. Terlalu banyak malah! Meski aku cuma adik kecilnya yang baru kelas dua SMA, aku cukup jeli mengamati perubahan-perubahan itu. Walau bingung untuk mencernanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di satu sisi kuakui Mas Gagah tambah alim. Shalat tepat waktu berjamaah di Mesjid, ngomongnya soal agama terus. Kalau aku iseng mengintip dari lubang kunci, ia pasti lagi ngaji atau membaca buku Islam. Dan kalau aku mampir ke kamarnya, ia dengan senang hati menguraikan isi buku yang dibacanya, atau malah menceramahiku. Ujung-ujungnya "Ayo dong Gita, lebih feminim. Kalau kamu mau pakai rok, Mas rela deh pecahin celengan buat beliin kamu rok atau baju panjang. Muslimah kan harus anggun. Coba adik manis, ngapain sih rambut ditrondolin begitu!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Uh. Padahal dulu Mas Gagah oke-oke saja melihat penampilanku yang tomboy. Dia tahu aku cuma punya dua rok! Ya rok seragam sekolah itu saja! Mas Gagah juga tidak pernah keberatan kalau aku meminjam baju kaos atau kemejanya. Ia sendiri dulu selalu memanggilku Gito, bukan Gita! Eh sekarang pakai panggil adik manis segala!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal lain yang nyebelin, penampilan Mas Gagah jadi aneh. Sering juga Mama menegurnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Penampilanmu kok sekarang lain Gah?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Lain gimana Ma?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya nggak semodis dulu. Nggak dendy lagi. Biasanya kamu kan paling sibuk sama penampilan kamu yang kayak cover boy itu…"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mas Gagah cuma senyum. "Suka begini Ma. Bersih, rapi meski sederhana. Kelihatannya juga lebih santun."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, dalam pandanganku Mas Gagah kelihatan menjadi lebih kuno, dengan kemeja lengan panjang atau baju koko yang dipadu dengan celana panjang semi baggy-nya. "Jadi mirip Pak Gino." Komentarku menyamakannya dengan supir kami. "Untung aja masih lebih ganteng."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mas Gagah cuma tertawa. Mengacak-acak rambutku dan berlalu. Mas Gagah lebih pendiam? Itu juga kurasakan. Sekarang Mas Gagah nggak kocak seperti dulu. Kayaknya dia juga males banget ngobrol lama dan bercanda sama perempuan. Teman-temanku bertanya-tanya. Thera, peragawati sebelah rumah kebingungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan..yang paling gawat, Mas Gagah emoh salaman sama perempuan! Kupikir apa sih maunya Mas Gagah?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sok kece banget sih Mas? Masak nggak mau jabatan tangan sama Tresye? Dia tuh cewek paling beken di sanggar Gita tahu?" tegurku suatu hari. "Jangan gitu dong. Sama aja nggak menghargai orang!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Justru karena Mas menghargai dia, makanya Mas begitu," dalihnya, lagi-lagi dengan nada yang amat sabar. "Gita lihat kan gaya orang Sunda salaman? Santun tetapi nggak sentuhan. Itu yang lebih benar!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Huh, nggak mau salaman. Ngomong nunduk melulu…, sekarang bawa-bawa orang Sunda. Apa hubungannya?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mas Gagah membuka sebuah buku dan menyorongkannya kepadaku."Baca!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kubaca keras-keras. "Dari Aisyah ra. Demi Allah, demi Allah, demi Allah, Rasulullah Saw tidak pernah berjabatan tangan dengan wanita kecuali dengan mahromnya. Hadits Bukhori Muslim."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mas Gagah tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tapi Kyai Anwar mau salaman sama Mama. Haji Kari, Haji Toto, Ustadz Ali…," kataku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bukankah Rasulullah qudwatun hasanah? Teladan terbaik?" Kata Mas Gagah sambil mengusap kepalaku. "Coba untuk mengerti ya dik manis?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dik manis? Coba untuk mengerti? Huh! Dan seperti biasa aku ngeloyor pergi dari kamar Mas Gagah dengan mangkel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurutku Mas Gagah terlalu fanatik. Aku jadi khawatir, apa dia lagi nuntut ilmu putih? Ah, aku juga takut kalau dia terbawa orang-orang sok agamis tapi ngawur. Namun akhirnya aku tidak berani menduga demikian. Mas Gagah orangnya cerdas sekali. Jenius malah. Umurnya baru dua puluh satu tahun tetapi sudah tingkat empat di FT-UI. Dan aku yakin mata batinnya jernih dan tajam. Hanya…yaaa akhir-akhir ini dia berubah. Itu saja. Kutarik napas dalam-dalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mau kemana Gita?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Nonton sama temen-temen." Kataku sambil mengenakan sepatu."Habis Mas Gagah kalau diajak nonton sekarang kebanyakan nolaknya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ikut Mas aja yuk!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ke mana? Ke tempat yang waktu itu lagi? Ogah. Gita kayak orang bego di sana!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku masih ingat jelas. Beberapa waktu lalu Mas Gagah mengajak aku ke rumah temannya. Ada pengajian. Terus pernah juga aku diajak menghadiri tablig akbar di suatu tempat. Bayangin, berapa kali aku diliatin sama cewek lain yang kebanyakan berjilbab itu. Pasalnya aku ke sana dengan memakai kemeja lengan pendek, jeans belel dan ransel kumalku. Belum lagi rambut trondol yang tidak bisa disembunyiin. Sebenarnya Mas Gagah menyuruhku memakai baju panjang dan kerudung yang biasa Mama pakai ngaji. Aku nolak sambil ngancam nggak mau ikut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Assalamualaikum!" terdengar suara beberapa lelaki.&lt;br /&gt;Mas Gagah menjawab salam itu. Tak lama kulihat Mas Gagah dan teman-temannya di ruang tamu. Aku sudah hafal dengan teman-teman Mas Gagah. Masuk, lewat, nunduk-nunduk, nggak ngelirik aku…, persis kelakuannya Mas Gagah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Lewat aja nih, Gita nggak dikenalin?"tanyaku iseng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu nggak ada teman Mas Gagah yang tak akrab denganku. Tapi sekarang, Mas Gagah bahkan nggak memperkenalkan mereka padaku. Padahal teman-temannya lumayan handsome.&lt;br /&gt;Mas Gagah menempelkan telunjuknya di bibir. "Ssssttt."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti biasa aku bisa menebak kegiatan mereka. Pasti ngomongin soal-soal keislaman, diskusi, belajar baca Quran atau bahasa Arab… yaa begitu deh!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Subhanallah, berarti kakak kamu ihkwan dong!" Seru Tika setengah histeris mendengar ceritaku. Teman akrabku ini memang sudah hampir sebulan berjilbab rapi. Memusiumkan semua jeans dan baju-baju you can see-nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ikhwan?’ ulangku. "Makanan apaan tuh? Saudaranya bakwan atau tekwan?" Suaraku yang keras membuat beberapa makhluk di kantin sekolah melirik kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Husy, untuk laki-laki ikhwan dan untuk perempuan akhwat. Artinya saudara. Biasa dipakai untuk menyapa saudara seiman kita." Ujar Tika sambil menghirup es kelapa mudanya. "Kamu tahu Hendra atau Isa kan? Aktivis Rohis kita itu contoh ikhwan paling nyata di sekolah ini."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku manggut-manggut. Lagak Isa dan Hendra memang mirip Mas Gagah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Udah deh Git. Nggak usah bingung. Banyak baca buku Islam. Ngaji. Insya Allah kamu akan tahu menyeluruh tentang agama kita ini. Orang-orang seperti Hendra, Isa atau Mas Gagah bukanlah orang-orang yang error. Mereka hanya berusaha mengamalkan Islam dengan baik dan benar. Kitanya aja yang belum ngerti dan sering salah paham."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku diam. Kulihat kesungguhan di wajah bening Tika, sobat dekatku yang dulu tukang ngocol ini. Tiba-tiba di mataku ia menjelma begitu dewasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Eh kapan kamu main ke rumahku? Mama udah kangen tuh! Aku ingin kita tetap dekat Gita…mesti kita mempunyai pandangan yang berbeda, " ujar Tika tiba-tiba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tik, aku kehilangan kamu. Aku juga kehilangan Mas Gagah…" kataku jujur. "Selama ini aku pura-pura cuek tak peduli. Aku sedih…"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tika menepuk pundakku. Jilbab putihnya bergerak ditiup angin." Aku senang kamu mau membicarakan hal ini denganku. Nginap di rumah, yuk, biar kita bisa cerita banyak. Sekalian kukenalkan dengan Mbak Ana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mbak Ana?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sepupuku yang kuliah di Amerika! Lucu deh, pulang dari Amerika malah pakai jilbab. Ajaib. Itulah hidayah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hidayah."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Nginap ya. Kita ngobrol sampai malam dengan Mbak Ana!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Assalaamualaikum, Mas ikhwan.. eh Mas Gagah!" tegurku ramah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘Eh adik Mas Gagah! Dari mana aja? Bubar sekolah bukannya langsung pulang!" Kata Mas Gagah pura-pura marah, usai menjawab salamku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dari rumah Tika, teman sekolah, "jawabku pendek. "Lagi ngapain, Mas?"tanyaku sambil mengitari kamarnya. Kuamati beberapa poster, kaligrafi, gambar-gambar pejuang Palestina, Kashmir dan Bosnia. Puisi-puisi sufistik yang tertempel rapi di dinding kamar. Lalu dua rak koleksi buku keislaman…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Cuma lagi baca!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Buku apa?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tumben kamu pingin tahu?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tunjukkin dong, Mas…buku apa sih?"desakku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Eiit…eiitt Mas Gagah berusaha menyembunyikan bukunya.&lt;br /&gt;Kugelitik kakinya. Dia tertawa dan menyerah. "Nih!"serunya memperlihatkan buku yang tengah dibacanya dengan wajah yang setengah memerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Naah yaaaa!"aku tertawa. Mas Gagah juga. Akhirnya kami bersama-sama membaca buku "Memilih Jodoh dan Tata Cara Meminang dalam Islam" itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Maaas…"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Apa Dik Manis?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Gita akhwat bukan sih?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Memangnya kenapa?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Gita akhwat atau bukan? Ayo jawab…" tanyaku manja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mas Gagah tertawa. Sore itu dengan sabar dan panjang lebar, ia berbicara padaku. Tentang Allah, Rasulullah. Tentang ajaran Islam yang diabaikan dan tak dipahami umatnya. Tentang kaum Muslimin di dunia yang selalu menjadi sasaran fitnah serta pembantaian dan tentang hal-hal-lainnya. Dan untuk pertamakalinya setelah sekian lama, aku kembali menemukan Mas Gagahku yang dulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mas Gagah dengan semangat terus bicara. Terkadang ia tersenyum, sesaat sambil menitikan air mata. Hal yang tak pernah kulihat sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mas kok nangis?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mas sedih karena Allah, Rasul dan Islam kini sering dianggap remeh. Sedih karena umat banyak meninggalkan Quran dan sunnah, juga berpecah belah. Sedih karena saat Mas bersenang-senang dan bisa beribadah dengan tenang, saudara-saudara seiman di belahan bumi lainnya sedang digorok lehernya, mengais-ngais makanan di jalan dan tidur beratap langit."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesaat kami terdiam. Ah Mas Gagah yang gagah dan tegar ini ternyata sangat perasa. Sangat peduli…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kok tumben Gita mau dengerin Mas ngomong?" Tanya Mas Gagah tiba-tiba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Gita capek marahan sama Mas Gagah!" ujarku sekenanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Memangnya Gita ngerti yang Mas katakan?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tenang aja. Gita ngerti kok!" kataku jujur. Ya, Mbak Ana juga pernah menerangkan demikian. Aku ngerti deh meskipun tidak begitu mendalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam itu aku tidur ditemani buku-buku milik Mas Gagah. Kayaknya aku dapat hidayah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari-hari berlalu. Aku dan Mas Gagah mulai dekat lagi seperti dulu. Meski aktifitas yang kami lakukan bersama kini berbeda dengan yang dulu. Kini tiap Minggu kami ke Sunda Kelapa atau Wali Songo, mendengarkan ceramah umum, atau ke tempat-tempat di mana tablig akbar digelar. Kadang cuma aku dan Mas Gagah. Kadang-kadang, bila sedikit terpaksa, Mama dan Papa juga ikut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Apa nggak bosan, Pa…tiap Minggu rutin mengunjungi relasi ini itu. Kebutuhan rohaninya kapan?" tegurku.Biasanya Papa hanya mencubit pipiku sambil menyahut, "Iya deh, iya!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernah juga Mas Gagah mengajakku ke acara pernikahan temannya. Aku sempat bingung, soalnya pengantinnya nggak bersanding tetapi terpisah. Tempat acaranya juga begitu. Dipisah antara lelaki dan perempuan. Terus bersama souvenir, para tamu juga diberi risalah nikah. Di sana ada dalil-dalil mengapa walimah mereka dilaksanakan seperti itu. Dalam perjalanan pulang, baru Mas Gagah memberi tahu bagaimana hakikat acara pernikahan dalam Islam. Acara itu tidak boleh menjadi ajang kemaksiatan dan kemubaziran. Harus Islami dan semacamnya. Ia juga mewanti-wanti agar aku tidak mengulangi ulah mengintip tempat cowok dari tempat cewek.&lt;br /&gt;Aku nyengir kuda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tampaknya Mas Gagah mulai senang pergi denganku, soalnya aku mulai bisa diatur. Pakai baju yang sopan, pakai rok panjang, ketawa nggak cekakaan.&lt;br /&gt;"Nyoba pakai jilbab. Git!" pinta Mas Gagah suatu ketika.&lt;br /&gt;"Lho, rambut Gita kan udah nggak trondol. Lagian belum mau deh jreng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mas Gagah tersenyum. "Gita lebih anggun jika pakai jilbab dan lebih dicintai Allah kayak Mama."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang sudah beberapa hari ini Mama berjilbab, gara-garanya dinasihati terus sama Mas Gagah, dibeliin buku-buku tentang wanita, juga dikomporin oleh teman-teman pengajian beliau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Gita mau tapi nggak sekarang," kataku. Aku memikirkan bagaimana dengan seabreg aktivitasku, prospek masa depan dan semacamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Itu bukan halangan." Ujar Mas Gagah seolah mengerti jalan pikiranku.&lt;br /&gt;Aku menggelengkan kepala. Heran, Mama yang wanita karier itu cepat sekali terpengaruh dengan Mas Gagah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ini hidayah, Gita." Kata Mama. Papa yang duduk di samping beliau senyum-senyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hidayah? Perasaan Gita duluan yang dapat hidayah, baru Mama. Gita pakai rok aja udah hidayah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Lho! " Mas Gagah bengong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan penuh kebanggaan kutatap lekat wajah Mas Gagah. Gimana nggak bangga? Dalam acara studi tentang Islam yang diadakan FTUI untuk umum ini, Mas Gagah menjadi salah satu pembicaranya. Aku yang berada di antara ratusan peserta rasanya ingin berteriak, "Hei itu kan Mas Gagah-ku!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mas Gagah tampil tenang. Gaya penyampaiannya bagus, materi yang dibawakannya menarik dan retorikanya luar biasa. Semua hening mendengar ia bicara. Aku juga. Mas Gagah fasih mengeluarkan ayat-ayat Quran dan hadits. Menjawab semua pertanyaan dengan baik dan tuntas. Aku sempat bingung, "Lho Mas Gagah kok bisa sih?" Bahkan materi yang disampaikannya jauh lebih bagus daripada yang dibawakan oleh kyai-kyai kondang atau ustadz tenar yang biasa kudengar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada kesempatan itu Mas Gagah berbicara tentang Muslimah masa kini dan tantangannya dalam era globalisasi. "Betapa Islam yang jelas-jelas mengangkat harkat dan martabat wanita, dituduh mengekang wanita hanya karena mensyariatkan jilbab. Jilbab sebagai busana takwa, sebagai identitas Muslimah, diragukan bahkan oleh para muslimah kita, oleh orang Islam itu sendiri, " kata Mas Gagah.&lt;br /&gt;Mas Gagah terus bicara. Kini tiap katanya kucatat di hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lusa ulang tahunku. Dan hari ini sepulang sekolah, aku mampir ke rumah Tika. Minta diajarkan cara memakai jilbab yang rapi. Tuh anak sempat histeris juga. Mbak Ana senang dan berulang kali mengucap hamdallah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mau kasih kejutan kepada Mas Gagah. Mama bisa dikompakin. Nanti sore aku akan mengejutkan Mas Gagah. Aku akan datang ke kamarnya memakai jilbab putihku. Kemudian mengajaknya jalan-jalan untuk persiapkan tasyakuran ulang tahun ketujuh belasku.&lt;br /&gt;Kubayangkan ia akan terkejut gembira. Memelukku. Apalagi aku ingin Mas Gagah yang memberi ceramah pada acara syukuran yang insya Allah akan mengundang teman-teman dan anak-anak yatim piatu dekat rumah kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mas ikhwan! Mas Gagah! Maasss! Assalaamualaikum! Kuketuk pintu Mas Gagah dengan riang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mas Gagah belum pulang. "kata Mama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Yaaaaa, kemana sih, Ma??" keluhku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kan diundang ceramah di Bogor. Katanya langsung berangkat dari kampus…"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jangan-jangan nginep, Ma. Biasanya malam Minggu kan suka nginep di rumah temannya, atau di Mesjid. "&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Insya Allah nggak. Kan Mas Gagah ingat ada janji sama Gita hari ini." Hibur Mama menepis gelisahku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kugaruk-garuk kepalaku yang tidak gatal. Entah mengapa aku kangen sekali sama Mas Gagah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Eh, jilbab Gita mencong-mencong tuh!" Mama tertawa.&lt;br /&gt;Tanganku sibuk merapikan jilbab yang kupakai. Tersenyum pada Mama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah lepas Isya’ Mas Gagah belum pulang juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mungkin dalam perjalanan. Bogor kan lumayan jauh.." hibur Mama lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi detik demi detik menit demi menit berlalu sampai jam sepuluh malam, Mas Gagah belum pulang juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Nginap barangkali, Ma." Duga Papa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mama menggeleng. "Kalau mau nginap Gagah selalu bilang, Pa."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menghela napas panjang. Menguap. Ngantuk. Jilbab putih itu belum juga kulepaskan. Aku berharap Mas Gagah segera pulang dan melihatku memakainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kriiiinggg!" telpon berdering.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Papa mengangkat telpon,"Hallo. Ya betul. Apa? Gagah?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ada apa, Pa." Tanya Mama cemas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Gagah…kecelakaan…Rumah Sakit Islam…" suara Papa lemah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mas Gagaaaaahhhh!!!" Air mataku tumpah. Tubuhku lemas.&lt;br /&gt;Tak lama kami sudah dalam perjalanan menuju Cempaka Putih. Aku dan Mama menangis berangkulan. Jilbab kami basah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari luar kamar kaca, kulihat tubuh Mas Gagah terbaring lemah. Kaki, tangan dan kepalanya penuh perban. Informasi yang kudengar sebuah truk menghantam mobil yang dikendarai Mas Gagah. Dua teman Mas Gagah tewas seketika sedang Mas Gagah kritis.&lt;br /&gt;Dokter melarang kami masuk ke dalam ruangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Tetapi saya Gita adiknya, Dok! Mas Gagah pasti mau melihat saya pakai jilbab ini." Kataku emosi pada dokter dan suster di depanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mama dengan lebih tenang merangkulku. "Sabar sayang, sabar."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di pojok ruangan Papa dengan serius berbicara dengan dokter yang khusus menangani Mas Gagah. Wajah mereka suram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Suster, Mas Gagah akan hidup terus kan, suster? Dokter? Ma?" tanyaku. "Papa, Mas Gagah bisa ceramah pada acara syukuran Gita kan?" Air mataku terus mengalir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi tak ada yang menjawab pertanyaanku kecuali kebisuan dinding-dinding putih rumah sakit. Dan dari kaca kamar, tubuh yang biasanya gagah dan enerjik itu bahkan tak bergerak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mas Gagah, sembuh ya, Mas…Mas..Gagah, Gita udah menjadi adik Mas yang manis. Mas..Gagah…" bisikku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga jam kemudian kami masih berada di rumah sakit. Sekitar ruang ICU kini telah sepi. Tinggal kami dan seorang bapak paruh baya yang menunggui anaknya yang juga dalam kondisi kritis. Aku berdoa dan terus berdoa. Ya Allah, selamatkan Mas Gagah…Gita, Mama, Papa butuh Mas Gagah…umat juga."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lama Dokter Joko yang menangani Mas Gagah menghampiri kami. "Ia sudah sadar dan memanggil nama Papa, Mama dan Gi.."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Gita…" suaraku serak menahan tangis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pergunakan waktu yang ada untuk mendampinginya sesuai permintaannya. Sukar baginya untuk bertahan. Maafkan saya…lukanya terlalu parah." Perkataan terakhir dokter Joko mengguncang perasaan, menghempaskan harapanku!.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mas…ini Gita Mas.." sapaku berbisik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tubuh Mas Gagah bergerak sedikit. Bibirnya seolah ingin mengucapkan sesuatu.&lt;br /&gt;Kudekatkan wajahku kepadanya. "Gita sudah pakai jilbab, kataku lirih. Ujung jilbabku yang basah kusentuhkan pada tangannya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tubuh Mas Gagah bergerak lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dzikir…Mas." Suaraku bergetar. Kupandang lekat-lekat tubuh Mas Gagah yang separuhnya memakai perban. Wajah itu begitu tenang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Gi..ta…"&lt;br /&gt;Kudengar suara Mas Gagah! Ya Allah, pelan sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Gita di sini, Mas…"&lt;br /&gt;Perlahan kelopak matanya terbuka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku tersenyum."Gita…udah pakai…jilbab…" kutahan isakku.&lt;br /&gt;Memandangku lembut Mas Gagah tersenyum. Bibirnya seolah mengucapkan sesuatu seperti hamdallah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jangan ngomong apa-apa dulu, Mas…" ujarku pelan ketika kulihat ia berusaha lagi untuk mengatakan sesuatu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mama dan Papa memberi isyarat untuk gantian. Ruang ICU memang tidak bisa dimasuki beramai-ramai. Dengan sedih aku keluar. Ya Allah…sesaat kulihat Mas Gagah tersenyum. Tulus sekali. Tak lama aku bisa menemui Mas Gagah lagi. Dokter mengatakan tampaknya Mas Gagah menginginkan kami semua berkumpul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kian lama kurasakan tubuh Mas gagah semakin pucat, tetapi sebentar-sebentar masih tampak bergerak. Tampaknya ia masih bisa mendengar apa yang kami katakan, meski hanya bisa membalasnya dengan senyuman dan isyarat mata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuusap setitik lagi air mata yang jatuh. "Sebut nama Allah banyak-banyak…Mas," kataku sambil menggenggam tangannya. Aku sudah pasrah pada Allah. Aku sangat menginginkan Mas Gagah terus hidup, tetapi sebagai insan beriman sebagaimana yang juga diajarkan Mas Gagah, aku pasrah pada ketentuan Allah. Allah tentu tahu apa yang terbaik bagi Mas Gagah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Laa…ilaaha…illa..llah…Muham…mad Ra..sul …Allah… suara Mas Gagah pelan, namun tak terlalu pelan untuk bisa kami dengar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mas Gagah telah kembali kepada Allah. Tenang sekali. Seulas senyum menghiasi wajahnya. Aku memeluk tubuh yang terbujur kaku dan dingin itu kuat-kuat. Mama dan Papa juga. Isak kami bersahutan walau kami rela dia pergi. Selamat jalan Mas Gagah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Epilog:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kubaca berulang kali kartu ucapan Mas Gagah. Keharuan memenuhi rongga-rongga dadaku. Gamis dan jilbab hijau muda, manis sekali. Akh, ternyata Mas Gagah telah mempersiapkan kado untuk hari ulang tahunku. Aku tersenyum miris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kupandangi kamar Mas Gagah yang kini lengang. Aku rindu panggilan dik manis, aku rindu suara nasyid. Rindu diskusi-diskusi di kamar ini. Rindu suara merdu Mas Gagah melantunkan kalam Illahi yang selamanya tiada kan kudengar lagi. Hanya wajah para mujahid di dinding kamar yang menatapku. Puisi-puisi sufistik yang seolah bergema d iruangan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setitik air mataku jatuh lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mas, Gita akhwat bukan sih?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya, insya Allah akhwat!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Yang bener?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Iya, dik manis!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kalau ikhwan itu harus ada janggutnya, ya?!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kok nanya gitu sih?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Lha, Mas Gagah kan ada janggutnya?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ganteng kan?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Uuuuu! Eh, Mas, kita kudu jihad ya?" Jihad itu apa sih?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya always dong, jihad itu…"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setetes, dua tetes air mataku kian menganak sungai. Kumatikan lampu. Kututup pintu kamarnya pelan-pelan. Selamat jalan Mas Ikhwan!Selamat jalan Mas Gagah!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buat ukhti manis Gita Ayu Pratiwi, Semoga memperoleh umur yang berkah,&lt;br /&gt;Dan jadilah muslimah sejati&lt;br /&gt;Agar Allah selalu besertamu.&lt;br /&gt;Sun sayang,&lt;br /&gt;Mas Ikhwan, eh Mas Gagah!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6496427822632927265-4498279459047834612?l=akhimuammar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://akhimuammar.blogspot.com/feeds/4498279459047834612/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6496427822632927265&amp;postID=4498279459047834612' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6496427822632927265/posts/default/4498279459047834612'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6496427822632927265/posts/default/4498279459047834612'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://akhimuammar.blogspot.com/2008/05/ketika-mas-gagah-pergi.html' title='KETIKA MAS GAGAH PERGI'/><author><name>muammar_ikhwan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09232577519138736451</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_jirrn9uMBd0/R2XC7Uy2JGI/AAAAAAAAABA/v18DfXzrmhE/S220/Muamar.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6496427822632927265.post-5922294588920203068</id><published>2008-05-23T00:38:00.000-07:00</published><updated>2008-05-23T00:39:39.483-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerpen islami'/><title type='text'>PADA GERIMIS SATU-SATU</title><content type='html'>Pada Gerimis Satu-satu&lt;br /&gt;Elzam Zami*)&lt;br /&gt;Publikasi : Rakyat Bengkulu, 28 November 2004&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padanya aku menghamparkan persahabatan yang unik. Eve selalu hadir mengisi jenak-jenak waktu yang kucoba rangkai menjadi jauh lebih indah. Dan ternyata itu memang berhasil. Meskipun harus kuakui ada beberapa nama perempuan lain yang hadir mengisi memori sepanjang masa di belakangku kemarin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Persahabatan kita adalah konsep saling memberi manfaat dalam kebaikan” kata Evie ketika awal persahabatan kami di mulai. Aku lebih menyukai menyebutnya Eve –dengan menghilangkan huruf i– lebih dekat kepada sebutan Hawa pada orang Barat. Namun bukan berarti aku mencintainya karena namaku Adam sehingga aku menganggapnya pasangan seperti Nabi Adam kepada Siti Hawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku pernah bertanya padanya, “Kau tahu Eve, kenapa aku menyukai bergaul denganmu?” Dia hanya mengangkat bahunya sembari menyeruput segelas es jeruk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kamu orangnya asyik banget menempatkan sahabat pada posisi yang terhormat. Bersamamu aku merasa dimanusiawikan dengan sikapmu…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hmm…Adam, Adam! Selagi kita ingin menikmati pertemanan, mengapa kita tidak memenuhi keinginan hati kita yang jujur untuk bersikap alamiah pada orang lain? Bukankah kebaikan itu alamiah? Banyak juga yang menyebut fitrah manusia adalah mencintai kebaikan,” Jawab Eve yang membuat aku kian kagum pada sosoknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oo, begitu ya? Sampai kau menjelma menjadi perempuan yang berkepribadian seperti Putri Abu dalam dongeng. Maaf, itu bukan berarti aku mengharapkan kau mendapat kemalangan seperti Putri tersebut. Kebaikanmu yang sama dengan kebaikan tulus putri yang malang itu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jangan memujiku berlebihan, friend. Aku Cuma Evie yang bersahabat padamu bukan karena latar belakang tertentu. Naluriku mengatakan persahabatan itu lumrah dan menyenangkan.” Jawab Eve santai. Sesantai penampilannya yang selalu sederhana. Ia tak pernah kulihat berdandan modis seperti kebanyakan perempuan. Padahal ia punya cukup uang untuk mempermak penampilannya agar menarik dan lebih wah. Seperti saat ini jeans yang ia kenakan hanya dipadu dengan kemeja gombrong bergaris kotak-kotak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Padahal aku punya teman dekat sebagai pacar. Tapi kedekatan kita sepertinya melebihi hubungan aku dengan Raisya!” ungkapku meryebut nama pacarku yang terbaru. Aku memang punya seorang saja sahabat dalam artian seperti persahabatanku dengan Eve. Berbeda dengan kekasih, ada beberapa banyak gadis yang memiliki hubungan denganku yang kata orang “cinta”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ah, bedakanlah kedekatan kita dengan kedekatan bersama gadis-gadismu. Kupikir ada nilai yang jauh berbeda ketimbang hubungan antar kekasih. Entahlah…aku masih terus memikirkannya Adam.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya, pikiranku bingung mengapa persahabatan kita lebih awet daripada ikatanku dengan mereka. Pacar-pacarku yang seabrek-abrek itu.” Aku tertawa akan kekonyolanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Eve menjawab retoris, “Apakah itu berarti hubungan persahabatan kita tidak boleh lebih baik dari hubungan sepasang kekasih?” Aku terhenyak! Betul juga katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah, ditengah kesibukan bermain cinta dengan beragam gadis yang biasanya tak bertahan lama. Persahabatanku dengan Eve kian bersinar terang memberi ruang segar untuk membagi kata, riang, gundah , dan emosi lain pada sosok manusia lain di luar diriku sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun tiba-tiba pada gerimis satu-satu yang turun ke bumi, saat matahari bersinar terik di siang hari, Eve berubah. Ia menggugat hebat konsep yang selama ini kami pertahankan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini pertemuan kami yang pertama kali di bulan November yang telah memasuki akhir bulan. Aku memang mengurangi jadwalku sekedar berbincang dengan Eve. Tidak ada alasan apa-apa yang melatarbelakangiku berbuat demikian. Aku cuma ingin demikian saja. Lagipula bulan ini aku bolak-balik menyelesaikan penelitian skripsiku di sebuah desa tertinggal. Praktis waktuku tersita kesana. Selebihnya aku mengunjungi Raisya. Perempuan yang kucoba dekati dengan lebih intensif lagi. Cewek itu sulit sekali ditaklukkan ternyata. Namun, ketika aku menemuinya serta merta ia mendepakku. Sambutan yang tak seperti biasanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Eve, apa yang baru kau ucapkan tadi? Kau…?! Apakah kau dalam keadaan baik-baik?” aku bertanya sangsi. Mengapa tiba-tiba ia mendamprat semua perilakuku justru pada saat ini. Tidak ketika dulu-dulu, karena ia mengenalku sudah jauh sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau telah berlaku kurang ajar pada gadis-gadismu” Ia menjustifikasi kesalahanku dengan enaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ha! Kurang ajar?! Apa yang telah kulakukan pada pacar-pacarku? Sekedar berbincang, jalan bareng, nonton, merayu, mengelusnya dan…” Aku mencoba membela dengan tegas. “Dan bukankah itu wajar mewakili cinta pada kekasih” tambahku menjelaskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya! Wajar katamu. Dan karena cinta sempitmu itu kau sampai melupakan sahabatmu. Dimanakah kau saat aku ingin cerita ketika aku sedih kehilangan Ayah? Dimanakah kau ketika aku ingin membagi kebahagiaan ketika syukuran wisudaku? Dimanakah Cinta untukku? Dimana???”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ha! Sedemikian banyakkah moment penting Eve yang ia lewati sampai aku tak memperdulikannya. Tapi apa yang ia katakan terakhir tadi? Cinta?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Eve…” potongku cepat. Tidak mengerti. “Apa-apaan ini! Okey, aku mengaku salah karena tidak pernah menghubungimu akhir-akhir ini. Aku bersalah karena terlalu sibuk dengan Raisya pacar baruku. Tapi apa yang kau ungkapkan terakhir tadi?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menghela nafas. Berat sekali bagiku mengutarakannya. Takut ia lebih tersinggung dan melukai hatinya. Jujur aku tidak pernah merasa ia memperlakukanku kasar hingga tersinggung dan sakit hati. Tapi kenapa mesti ada rasa itu Eve? Berontakku dalam hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kenapa kau mengharapkan cintaku, Eve…?! Seorang Adam yang merupakan sahabatmu.” Lepas sudah kata yang mewakili kepenasaranku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suasana cuaca yang tidak bersahabat meningkahi pertengkaran kami. Hujan gerimis bak jarum yang meluncur berpendar di bumi. Sementara matahari bersinar terik. Perpaduan panas dan dingin yang menimbulkan sensasi pening, apalagi ditambah keadaan hati kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Huh! Begitu sempit ternyata kau memandang cinta, seperti kataku tadi. Baru kusadari cinta memang tak pernah ada pada sosokmu Adam!” Eve menjelma menjadi sosok yang membingungkan, kalau tidak boleh kukatakan menyebalkan. Benar-benar!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mencoba menjelaskannya lagi dengan lebih tenang, “Aku tidak mungkin menjadi kekasihmu, Eve. Aku menyukaimu, tapi bukan berarti aku…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya, ya…! Tidak mungkin menjadi kekasihmu. Pelampiasan cinta yang dalam benakmu hanya ada kamus cinta busuk! Cinta nafsu.” Ia segera beranjak dari tempat duduk dan membayar minuman yang tadi kami pesan. Aku tak bermaksud mencegahnya. Biarlah kemarahannya mengendap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dikejauhan pandangan mataku terus lurus. Gadis yang sebenarnya teramat baik itu menerobos alam terbuka. Pada gerimis satu-satu…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam derai sunyi ini aku mengungkap diri. Pada sepi malam yang mungkin mampu memberiku masukan bagaimana harus berbuat untuk seorang Eve. Potongan hatinya telah kulihat di sini berkeping-keping. Dan Eve berpikir itu semua karena perbuatanku. Aku telah membuat ia rapuh dan berderai dalam keping-keping marah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Eve, sesungguhnya aku masih ingin menikmati hubungan kita seperti dulu lagi. Aku akan kembali menata komitmen ideologi persahabatan kita. Aku memang terlalu acuh pada konsep “memberi mamfaat dalam kebaikan untuk sebuah persahabatan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada pacar-pacarku yang daftarnya berderet-deret aku mampu meninggalkan mereka. Meski setiap berakhirnya hubungan lebih di dominasi perpecahan hati. Cinta selalu meninggalkan luka, benci, dan mungkin dendam ketika berakhir miris pada setiap gadisku. Tapi itu wajarkan menurutku. Mereka tak berhak menuntut apa yang telah kami lakukan dan terukir kala cinta masih indah. Karena cinta sepasang kekasih ternyata juga seperti waktu, selalu berubah. Egois memang!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun untukmu Eve! Aku tidak ingin semuanya berakhir negatif. Tidak juga luka dihatimu, luka dihatiku. Karena memang hubungan ini murni dalam kebaikan. Hubungan ini jujur memberikan banyak kebaikan tak terukur. Sama sekali berbeda dengan hubunganku dengan Naura misalnya, kadangkala kusisipkan sesuatu untuknya. Ya! Sesuatu yang membuat aku berpikir saat ini. Kata apa yang harus mewakilinya. Oh! Eve…aku bergidik ngeri! Aku menyisipkan nafsu untuk legalitas cinta. Kata yang tepat, benar apa yang kau tuduhkan waktu siang gerimis itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam ini aku tak bisa memejamkan mata. Ada Kecamuk gundah yang harus terungkap lepas. Jika kondisi seperti ini, biasanya memang Evelah yang kuajak bicara. Ia akan mendengarkan dengan tenang. Memberikan komentar dengan konsep filosofisnya yang kadang kupikir susah diaplikasikan. Tapi aku selalu suka dan menyimak kata demi kata dari bibirnya. Apakah pertengkaran tadi siang adalah salah satu konsepnya yang memang tak bisa kuterjemahkan itu. Entahlah!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku telah ada dihadapan Eve. Sengaja aku datang untuk mengungkapkan apa yang kurenungkan tadi malam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya, begitulah Eve…mungkin ada yang salah dalam aku menempatkan cinta” aku menutup uraian renunganku. Persis seperti apa yang terpikir padaku malam tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Eve menatapku lembut, “Apa yang kau ketahui tentang cinta?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Seperti yang kau lihat praktiknya selama ini pada hidupku.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa salah aku mencintaimu? Apakah cinta harus terkekang pada definisi hubungan antar lawan jenis yang selalu kita ikat dengan kata pacaran atau pernikahan?” kejarnya bertubi-tubi. Kalimat itu tajam, meski aku tahu Eve tidak lagi marah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Eve…! Please deh, jangan membuatku bingung.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Cinta adalah kata yang universal. Tidak hanya satu untuk diambil alih paksa istilahnya pada hubungan cinta Adam pada Naura, cinta Adam pada Raisya, atau cinta yang sah sekalipun, cinta suami pada isteri” ia mulai mengurai konsep. Aku mencoba menterjemahkannya dengan sederhana di benakku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau kau menempatkan cinta selama ini dimana? Mana cinta untuk sesama yang mesti kau bagi, padaku sebagai saudara plus sahabat. Pada kepapaan yang selalu tampak di lingkungan kita. Dan satu lagi Adam! Kau percaya pada Tuhan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya, kenapa tidak?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mana cintamu pada denting transendental. Sesejatinya cinta adalah pada Tuhan yang berlapis ganda cinta horison an-nas, manusia. Maaf aku mengatakan ini, karena aku juga sedang memaknai cinta ini” ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh god! Sejauh itu? Mungkin kau benar Eve, kata-katamu memang benar-benar tepat. Apakah aku memperdulikankan cinta Tuhan saat bercinta dengan pacar-pacarku? Bahkan aku telah melupakan cinta sesama saudara (seperti halnya cinta kita Eve) ketika asyik pada kekasihku. Ahh….kau benar Eve!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Cinta kekasih…” aku menggumam datar. Eve mendengarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“KE KA SIH, menurutku ungkapan itu tidak hanya bisa kita sandangkan pada manusia. Bagaimana dengan kekasih kita yang maha mengasihi? Berarti Allah adalah kekasih kita. Bagaimana ini, Adam?” Eve bingung terjebak pada logika kata-kata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aneh! Tiba-tiba aku ingin mengatakan, “Ya, begitulah Eve. Pada ketenangan hati kita harus mengakui, jika ia bergejolak gundah turuti saja inginnya yang jujur, aku akan coba menata cinta proporsional ini?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan Eve makin bingung muara cinta yang kami perdebatkan sampai pada puncak yang terkesan hakiki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedetik kemudian Eve mengangguk tulus, ramah, “Dan jangan kau katakan cintaku padamu karena aku ingin menjadi kekasihmu.” Gadis itu mengubah perspektif cintaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lama aku tak mengetahui kabar berita dari Eve. Terakhir suratnya menghampiriku dua bulan yang lalu. Katanya jika kami jarang berkomunikasi bukan berarti hubungan persahabatan putus. Ia selalu mengingat dan berdo’a untukku. Saat ini ia sedang mendalami apa itu cinta yang hakiki di pesantren. Tempat yang menurut Eve tepat untuk mengupas habis cinta yang selama ini dicari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Eve, bagaimanakah penampilanmu sekarang? Bagaimanakah pandangan-pandanganmu sekarang? Suatu saat kita akan bertemu lagi kan, Eve? Tanyaku pada diri sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata gerimis bercampur terik matahari tak hanya meninggalkan sensasi pening. Keadaan cuaca siang kala perdebatan itu terjadi. Pada gerimis satu-satu aku berterimakasih…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*) Penulis kelahiran Curup, 26 Nopember 1981. Mahasiswa Adiministrasi Negara Angkatan 2000 FSIP Unib. Karyanya juga terbuat dalam Antologi FLP Sumbagsel “ Ketika Nyamuk Bicara” Zikrul Hakim-Jakarta, 2004.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6496427822632927265-5922294588920203068?l=akhimuammar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://akhimuammar.blogspot.com/feeds/5922294588920203068/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6496427822632927265&amp;postID=5922294588920203068' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6496427822632927265/posts/default/5922294588920203068'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6496427822632927265/posts/default/5922294588920203068'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://akhimuammar.blogspot.com/2008/05/pada-gerimis-satu-satu.html' title='PADA GERIMIS SATU-SATU'/><author><name>muammar_ikhwan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09232577519138736451</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_jirrn9uMBd0/R2XC7Uy2JGI/AAAAAAAAABA/v18DfXzrmhE/S220/Muamar.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6496427822632927265.post-7894090710647240042</id><published>2008-05-23T00:36:00.000-07:00</published><updated>2008-05-23T00:37:57.764-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerpen islami'/><title type='text'>DIARY</title><content type='html'>Dipublikasi pada Ahad, 21 September 2003 oleh aharis Annida No.12 Th.XI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;April 1984&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjelang Ujian Akhir SMP&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gempa hebat melanda keluargaku, dan telah memporakporandakan bangunan hatiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allahu Robbi, kenapa Bapak tega melakukan semua ini? Tak tega melihat ibu yang diam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;mematung dengan air mata berlelehan. Sementara Pak Jono, Pak Dodi, teman sekantor&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bapak menjelaskan dengan bahasa yang dibuat sehalus mungkin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mengintip takut-takut dari lubang kunci, raut wajah Ibu yang tiba-tiba menegang,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;lalu air mata yang tumpah bak banjir bandang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bapak dipecat, karena menyelewengkan dana kantor dan terbukti melakukan tindakan asusila dengan rekan wanitanya di kantor. Bahkan, wanita itu telah diberinya rumah di Kecamatan Pare, tiga puluh kilometer dari rumah kami.Bapak dipenjara atas tuduhan korupsi dan berselingkuh dengan istri orang.Aku tahu, bukan sekali ini saja Bapak Mengkhianati Ibu. Sebagai anak tertua aku sudah bisa membaca hubungan kedua orang tuaku. Namun baru kali iniku lihat Ibu begitu terpukul. Tentu, dengan dipecatnya Bapak, berarti asap tak akan mengepul lagi di tungku keluarga kami. Sementara lima orang anak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;perempuan setiap hari membutuhkan jatah nasi yang tidak sedikit. Melihat Ibu bermuram durja, semangat belajarku hilang seketika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mei 1984&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ujian Akhir, 03.00 Pagi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suara lantunan ayat-ayat suci membangunkanku dari lelap. Ibu! Begitu biasanya beliau membangunkan kami untuk shalat lail. Segera kutepuk Tini untuk menyusul Ibu. Mata adikku masih memerah menahan kantuk. Tapi kusemangati dia, “Ayo, katanya ingin berdoa, Tini ingin minta apa?” Malam begini dingin menyambut kami di kamar mandi. Air terasa seperti butiran es.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuusap mataku dan mata Tini sambil tersenyum, sekejap kemudian kesegaran mengaliri seluruh tubuh. Lenyap sudah kantuk yang memberati mata. Ibu menyambut kami dengan senyum, tapi…. Matanya begitu sembab, pasti Ibu habis menangis. “Mana adik-adikmu yang lain, Nduk?” kami saling berpandangan, lalu menggeleng dan tersenyum malu. Habis, sulit sekali membangunkan Lastri dan Tinah, bisa ditendang aku nanti, maklum, mereka masih kecil. Usai tahajud, aku terus mengambil buku dan belajar. Ibu menemani sambil meneruskan tadarus Qur’an-nya. Ibu…. Bagaimana orang sealim Ibu bisa mendapatkan orang seperti Bapak. Ah, ngelantur aku ini, kalau tidak ada Bapak, berarti aku juga tidak ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhir Mei 1984&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, selesai sudah ujian akhirku. Alhamdulillah leganya. Setidaknya aku mulai bisa memikirkan yang lain untuk membantu mengurangi beban Ibu. Yah, mau bagaimana lagi, Ibu memutuskan menjual sebagian tanah warisannya untuk menebus Bapak dari penjara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bagaimana pun dia bapakmu, Wuk, sejahat dan sebejat apa pun kelakuannya, darahnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;lah yang mengalir di tubuhmu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku juga tak tahu musti harus bagaimana. Rasanya kaget tiba-tiba ikut terlibat dalam permasalahan rumit ini. Tapi Ibu butuh teman bicara. Dan aku, anak sulungnyalah yang bisa melakukan itu. Ya, mesti cuman sebatas mendengarkan. Menanti Bapak pulang seperti menunggu datangnya makhluk asing dari planet lain. Ada rindu, ada benci, ada juga rasa asing yang tak bisa kumengerti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entahlah, dari dulu kami memang tak bisa dekat. Bapak menginginkan anak laki-laki, sementara kelima anaknya perempuan. Barangkali itulah yang membuat sulit sekali diajak bermanja. Suatu sore, saat matahari senja merah saga memenuhi langit,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bapak benar-benar pulang. Sosoknya yang tinggi besar memenuhi pintu rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan Ibu menyambutnya seperti biasa, dengan mencium tangan Bapak, dan menyuruh kami melakukan hal yang sama. Tanpa beban, seolah tak terjadi apa pun yang pernah mengguncang keluarga kami. Kucari dendam di mata Ibu, tapi ya Rabbi, mata itu begitu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ikhlas dan tabah. Sementara hatiku sudah mulai tertorehi luka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agustus 1984&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perekonomian keluarga kami benar-benar terpuruk. Aku tak bisa melanjutkan kuliah. Jangankan untuk mendaftar SMA, untuk makan sehari-hari pun mulai kesulitan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bapak berpamitan untuk mencari kerja di Bogor. Memang di kota kecil seperti Kediri, mencari pekerjaan baru bukanlah hal mudah, apalagi untuk orang yang namanya sudah cacat seperti Bapak. Ibu mengambil alih perekonomian dengan membuka warung pecel di depan rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi buta sampai siang, Ibu mengurus warung pecelnya. Sore hingga malam membuat krecek, makanan ringan dari irisan singkong kering yang digoreng dan dibumbuhi gula merah serta cabai. Aku membantu Ibu sekuatnya. Aku punya kewajiban moral untuk membantunya, kalau bukan aku, siapa lagi? Bangun pukul empat pagi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini tak terasa dingin lagi. Sepagi itu aku dan Ibu mulai ke pasar. Tiba di rumah, kami berbagi tugas. Aku mencuci baju, Tini membersihkan rumah. Setelah beres, kami membantu Ibu menyaingi sayuran. Ketika adik-adikku berangkat sekolah aku mulai menyiapkan potongan-potongan singkong untuk digoreng. Bila malam tiba, sambil mengajari mereka, aku dan Ibu membungkus krecek ke dalam plastik agar esok pagi bisa kuedarkan ke warung-warung dan pasar Kandat. Ya Allah, Pengatur nasib umat, aku sangat bangga pada Ibu. Di tengah himpitan ini beliau masih terus berkhusnudzan kepada-Mu, terus mengajari kami bersabar, dan terus membimbing kami dengan cintanya. Ya Allah, berikanlah segala kebaikan-Mu untuk Ibu dan kami sekeluarga. Dan berilah kesadaran untuk Bapak, ya Allah, bahwa kami adalah putri-putri yang juga mengharap cintanya. Amin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agustus 1986&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bapak datang. Datang! Setelah sekian lama tanpa kabar dan kiriman apa pun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Datang dengan sederet tuntutan dan lecehan pada Ibu. Tuntutan atas kehadiran anak laki-laki yang tak mampu dilahirkan Ibu. Dan satu pelecehan lagi yang membuat darahku berpacu ke ubun-ubun, beliau mengaku sudah menikah di Bogor dan mempunyai seorang anak laki-laki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuntutan untuk menjual sisa tanah,dengan alasan anak laki-laki lebih berhak memperoleh daripada kami. Semua dikatakan Bapak saat kami kesulitan untuk sekedar mengisi perut. Entah keberanian apa yang membuatku lancang kepada Bapak. Kupukul dan kucakar lelaki yang kusebut bapak itu sehingga sebuah tamparan keras mendarat di pipiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu yang tersimpuh di atas tubuhku dengan isakpelan, dan umpatan kasar Bapak, “Perempuan sialan, perempuan pincang!Seperti ini kau didik anakmu? Huh, dari dulu aku memang malu punya istri seperti kamu, dasar pincang!” Kali ini giliran Ibu yang mendapat tamparan Bapak. Sakit…. Sakit hatiku mendengar Ibu diumpat seperti itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kaki Ibu memang tidak normal, terserang polio sedari kecil. Tapi bukan berarti ia tidak sempurna mendidik kami. Sungguh ia satu-satunya wanita yang membetot habis rasa cinta dan hormatku lebih dari apa pun. Satu lagi luka tertoreh. Kupandang Bapak dengan mata menyala. Biar….. biarlah Bu, Bapak mengambil tanah itu. Kita buktikan bahwa kita bisa hidup tanpa bantuannya bila itu yang Bapak mau. Aku berjanji, aku bertekad, akan kulakukan apa pun untuk Ibu dan adik-adikku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Januari 1990&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumah Makan Padang “Siang Malam”, Gringsing, Kendal Aku membawa truk bermuatan kelapa memasuki pelataran rumah makan. Sisa setengah perjalanan lagi menuju Jakarta. Ahmad dan Pak Gono membuka mata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan sopan aku menyilahkan mereka untuk beristirahat. Sementara aku harus berburu waktu mencari musholla, shalat Isya’. Celana hitam, jaket gombrangcoklat, dan jilbab kaos hitam telah menyulapku menjadi sosok yang cukup dikenal di rumah makan ini. Pemiliknya Pak Haji Yassin juga kenal denganku.Karena itu aku memilih tempat ini sebagai tempat istrirahat bila nyopir ke arah barat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain lingkungannya apik, baik, juga ada musholla yang nyaman tempat aku istirahat sejenak. Sesekali bahkan Bu Haji menyuruhku istirahat di ruang belakang mereka. Sementara aku istirahat, Ahmad biasa mencuci kacadepan truk, mengisi air radiator, mengecek mesin, dan ban, serta tak lupa menyiapkan sebotol kecil kopi hangat di samping jok untuk persiapan nanti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Truk ini milik Pak Jono, teman Bapak. Aku yang dipercaya mengelolanya dengan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sistem sewa. Dulu, hampir tiap hari aku keluar masuk desa untuk menawarkan jasa transportasi ini. Kini tinggal memetik hasilnya. Para petani dan pedaganglah yang datang apabila membutuhkan truk sekaligus sopirnya. Akutakpernah bercita-cita menjadi seorang sopir. Tidak, tidak karena itu dunialaki-laki yang keras dan penuh bahaya. Tapi aku tak punya pilihan lain.Hanya pekerjaan ini yang bisa menghasilkan uang paling banyak. Sekali nyopir aku bisa mengantongi uang lima puluh ribu sampai seratus ribu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan bila musim panen, aku bisa memegang hingga satu juta rupiah sebulan. Alhamdulillah. Karena selain menyopir, aku juga memasok beberapa komoditi pasar seperti kelapa, pisang, semangka ke beberapa kota sekeliling Kediri.Tentu, dengan bagi hasil dengan Pak Jono.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu terus berjualan pecel dan membuat krecek. Kini hanya dibantu Sundari karena Sutini dan Sulastri sudah kuliah di Kedokteran Universitas Airlangga Surabaya. Sedang Partinah memilih ke Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.Bahagia rasanya melihat mereka terus sekolah, lebih bahagia karena mereka tak pernah mengecewakan lelehan keringatku. Mereka belajar keras, bahkan sangat keras untuk membahagiakan Ibu dan kakaknya yang sopir truk ini.Sekali waktu, Tini pernah marah padaku, ia minta diijinkan bekerja untuk ikut membantu ekonomi keluarga. Tapi adikku itu mengkeret begitu Melihatku memandang tajam ke arahnya. Adikku…. Maafkan Mbak Tiwuk. Biar Mbak Tiwuk saja yang berkorban, satu saja! Kalian semua jadilah manusia yang berhasil.Dengan lulus UMPTN, dengan kuliah yang benar, dengan cepat lulus, itu sudah cukup membantu Mbak Tiwuk. Sudah membuat Mbak bahagia. Jangan pikirkan yang lain. Doa Mbak untuk kalian semua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juli 1993&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumah Makan “Ayem Tentrem”, Pelabuhan Ketapang Sudah larut malam ketika aku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;beristirahat, menunggu kapal yang akan berangkat ke Pulau Bali. Ini rute pertamaku. Agak gamang juga. Tapi Ahmad, kenekku meyakinkan bahwa ia pernah ke Denpasar sebelumnya, jadi aku tak perlu khawatir tersesat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Deretan truk terparkir dalam keremangan pelabuhan. Aku turun, mencari musholla dan tempat nyaman untuk menyantap rantang makanan bekal dari Ibu. Menjelang pukul dua, kudengar keributan di sekitar trukku. Ahmad berteriak-teriak, aku tertegun.Segerombolan preman tengah merubungnya. Tukang palak rupanya. Sementara Pak Sabar, pemilik kayu gelondongan yang kuangkut tergigil pucat pasi di sisi truk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemalakan tidak tanggung-tanggung karena kami orang baru, diharuskan membayar biaya keamanan sebesar seratus ribu. Sejenak mereka melongo begitu tahu sopirnya wanita. Tapi tak pernah kugunakan sebutan itu untuk bersikaplemah, terlebih ini menyangkut hak untuk mencari penghidupan halal, hakasasi setiap umat untuk meneruskan hidupnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah gertakan untuk melapor polisi tak ditanggapi, terpaksa kuladeni tantangannya. Ahmad satu tingkat di bawahku di perguruan Perisai Diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi aku bisa mengandalkannya. Seratus ribu bukan jumlah yang sedikit. Apalagi Sulastri membutuhkan biaya untuk praktikumnya. Perkelahian berjalan tak seimbang, dua lawan tujuh. Kami bertarung sengit, tiga orang berhasil kami buat jatuh, seorang yang bertindak sebagai pemimpinnya berbuat nekad, saat tendangan kaki kiriku ku arahkan ke si brewok, ia menohok dari samping. Cras… kaki berbalut sepatu kets-ku berlumuran darah. Perih, darah keluar dengan deras. Aku masih bisa menangkis dua, tiga serangan, setelah itu gelap. Saat sadar aku telah berada dalam salah satu bangsal di RSU Banyuwangi. Menurut dokter, setelah sembuh nanti kemungkinan aku akan mengalami sedikit pincang. Sejumlah memar juga menghiasi leher dan punggung.Rupanya saat aku sudah jatuh mereka masih menendangiku. Untunglah Pak Sabar datang tepat pada waktunya dengan dua orang polisi pelabuhan. Aku bersyukur karena Ahmad dan Pak Sabar tak terluka. Ah, peristiwa pahit. Tapi tak akan melemahkan semangatku untuk terus mencari nafkah, karena lima bulan lagi Sundari lulus SMA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Februari 1995&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kutuntun Ibu ke dalam ruangan penuh spanduk dan karangan bunga.Subhanallah, matahari pagi pucuk-pucuk pinisium ikut tersenyum memandang kami. Hari ini Sutini disumpah menjadi seorang dokter. Map hitam berlogo almamater diserahkan kepada Ibu dan aku sambil menahan tangis. “Ini….Untuk Ibu dan Mbak Tiwuk.”Kupeluk adikku, kuusap keningnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Seandainya setiap kakak di dunia ini seperti Mbak Tiwuk…..,” ujarnya dengan mata basah.”Seandainya semua adik di dunia seperti kalian, tidak akan ragu seorang kakak melakukan apa pun,” kami berpelukan, kurengkuh bahu adikku, Tini yang bulan depan akan mengakhiri masa lajangnya, disunting oleh teman seangkatan, pemuda soleh yang bulan kemarin bersama keluarganya mengkhitbah Tini dirumah kecil kami. Jemputlah masa depanmu Adikku….Mbak Tiwuk ikhlas kau langkahi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mei 1997&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumah Makan “Baranangsiang”, Bogor Menyebut kota ini menimbulkan luka lagi yang menganga, Bapak….. pelan ku eja namanya. Nama laki-laki yang seharusnya menanggung beban di atas pundakku. Pernikahan Tini kemarin beliau hadir, juga saat Tinah diakadkan.Semanis apa pun wajah kupasangkan, tak bisa membangun jembatan kemesraan anak beranak di antara kami. Hati ini terlanjur sakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat kupandang wajah Ibu, masih dengan tulus yang sama menyambut kepulangan Bapak. Alangkah luas telaga maafmu, Ibu. Sementara hanya setitik hormat yang masihku punya. Menurut berita yang kudengar, usaha Bapak di Bogor maju pesat,dengan seorang istri dan dua anak laki-laki yang diidamkannya.Syukurlah jika Bapak bahagia. Semoga waktu akan mengurai kebekuan hati ini hingga terbentuk maaf yang tulus untuknya. Karena aku tak mau selamanya jadi anak durhaka. Bukankah Allah telah begitu adil dengan apa yang telah kami terima selama ini? Sungguh aku bersyukur…….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mei 2000&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumah berdinding setengah bata setengah bambu kami terasa bertambah tua, atap dapur bahkan nyaris dorong. Seperti juga kerut pada Ibu, juga wajahnya yang makin mengental. Jika ada kesempatan untuk bernafas, inilah saatnya. Keempat adikku sudah mentas semua. Tinggal Sundari, itu pun sudah hamper mandiri, karena selain menyelesaikan S2, ia juga mengajar di sebuah yayasan. Kini perhatianku beralih ke Ibu. Ibu yang membesarkan kami dengan keduatangannya, dengan kakinya yang terseok, yang selalu membentengi kami melalui doa yang rutin dipanjatkan di setiap malam, melalui puasa Senn-Kamis, dengan keprihatinannya, juga dengan sabar dan cintanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wuk, bisa nggak ya niat Ibu kesampaian. Ibu ingin sekali melihat Baitullah.” Satu kata itulah yang menjadi perhatianku kini. Maka, ketikaTini, Tinah, dan Lastri menawarkan diri untuk merenovasi rumah, kalimat itu kuulang pada ketiga adikku. Dengan sisa tabungan dan sumbangan mereka, aku berharap bisa memenuhi permintaan Ibu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juli 2000&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dunia begitu indah karena kami memiliki kakak seperti engkau. Terimakasih,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mbak….” Kueja kalimat itu berulang. Sebuah cincin permata berlian menyertai kertas itu. Ah, aku lupa, hari ini aku berulang tahun. Aku memang selalu lupa dan tak pernah memikirkannya. Setitik air membasahi pipi, sudah berapa lama aku tidak menangis? Kucium kertas itu.Adik-adikku, dunia pun sangat indah karena aku memiliki kalian, juga Ibu.Terima kasih ya Alah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Februari 2001&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Garuda Indonesia, Boeing 737, Jamaah Haji Kloter 12 Pada Allah semua tujuan hidup bermuara. Tak pernah kubenci dan kusesali hidupku. Karena aku telah memandang semuanya dengan syukur dan karenanya sepahit apa pun kenyataan akan tetap terasa indah. Inna ma’al ‘usri yusro, sesungguhnya dibalikkesulitan itu ada kemudahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah akan memberi kemudahan itu pada setiap hambanya yang sabar. Sering aku tak percaya bisa melakukan semua ini, karena tugas itu nyaris usai. Allah Yang Maha Pemurah, telah memberiku kesempatan hidup lebih panjang dari yang divonis dokter. Gadis dengan cacat jantung bawaan seperti aku…… rasanya tak percaya. Allah, jika Engkau ijinkan, berilah hamba waktu lagi minimal untuk bisa berjumpa dengan Bapak, agar kebekuan ini mencair.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk sebuah kata maaf yang belum pernah bisa kukeluarkan, karena aku, Tiwuk Hartati, pernah mempunyai doa yang sangat jelek untuknya. Biarlah maaf itu tumbuh seperti sejuta telaga kasih milik Ibu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awan putih menyembul di balik kaca, bar arak meniupkan simponi syahdu. Seolah aku sedang duduk di antaranya, membaca tanpa gerak bibir, bahasayang santun dan dewasa, mengantarku dalam kedalaman rasa tiada tara. Ibu memejamkan mata di seat sebelah, tenang dan damai. Oh Ibu, akhirnya penantianmu usai sudah. Lihatlah Bu, lihat awan itu. Ia akan mengantar kita ke suatu tempat yang paling Ibu dambakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuusap lembut jemari kisut dan kasar itu. Ibu…. Lelah guratan hidupmu, membayang pada raut wajah itu,tapi tak bisa mengurangi keagungan cinta milikmu. Kukecup lembut dan kubawatangan itu ke atas dada. Di bandara tadi, harta-hartamu mengantar kepergian kita dengan haru: Dokter Sutini, Dokter Sulastri, Insinyur Partinah, dan calon guru kita Sundari, juga suami-suami mereka dan keponakanku yang lucu-lucu: Hanif, Asfa, dan Abdus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tawamu jernih dan tulus ketika menciummereka satu per satu, mutiara hidupmu. Wajah damaimu Ibu, adalah bentuk kepasrahan seorang hamba dalam menjalani garis hidup Sang Pencipta, tanpa keluh dan putus asa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepasrahan dalam ketegaran yang senantiasa yakin akanpertolongan Khaliknya. Kurasakan burung besi ini semakin meninggi, memecah udara, diiringi senyum hangat pramugari-pramugari anggun berbaju muslimahyang menawarkan makanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuambilkan satu untukmu, Ibu….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Garuda pun membelah angkasa menuju Bandara King Abdul Aziz, Jeddah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semakin jauh meninggalkan Jakarta, meninggalkan Kediri. Dan satu harapan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;lagi, dengan izin-Mu akan terwujudkan. Allah Maha Besar&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6496427822632927265-7894090710647240042?l=akhimuammar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://akhimuammar.blogspot.com/feeds/7894090710647240042/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6496427822632927265&amp;postID=7894090710647240042' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6496427822632927265/posts/default/7894090710647240042'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6496427822632927265/posts/default/7894090710647240042'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://akhimuammar.blogspot.com/2008/05/diary.html' title='DIARY'/><author><name>muammar_ikhwan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09232577519138736451</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_jirrn9uMBd0/R2XC7Uy2JGI/AAAAAAAAABA/v18DfXzrmhE/S220/Muamar.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6496427822632927265.post-6517200443527154728</id><published>2008-05-23T00:32:00.000-07:00</published><updated>2008-05-23T00:35:53.016-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerpen islami'/><title type='text'>ORANG-ORANG SURGA</title><content type='html'>Kami terusir lagi. Pemerintah lokal Evosmos sepakat menendang ribuan etnis kami dari daerah juridiksi. Banyak orang menangis. Ini tak ada habisnya. Bertahun-tahun. Berpuluh tahun. Lelah. Tak tahan. Kenapa harus kami yang diperlakukan begini?&lt;br /&gt;“Sampai kapan Yunani akan membenci kita?”&lt;br /&gt;“Ke mana kita harus pergi?”&lt;br /&gt;“Apa salah kami, Pak? Apa salah kami?!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wajah penguasa tidak sudi berubah. Benci dan terasa makin bengis saja pada kami. Pertanyaan hati dijawab dengan tangan besi. Main hardik, main badik. Caci maki bermuntahan lebih tajam dari timah panas manapun; melukai hati, membunuh harga diri. Sudah lama seperti itu. Sebelum hari ini, beragam tindakan telah menyisir kami secara rasis. Kami tidak mendapat pelayanan kesehatan, pendidikan, bahkan hak untuk diperlakukan secara manusiawi. Semua itu tidak kami dapatkan. Tidak seperti orang-orang asli negeri ini. Etnis kami adalah etis komedi pahit. Lelucon yang sadis—sebab kami melawak dengan adegan terjatuh, tersungkur, kesakitan. Slapstick. European dark skin, orang bilang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yah, kita sekarang mau pergi ke mana?”&lt;br /&gt;“Ayah dengar sementara kita akan ditampung di lokasi bekas camp latihan militer, Nak.”&lt;br /&gt;“Berapa lama?”&lt;br /&gt;Ayahku tak menjawab. Hanya menatap nanap ke arah Ibu yang tertatih-tatih; berusaha terus berjalan dengan membawa perutnya yang melembung besar. Kendati sudah dipapah, kehamilannya sangat menguras energi. Apalagi—kata Ayah—kandungan Ibu sudah masuk hari-hari yang rawan. Kemungkinan besar akan segera melahirkan. Aku masih ingat: Ayah begitu mendung saat menceritakan hal itu.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku ingin menengok masa lampau yang masih tampak buram. Kejadian hari ini pastilah berhubungan dengan sejarah. Silam. Mendapatkan perlakuan diskriminatif di usiaku yang hijau, bukanlah hal yang wajar dan bisa kuterima tanpa terbersit dua tiga ribu pertanyaan. Tak lazim. Mau tak mau, enggan tidak enggan, bertanya jadi pilihan. Kewajiban yang dituntut benak dan nurani. Siapa dan ada apa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ayah tak tahu pasti, Nak. Tapi… sedikit banyak Ayah tahu.”&lt;br /&gt;“Berceritalah, Ayah. Aku ingin dengar.”&lt;br /&gt;Ayah memijiti pergelangan kaki Ibu. Kami tengah beristirahat. Bersama ribuan etnis kami lainnya, malam ini makhluk-makhluk berjuluk dingin mengigiti kulit. Menyusup ke pori-pori dan mengerutkan serabut syaraf—hingga mengerdil atau mengigil aneh. Tak ada fasilitas apa-apa untuk membaringkan tubuh, apalagi tidur. Cuma tanah dan batu-batu. Kasur? Alas penghangat badan? Mustahil saat ini. Terlalu mahal atau terlalu mewah untuk nyawa-nyawa kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Merebahlah, Nak. Kau pasti lelah, bukan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mengangguk. Meratakan tulang belakang, agak ke kanan—persis di samping Ibu. Menatap langit yang disesaki awan-awan. Agak kelabu—menghalangi bintang menghiasi angkasa dari pandangan. Semoga tidak turun hujan. Kalau takdir berkata lain, besar peluang sebagian besar dari kami akan basah kuyup. Tak ada apa-apa di sini. Tenda-tenda yang berdiri tidak menjamin. Sudah penuh dengan berjejal jantung-jantung para orang. Lihat saja kami. Tak kebagian. Seolah ibu hamil dan satu orang bocah sepertiku terlalu banyak. Dalam keadaan terdesak atau tertekan, orang-orang akan menunjukan sikap asli mereka. Yang egois akan mau menang sendiri, yang rapuh akan menangis, yang tabah akan tetap beradab dan memancarkan pribadinya nan mengagumkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ayah pernah dengar, etnis kita berasal dari India, Nak. Tapi, tepatnya di mana, Ayah sangat kabur. Yang jelas, dari wilayah konfederasi Rajput.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa itu konfederasi, Ayah? Dan, di mana India itu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayah tertawa. Tak tahu, utasnya jujur. Beliau begitulah. Sosok yang melupakan bohong untuk sekian lama. Bila Ayah tak tahu jawaban dari sebuah masalah, maka beliau tak akan segan untuk berkata tidak tahu atau mengendikan bahu Begitupun sebaliknya. Aku ikut terkekeh—walah sedikit. Sekali lagi, ada getir yang tertoreh pelan di sana. Ini masalah pendidikan yang senjang. Tertutup bagi kami. Dari zaman Kakek, Ayah… aku. Mungkin lebih lama dari itu dan mungkin akan lebih lama lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mau Ayah lanjutkan, Nak?”&lt;br /&gt;“Ya, Ayah. Tentu saja.”&lt;br /&gt;“Tapi, jangan banyak bertanya, ya?”&lt;br /&gt;“Baiklah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gaun bulan terus merangkak. Angin berembus seraya memainkan senandung rangkak. Lidah Ayah masih berujar cerita. Tentang pengembaraan yang harus ditempuh etnis kami ketika terjadi perang panjang, penjarahan, dan penghancuran berkali-kali oleh kekaisaran Ghaznavid. Etnis kami harus hengkang pada (sekitar) tahun 1192. Terpaksa. Terancam masuk siklus perbudakkan dan pembantaian menjadi kecemasan kolektif. Siapa yang mau? Rasanya tidak ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di episode berikutnya, nasib lain berkata pada kami. Kami—yang tadinya pergi serempak bersama-sama—terpecah. Ada yang menuju selatan, tapi tidak sedikit yang menuju ke barat India. Ke utara juga ada. Bahkan menurut kabar yang beredar, mereka berhasil mencapai lembah Upper-Indus melewati Kashmir. Lagi-lagi, jadi pengungsi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Setidaknya kita aman dari kekejaman kekaisaran Ghaznavid ’kan, Yah?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kata siapa? Etnis kita masih disergap perasaan waswas, Nak. Kita dirundung kekhawatiran karena tentara Ghaznavid terus melakukan pengejaran—mengancam keselamatan kita.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lalu?”&lt;br /&gt;“Kita harus menyingkir dan mengalah menuju Persia. Dari negeri Persia, kita lalu memasuki daerah kekaisaran Trebizond—yang masyarakatnya berbahasa Armenia.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bermukim?”&lt;br /&gt;“Iya, tapi…”&lt;br /&gt;“Tidak lama, bukan? Persis seperti keadaan kita sekarang, kan?!” Aku menukas cepat. Ayah cuma tersenyum samar. Tak keberatan kalimatnya kupangkas sampai segitu. Tak lama, tangan kasar miliknya mengusap kepalaku lembut. Pelan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bersabarlah, Nak. Bersabarlah….”&lt;br /&gt;“Aku bisa bersabar kok, Yah. Tapi aku bingung dengan kondisi Ibu. Bingung dengan adik bayi yang mau lahir. Nanti bagaimana kalau kita diusir lagi dari sini? Keadaan Ibu kan masih lemah….”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayah terhenyak. Aku kira begitu. Sekejap air mukanya berubah gundah. Aku jadi merasa bersalah. Untuk selanjutnya kukatupkan saja mulut ini. Kukancingkan saja sampai nanti pagi. Sekiranya masih tersisa pertanyaan, keluhan atau kecemasan yang menyapa di sisa malam itu, aku menyimpannya di kantong baju lusuhku. Lebih baik tak kuungkapkan sekarang. Sudah saatnya aku juga merasa kasihan pada Ayah.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;“Ayah, kita tidak berhenti di Trebizond, bukan?”&lt;br /&gt;“Oh, iya. Semalam belum selesai, ya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku berusaha keras sunggingkan senyum. Di tengah kerumunan orang-orang yang terusir, berubah tempramental atau tertekan adalah hal yang biasa. Stres, sakit kepala, atau menjadi gila adalah resiko yang dijejalkan kepada kami setiap hari. Berdansa tango di sekeliling risiko. Hidup segan, mati pun tidak mau. Mengambang di antara dua garis yang tak jelas. Aku tak mau begitu. Ayah sepertinya juga tak mau. Beliau cukup tabah sehingga tak larut dalam pemikiran atau perenungan yang tak berujung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tak lama,” Ayah mengajakku pergi agak menjauh dari Ibu yang tengah beristirahat, ”karena ada perang, kita kembali terpaksa pindah, Nak. Menyingkir ke kekaisaran Byzantium menjadi satu-satunya pilihan. Kita kemudian memang menuju Konstantinopel dan menetap di sana. Kalau sekarang, daerah itu sudah berganti nama menjadi Istanbul,” tutur Ayah sembari sesekali memandang ke arah Ibu. Ibu butuh banyak ketenangan. Untuk itulah Ayah merangkulku menjauh dari tenda untuk melanjutkan ceritanya. Semalam, syukurlah dua orang pemuda yang baik hati menawari Ibu untuk menempati tempatnya di dalam sebuah tenda. Nampaknya dunia ini belum kehilangan orang-orang yang berjiwa mulia sepenuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Di sini, etnis kita belajar banyak hal, Nak. Salah satunya bahasa Yunani. Di sini pulalah sistem kasta dalam etnis kita lenyap, bersamaan dengan terjadinya pernikahan silang antar keluarga-keluarga luas yang meninggalkan India. Mmm… di daerah ini jugalah etnis kita mulai berbicara dalam bahasa proto-Romani,” ungkap Ayah terus menerus—seolah tak mau berhenti. Kata-katanya padat dan jarang diselingi spasi. Sepertinya pada bagian ini, Ayah cukup paham jalan sejarah. Aku berusaha keras agar tidak ketinggalan ceritanya. Sekalinya aku kehilangan alur cerita Ayah, aku mendengar suara berderit dari arah perut beliau. Ayah lapar. Seperti aku. Tapi, Ayah tak mau mengatakannya di depanku—pun mengakuinya terang-terangan; melenguh, mengeluh, atau mencibirkan keadaan yang serba minus. Dalam diam aku kagum. Mungkin begitulah aku seharusnya kelak; saat jadi laki-laki dewasa atau mengepalai sebuah keluarga. Tangguh demi tanggung jawabku sebab memang begitulah persamaannya. Dijadikan laki-laki lebih kuat bukan untuk merendahkan atau mengintimidasi wanita, tapi untuk mengayominya. Melindunginya. Semua sudah ada jalannya. Sudah ada kodratnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ngg…”&lt;br /&gt;“Ada apa, Nak?”&lt;br /&gt;“Sehabis itu, apakah kita diusir lagi, Yah?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bukan diusir,” Ayah tersenyum kecut, ”tapi terusir. Perang terjadi lagi sehingga Byzantium hancur. Ambruk. Yaa, terpaksa kita harus menyingkir lagi sebab kondisi. Situasi tak memungkinkan untuk kita bertahan terus di sana, Nak. Selanjutnya, etnis kita menempuh perjalanan yang panjang ke kawasan Balkan. Tepatnya pada abad ke-13. Perlahan, kita pun menuju ke daerah Rumania. Dari sana, kita menyebar menjadi kelompok-kelompok kecil ke segala penjuru arah. Setiap kelompok punya pemimpin yang akan membimbing dan memutuskan: apakah mereka akan tetap tinggal atau tidak pada daerah yang mereka datangi….”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Terus, Yah?”&lt;br /&gt;Belum sempat Ayah membuka mulutnya, vibra Ibu berlemparan di udara. Pita suaranya bergetar lirih. Gendang telinga Ayah segera menangkap bunyi cemas itu—lalu tersentak. Aku juga. Kami berdua serempak menengok ke arah tenda Ibu. Hati ini berdegup kencang sekali. Bergegas kami memburu dan melarikan kaki-kaki. Langkah-langkah berkejaran. Ibu kelihatan pucat. Lemah. Pias. Dahinya berpeluh gara-gara menahan sakit yang amat. Beliau terus memegangi perutnya sambil memekik pelan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kenapa, Safa?!”&lt;br /&gt;”Perutku… perutku…”&lt;br /&gt;Mata Ayah bersiborok dengan mataku. Saat itulah aku tahu: Ibu akan melahirkan. Astaga. Sekedip itulah rasa takut menggurita di segenap jiwaku. Aku mulai cemas dan semakin cemas pada jengkal-jengkal waktu berikutnya. Setumpuk hal mulai kupertanyakan; tak bisa kutaklukkan. Misalnya… siapa yang akan membantu persalinan Ibu di tengah camp pengungsian seperti ini?! Butuh keajaiban untuk menemukan seorang ahli medis sekarang. Pun mayoritas orang-orang dari etnis kami adalah orang-orang yang tidak mengenyam bangku sekolah. Sekali lagi, bukan tak mau, tapi tidak diperbolehkan. Etnis kami memang terlalu mudah dizalimi. Tidak seperti etnis Turki yang memiliki negara induk, kami tidak punya satu pun negara yang sudi melindungi kami. Yang mau berjuang membela kami—bila pemerintah pemimpin negeri ini memperlakukan etnis kami secara tak adil. Perlakuan buruk sekecil apa pun terhadap etnis Turki di Thrace Barat—umumnya mereka memang bermukim di sana—pasti akan memicu kemarahan Istanbul. Namun, pemerintah negeri mana yang mau marah untuk kami? Negara mana?!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sempat sedikit tahu dari Kakek—satu minggu sebelum kematiannya yang sangat tenang—kalau etnis kami pernah mengidentifikasi diri sebagai orang Turki. Dulu, jauh sebelum hari, minggu, bulan, dan tahun ini. Usai perang Turki-Yunani pada tahun 1923. Ide itu terbetik karena dipicu oleh perjanjian Laussane—yang mengakhiri perang di antara kedua negara yang bersangkutan. Namun, Yunani—dalam hal ini—terlalu keras. Strategi itu gagal total. Pada akhirnya, pemerintah kembali pada sikapnya yang tak ramah; tak kunjung sudi mengakui kami sebagai warga negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aaaaakhhhh! Ukkkh…. uhhhh!”&lt;br /&gt;“Bertahan, Safa! Bertahanlah!”&lt;br /&gt;“Aku tak tahan lagi!!!”&lt;br /&gt;“Adakah yang bisa membantu istriku melahirkan?! Ada tidaaak?!!” Ayah kalap. Lengkingannya menjulur ke seluruh penjuru lokasi pengungsian. Syukurlah ada ruh-ruh bertubuh yang segera terpanggil di antara orang-orang yang cuma termangu—tak tahu harus bagaimana menyikapi permintaan Ayah. Aku menahan nafas. Aku merasa jadi makhluk paling tak berguna. Hanya sanggup nanar melihat dari pintu tenda pemandangan itu; pemandangan di mana ibuku meregang nyawa untuk mengeluarkan adikku dari rahimnya. Orang-orang yang membantu persalinan menelan ludah getir. Pendarahan banyak sekali. Bahkan terlalu banyak. Tapi, dengan apa harus menghentikannya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin, inilah pertama kali di pengungsian ini kami bersama-sama melupakan soal kemalangan yang mendera kami. Rasa lapar, homeless, atau terbuang. Soal-soal itu menguap dan bersenyawa dengan harapan-harapan langit yang menyergap kami; tak lagi punya sifat atau karakter yang sama. Hilang. Musnah. Nyawa seseorang tengah di ujung jurang. Ayah melantunkan doa-doa terhebat yang bisa beliau rangkai—seraya terus mengusap keringat yang menjentik di kening Ibu. Menyemangatinya. Aku gemetar. Ada seorang laki-laki yang menyuruhku keluar. Tak baik katanya. Aku bersikeras tinggal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia tak bisa memaksa. Entah kenapa aku tak ingin pergi dari tempatku berpijak. Melihat ibuku meronta, berteriak-teriak—sampai kukira tenggorokannya telah terbagi dua, bersimbah darah, membuatku tak tahu harus bernyali seperti apa. Berani seperti apa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku memejamkan mata. Aku yakin: malaikat maut tengah berkunjung ke tenda ini. Itulah sebabnya aku berdoa dengan khidmat. Aku berharap doaku mampu mengusir malaikat itu agar tak mengambil hidup ibuku. Mungkin lain kali, tapi bukan sekarang. Jangan sekarang….&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayah hanya berdiri mematung. Dengan kedua tangannya yang kokoh, beliau menggendong adik baruku. Memandang senja yang mulai pentas di ufuk barat. Panas yang kandas dipudar malam. Sedari tadi hanya begitu saja. Matanya kosong. Bulir-bulir air asin memburai dari pelupuknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Safaaa!”&lt;br /&gt;Ayah berteriak. Aku menunduk dan tak kuasa menahan air mata yang merayap pelan dari dua pelupuk. Ibuku benar-benar telah pergi. Dijemput malaikat untuk bertemu Sang Maha Pengasih. Duka selaksa. Kesedihan meradang dalam jiwa. Meranggas bahagia yang sekiranya hadir untuk adik tercinta. Adik bayi yang mungil dan tak tahu apa-apa. Bukan salahnya Ibu pergi, pun bukan karena doa Ayah dan aku tidak dikabulkan. Ini sudah takdir. Kami, sebagai manusia, tak punya daya sekejap saja guna menyangkalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayah terpekur terus. Aku memutuskan untuk menghampirinya. Bukan untuk berbicara padanya, tapi untuk mengarang paragraf bingung bersama-sama. Kematian Ibu membuatku bimbang. Gamang. Mengenai Ayah, aku dan adik bayi. Sehabis ini, bagaimana nasib kami? Ahh, adikku sayang, adikku malang. Jangankan dia yang belum mengerti apa itu kesulitan hidup, orang-orang dewasa dari etnis kami pun sering merasa tak sanggup menjalaninya lagi. Mungkin itu yang kini dialami Ayah. Beliau murung untuk banyak hal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yah?”&lt;br /&gt;“…”&lt;br /&gt;“Ayah?”&lt;br /&gt;“Apa, Nak?”&lt;br /&gt;“Adik bayi sudah diazani belum?”&lt;br /&gt;Ayah menggeleng. Hatiku perih. Apa sebaiknya adikku memang tak usah diazani? Ya, mungkin dia lebih baik tak usah jadi seorang muslim. Menjadi seorang muslim bagi makhluk sekecil itu—di tanah asing ini—mungkin hanya akan membuatnya menderita lebih dahsyat. Mati lebih cepat. Menyusul Ibu. Melepas nyawa. Kalaupun dia hidup, akulah orang pertama yang tidak tega. Sangat mungkin adikku akan mendapatkan masalah yang sama seperti kami sebelum dia beranjak dewasa atau mungkin sebelum dia mengerti kata kenapa. Dihina, dicemooh, dikucilkan. Tiada mendapat pendidikan yang layak, kesehatan, tempat tinggal, bahkan kebebasan menjalankan agamanya. Dicap macam-macam. Pemalas, penyelundup, mafia, dan segala macam nama yang berkaitan dengan dunia kebejatan. Entah untuk sejarah dan bukti yang apa. Main tuduh saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yah?”&lt;br /&gt;“…”&lt;br /&gt;“Ayah?”&lt;br /&gt;Ayah masih menangis dalam sunyi. Ketika aku sudah memutuskan untuk berhenti memanggilnya, beliau dengan perlahan mengazani adikku. Mataku kembali berembun. Ayah sudah menentukan. Ayah sudah meniatkan. Adik baruku akan jadi seorang muslim, seperti kami. Beliau akan mengajarinya ketauhidan, kerasulan, dan Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Menjadi muslim memang berat, Nak. Ayah tahu itu, kamu tahu itu. Beriman dalam Islam bukan sekadar bicara beriman pada Allah dan rasul-Nya, pada malaikat-Nya, pada kitab suci dan hari kiamat, dan pada qada dan qadar-Nya. Ya, tidak sekadar itu, tapi juga mengimani resiko kejahatan yang selalu mengintai kita di depan. Itulah yang kita hadapi sebagai etnis Atsingani, golongan terusir dan beragama muslim. Ke manapun kita, maka akan ada selalu orang-orang kafir yang membenci kita. Namun… dengarlah: sebiadab apapun mereka, sekejam apapun mereka menekan kita, Islam harus tetap di dalam dada kita, Nak. Kapan kita mati itu tidak penting bagi seorang muslim. Yang penting adalah bagaimana cara kita mati; apakah kita mati dalam keadaan beriman atau tidak. Tenanglah…. kita akan baik-baik saja. Ayah, kau dan adik barumu. Kita mungkin tak punya rumah yang tetap di atas bumi ini, tapi semoga saja Allah sudi membangunkan kita sebuah rumah di surga nanti….”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mengangguk untuk mengenyahkan kesalahanku. Ya, sesulit apapun hidup kami di masa depan, kami tetap dan harus tetap menjadi seorang muslim. Sampai di mana pun. Sampai kapan pun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: http://www.ummigroup.co.id/annida&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6496427822632927265-6517200443527154728?l=akhimuammar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://akhimuammar.blogspot.com/feeds/6517200443527154728/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6496427822632927265&amp;postID=6517200443527154728' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6496427822632927265/posts/default/6517200443527154728'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6496427822632927265/posts/default/6517200443527154728'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://akhimuammar.blogspot.com/2008/05/orang-orang-surga.html' title='ORANG-ORANG SURGA'/><author><name>muammar_ikhwan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09232577519138736451</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_jirrn9uMBd0/R2XC7Uy2JGI/AAAAAAAAABA/v18DfXzrmhE/S220/Muamar.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6496427822632927265.post-6846014746557578762</id><published>2008-05-23T00:30:00.000-07:00</published><updated>2008-05-23T00:32:14.697-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerpen islami'/><title type='text'>MENENGOK TANAH IMPIAN</title><content type='html'>“Huek, huek… huuk!” Akhirnya muntah juga. Perutku seperti diaduk-aduk. Bau busuk rasanya tak hilang-hilang dari hidungku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Masya Allah, telurnya busuk. Nggak jadi deh orak-arik kangkungnya!” Aku bergumam kesal. Segera aku mengangkat wajan dan membawanya keluar. Mantan orak-arik kangkungku kubuang perlahan di tempat sampah. “Tapi ganti sayur apa?” tanyaku dalam hati. Tak lama aku mendapat ide.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bu Is, minta kangkungnya, ya,” kataku pada tetangga paling dekat rumah.&lt;br /&gt;“Ambil sajalah, Mbak.” Bu Is, tetangga baruku, menjawab dari dalam rumahnya.&lt;br /&gt;Aku segera mengambil pisau dan wadah. Dengan gesit kupetik batang-batang kangkung di kebun belakang rumah Bu Is. Alhamdulillah, tidak perlu ke pasar untuk beli sayuran lagi. Satu genggam cukuplah untuk makan berdua. Aku cepat-cepat mencuci dan memasaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Abi, tahu nggak?”&lt;br /&gt;“Apanya?” tanya suamiku sambil menyendok nasinya lambat-lambat. Begitulah dia, makannya lambat. Bahkan lebih lambat dariku. Padahal, aku ini kalau makan dari dulu sudah paling lambat dibanding teman-teman kosku.&lt;br /&gt;“Ummi tadi masak sayurnya sampai dua ronde, lho! Gara-gara telurnya busuk. Telur yang dijual di sini banyak yang busuk ya, Bi?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya, memang begitu,” jawabnya ringan.&lt;br /&gt;“Kalau di Jawa nggak ada yang sengaja jualan telur busuk. Tapi kata Bu Is, di sini lain.” Suaraku menggantung.&lt;br /&gt;“Ummi jangan samakan Jawa dengan Timika sini. Kita harus pandai-pandai menyesuaikan diri.” Pesan sponsor suamiku itu selalu kudengar kalau aku sudah cerita, tepatnya membandingkan, Jawa dengan Papua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesan pertama tinggal di sini memang tak menggoda. Sampah-sampah menumpuk di pinggir-pinggir jalan. Belum lagi ludah merah, bekas orang mengunyah buah pinang dan kapur sirih, ada di mana-mana, tak sedap dipandang. Dan pasarnya…. luar biasa beceknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengalaman belanja di pasar sempat pula membuatku takut belanja. “Kalau tak punya uang, tak usah beli!” teriak seorang pedagang saat aku berusaha menawar sebuah labu kuning kecil. Enam ribu, yang benar saja. Aku memilih pergi, tidak jadi membeli. Dengan uang belanja yang pas-pasan, aku harus berpikir keras untuk mendapatkan sayur dan lauk yang tepat. Di sini semua dijual dengan pembulatan sampai seribu. Tak ada recehan. Seperti supermarket tradisional saja, keterampilan menawar barangpun tidak terpakai di sini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya saat awal-awal tinggal di sini, sempat stres, Mbak. Harga-harga barang sangat mahal. Jadi harus pinter mengaturnya!” cerita seorang tetanggaku&lt;br /&gt;“Iya, uang lima ratus nggak laku. Pernah saya kumpulkan sampai satu kantong dan saya bawa pulang ke Jawa. Sampai digeledah petugas bandara karena dikira bawa emas,” cerita Bu Is yang suaminya pegawai di sebuah perusahaan asing penambang emas di Papua. Tapi, kebanyakan orang Indonesia tak tahu kalau Papua ada emasnya. Tahunya tambang timah. Kasihan betul negeriku ini…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku memang baru beberapa hari tiba di Timika Tengah, di kota kecil yang padat. Suamiku sudah lebih lama tinggal di sini. Ia merantau dan berdagang di sini sejak lima tahun yang lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak hari pertama, aku sadar untuk belajar banyak melapangkan dadaku. Bayangkan saja, saat melihat-lihat kota untuk pertama kalinya, ada pengendara sepeda motor yang meluncur tepat berhadapan dengan kami dari arah yang berlawanan, padahal kami berada di lajur kiri. Untung saja suamiku mengendarai sepeda motornya dengan pelan, sehingga tabrakan bisa dihindarkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya, di sini kita harus banyak mengalah. Bahkan, kalau sampai ada anjing yang tertabrak, kita langsung kena denda!” Begitu suamiku menerangkan “peraturan” di jalan. Karenanya, ia tak pernah berani ngebut. Di sini aku memang melihat orang-orang begitu menyayangi anjingnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Papua. Tanah impianku ini memang tak seeksotik yang kubayangkan. Bayangan tumpukan sampah dan rumput liar yang mengisi tanah-tanah kosong, jelas bukan gambaran yang eksotik. Dulu, sebelum menikah, aku punya obsesi untuk tinggal di pulau ini. Sebuah kesadaran akan perluasan dakwah menumbuhkan semangat itu. Aku begitu bersemangat mendengar ceramah seorang ustadz tentang dakwah di Indonesia Timur. Aku lantas merasa terpanggil.&lt;br /&gt;Tidak terbayangkan bahwa Allah memberiku peluang itu. Sebuah tawaran untuk menikah dari seorang ikhwan di Papua aku terima beberapa bulan lalu. Saat itu hatiku begitu takjub. Allah hampir memenuhi obsesiku. Dengan cara inikah aku sampai ke Papua, ya Allah? Akhirnya dengan dukungan teman-teman dan orangtua, aku menerima lamaran itu. Dengan proses cepat, aku menikah secara sederhana. Dan Papua telah menungguku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Huek, huek!” Insiden telur busuk itu seolah tak bisa kulenyapkan dari pikiranku. Aku jadi mudah mual dan muntah-muntah. Bahkan, aku jadi sulit makan beberapa hari ini. Perutkupun terasa sakit sekali. Rasanya aku belum pernah merasakan sakit perut lebih dari ini. Keringat dingin mulai menetes di keningku. Badanku panas dingin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku meninggalkan piring-piring yang belum kucuci. Segera aku masuk kamar, lalu mengoleskan minyak tawon di beberapa bagian tubuhku. Sambil menahan sakit, aku hanya tiduran sambil menunggu suamiku pulang.&lt;br /&gt;“Makanya, kalau disuruh makan itu nurut. Begini akibatnya, malaria. Di sini tidak baik membiarkan perut kosong. Rawan penyakit!” Ceramah suamiku saat mengendarai motor pulang dari klinik. “Masih untung malaria tertiana, kalau tropicana bisa-bisa bahaya. Ada teman yang kena syaraf sampai jadi gila, lho!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Abi jangan bikin takut gitu, ah.” Aku menyodok pinggangnya.&lt;br /&gt;“Eh, bener, di sini banyak yang begitu. Sudahlah, pokoknya besok Ummi harus banyak makan. Abi tidak mau melihat Ummi sakit!”&lt;br /&gt;“Tapi Ummi nggak bisa! Bau telur busuk itu masih teringat terus. Atau, Ummi nggak masak dulu? Ganti Abi yang masak, ya?” He-he-he, akhirnya keluar juga manjaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah, dalam beberapa hari suamiku mengerjakan tugas domestik. Badanku masih lemah. Obat malaria yang sangat pahit itu juga mengurangi nafsu makanku. Cuma roti dan susu yang bisa selamat kucerna. Makanan lain masih termuntahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konon, wabah malaria adalah sapaan hangat bagi pendatang di pulau ini. Pokoknya bukan orang Papua kalau belum kenalan dengan malaria. Makan kina seperti makan permen saja bagi orang Papua. Padahal, rasanya pahit sekali.&lt;br /&gt;Setelah pulih, aku sangat ingin jalan-jalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sudah kuat? Nanti sakit lagi,” ujar suamiku.&lt;br /&gt;“Buat refreshing lah, Bi.”&lt;br /&gt;“Risiko nggak ditanggung, lho!”&lt;br /&gt;“Ya, pokoknya keluar. Ke mana saja deh. Cari matoa juga boleh,” pintaku penuh semangat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa kali aku sempat melihat orang menjual matoa di pasar. Sekarang lagi musim matoa, buah asli Papua. Bentuknya lonjong, sedikit lebih besar dari telur puyuh, dan rasanya mirip kelengkeng. Harganya relatif murah dibanding buah lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa kerja mereka, Bi?” tanyaku saat melihat beberapa penduduk asli yang asyik mengobrol di pinggir jalan yang kami lewati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nggak tahu, ya. Masih banyak yang berladang dan hanya mengambil hasil hutan. Tapi, ada yang kerja di proyek bangunan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya, kelihatannya mereka kuat-kuat. Yang perempuan juga. Ummi pernah lihat perempuan yang bekerja di proyek dekat apotek itu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Abi, apa mereka baik pada kita?” Hatiku ragu. Aku melihat sorot mata tidak bersahabat saat kami melintasi mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya, sulit dikatakan. Mereka itu keras dan suka berkelahi. Kalau sedang marah, apalagi dengan pendatang, mereka tidak peduli orang mana, asal bukan dari kalangan mereka, ya jadi sasaran. Bagi mereka pendatang, ya pendatang.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bahaya kalau gitu.”&lt;br /&gt;“Makanya, tidak aman pergi sendirian, apalagi perempuan.”&lt;br /&gt;Tak lama kulihat botol-botol minuman keras berceceran di jalan. Mabuk-mabukan agaknya sudah jadi kebiasaan di sini. Di pasar, aku juga sering melihat orang mabuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suamiku juga menjelaskan praktek pelacuran yang sudah lazim di sini. “Di dekat jalan tadi itu banyak rumah-rumah buat ‘begituan’,” tambah suamiku. Ah, pantas saja Papua punya angka penderita AIDS yang begitu tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ke mana nih? Sudah sore,” tegur suamiku.&lt;br /&gt;“Ke dekat bandara saja. Pasti enak jalan-jalan sore begini.”&lt;br /&gt;Suamiku mengarahkan sepeda motornya keluar dari jalan raya, menyusuri jalan pinggir kota menuju bandara. Ada sebuah sungai yang cukup besar mengalir di tepinya. Airnya cukup jernih tapi gelap, sepertinya berlumpur dan banyak ganggangnya. Aku jadi ingat ikan air tawar yang aku beli di pasar kemarin. Kotor dan berlumut sehingga aku harus bekerja keras membersihkan sisiknya.&lt;br /&gt;“Kok dingin, ya? Rasanya aneh, bikin tidak enak badan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Makanya, sebenarnya Abi tak ingin mengajak Ummi ke luar. Cuaca di sini beda. Maunya jalan-jalan, eh malah dapat penyakit nanti. Tapi, biar Ummi merasakan sendiri, daripada ngambek,” kata suamiku datar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suara serangga hutan yang berisik membuatku merasa tidak nyaman. Nyamuk-nyamuk hutan terasa berseliweran di sekitarku. Pohon-pohon besar dan rimbun membuat suasana gelap. Aku jadi ingin segera pulang. Tanpa banyak berdebat, suamiku menuruti keinginanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini aku tercenung, Terpikir kembali obsesiku untuk berdakwah di sini. Namun sekarang aku dihadapkan pada kondisi sesungguhnya. Orang-orang berperangai keras. Para pendatang yang matrealistis dengan tingkat moral yang memprihatinkan. Daerah transmigrasi yang kurang diminati karena kondisi jalan yang demikian buruk. Lingkungan yang rawan penyakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, bagaimana caraku berdakwah?&lt;br /&gt;Hatiku jengah. Aku teringat buku-bukuku yang tersusun rapi di rak. Bayangan materi dakwah yang kupelajari tiba-tiba hadir. Aku menarik napas perlahan. Bergunakah semua itu di sini? Dengan apa kuketuk hati mereka untuk dekat pada Allah? Hatiku sibuk berdialog.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah sampai di rumah, aku lebih banyak diam. Berpikir. Hingga jauh malam aku sulit tidur. Sementara suara gitar dan nyanyian parau berbahasa aneh membuatku terasa berada di negeri asing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apakah di tempat seperti ini, akan lahir anak-anakku nanti? Akan tumbuh seperti apa mereka?” Aku mencoba mengais harap. Aku teringat saat suatu siang kulihat kaki-kaki kecil berjalan tanpa sepatu dan bangunan sekolah yang tidak terawat. Wajah pendidikan yang meresahkan hati. Ada banyak yang mesti disiapkan. Dan aku mesti ambil bagian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: http://www.ummigroup.co.id/?pilih=lihat&amp;id=685&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6496427822632927265-6846014746557578762?l=akhimuammar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://akhimuammar.blogspot.com/feeds/6846014746557578762/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6496427822632927265&amp;postID=6846014746557578762' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6496427822632927265/posts/default/6846014746557578762'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6496427822632927265/posts/default/6846014746557578762'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://akhimuammar.blogspot.com/2008/05/menengok-tanah-impian.html' title='MENENGOK TANAH IMPIAN'/><author><name>muammar_ikhwan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09232577519138736451</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_jirrn9uMBd0/R2XC7Uy2JGI/AAAAAAAAABA/v18DfXzrmhE/S220/Muamar.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6496427822632927265.post-5314906788094164905</id><published>2008-05-23T00:05:00.000-07:00</published><updated>2008-05-23T00:20:05.443-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel islami'/><title type='text'>DEMOKRASI : konsep yang amat salah</title><content type='html'>Sesungguhnya segala puji bagi Allah, kita meminta pertolongan dan ampunan kepadaNya. Dan kita berlindung kepadaNya dari kejahatan diri-diri kita dan dari keburukan amalan-amalan kita. Barang siapa diberi petunjuk oleh Allah, maka tidak ada seorang pun yang bisa menyesatkannya. Dan barang siapa disesatkan oleh Allah maka tidak ada seorang pun yang bisa memberinya petunjuk. Aku bersaksi sesungguhnya tidak ada sesembahan yang benar kecuali Allah saja, tidak ada sekutu bagiNya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusanNya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidaklah orang-orang kafir itu datang kepadamu (membawa) sesuatu yang ganjil, melainkan Kami datangkan kepadamu suatu yang benar dan paling baik penjelasannya.” (QS. Al Furqan: 33)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ironi Demokrasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demokrasi Modern menurut definisi aslinya adalah bentuk pemerintahan yang di dalamnya banyak keputusan pemerintah atau di belakang kebijakan yang menimbulkan keputusan itu lahir dari suara terbanyak yakni dari mayoritas di pemerintahan atau di belakang kebijakan yang menimbulkan keputusan itu lahir dari suara terbanyak, yakni dari mayoritas di pemerintahan (consent of a majority of adult governed).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demokrasi sebagai proses politik dapat memuat muatan-muatan lokal sesuai area yang melingkarinya (seperti pengalaman politik dan definisi orang-orang yang duduk dalam pemerintahan) . Karena itu, tidak pernah ada sistem demokrasi ideal yang pernah terwujud. Disamping itu, karena banyaknya area yang mempengaruhi dan melingkupinya, maka dalam ilmu politik seringkali sulit membedakan antara pemerintahan demokrasi dan pemerintahan tirani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang dimaksud dengan suara terbanyak? ahli-ahli politik mengajukan beberapa syarat. Diantaranya tidak tampak adanya pemaksaan atau ancaman untuk menggolkan suatu opini tertentu, tidak ada pembatasan kebebasan berbicara, tidak terdapat monopoli propaganda dan tidak ada control institutional terhadap fasilitas-fasilitas komunikasi massa. Pada kenyataannya definisi dari pemaksaan, ancaman, pembatasan, monopoli, propaganda dan control institutional tidak pernah diterjemahkan kecuali oleh pemerintah apapun namanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, Aristoteles menyebut pemberlakuan demokrasi sebagai suatu kemerosotan. Alasannya ketidakmungkinan orang banyak untuk memerintah yang kecil jumlahnya. Bahkan Plato seorang pemikir yang diagung-agungkan oleh barat juga melancarkan kritik terhadap demokrasi. Katanya kebanyakan orang adalah bodoh atau jahat atau kedua-duanya dan cenderung berpihak kepada diri sendiri. Jika orang banyak ini dituruti, maka muncullah kekuasaan yang bertumpu pada ketiranian dan terror. Karena itu pula diyakini hanya segelintir orang yang diuntungkan dari sistem pemerintahan yang demokratis ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;George Santayana, penyanjung berat Plato menyerukan “Give divine right to rule” (berikan Tuhan hak untuk memerintah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan Winston Churchil mengeluarkan deklarasi yang bunyinya “Democracy is worst possible form of government” (demokrasi adalah kemungkinan terburuk dari bentuk pemerintahan) .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Chandra Muzzafar, direktur Just World Trust (LSM di penang Malaysia) dalam buku “Hak-Hak Asasi Manusia Dalam Tata Dunia Baru” memandang ide-ide demokratis berasal dari dunia Barat dan terkesan kolonis. Ia menulis, usaha mencolok untuk melanggengkan kepentingan- kepentingan ideologis dan ekonomi (barat) yang sempit dengan disamarkan kata-kata manis seputar kebebasan dan demokrasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di zaman Yunani kuno dimana demokrasi itu berasal tokoh seperti Solon, Chleisthenes dan Demosthenes, berpandangan bahwa konsep demokrasi adalah sistem politik terbaik. Namun ironis, periode demokratis dalam sejarah Yunani tercatat hanya sebagai kasus-kasus istimewa. Politik Yunani di masa beberapa abad sebelum masehi justru didominasi periode kediktatoran tirani danoligarki. Benih demokrasi malah hancur ketika Negara Sparta yang otoriter mengalahkan Athena dalam perang Ploponesia (Amien Rais, Demokrasi dengan proses politik LP3ES, 1986).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal di atas membuat Plato dan Aristoteles, dua tokoh kritisi tentang demokrasi yang sulit dibantah berpandangan lain berdasarkan pengamatan mereka atas praktek demokrasi di Athena, maka demokrasi justru merupakan sistem yang berbahaya dan tidak praktis. Bahkan Aristoteles menambahkan, “Pemerintahan yang didasarkan pada pilihan orang banyak dapat mudah dipengaruhi oleh para demagog dan akhirnya akan merosot jadi kediktatoran.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demokrasi akan mudah meluncur ke arah tirani. Amerika Serikat pun yang membangga-banggakan diri sebagai negara paling demokratis di dunia dan pejuang HAM yang hebat ternyata menyimpan borok demokrasi itu sendiri. Paul Findley senator AS lewat bukunya “Mereka Yang Berani Bicara dan Diplomasi Munafik Ala Yahudi”, membongkar dominasi loby Yahudi (AIPAC) dalam tubuh Kongres AS. Tidak seorang pun calon presiden AS yang bisa duduk di kursi kepresidenan tanpa direstui oleh lobi Yahudi tersebut, tegasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Data di atas selain menarik juga bagus untuk dibandingkan dengan negara-negara yang selama ini mengklaim sebagai pewaris dan pelaksana demokrasi. Di Amerika masa pemilihan presiden sering dibanggakan sebagai praktek demokrasi paling nyata. Debat antar kandidiat, saling serang, propaganda (fitnah), hingga pengungkapan aib-aib pribadi (ghibah) tak hanya menjadi bumbu bagi pesta demokrasi namun telah menjadi bagian inti dari sandiwara demokrasi itu sendiri yang menjadi sekadar hiburan yang meninabobokan masyarakat Amerika. Di setiap tempat nama demokrasi semakin popular dengan macam-macam embel-embel Demokrasi Barat (Kapitalis), Demokrasi Proletar (Komunis), Demokrasi Pancasila (bebas bertanggung jawab), bahkan dengan latah orang Islam pun mengikuti orang kafir mengembel-embeli demokrasi dengan nama Teo Demokrasi (Demokrasi Islam). Bahkan tak jarang kata demokrasi dicomot begitu saja untuk mengesankan rakyat, bahwa pemerintah yang sedang berjalan adil dan bijaksana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Revolusi Prancis merupakan salah satu pelajaran diperkudanya kata demokrasi bagi kepentingan segelintir orang. Banyak rakyat miskin di Prancis kala itu mendukung revolusi tersebut dikarenakan terkagum-kagum pada semboyan “Liberte, Egalite, Franite”. Mereka berharap setelah usai revolusi, kemerdekaan, persamaan dan persaudaraan akan tercipta di antara mereka semua. “Prancis akan menjadi pelopor bagi kehidupan negara paling demokratis” demikian kira-kira harapan mereka. Namun sejarah membuktikan angan-angan tersebut tak pernah terjadi. Rakyat miskin terlalu naif untuk bisa memahami bahwa kemerdekaan “Liberte” yang dimaksud adalah kemerdekaan kaum borjuis untuk berdagang bebas. Tentu saja bebas memonopoli pasar dan daerah pemasaran, bebas bersaing dengan pengusaha kecil dan kesemuanya yang ada pada akhirnya hanya akan menggulung habis semua potensi pengusaha lemah. Sedang persamaannya “Elagite” yang dimaksud adalah persamaannya kaum borjuis dalam kedudukannya dengan ancient regime dulu itu. Dan persaudaraan “Fraternite” yang terdengar luhur itu sesungguhnya hanyalah persaudaraan antar kaum borjuis yang satu dengan yang lainnya yang tidak dibatasi sekat geografis. Sebab itu Revolusi Prancis sesungguhnya hanyalah revolusi kaum borjuis (bangsawan) bukan revolusi bagi keseluruhan bangsa demi demokrasi. Kehidupan rakyat kecil sebelum dan setelah revolusi tidak mengalami perubahan yang berarti, bagaikan jalan di tempat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Telaah tajam diberikan oleh Abul A’la Al Maududi seperti yang dinukil Amien Rais dalam pengantar buku “Khilafah dan Kerajaan”. Bagi Maududi, demokrasi yang sering dianggap sebagai sistem politik paling modern telah gagal menciptakan keadilan sosio ekonomi dan juga keadilan hukum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jurang lapisan kaya dan miskin, hak-hak politik rakyat yang terbatas pada formalitas empat atau lima tahunan hanya “Siapapun yang sedikit mendalami memang akan menyadari bahwa yang sering berlaku adalah hukum besi oligarki dimana sekelompok penguasa saling bekerja sama untuk menentukan kebijakan politik sosial dan ekonomi negara tanpa harus menanyakan bagaimana sesungguhnya aspirasi rakyat sebenarnya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan cacat demokrasi yang paling fatal adalah terdapat pada landasan konsepsinya sendiri. Prinsip kedaulatan di tangan rakyat yang diwujudkan dalam suara terbanyak. Prinsip mayoritas ini amat rentan tatkala penguasa atau sekelompok orang dapat merekayasa masyarakat melalui propaganda, Money Politic, tindak persuasif hingga refresif agar mendukungnya. Dengan propaganda terus-menerus rakyat dapat menganggap surga adalah neraka, dan neraka adalah surga, benar jadi salah, salah jadi benar, begitu seterusnya seperti yang ditunjukkan Adolf Hitler dalam “Mein Kampf”. Sisi lain yang perlu dicatat bahwa rakyat sendiri adalah individu yang tak lepas dari tarikan hawa nafsu dan godaan setan. Timbangan baik - buruk yang diserahkan pada rakyat adalah sebuah kekacaubalauan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kasus The Prohobition Law of America, mula-mula rakyat Amerika secara rasional dan logis berpendapat bahwa minuman keras tidak hanya berdampak negatif bagi kemampuan mental dan intelektual manusia serta mendorong timbulnya kekacauan masyarakat. Hukum ini disetujui suara mayoritas. Namun ketika hukum ini mulai diberlakukan, rakyat yang terlanjur mencandu tak dapat melepaskan ketergantungan itu. Akhirnya undang-undang itu dicabut oleh rakyat sendiri. UNESCO sendiri pernah menarik kesimpulan bahwa ide demokrasi itu bersifat ambigious (mendua, tak menentu). Maka tak heran jika seluruh pemimpin negara ramai-ramai menyatakan we are all democrats (kami semua adalah demokrat) meski kenyataannya berbeda-beda, bahkan dalam Encyclopedia Americana, Uni Soviet (sebelum bubar), Cina, dan Kuba yang nyata-nyata komunis pun menyebut pemerintahannya sebagai pemerintahan demokrasi. Francis Fukuyama akhirnya menulis dalam bukunya “The End of History” (1989): “Sejarah dunia telah berakhir dengan kemenangan di pihak demokrasi”, benarkah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DR. Adnan Ali Ridho An Nahwi dalam buku “Asy Syura La Ad Dimuqratiyah” (Syura Bukan Demokrasi) berpendapat bahwa demokrasi hanyalah sarana musuh Islam untuk menghancurkan ummat Islam. Demokrasi Perancis di Aljazair, demokrasi Inggris di Mesir, Palestina, India dan demokrasi Amerika di Lebanon dan Turki justru menghembuskan kehinaan bagi rakyat dan bangsa Muslim. Beberapa fakta modern jelas-jelas menunjukkan Barat tidak pernah memberi tempat bagi kaum muslimin untuk memenangkan demokrasi di banyak tempat, dari mulai Mesir dengan Ikhwanul Musliminnya, Aljazair dengan FIS nya sampai Turki dengan Refahnya karena menurut Barat ada ketidakselarasan antara demokrasi dengan Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Barangsiapa dari kalian yang hidup (setelah masaku), akan banyak melihat perselisihan yang banyak, maka kalian wajib berpegang-teguh dengan sunnahku dan sunnah para khulafaurasyidin, gigitlah dengan kuat dan jauhilah perkara-perkara baru.” (HR. Abu Dawud)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manhaj Perjuangan Islam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari-hari ini kita saksikan kaum muslimin di berbagai negeri menghadapi suatu fenomena yang menyakitkan; tuduhan teroris, terbelakang dan berbagai tuduhan lainnya seakan tidak habis menerpa kaum muslimin dan tentunya Islam secara lebih khusus. Di tengah badai fitnah yang besar tersebut, kaum Muslimin berusaha untuk bangkit untuk menegakkan syariat Islam di muka bumi ini, namun sayangnya kebangkitan Islam telah muncul diatas dua manhaj:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Manhaj yang memulai dakwahnya dengan menancapkan kepada aqidah yang benar dengan Sunnah yang shahih serta berusaha mengamalkannya, dan berangkat dari situ berusaha menelorkan ide-ide politik yang sejalan dengan sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Manhaj yang memulai dengan memunculkan ide-ide politik dan undang-undang sementara masalah aqidah di kebelakangkan. Dan akhirnya mereka jatuh dalam tindakan-tindakan yang salah dan menyimpang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya mayoritas perdebatan sengit yang dicatat dalam sejarah Islam sebabnya adalah perbedaan paham mengenai manhaj Islami. Sementara pertempuran sengit di negeri-negeri Barat dipicu oleh pemimpin-pemimpin yang berkuasa hingga meletusnya Revolusi Perancis pada 1793 M. Kemudian meluas menjadi peperangan antara bangsa hingga pecahlah perang dunia pertama kemudian beralih menjadi perang ideologi antara komunisme, Marxisme, fasisme, demokratisme dan liberalisme. Setelah berakhirnya perang dingin dengan runtuhnya Uni Soviet, terjadilah asimilasi budaya di bawah naungan negara-negara barat. Para pemikir-pemikir Barat mulai menyuarakan melalui mimbar-mimbar ilmiah mereka, bahwasanya peperangan budaya dan ideologi (ghazwul fikri) telah dimulai, dan konsep pemikiran liberalisme internasional dengan demokrasinya telah memasuki era peperangan yang dashyat melawan pemikiran-pemikiran Islami dalam usahanya menguasai dunia. Dunia Islam telah memasuki era yang sangat berbahaya dan menentukan yaitu penghancuran identitas diri di negara-negara kaum Muslimin yang merupakan bukti gagalnya seluruh eksperimen terutama di negara-negara Arab terdahulu yang telah terlepas dari keIslamannya, lalu mengambil pemikiran-pemikiran yang bersifat eksperimen dan spekulatif serta tidak sesuai dengan sejarah kebangkitan Islam dan diennul Islam itu sendiri. Sayangnya sebagian besar kaum muslimin yang insya Allah mempunyai niat yang mulia untuk menegakkan Islam justru malah mengikuti pola dan cara yang disusupkan oleh Barat dan Yahudi (Protocol of Zion) dalam memperjuangkan Islam atau mungkin mereka belum juga sadar dan mau kembali merujuk kepada cara manhaj Islam yang benar dalam memperjuangkan dien ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka sungguh benarlah sabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sungguh kalian akan mengikuti jejak umat-umat sebelum kalian (Yahudi dan Nasrani) sejengkal demi sejengkal, sehingga kalau mereka masuk ke lubang dhob (sejenis biawak), niscaya kalian pun akan ikut masuk ke dalamnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka perhatikanlah kaum muslimin hari ini dalam politik mereka sibuk dengan demokrasinya. Dalam ekonomi mereka enjoy dengan bunga dan sistem ribawi lainnya, dalam budaya mereka meniru kebudayaan-kebudaya an nenek moyang mereka. Dalam perilaku mereka meniru orang-orang Barat. Sungguh sebuah musibah besar bagi dienul Islam. Sayangnya hal ini tidak disadari oleh kebanyakan kaum muslimin dan sayangnya lagi sebagian kaum muslimin yang diharapkan dapat menyongsong Shahwah Islamiyah justru mengambil dienul Islam ini secara parsial dan meninggalkan sebagian yang lain. Permasalahan demokrasi akan semakin jelas jika kita mengetahui maknanya, dan kita tidak akan merujuk kepada Lisanul Arab dan juga Ash Shahihah untuk membahasnya karena si empunya rumah lebih faham tentang isi rumahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demokrasi Bukan Syuro&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demokrasi berasal dari asal kata “demo” yang bermakna rakyat, sedangkan lafal kedua adalah “kratia” yang artinya aturan hukum atau kekuasaan yang apabila digabung maka menjadi kekuasaan rakyat dan untuk rakyat (As Syuura Laa Ad Dimuqratiyah, hal 34).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kamus para pemuja demokrasi, yaitu Kams Collins cetakan London tahun 1979 disebutkan bahwa makna demokrasi adalah hukum dengan perantara rakyat atau yang mewakilinya (Ad demokratiyyah wa Mauqifil Islami Minha). Merupakan salah satu sistem liberal yang memisahkan antara agama dengan politik. Hal ini sangat bertentangan dengan Al Qur an, karena di dalam syariat Islam hukum hanya milik Allah dan rakyat tidak mempunyai hukum dan tidak juga mewakilinya, Allah Ta`ala berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hukum itu hanyalah kepunyaan Allah. Dia telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia.” (QS. Yusuf: 40)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah.” (QS Al Maidah: 49)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Ta ala telah menjelaskan dalam dua ayat ini bahwa hukum tidak menjadi milik rakyat dan juga wakilnya di parlemen. Dan Allah memerintahkan RasulNya untuk memutuskan perkara dengan apa yang Allah turunkan berupa syariat, maka bagaimana mungkin demokrasi disebut Siyasah Syar’iah, bahkan menyamakan demokrasi dengan Syura dalam Islam, padahal pada dasarnya demokrasi bertentangan dengan syariat Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jelas sekali perbedaan demokrasi dengan syura dalam Islam dengan perbedaan-perbedaan yang mendasar laksana langit dan bumi. Perbedaan tersebut antara lain, syura adalah aturan Ilahi sedangkan demokrasi merupakan aturan orang-orang kafir, syura dipandang sebagai bagian dari agama, sedangkan demokrasi adalah aturan sendiri. Di dalam syura ada orang-orang berakal yaitu ahlul halli wal aqdi (yang berhak bermusyawarah) dari kalangan ulama ahli fikih dan orang-orang yang mempunyai kemampuan spesialisasi dan pengetahuan, merekalah yang mempunyai kapabilitas menentukan hukum yang disodorkan kepada mereka dengan syariat Islam, sedangkan demokrasi meliputi orang-orang yang di dalamnya dari seluruh rakyat sampai yang bodoh dan pandir bahkan kafir sekalipun. Dalam demokrasi semua orang sama posisinya; orang alim dan bertakwa pun sama dengan pelacur, orang shalih sama dengan orang bejat dll, sedangkan dalam syura maka semuanya diposisikan secara proporsional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maka apakah patut Kami menjadikan orang-orang Islam itu sama dengan orang-orang yang berdosa (orang kafir). Mengapa kamu (berbuat demikian) bagaimanakah kamu mengambil keputusan?” (QS. Al Qalam: 35-36)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang lebih parah lagi demokrasi melecehkan hukum Allah dengan masih membahas permasalahan yang sudah jelas hukumnya karena dalam demokrasi bukan mengacu pada Al Qur’an dan sunnah shahihah tapi kepada suara terbanyak, padahal kebenaran tidak diukur dengan jumlah banyaknya orang. Tapi kesesuaian dengan Al Qur’an dan sunnah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka jelaslah demokrasi memang merupakan syariat orang-orang kafir tapi masih saja sebagian dari kita mau menjadi pejuang-pejuang demokrasi bahkan yang lebih parahnya lagi dengan mengatasnamakan perjuangan Islam -naudzubillah min dzalik, nas allullaha salam walafiyah- padahal jelas dalam hadist bahkan dalam perilaku sehari-hari saja kita diperintahkan untuk menyelisihi orang kafir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dari Abu Hurairah ia berkata bahwa Rasullullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, Potonglah kumis kalian dan biarkanlah jenggot kalian, berbedalah kalian dari golongan Majusi (kafir).” (HR. Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan lebih tegas lagi sabda beliau yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar, “Barang siapa meniru suatu kaum, maka dia adalah bagian dari mereka.” (HR. Bukhari dan Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya ayat Al Qur an dan hadist shahih yang dibawakan oleh para ulama ini diabaikan oleh sebagian besar aktivis Islam yang kenyataannya justru mereka masih hijau sekali dalam ilmu dien ini, dengan anggapan bahwa para ulama itu tidak faham dan mengerti masalah politik bahkan mereka berani mencela para ulama salaf dengan tuduhan ulama fiqih (celana dalam wanita) dan sebagian yang lain bahkan menuduh dakwah para ulama salaf sebagai antek-antek zionis (baca: Majalah Suara Hidayatullah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mencela orang Muslim adalah kefasikan membunuhnya adalah kekufuran.” (Muttafaqun’alaih)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apalagi mencela para ulama yang jelas-jelas ahli waris para nabi. Naudzubillah min dzalik. Selanjutnya mereka menganggap bahwa ulama tidak mengerti keadaan yang mereka istilahkan fiqhul waqi dan menganggap orang yang menasihati adalah pendengki yang tidak memperjuangkan Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Beginilah kamu, kamu sekalian adalah orang-orang yang berdebat untuk (membela) mereka (kebatilan) dalam kehidupan dunia ini. Maka siapakah yang akan mendebat Allah untuk (membela) mereka pada hari Kiamat? Atau siapakah yang jadi pelindung mereka (terhadap siksa Allah).” (QS. An Nisa: 109)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh sebuah musibah yang amat besar sekali karena ummat ini dijauhkan dari ilmu dan para ulamanya. Sebagian yang lain menganggap hal ini masalah perbedaan ijtihad saja padahal jelas ijtihad pun dilakukan dengan dasar Al Qur an dan sunnah shahihah bukan dengan akal dan perasaan saja atau hanya karena pertimbangan keduniaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah, Al Qur’an, dan Rasul (sunnahnya) jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari Akhir. Yang demikian itu lebih utama dan lebih baik akibatnya.” (QS. An Nisaa: 59)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau mereka berkata “Kami masuk ke dalam demokrasi karena darurat”. Darurat berasal dari kata “Ad Dharar” yang berarti bahaya. Adapun secara istilah, berkata Az Zarkasi, “Darurat adalah sampainya kepada batasan, jika tidak menunaikan yang terlarang niscaya akan binasa. Istilah ini banyak dijumpai dalam ilmu fiqh. Adapun dalil dari Al qur an tentang hal ini.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“…Maka barangsiapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Penyayang.” (QS. Al Maidah: 3)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah telah menjelaskan syariatNya atas dasar kemudahan, namun pertanyaannya, Apakah kita akan mati atau binasa jika kita tidak memakai demokrasi sebagai hukum? Malah kenyataannya di Mesir di akhir pemerintahan Anwar Sadat, puluhan ribu Muslim dipenjarakan, begitu juga di Sudan tatkala Numeri menangkapi para Aktivis Islam, padahal di parlemen Mesir dan Sudan banyak terdapat wakil rakyat dari kaum Muslimin, akan tetapi mereka tidak mampu berbuat sesuatu pun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para ulama sepakat tentang haramnya demokrasi dengan dalil-dalil yang tegas dan sharih, mengenai kewajiban menyelisih orang kafir dalam sistem hidup mereka. Ingatlah wahai saudaraku, Islam akan tegak dengan manhaj Islam, dan bukan dengan cara-cara kafir, dan Islam akan tegak di atas landasan yang benar, aqidah yang kuat bukan aqidah dan metodologi campur aduk. Takutlah kalian akan ayat Allah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hai orang-orang beriman masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya dan jangan kamu turut langkah-langkah syetan, sesungguhnya syetan itu musuh yang nyata bagimu.” (QS. Al Baqarah: 208)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukankah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam memulai dakwahnya dengan Tauhid dan mendidik ummat dan masyarakat dengan sunnah, bahkan beliau menolak ketika ditawarkan menjadi raja oleh kaum musyrikin. Maka bisakah syariat ditegakkan sementara masyarakat dalam keadaan tidak siap untuk menerimanya? Ingatlah kalian dengan kisah Heraqlius, raja Roma ketika disampaikan risalah Islam kepadanya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wahai sekalian rakyat Roma, apakah kalian ingin keadaan bahagia dan teratur, serta kerajaan kalian stabil? Baiatlah Nabi ini.” Maka rakyatnya pun lari dengan sangat kencang, namun pintu-pintu telah tertutup. Lalu Heraqlius memanggil lagi dan mengatakan, “Saya melakukan hal itu hanya untuk mengetahui kekokohan kalian terhadap agama kalian, maka rakyatnya pun sujud kepadanya.” (HR. Bukhari dan Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihatlah, meskipun Heraqlius seorang raja yang mempunyai kekuatan dan kekuasaan, akan tetapi ia tidak mampu memaksa rakyatnya untuk masuk Islam, begitu pula raja Najasyi (seorang Raja Kristen di Habasyah) yang masuk Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya, apakah beliau shallallahu alaihi wa sallam memperjuangkan Islam dengan demokrasi menghadapi orang-orang musyrik? Apakah beliau berdemokrasi dengan bermajelis bersama mereka memperbincangkan lagi hal-hal yang sudah jelas dalam syariat, memperbincangkan lagi hukum-hukum Allah yang telah tegas atau bahkan memperbincangkan lagi masalah aqidah? Selanjutnya apakah ada sejengkal tanah di dunia ini yang berhasil menegakkan hukum-hukum Allah dengan cara berdemokrasi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawablah wahai saudaraku...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengalaman-pengalam an pahit di Mesir, Turki bahkan Aljazair bagaimana kemenangan yang telah lebih dari 90% itu tak berarti apa-apa. Seharusnya hal ini menjadi pelajaran yang jelas dan terang bahwa barokah dan ridho Allah tidak dapat dicapai dengan perjuangan memakai sistem kafir ini. Fa aina tadzhabun ya ikhwah…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Belumkah saatnya bagi orang-orang beriman untuk hati mereka tunduk pada peringatan Allah dan kebenaran yang Allah telah turunkan kepada mereka dan janganlah mereka menjadi seperti golongan Ahli Kitab sebelumnya. Lalu mereka diberi masa yang panjang kemudian hati mereka menjadi keras dan sebagian dari mereka fasiq.” (QS. Al Haddid: 16)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga Allah merahmati kita semua dan mempersatukan hati kita di atas aqidah yang benar. Karena hanya Allahlah yang dapat mempersatukan hati dan hanya dengan Tauhidlah hati-hati ini dapat bersatu dalam kebenaran. Janganlah kau hitung kebenaran dari banyaknya jumlah, namun kenalillah kebenaran itu sendiri (Al Qur’an dan Sunnah shahihah dengan pemahaman para sahabat) maka engkau akan mengetahui siapakah orangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wallahu A’lam bishshowab&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6496427822632927265-5314906788094164905?l=akhimuammar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://akhimuammar.blogspot.com/feeds/5314906788094164905/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6496427822632927265&amp;postID=5314906788094164905' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6496427822632927265/posts/default/5314906788094164905'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6496427822632927265/posts/default/5314906788094164905'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://akhimuammar.blogspot.com/2008/05/demokrasi-konsep-yang-amat-salah.html' title='DEMOKRASI : konsep yang amat salah'/><author><name>muammar_ikhwan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09232577519138736451</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_jirrn9uMBd0/R2XC7Uy2JGI/AAAAAAAAABA/v18DfXzrmhE/S220/Muamar.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6496427822632927265.post-1858351062530968219</id><published>2008-05-18T17:33:00.001-07:00</published><updated>2008-05-22T23:20:30.479-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel islami'/><title type='text'>Momentum Kebangkitan Nasional yang Memalukan !!!</title><content type='html'>&lt;div id="action"&gt;&lt;a href="http://www.eramuslim.com/berita/send/8502074341-momentum-kebangkitan-nasional-memalukan.htm"&gt;Kirim teman&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;img src="http://www.eramuslim.com/fckfiles/image/Soetomo.jpg" alt="" align="right" width="180" /&gt;Di berbagai media, di tengah kesulitan hidup yang kian melilit rakyat, di tengah kemiskinan yang kian menjadi, di tengah keputus-asaan rakyat banyak yang kian membuncah, di tengah himpitan kemelaratan, di tengah pesta korupsi dan &lt;i&gt;mark-up&lt;/i&gt; anggaran negara (baca: uang rakyat) yang dilakukan para pejabat negara, memasuki bulan Mei 2008 bangsa ini dicekoki dengan ‘Momentum 1 Abad Kebangkitan Nasional’. Hal ini tentunya dikaitkan dengan berdirinya organisasi Boedhi Oetomo pada tanggal 20 Mei 1908.&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal"&gt;Jika salah satu syair dari Taufiq Ismail berjudul “Malu Aku Jadi Orang Indonesia’, maka sekarang ini judul syair tersebut bertambah relevan. Betapa memalukannya sebuah bangsa yang katanya besar ternyata masih saja salah menetapkan tonggak kebangkitannya sendiri. Dan parahnya, hal ini ternyata didukung oleh tokoh-tokoh dan partai Islam yang seharusnya menjadi agen pencerahan bangsa.&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal"&gt;Misal salah satunya, sebuah partai politik Islam besar akhir April lalu memasang sebuah iklan hitam putih seperempat halaman di sebuah harian ternama nasional. Dalam iklan tersebut, partai ini dengan tanpa malu memuat &lt;i&gt;‘Momentum 1 Abad Kebangkitan Nasional: Harapan Itu Masih Ada”&lt;/i&gt;. Disadari atau tidak, iklan ini telah ikut meracuni pemikiran generasi muda bangsa dengan ikut-ikutan latah menyiarkan kedustaan dan kesalahan yang fatal. Padahal partai ini kebanyakan diisi oleh orang-orang muda yang katanya intelek. Namun kenyataan yang terjadi sungguh memalukan!&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal"&gt;Sayyid Quthb di dalam “Tafsir Baru Atas Realitas” (1996) menyatakan orang-orang yang mengikuti sesuatu tanpa pengetahuan yang cukup adalah sama dengan orang-orang jahiliyah, walau orang itu mungkin seorang ustadz bahkan profesor. Jangan sampai kita “Fa Innahu Minhum” (kita menjadi golongan mereka) terhadap kejahiliyahan.&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal"&gt;Situs &lt;i&gt;eramuslim.com&lt;/i&gt; sekurangnya sudah tiga kali memuat tentang organisasi Boedhi Oetomo (BO) dan memaparkan bahwa organisasi ini sama sekali tidak berhak dijadikan tongak kebangkitan nasional karena BO sama sekali tidak pernah mencita-citakan kemerdekaan, pro-penjajahan yang dilakukan Belanda, dan banyak tokohnya anggota aktif Freemasonry yang merupakan organisasi pendahulu dari Zionisme. Seharusnya, tonggak kebangkitan nasional disematkan pada momentum berdirinya organisasi Syarikat Dagang Islam (SDI) yang kemudian berubah menjadi Syarikat Islam (SI) pada tahun 1905, tiga tahun sebelum BO.&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal"&gt;Sebab itu, agar kita lagi-lagi tidak salah menganggap tahun 2008 ini sebagai Momentum 1 Abad Kebangkitan Nasional, maka Kami lagi-lagi menurunkan artikel terkait hal tersebut, agar kebenaran tetaplah kebenaran, dan sama sekali tidak akan goyah walau dengan alasan politis sekali pun. Sejarah adalah History, bukan His-Story!&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;Penghinaan Terhadap Perjuangan Umat Islam&lt;/b&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal"&gt;Dipilihnya tanggal 20 Mei sebagai Hari Kebangkitan Nasional, sesungguhnya merupakan suatu penghinaan terhadap esensi perjuangan merebut kemerdekaan yang diawali oleh tokoh-tokoh Islam. Karena organisasi Syarikat Islam (SI) yang lahir terlebih dahulu dari Boedhi Oetomo (BO), yakni pada tahun 1905, yang jelas-jelas bersifat nasionalis, menentang penjajah Belanda, dan mencita-citakan Indonesia merdeka, tidak dijadikan tonggak kebangkitan nasional.&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal"&gt;Mengapa BO yang terang-terangan antek penjajah Belanda, mendukung penjajahan Belanda atas Indonesia, a-nasionalis, tidak pernah mencita-citakan Indonesia merdeka, dan anti-agama malah dianggap sebagai tonggak kebangkitan bangsa? Ini jelas kesalahan fatal.&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal"&gt;Akhir Februari 2003, sebuah amplop besar pagi-pagi telah tergeletak di atas meja kerja penulis. Pengirimnya KH. Firdaus AN, mantan Ketua Majelis Syuro Syarikat Islam kelahiran Maninjau tahun 1924. Di dalam amplop coklat itu, tersembul sebuah buku berjudul “Syarikat Islam Bukan Budi Utomo: Meluruskan Sejarah Pergerakan Bangsa” karya si pengirim. Di halaman pertama, KH. Firdaus AN menulis: “Hadiah kenang-kenangan untuk Ananda Rizki Ridyasmara dari Penulis, Semoga Bermanfaat!” Di bawah tanda tangan beliau tercantum tanggal 20. 2. 2003.&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal"&gt;KH. Firdaus AN telah meninggalkan kita untuk selama-lamanya. Namun pertemuan-pertemuan dengan beliau, berbagai diskusi dan obrolan ringan antara penulis dengan beliau, masih terbayang jelas seolah baru kemarin terjadi. Selain topik pengkhianatan &lt;i&gt;the founding-fathers&lt;/i&gt; bangsa ini yang berakibat dihilangkannya tujuh buah kata dalam Mukadimmah UUD 1945, topik diskusi lainnya yang sangat konsern beliau bahas adalah tentang Boedhi Oetomo.&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal"&gt;“BO tidak memiliki andil sedikit pun untuk perjuangan kemerdekan, karena mereka para pegawai negeri yang digaji Belanda untuk mempertahankan penjajahan yang dilakukan tuannya atas Indonesia. Dan BO tidak pula turut serta mengantarkan bangsa ini ke pintu gerbang kemedekaan, karena telah bubar pada tahun 1935. BO adalah organisasi sempit, lokal dan etnis, di mana hanya orang Jawa dan Madura elit yang boleh menjadi anggotanya. Orang Betawi saja tidak boleh menjadi anggotanya, ” tegas KH. Firdaus AN.&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal"&gt;BO didirikan di Jakarta tanggal 20 Mei 1908 atas prakarsa para mahasiswa kedokteran STOVIA, Soetomo dan kawan-kawan. Perkumpulan ini dipimpin oleh para ambtenaar, yakni para pegawai negeri yang setia terhadap pemerintah kolonial Belanda. BO pertama kali diketuai oleh Raden T. Tirtokusumo, Bupati Karanganyar kepercayaan Belanda, yang memimpin hingga tahun 1911. Kemudian dia diganti oleh Pangeran Aryo Notodirodjo dari Keraton Paku Alam Yogyakarta yang digaji oleh Belanda dan sangat setia dan patuh pada induk semangnya.&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal"&gt;Di dalam rapat-rapat perkumpulan dan bahkan di dalam penyusunan anggaran dasar organisasi, BO menggunakan bahasa Belanda, bukan bahasa Indonesia. “Tidak pernah sekali pun rapat BO membahas tentang kesadaran berbangsa dan bernegara yang merdeka. Mereka ini hanya membahas bagaimana memperbaiki taraf hidup orang-orang Jawa dan Madura di bawah pemerintahan Ratu Belanda, memperbaiki nasib golongannya sendiri, dan menjelek-jelekkan Islam yang dianggapnya sebagai batu sandungan bagi upaya mereka, ” papar KH. Firdaus AN.&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal"&gt;Di dalam Pasal 2 Anggaran Dasar BO tertulis “Tujuan organisasi untuk menggalang kerjasama guna memajukan tanah dan bangsa Jawa dan Madura secara harmonis. ” Inilah tujuan BO, bersifat Jawa-Madura sentris, sama sekali bukan kebangsaan.&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal"&gt;Noto Soeroto, salah seorang tokoh BO, di dalam satu pidatonya tentang Gedachten van Kartini alsrichtsnoer voor de Indische Vereniging berkata: “Agama Islam merupakan batu karang yang sangat berbahaya... Sebab itu soal agama harus disingkirkan, agar perahu kita tidak karam dalam gelombang kesulitan. ”&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal"&gt;Sebuah artikel di “Suara Umum”, sebuah media massa milik BO di bawah asuhan Dr. Soetomo terbitan Surabaya, dikutip oleh A. Hassan di dalam Majalah “Al-Lisan” terdapat tulisan yang antara lain berbunyi, “Digul lebih utama daripada Makkah”, “Buanglah Ka’bah dan jadikanlah Demak itu Kamu Punya Kiblat!” (M. S) Al-Lisan nomor 24, 1938.&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal"&gt;Karena sifatnya yang tunduk pada pemerintahan kolonial Belanda, maka tidak ada satu pun anggota BO yang ditangkap dan dipenjarakan oleh Belanda. Arah perjuangan BO yang sama sekali tidak berasas kebangsaan, melainkan chauvinisme sempit sebatas memperjuangkan Jawa dan Madura saja telah mengecewakan dua tokoh besar BO sendiri, yakni Dr. Soetomo dan Dr. Cipto Mangunkusumo, sehingga keduanya hengkang dari BO.&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal"&gt;Bukan itu saja, di belakang BO pun terdapat fakta yang mencengangkan. Ketua pertama BO yakni Raden Adipati Tirtokusumo, Bupati Karanganyar, ternyata adalah seorang anggota Freemasonry. Dia aktif di Loge Mataram sejak tahun 1895.&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal"&gt;Sekretaris BO (1916), Boediardjo, juga seorang Mason yang mendirikan cabangnya sendiri yang dinamakan Mason Boediardjo. Hal ini dikemukakan dalam buku “Tarekat Mason Bebas dan Masyarakat di Hindia Belanda dan Indonesia 1764-1962” (Dr. Th. Stevens), sebuah buku yang dicetak terbatas dan hanya diperuntukan bagi anggota Mason Indonesia.&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;Dr. Soetomo dan Dr. Cipto Mangunkusumo Kecewa dengan BO&lt;/b&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal"&gt;Karena BO tidak pernah membahas kebangsaan dan nasionalisme, mendukung penjajahan Belanda atas Indonesia, anti agama, dan bahkan sejumlah tokohnya ternyata anggota Freemasonry. Ini semua mengecewakan dua pendiri BO sendiri yakni Dr. Soetomo dan Dr. Cipto Mangunkusumo, sehingga keduanya akhirnya hengkang dari BO.&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal"&gt;Tiga tahun sebelum BO dibentuk, Haji Samanhudi dan kawan-kawan mendirikan Syarikat Islam (SI, awalnya Syarikat Dagang Islam, SDI) di Solo pada tanggal 16 Oktober 1905. “Ini merupakan organisasi Islam yang terpanjang dan tertua umurnya dari semua organisasi massa di tanah air Indonesia, ” tulis KH. Firdaus AN.&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal"&gt;Berbeda dengan BO yang hanya memperjuangkan nasib orang Jawa dan Madura—juga hanya menerima keanggotaan orang Jawa dan Madura, sehingga para pengurusnya pun hanya terdiri dari orang-orang Jawa dan Madura—sifat SI lebih nasionalis. Keanggotaan SI terbuka bagi semua rakyat Indonesia yang mayoritas Islam. Sebab itu, susunan para pengurusnya pun terdiri dari berbagai macam suku seperti: Haji Samanhudi dan HOS. Tjokroaminoto berasal dari Jawa Tengah dan Timur, Agus Salim dan Abdoel Moeis dari Sumatera Barat, dan AM. Sangaji dari Maluku.&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal"&gt;Guna mengetahui perbandingan antara kedua organisasi tersebut—SI dan BO—maka di bawah ini dipaparkan perbandingan antara keduanya:&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;Tujuan:&lt;/b&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal"&gt;- SI bertujuan Islam Raya dan Indonesia Raya, &lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal"&gt;- BO bertujuan menggalang kerjasama guna memajukan Jawa-Madura (Anggaran Dasar BO Pasal 2).&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;Sifat:&lt;/b&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal"&gt;- SI bersifat nasional untuk seluruh bangsa Indonesia, &lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal"&gt;- BO besifat kesukuan yang sempit, terbatas hanya Jawa-Madura, &lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;Bahasa:&lt;/b&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal"&gt;- SI berbahasa Indonesia, anggaran dasarnya ditulis dalam bahasa Indonesia, &lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal"&gt;- BO berbahasa Belanda, anggaran dasarnya ditulis dalam bahasa Belanda&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;Sikap Terhadap Belanda:&lt;/b&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal"&gt;- SI bersikap non-koperatif dan anti terhadap penjajahan kolonial Belanda, &lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal"&gt;- BO bersikap menggalang kerjasama dengan penjajah Belanda karena sebagian besar tokoh-tokohnya terdiri dari kaum priyayi pegawai pemerintah kolonial Belanda, &lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;Sikap Terhadap Agama:&lt;/b&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal"&gt;- SI membela Islam dan memperjuangkan kebenarannya, &lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal"&gt;- BO bersikap anti Islam dan anti Arab (dibenarkna oleh sejarawan Hamid Algadrie dan Dr. Radjiman)&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;Perjuangan Kemerdekaan:&lt;/b&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal"&gt;- SI memperjuangkan kemerdekaan Indonesia dan mengantar bangsa ini melewati pintu gerbang kemerdekaan, &lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal"&gt;- BO tidak pernah memperjuangkan kemerdekaan Indonesia dan telah membubarkan diri tahun 1935, sebab itu tidak mengantarkan bangsa ini melewati pintu gerbang kemerdekaan, &lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;Korban Perjuangan:&lt;/b&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal"&gt;- Anggota SI berdesak-desakan masuk penjara, ditembak mati oleh Belanda, dan banyak anggotanya yang dibuang ke Digul, Irian Barat, &lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal"&gt;- Anggota BO tidak ada satu pun yang masuk penjara, apalagi ditembak dan dibuang ke Digul, &lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;Kerakyatan:&lt;/b&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal"&gt;- SI bersifat kerakyatan dan kebangsaan, &lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal"&gt;- BO bersifat feodal d
